WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Bulan madu di kota London.


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


DUA BULAN KEMUDIAN.


Ivander dan Joevanka di sambut hujan salju ketika pesawat Boeing xx berhasil melakukan pendaratan dengan mulus di Bandar Udara Heathrow London.


Mereka memilih bulan madu ke London. Joevanka ingin mengajak suaminya berkunjung ke makam orangtuanya dan setelah itu, mereka akan berjalan mengelilingi kota London yang sangat ia rindukan itu.


Sebelumnya mereka sudah mempunyai rencana habis resepsi pernikahan, mereka langsung terbang ke London. Namun tiba-tiba Ivannia masuk rumah sakit karena mengalami muntah cukup parah dan tidak mau makan. Kata dokter ini efek karena alergi. Ivannia harus beristirahat selama satu minggu di rumah sakit. Tak berselang lama, setelah Ivannia keluar dari rumah sakit. Di susul mommy yang di larikan ke rumah sakit karena kelelahan. Karena 75 persen mommy yang mempersiapkan acara pernikahannya dengan Ivander. Dari hal terkecil bahkan yang terbesar. Mommy Anastasia tidak mengizinkan Joevanka kelelahan. Setelah mommy benar-benar sehat. Mereka kembali ke rencana awal. Jadi, saat inilah waktu yang tepat untuk mereka bulan madu.


Ivander menggunakan coat mantel berukuran panjang dengan bahan tebal dan padat untuk membuat tubuhnya hangat dan nyaman. Sementara Joevanka hanya memakai cardigan yang bahan tipis saja. Joevanka tersenyum mendongak ke atas, Ia sesaat memejamkan matanya untuk menghirup udara tempat ia di besarkan dengan penuh cinta itu. Ia merapikan baju dan merapatkan cardigan hitam ke tengah dada. Kini ia datang kembali ke tempat ini dengan status sudah menikah. Hal yang paling membuatnya sangat bahagia. Ia bisa memperkenalkan Ivander kepada daddy dan Mommynya. Joevanka berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh di pipinya. Ia tidak boleh bersedih takut membahayakan perkembangan janin yang ada di kandungnya. Joevanka tersenyum mengusap perutnya dengan lembut.


"Kau menggunakan dasar tipis sayang, apa kau tidak kedinginan?" Kata Ivander, menghentikan langkahnya menghadap dan Ivander ingin membuka Coat mantel berukuran panjang miliknya. Dengan cepat Joevanka menghentikannya.


"Jangan di buka sayang, aku tidak apa-apa, aku sengaja membiarkan tubuhku menerima udara dingin yang benar-benar sudah lama aku rindukan." Kata Joevanka tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi. Ivander kembali menarik koper dan berjalan beriringan dengan Joevanka.


"Nanti kau bisa sakit sayang." Ucap Ivander begitu lembut. Suara baritonnya menyejukkan hati. "Cuaca di London dan negara kita berbeda."


"Biarkan saja, aku menyukainya dan ini benar-benar bawaan." Kata Joevanka tersipu malu dan memberikan kode buat suaminya. Joevanka menggandeng tangan suaminya. Ia merebahkan kepalanya di lengan suaminya dan tersenyum bahagia.


Lagi-lagi Ivander menghentikan langkahnya, mengernyitkan bingung. " Bawaan? " Ivander terkekeh. "Cuaca dingin seperti ini tidak pernah membawa kita merasa nyaman sayang. Bahkan jika musim dingin tiba, setiap saat pemerintah daerah mengingatkan agar kita tetap jaga kesehatan." Kata Ivander memberi nasehat.


Joevanka menahan senyum, ia menjepit bibirnya lebih dalam lagi. Suami lugu, beberapa kali memberi kode. Ivander tidak pernah mengerti. Joevanka menggeleng tersenyum. Kali ini Joevanka harus berhasil memberikan kejutan untuk suaminya.


"Lain kali gunakan pakaian yang lebih tebal lagi, aku tidak ingin kau sakit. Kau mengerti sayang?" Kata Ivander sambil mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang.


Sepersekian detik tiba-tiba terbersit pikiran nakal, Ivander menaikkan alisnya lebih tinggi dan tersenyum untuk menggoda istrinya.


"Atau kau sengaja menggunakan ini? "


"Ehh.." Joevanka mengerjap. "Maksudmu?" Kata Joevanka bingung.


"Kau menginginkan tubuhku untuk menghangatkanmu kan? " kata Ivander terkekeh.


Reflek Joevanka mencubit lengan suaminya. "Pikiranmu selalu yang aneh-aneh." Joevanka mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Hahahaha" Ivander tertawa renyah, memeluk erat tubuh istrinya dari samping. Joevanka pun ikut tertawa. Ia memeluk erat pinggang suaminya.


Ivander mengenakan kacamata hitam begitu juga dengan Joevanka. Mereka tiba sore hari di kota London.


Ivander dan istrinya terus berjalan santai dan mengedarkan pandangannya. Udara dingin semakin terasa menembus kulit mereka. Salju turun begitu cantik. Sedikit demi sedikit namun membuat jalanan dipenuhi oleh salju. Beruntung penerbangan mereka berjalan mulus. Ivander tersenyum kepada joevanka.


"Daddy sudah mengirim supir untuk kita. Kalau tidak salah mamanya Aiden. Aku rasa dia sudah menunggu kita di pintu kedatangan."


Joevanka mengangguk antusias. Ia tersenyum hangat. Bawaan kehamilan Joevanka, selalu ingin dekat dengan suaminya. Ia menyukai Ivander dari wangi tubuh Ivander. Joevanka bahkan setiap tidur, jika suaminya belum pulang dari kantor, ia selalu mendekap baju yang biasa digunakan suaminya. Joevanka akan terbuai, terasa nyaman dan menghangatkan. Cintanya semakin subur. Ivander belum mengetahuinya. Karena Joevanka sendiri tidak mengalami muntah seperti ibu hamil pada umumnya. Dia sehat dan memakan apa saja. Itu yang membuat Ivander tidak menyadarinya. Tapi kali ini Suaminya harus benar-benar tahu. Joevanka ingin berbagi kebahagiaan ini. Usia kandungannya saat ini sudah enam minggu.


Karena penerbangan luar negeri. Ivander harus melalui proses pemeriksaan imigrasi. Setelah memberikan pasport dan dari form imigrasi yang di isinya dari pesawat tadi. Ivander dan istrinya langsung keluar dari pintu kedatangan dan mendorong kopernya. Benar saja mereka langsung di sambut Aiden.


⭐⭐⭐⭐⭐


Pagi hari yang Indah. Karena cuaca dingin membuat mereka bertahan di dalam selimut. Keduanya masih dalam keadaan sama-sama polos. Setelah melewati malam penuh cinta. Ivander seakan tidak bosan. Mereka melakukan ritual mandi bersama, kini berlanjut lagi di atas kasur yang empuk.


Joevanka tengah bergelayut manja sambil menyandarkan dagu dan telapak tangan kirinya di dada Ivander. Joevanka tersenyum sambil memandang wajah Ivander. Telunjuknya bermain-main di sekitar wajah Ivander, dari mata turun ke hidung kini ke bibir. Joevanka turun di lekukan tengah dada Ivander. Ia tersenyum dan jari jempolnya mengusap bibir Ivander. Bibir yang selalu ia inginkan. Joevanka menahan senyum ketika Ivander menangkup tangannya dan memberikan kecupan di sana.


Ivander merasakan getaran-getaran dan membangkitkan bagian dari tubuhnya. Ia tersenyum membelai puncak kepala hingga turun ke punggung istrinya. Ia mengecup dahi istrinya berulang-ulang. Rasanya sangat indah.


Joevanka memejamkan matanya merasakan morning kiss dari suaminya. Kini usia pernikahan mereka sudah dua bulan. Sebentar lagi akan hadir dua bayi mungil di tengah-tengah mereka. Anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka. Dengan itu, Joevanka sangat mensyukuri karunia itu.


Joevanka menjepit bibirnya. Entah mengapa setiap pagi ia menginginkan suaminya. Bahkan ia sampai menginginkan lagi. Ivander tersenyum, mendekap tubuh istrinya dengan sayang. Ia sangat paham, jika istrinya saat ini sangat menginginkannya.


"Apa kau menginginkannya lagi sayang?" Ivander kini berada di atas istrinya, menahan tubuhnya agar tidak menimpa istrinya itu.


Ivander mencium hidung, pipi, dahi dan kini mendarat di bibir Joevanka. Manis seperti ada polesan madu di sana. Membuat Ivander melakukannya berulang-ulang. Menarik wajahnya lagi lalu mencium nya lagi. Mata joevanka berubah sayu. Joevanka perlahan membuka matanya. Tatapan mereka bertemu. Pagi yang manis untuk pasangan yang di mabuk cinta.


"Kau tambah cantik saja sayang. Kau lebih berbeda dari yang sebelumnya." Sebelum istrinya salah mengartikan Kata-katanya, Ivander kembali melanjutkan ucapannya.


"Sebelumnya kau sudah sangat cantik, tapi sekarang lebih cantik lagi. Kau sempurna untukku."


"Benarkah?" Kata Joevanka, wajahnya sudah berubah merah merona. Ia tersipu malu.


"Ehmmmm..."


"Kau berbeda sayang."


"Apanya yang berbeda?" Joevanka ingin mengetahuinya lebih. Kalau saja suaminya sudah mulai merasakannya.


"Semuanya sayang, kau lebih berisi."


"Itu karena aku bahagia."

__ADS_1


"Syukurlah, misi ku berhasil untuk selalu membuatmu bahagia." Kata Ivander dengan tatapan berbinar bahagia. "Aku akan terus membahagiakanmu, sampai napas terakhir ku sayang."


Joevanka mengangguk sambil memegang garis rahang tegas milik suaminya. Rambut-rambut halus mulai tumbuh di sana. Tapi Joevanka menyukainya. Ia bahkan memberikan wajahnya agar menempel di dagu suaminya. Terasa geli tapi menyenangkan.


Mata mereka saling bertemu, Joevanka memandang penuh gairah. Aroma tubuh yang sensual dan maskulin dari suaminya, Ah...menambah kadar cintanya. Bahkan setiap kedipan indahnya seakan menggoda Ivander. Jurus untuk menghanyutkan suaminya kembali ia lakukan. Seakan terhipnotis, Ivander mulai masuk perangkapnya. Tatapan Joevanka yang sangat menginginkannya. Kini Joevanka membalikkan tubuh suaminya. Kini satu sama. Posisi joevanka kini berada di atas Ivander.


"Aku menginginkanmu sayang." Kata Joevanka mendekat ke telinga Ivander dan lidahnya bermain di sana.


Wajah Ivander merah padam, tak disangka perkataan istrinya mampu membuatnya terbakar. Namun berhasil membuat Ivander menahan senyum bahagia. Ivander memejamkan matanya mempersilakan istrinya untuk menciumnya. Joevanka tersenyum kecil saat Ivander memejam. Ia mulai membelai wajah suaminya. Dari dahi lalu ke pipi. Ivander menghembuskan napas yang mulai tergoda dengan sentuhan-sentuhan dari istrinya. Ia tidak sanggup ketika istrinya mulai menjelajahi lehernya. Dengan lembut Ivander merebahkan tubuh istrinya dan mengganti posisi. Ivander menatap Joevanka dengan penuh gairah.


"Biarkan aku yang melakukannya sayang. Kau cukup menikmatinya." kata Ivander dengan suara yang tertahan.


Joevanka mengulum senyum dan kembali tersipu. Kini Ivander yang mengusap wajah istrinya, lalu mencium bibir Joevanka dengan singkat. Kecupan turun di leher. Ia terus menggoda hingga membuat Joevanka merinding ketika Ivander meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di dadanya. Ivander mulai memasuki istrinya. Lalu ia kembali melesapkan bibirnya dan berpindah ke mulut Joevanka. Dengan Lmatan-lmatan yang dalam. Ivander semakin masuk jauh lebih dalam ke tubuh istrinya.


Permainan lembut, pelan namun kuat membuat Joevanka melepaskan erangan-erangan kenikmatan. Terdengar desahan-desahan keluar dari mulut mereka. Dan napas keduanya saling memburu. Aliran listrik seakan semakin kuat dan membuat tubuh mereka gemetar.


Joevanka benar-benar terhanyut, ia terus menutup mata agar semakin cepat tiba di puncak. Mengeluarkan suara erangan berulang kali dan pelepasan pun terjadi. Tubuh joevanka masih gemetar. Ivander tersenyum dan kembali mencium puncak kepala istrinya. Mereka sama-sama rebah dalam dekapan. Masih saling mengatur napas. Percintaan yang luar biasa. Suaminya benar-benar memabukkan.


"Sepertinya kita harus lanjut tidur lagi sayang." Kata Joevanka tersenyum dengan wajah puas.


Ivander tersenyum mengecup pipi istrinya "Tidurlah sayang, tiga jam lagi kita akan berkunjung ke makam daddy dan mommy."


"Ehm," Joevanka kembali tersenyum.Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan-nya dengan teratur. Joevanka kembali tertidur.


Ivander tersenyum memandang wajah teduh istrinya. Wajahnya terlihat polos seperti bayi. Napasnya teratur dan berhembus lembut. Ivander mencium dahi istrinya. Ia lalu turun untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu. Ivander ingin keluar mempersiapkan sesuatu untuk di bawa ke makam mertuanya. Diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya, ia melakukan proses pembelian atas perkebunan strawberry yang di jual Melisa. Kini kebun itu sudah sah atas nama JOEVANKA MARK. Ivander akan memberi kejutan untuk istrinya.


.


.


BERSAMBUNG


❣️ Mereka sama-sama mempunyai kejutan. Aduh bagaimana ya perasaan Ivander mengetahui kehamilan Joevanka? Begitu juga sebaliknya.


❣️ Ikuti terus ya sayang-sayangku. Salam sehat dari Author yang cantik untuk my readers yang paling cantik. 😘🥰


❣️ Whisper of love season 2 sudah ada ya, kisah Ivannia, Gavin dan Halbret. Happy Reading 😍


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌

__ADS_1


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU 💌


__ADS_2