
💌 Whisper of love 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Pagi ini memiliki embun yang menetes tanpa harus di minta. Kebahagiaan itu memiliki arti ketulusan tanpa di rencanakan. Sama halnya hati dia memiliki cinta tanpa harus di minta meskipun terkadang menyakitkan. Itulah yang dirasakan Ivander saat ini.
FLASHBACK ON
Ivander sudah bersiap untuk melakukan penerbangan ke London pada malam hari agar tiba di sana pada pagi hari.
" Sudah mau berangkat kak? " Ivannia datang menghampiri.
" Ehm, aku tinggal minta izin dari daddy dan mommy saja. Mereka tidak akan menghalangiku jika aku sudah membawa ini.." Ivander menunjukkan tiket pesawat dan pasport yang ada ditangannya.
" Bukankah Joevanka tidak ingin menemuimu kak? " kata Ivannia duduk ditepi ranjang.
" Kami sama-sama mencintai Ivannia, saya rasa jika dia mendengar penjelasanku aku yakin dia akan menerima. Aku tidak akan melepaskannya lagi. " ucap Ivander dengan yakin.
" Baiklah, sepertinya kamu harus berjuang lagi. Yang saya tahu Joevanka jika tersakiti, dia anak yang termasuk susah juga kak. Apalagi kakak selalu menyembur kata-kata yang menyakitinya, aku takut kakak tidak di terimanya."
" Kamu ini menjadi tim siapa sih, harusnya kau menyemangati kakak, berdoa agar Joevanka bisa menerima kakak. "
" Siap bos, maafkan saya yang mulia..." Ivannia membungkukkan badannya seraya memberi hormat.
Ivander terkekeh. " Apa kabar grandpa? " Ivander mengalihkan pembicaraan mereka.
" Sudah agak mendingan kak, grandpa sudah mau makan dan sudah mulai duduk. "
" Syukurlah, nanti sebelum berangkat kakak akan menemui grandpa. Aku mau bersiap siap dulu."
" Kebetulan sekali kak, mommy dan daddy sedang di rumah sakit. "
" Itu lebih bagus Ivannia. Kakak bisa berangkat dari rumah sakit. Oke, kakak mau bersiap-siap."
" Baik kak..." Ivannia melangkah keluar meninggalkan kamar kakaknya.
Ivander tersenyum, hari ini ia lebih bersemangat lagi. Malam ini ia akan berangkat ke London menemui Joevanka. Empat bulan telah berlalu. Ia memberi kesempatan buat Joevanka untuk menenangkan dirinya. Walau awalnya ia sangat terpukul dengan perkataan daddynya. Joevanka menolak kembali, bahkan ia tidak ingin kembali dan memilih menetap di London. Dia ingin memulai kehidupan yang baru tanpa bantuan keluarga Donisius lagi. Daddy bahkan mengatakan jika Joevanka sudah memaafkan Ivander. Namun jika untuk bertemu dengannya, Joevanka belum siap.
" Tapi tidak kali ini Joevanka, aku tidak akan membiarkan hati ini sakit lagi. Kita sama-sama saling mencintai. Perasaanmu di buku diary nyata ungkapan dari hatimu. Cintamu tercipta dari awal kita bertemu. Aku percaya ada kesempatan kedua dalam hidup ini, dan sepertinya aku sedang memperjuangkannya, untuk mendapatkan cintamu lagi. "
" Aku Ingin mempertahankan rasa ini, yang berarti aku tidak ingin menyia-nyiakan perjuangan ini. Meskipun aku tahu banyak perjuangan yang berakhir dengan kesedihan. Tetapi aku tetap yakin tentang perjuangan cinta, aku akan membuatmu percaya bahwa kau adalah cinta sejati ku. Karena itu aku tidak akan melepaskan mu, apa pun yang terjadi. "
Ivander sangat bersyukur ia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan cepat. Sehingga tidak ada alasan lagi. Ivander akan menghabiskan hari liburnya di London. Jika Joevanka tidak ingin pulang, setidaknya waktunya masih banyak untuk membujuknya dan mengembalikan kepercayaan Joevanka.
" Alea...? " Ivander memicing matanya, ketika melihat Alea nampak gelisah. Ivander melangkah menuruni tangga.
" Ivander... seperti kita harus ke rumah sakit." Alea melangkah panjang mendekati Ivander.
__ADS_1
Wajah Ivander mengerut serius, "Apa yang terjadi? " Ivander sudah nampak cemas.
" Grandpa meminta kita berkumpul di rumah sakit. "
" Apa yang terjadi? " ulang Ivander dipertanyaan yang sama. wajahnya nampak panik.
" Aku juga tidak tahu, tiba-tiba kesehatan grandpa menurun dari tadi daddy menghubungimu tapi kau gak angkat. Jadi daddy menghubungiku agar mengajak kalian pergi bersama ke rumah sakit." keluh Alea.
Ivannia sudah berlari menuruni anak tangga.
"Sekarang kita berangkat.." Ivannia sudah menangis. " Tadi mommy nelpon bahwa grandpa mencari kita semua. " Ivannia menangis dipelukan Alea.
Wajah Ivander menegang, ia takut dan sangat takut. Ivander belum siap ditinggalkan grandpa Christian. Ia menggeleng.
" Grandpa aku mohon tunggu kami. Sekarang kita pergi!" Ivander melangkah panjang menuju mobil.
Tidak tahu berapa kecepatan yang di tempuh Ivander saat ini. Ia mengejar waktu agar cepat sampai kerumah sakit. Ivander bahkan menyalip beberapa mobil yang dirasa menghalangi jalannya.
Tap tap tap
langkah mereka begitu cepat memasuki loby rumah sakit. Mereka langsung menuju lift khusus menuju kamar super VIP yang ditempati grandpa.
CEKLEK
Pintu rumah sakit terbuka.
Ivander hanya diam ditempat, tubuhnya membeku. Alea dan Ivannia sudah masuk berhambur memeluk grandpa yang terlihat lemah. Ivander mengedarkan pandangannya, daddy dan mommy sudah berada di sana. Wajah mereka sudah nampak panik dan cemas. Uncle sudah di sana memeluk Aunty Felin yang sepertinya sedang menangis dan tidak kuat berdiri lagi.
" Grandma? " Ivander mencari sosok yang biasa mendampingi grandpa.
Kata-kata menunggumu, seakan menyesakkan dadanya. Ia menggeleng tidak terima jika kata-kata itu seolah mengatakan jika Ivander datang grandpa sudah siap pergi.
Dengan langkah gontai Ivander mendekati ranjang rumah sakit.
Suara dari monitor terdengar jelas ditelinganya ,menampilkan grafis detak jantung dan tekanan darah. Ventilator yang dihubungkan dengan selang melalui hidung, Grandpa masih menggunakan oksigen yang menutup mulutnya.
" Grandpa? "
" Kamu datang Ivander... mendekatkan...! " Suara terbata bata dari grandpa, masih bisa Ivander dengar walau ada oksigen yang masih menempel di mulutnya.
Semua hening, Anastasia tersenyum mengangguk kan kepalanya ketika melihat Ivander ragu untuk mendekati ranjang rumah sakit.
" Grandpa ingin bicara sayang..." Kata Anastasia.
Alea mundur dan memeluk Ivander agar mendekat. Ivander duduk disisi ranjang dan memegang tangan grandpa dengan lembut. Matanya sudah berkaca-kaca.
Anastasia memeluk suaminya, Ia begitu sedih melihat situasi ini. Air matanya tidak bisa terbendung lagi.
" Grandpa akan pergi, aku akan menyerahkan tugas dan tanggung jawab kepadamu untuk melanjutkan perusahaan Donisius. Mungkin sudah saatnya daddy-mu istirahat. Grandpa percaya kamu bisa melanjutkan perusahaan bahkan lebih baik dari daddy-mu Ivander." Cristian seakan mendapat kekuatan untuk berbicara kepada Ivander.
Ivander mengangguk. Air matanya tidak bisa di bendung lagi. Ia segera mendekat dan memeluk grandpa. Ivander sambil menangis memeluk dengan tangisan, ia benar benar tidak siap di tinggal orang yang sangat di cintainya. Bahunya bergetar dibalik pelukannya.
Suasana menjadi haru, Alea dan Ivannia ikut menangis. Ivander adalah cucu kesayangan grandpa. Karena Ivander tidak pernah mengecewakan keluarga.
__ADS_1
" Grandpa harus kuat dan sehat kembali, grandpa harus melihat Ivander sukses dulu ya. Semangat untuk sehat grandpa. Aku mohon bertahanlah. " Ivander tidak bisa melanjutkan kata katanya. Ia Kembali memeluk lelaki tak berdaya itu.
Christian menggeleng lemah, ia tidak sanggup melanjutkan kata katanya. Tangannya tiba tiba terjatuh dari tubuh Ivander. Semua panik, mereka histeris menangis. Patient monitor sudah menunjukkan grafis lurus. Tubuh mereka membeku, melihat fakta bahwa orang yang mereka sayangi sudah tiada.
Tangisan kesedihan terdengar di dalam ruangan kamar, dokter sudah masuk untuk menyatakan jika Christian sudah meninggal.
Ivander sangat terpukul atas kepergian grandpa yang sangat di sayanginya. Beberapa proses telah dijalankan. Semua kerabat datang langsung kerumah duka. Untuk menyampaikan belasungkawa. Mereka mengantarkannya sampai ketempat peristirahatannya yang terakhir. Grandma tidak bisa ikut karena kesehatan drastis menurun. Ia dirawat dirumah sakit.
Tiga bulan telah berlalu, Maria hanya bisa di kamar saja. Maria hanya mau Ivander yang menungguinya dan selama itu pula Ivander yang mendampingi Maria.
Hingga suatu saat Maria di larikan kembali kerumah sakit.
Waktu begitu cepat berlalu. Keadaan berubah secepat kilat. Ivander hanya bisa menghabiskan waktunya menjaga grandma selama beberapa bulan. Maria melihat sosok Ivander seperti Christian. Ia hanya ingin Ivander yang menjaganya.
Ivander memberikan waktu terbaiknya buat menjaga grandma, ia bahkan mengajak grandma berjalan jalan untuk menikmati cuaca pagi yang indah di area rumah sakit.
" Ivander..." panggil Maria dengan suara terendahnya.
" Apa grandma butuh sesuatu? "
Maria hanya menggeleng lemah. " Sepertinya tidak lama lagi, grandma akan menyusul grandpa mu. "
" Grandma harus sehat, apa grandma tidak ingin melihatku sukses? " Ivander menyentuh tangan Maria dengan lembut.
Maria kembali menggeleng lemah, namun masih bisa memberikan senyum terbaiknya untuk Ivander.
Ivander terus berbicara, ia tidak menyadari jika grandma sudah tiada. Ivander tersenyum melihat Grandma nya tertidur.
" Seharusnya kita kembali kedalam Grandma. " Ivander merapikan selimut yang menutupi kaki Maria yang duduk di kursi roda.
Namun tangan Maria terjatuh.
Ivander panik dan berusaha membangunkan Maria, ia sedikit mengguncang tubuh Maria.
" Tidakkkkkk....!!!!!" Ivander menjerit histeris. Ivander terus menggeleng, ia bahkan terus memeluk wanita itu.
Dunia seakan runtuh, Ivander mendekap tubuh Maria dengan tangisan. Hatinya begitu sedih mengetahui fakta jika orang yang disayang pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Ivander tidak mudah melewati saat-saat penuh duka. Perasaan tak berdaya, sirnanya semangat, bahkan harapan hidup yang tiba-tiba pupus seiring kepergian orang yang cintai membuat Ivander kian larut dalam duka.
Ivander menarik napasnya dalam dalam tujuh bulan ia melupakan tujuan utamanya untuk menemui Joevanka. Keluarga besarnya begitu sangat kehilangan termaksud Ivander sendiri.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
__ADS_1
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌