WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Penyesalan Ivander


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Ivander mengacak rambutnya dengan kasar, Ia menatap Berneta.


" Sekarang jelaskan kenapa Joevanka pergi? Apa dia ada masalah keluarga, sehingga mengharuskannya pergi? " tanya Ivander dengan posisi berkacak pinggang. Ia masih belum mengerti dengan situasi saat ini.


Berneta hanya diam, Ia nampak bingung dengan sikap tuannya. Memang sih, nona Joevanka perginya mendadak. Tapi tidak mungkin juga tuan Ivander tidak tahu.


" Jawab aku Berneta! " Ivander kembali Meninggikan suaranya. Menekan intonasi bicaranya.


" Saya tidak tahu tuan, yang saya dengar hanya itu saja tuan, nona Joevanka menangis dan ingin pulang ke London." Lagi lagi Berneta hanya bisa mengelus dada, memejamkan matanya ketika Ivander kembali berteriak.


" Kapan itu? " tanya Ivander dengan suara terendahnya.


" Apa yang terjadi tuan, kenapa anda tidak tahu kepergian nona Joevanka? " Berneta memberanikan diri memberikan pertanyaannya kepada Ivander. Sampai saat ini ia tidak mengerti dengan sikap tuannya.


" Yang saya tanya, kapan kejadian Joevanka menangis? " tanya Ivander menekan setiap perkataannya. Ia tidak ingin mengulang pertanyaannya.


" Sehari setelah tuan pulang dari camping tuan. " Kata Berneta dengan yakin, ia masih ingat, Joevanka mengurung diri semenjak kepulangan mereka dari camping dan menangis terus di kamarnya.


Heeeeeee Ivander membuang napasnya sambil menutup matanya, berusaha menenangkan perasaannya, kini ia menyadari kata katanya pada saat malam itu, mampu membuat Joevanka pergi. Ia menarik napas panjang dan menelan salivanya. Tiba tiba terbayang dalam pikirannya. Apa yang telah di ucapkan nya kepada Joevanka. Ivander membuka mulut, menarik napas dan mendongak ke atas. Ia begitu frustasi saat ini.


" Dengan siapa dia pergi Berneta? " Ivander berusaha bersikap tenang, walau hatinya saat ini begitu sakit. Hatinya terasa hampa, semua yang ada dipikirannya salah. salah Mengartikan kedekatannya dengan Samuel, salah menilai jika Joevanka menerima cinta samuel. sekarang yang hanyalah penyesalan.


" Dengan pak Brian. " jawab Berneta cepat.


" Apa daddy dan mommy tau? "


" Tentu tuan, beliau yang memerintahkan pak Brian untuk mengantarnya sampai ke bandara." Jawab Berneta.


" Apa Ivannia dan Alea tahu? "

__ADS_1


" Ya tuan, bahkan nona Joevanka mengajak Nona Ivannia dan Alea untuk melakukan perpisahan. " wajah Berneta semakin mengerut ke dalam.


Ivander kembali menarik napasnya sambil memejamkan matanya, sakit begitu sakit sampai bernapas saja ia tidak mampu.


" Jadi hanya aku yang tidak tahu? " Kata Ivander dengan suara terendahnya.


Ivander masih posisi terpejam, berusaha menekan segala perasaannya. Apakah karena perkataannya? apakah Joevanka pulang karena Ivander mengatakan telah menyusahkan keluarga Donisius?


Ivander tersenyum miris, bahkan ia menggelengkan kepalanya, tidak percaya.


" Tuan, apa anda tidak apa apa? wajah anda pucat. Apa saya mau ambilkan minuman? "


" Tidak, aku tidak apa apa." Kata Ivander menjawab cepat, wajahnya sudah berubah sendu.


" Tuan...! Maafkan saya, tadi saya menyimpan pakaian tuan Ivander dan melihat tas non Joevanka ada di dalam lemari tuan. Maafkan saya karena telah mengambil tas itu tuan, karena rencananya saya ingin mengembalikan kepada nona Joevanka. Tapi? saya lupa memberikannya kepada nona Joevanka. Sekarang tas itu saya simpan kembali ke dalam kamar tuan. Saya letakkan di atas meja tuan. Sekali lagi saya minta maaf tuan, saya tidak bisa memberikan tas itu kepada nona Joevanka. " Kata Berneta dengan suara terendahnya seraya membungkukkan badannya, untuk ungkapan rasa bersalahnya.


Ivander hanya menjawab dengan gumaman. Ia hanya berjalan meninggalkan Berneta yang nampak kebingungan.


" Tuan..karena ini hari sabtu, non Ivannia nginap di rumah non Alea." kata Berneta.


Ivander mengangguk. Ia mulai berjalan pelan meninggalkan Berneta.


Dengan langkah gontai, Ivander menaiki tangga. Dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya, kini Ia berada di depan kamar Joevanka. Ia diam terpaku, menatap pintu kamar itu. Ivander menahan sekejap tangannya di kenop pintu. Ia menarik napasnya dan berlahan lahan membuka pintu itu.


CEKLEK....


Pintu terbuka.


Ivander melangkah masuk perasannya campur aduk saat ini. Ia mengedarkan pandangannya, melihat setiap sudut kamar itu. Tidak ada foto lagi yang di pajang di dinding kamar. Kini menyadari Joevanka memang sudah pergi. Dengan tatapan kosong, ia termangu dengan posisi berdiri dan menundukkan kepalanya. Ivander merasakan sesak, tak bisa ia artikan. Apakah sesak karena Joevanka pergi? apakah sesak telah menyakiti Joevanka? Ivander tidak tahu. Saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah merenungi semua.


Ivander kembali menarik napasnya dalam dalam. Kamar ini menimbulkan flash back dalam ingatannya. Ketika Joevanka ketakutan berlari memeluknya. Pelukan yang erat membuat jantung Ivander terpukul saat itu. Reflek Ivander menyentuh dadanya, rasanya masih seperti menyetrum dan tetap saja menggelitiknya. Ia menarik napasnya dalam dalam.


" Setidaknya kau bertahan Joevanka, aku mengatakan itu karena aku kecewa dan cemburu. Namun cemburu ini tak beralasan. Aku bodoh dan bahkan bisa di katakan lelaki brengsek. Bisakah aku tarik kembali kata kata itu? tapi sekarang kau sudah menganggapku lelaki yang tidak punya hati, telah menyakiti perasaanmu. Kau bahkan pergi...pergi dan tidak akan kembali lagi. Apa yang harus aku lakukan? " Lagi lagi Ivander tersenyum miris.


" Maafkan aku Joevanka, aku terburu-buru dalam mengambil kesimpulan, dan sekarang aku frustasi, bagaimana caraku meminta maaf kepadamu. Aku terlalu menuruti emosiku dan sekarang penyesalanku adalah hadiah yang ku terima sekarang. "


Ivander meratapi kebodohannya, ia bahkan tertawa mengejek dirinya.


Ivander memicingkan matanya melihat Boneka yang pernah diberikannya, ketika ia berhasil memainkan mesin boneka di mall. Ia meraih boneka itu dan lagi lagi ia membuang napasnya. Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi. Saat ini Joevanka terluka dan sangat terluka.

__ADS_1


Ivander sangat menyadari, saat ini yang ia butuhkan adalah β€œ bicara ”, tapi harus bagaimana, Joevanka tidak ada lagi. Hanya ada memori, memori yang membuatnya pilu dan luka yang Ivander berikan akan siap membuat Joevanka kembali mengingatnya. Luka itu seperti ia taburi dengan jeruk nipis.


Ivander menarik dan menghembuskan napasnya dengan cepat. Energi di tubuhnya seakan hilang entah kemana, kini yang tertinggal hanya rasa lesu dan tidak berdaya. Penyesalan itu menggerogoti jiwanya.


Mengungkapkan rasa kecewa dan penyesalan karena cinta terkadang bisa sedikit melegakan hatinya. Namun, Ivander terlanjur memberikan kekecewaan itu dengan kata-kata kasar.


Ivander bahkan saat ini tidak bisa menjelaskannya.


Sesak, hampa, seperti ada lubang besar dan dalam yang tiba tiba menyayat hatinya. Ivander kembali mengingat potongan potongan Kalimat yang ia ucapkan kepada Joevanka.


" Kau salah satu manusia yang tidak tahu diri.


Apa kau sengaja untuk mencari perhatian semua orang? aku tidak tahu ! yang jelas aku muak dengan sikapmu. Bahkan aku berharap tidak ingin bertemu denganmu dan bahkan melihatmu sedetikpun, aku tidak ingin..."


" Kau terlihat polos, ternyata kau jauh lebih buruk dari wanita penggila malam..."


kata yang ia ucapkan sendiri terasa menyengat di batinnya, dalam sekejap menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi.


Ivander mengusap wajahnya dengan kasar. Menyapu rambutnya keatas. Ivander kembali melakukan ritualnya menghembuskan nafasnya lewat mulut mencoba menstabilkan napasnya untuk menenangkan dirinya. Ia berusaha untuk menahan sesak yang teramat dalam. Ia pasrah Joevanka membencinya.


Ivander memilih keluar dari kamar Joevanka. membiarkan pintu kamar itu terbuka. Dengan langkah panjang ia masuk ke dalam kamarnya. Kata kata yang ia ucapkan kepada Joevanka menari nari di dalam benaknya. Namun bayangan Joevanka menangis membuat Ivander melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Tanpa membuka baju, Ivander menghidupkan shower dan membiarkan air itu membasahi tubuhnya. Ia terdiam di bawah shower yang menyala dengan satu tangan bertumpu di dinding. Ivander membiarkan tubuhnya basah, tanpa menyadari ia tertawa sambil menangis.


" Maafkan aku Joevanka..." Lirih Ivander berhasil menjatuhkan air matanya.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ

__ADS_1


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU


__ADS_2