
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
IVANDER DONISIUS
Enam tahun kemudian.
Pria muda yang berusia 28 tahun, dengan postur tubuh yang atletis, tampan dan pintar.
Dengan kulit yang sehat dengan wajah penuh kharisma semuanya nampak begitu sempurna. Dengan aroma tubuh nan wangi. Ia sudah menggunakan setelan jas berwarna abu abu dan celana yang berbahan yang sama dengan setelan jasnya. Dengan potongan belakang Vent membuat jas yang Ia gunakan pas dan nyaman dipakai. Ia menggunakan sepatu Oxford yang mengkilap. Dia terlihat smart dan Profesional, bagi siapa saja yang melihat pasti mengaguminya.
Dia adalah IVANDER DONISIUS, ia sudah mampu memecahkan permasalahan perusahaan semenjak ia mengikuti praktik magang di perusahaan. Dan terbukti Ia mampu membawa perusahaan Donisius lebih maju lagi bahkan ia mampu menunjukkan kesuksesannya dan di pandang nomor satu di dunia. Ia bahkan menjadi sorotan para pebisnis lainnya. Ia menjadi topik pembicaraan. Ivander memang seperti Aaron.
Ivander disambut beberapa tim ketika ia keluar dari mobil dan memasuki gedung Pencakar langit. Para manager personal, manager pemasar, dan manager pabrik serta para devisi sudah berjejer rapi untuk menyambut kedatangan Ivander, mereka menundukkan kepala menyambut direktur utama Donisius.
Langkah kaki menggema serentak mengikuti langkah Ivander, tidak cepat dan tidak lambat. Melihat kedatangan direktur utama, para karyawan dengan cepat menundukkan kepala seraya memberi hormat. Mereka tidak berani mengangkat wajahnya.
" Bagaimana persiapan rapat hari ini? " Ivander bertanya, namun pandangannya tetap kedepan dan langkahnya masih terdengar di koridor.
" Semua sudah diatur pak , rapat sudah di jadwalkan pukul sepuluh . " jawab Halbret dengan cepat langkahnya tetap mengimbangi. Ia melangkah tegap, ia membawa buku agenda untuk memeriksa dan mencatat jadwal penting.
" Apa email dari Australia sudah masuk? "
" Saya sudah periksa pak, email nya sudah masuk, anda tinggal memeriksanya."
" Persiapkan rapat di Australia besok lusa, saya tidak mau terulang seperti beberapa tahun yang lalu. Sampaikan kepada pihak yang bertanggung jawab mengurus hal itu di Australia. "
" Saya sudah menunggu berita terakhirnya, dan kita tinggal membahasnya di sana. Waktu dan tempat sudah saya infokan. Mereka sudah mempersiapkan tempatnya. Nanti saya akan langsung memberitahukan kepada bapak. "
" Tolong Atur sebaik baiknya, sampaikan kepada Gavin untuk pertemuan dan jamuan dengan klien, saya tidak mau ada kesalahan sedikitpun. Klien kita ingin melihat bagaimana perkembangan anak perusahaan di Australia. "
" Baik pak ! "
" Apa ada kendala, di bagian anak cabang? "
" Sejauh ini laporan yang saya terima, tidak ada pak. " Jawab Halbret dengan lugas dan tidak bertele-tele, sementara sikap tubuhnya masih tetap tegap.
Ivander sudah tiba di ruangan yang bertuliskan CEO, ia langsung duduk di kursi kekuasaannya.
Halbret berdiri tidak jauh dari Ivander, posisi tegap dan siap mendapat perintah dari bapak direktur.
__ADS_1
" Bagaimana sekretaris yang ku minta? " Ivander duduk dengan tubuh condong ke depan memangku siku diatas meja.
" Maaf pak, saya belum menemukan sesuai kriteria anda. " kata Halbret dengan suara terendahnya, ia menundukkan kepalanya.
Ivander tersenyum smrik dengan menaikkan alisnya setengah. " Saya tunggu dalam waktu dekat, kau harus menemukannya. Sekarang kau boleh keluar! " ucap Ivander tegas.
βββββ
Setelah melakukan Video call bersama Samuel, ia duduk santai menatap keluar. Pandangannya jauh menerawang. Ia menarik napasnya dalam dalam. Menikmati senja dari balkon kamarnya. Setelah wisuda, Samuel menerima tawaran pekerjaan di Austria, ia memilih pergi dan menetap di sana. Walau mereka jauh, mereka tetap melakukan hubungan komunikasi dengan baik.
Ivander bangkit untuk meregangkan otot-otot nya, selama satu pekan melakukan tugas dengan jabatan CEO tentu bukan hal yang mudah, ia mengemban tugas berat, meneruskan perusahaan Donisius menggantikan Aaron Donisius membuatnya harus tetap menjaga kesehatan.Tugas direktur utama memang sangat berat karena direktur utama merupakan jabatan tertinggi dalam perusahaan. Ia harus piawai dalam mengambil keputusan yang terkait dengan perkembangan perusahaan Donisius sekaligus mengelola sumber daya yang tersedia terkhusus menyusun strategi untuk mengarahkan bisnis menjadi lebih maju.
Salah satunya adalah istirahat, walau hanya duduk sambil menikmati acara televisi yang berhubungan dengan dunia bisnis.
Ivander menghabiskan waktunya beristirahat di apartemennya. Ia sengaja memilih apartemen yang dekat dengan kantornya, karena ia sendiri tidak mau, menghabiskan waktunya di jalan. Saat ini berhubung daddy dan mommynya keliling Eropa barat. Ivander di minta menjaga Ivannia di kediaman Donisius.
Ivander kembali menarik napasnya dalam dalam, lalu menghembuskan napasnya sekaligus dari mulutnya. Enam tahun sudah berlalu, banyak kejadian yang terjadi di luar dugaannya.
Diawal tahun grandpa dipanggil menghadap sang pencipta karena sakit yang di deritanya.
Usai peristiwa itu. Semua merasa kehilangan. Ivander sendiri masih dalam keadaan terpukul. Dengan perasaan yang begitu berat di tinggalkan grandpa. Ivander pun belum mampu menerima kenyataan itu.
Sepertinya grandma belum siap ditinggal grandpa, setengah tahun kehilangan orang dicintainya, grandma menyusulnya. Kepergian kedua orang yang sangat dicintainya masih sangat membekas di hatinya. Walau dengan menjerit dengan tangisan dua orang sekaligus pergi dan meninggalkannya. Mereka yang begitu penting dalam hidupnya tak akan bisa kembali lagi. Dengan berat Ivander memang harus mengikhlaskannya.
Ivander kembali masuk, duduk di kursi malasnya. Ia duduk menempelkan badannya di kursi, ia mendongak keatas menatap langit langit ruangannya. Ia memejamkan matanya. Menarik napasnya pelan, agar ia bisa mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Baru saja ia tertidur, Ivander tersentak mendengar ketukan pintu.
TOK TOK TOK
" Apa aku bisa masuk kak? " Ivannia menunjukkan setengah badannya dan mengintip dari daun pintu.
" Masuklah! " kata Ivander masih nyaman dengan posisinya.
Ivannia cengengesan, ia berjalan pelan mendekati Ivander.
" Kak...! " panggilnya dengan lembut.
" Ehm .." gumam Ivander, Ia tetap terpejam, dengan posisi kepala mendongak keatas kedua tangan ia tautatkan, dan ia letakkan diatas perutnya.
" Kak..ada seseorang ingin bertemu dengan mu." kata Ivannia sedikit ragu.
Bersamaan itu, ia membuka matanya, menatap Ivannia yang sedang menunduk dan mencuri curi pandang kepadanya.
Ivander menggeleng dan meraih tablet yang ada diatas meja. Ia membuang napasnya, istirahatnya terganggu lagi.
Ivander mulai menyibukkan diri menatap tablet digital nya.
" Kak...ada Amber di luar. " kata Ivannia kembali, ia menggigit bibir bawahnya.
" Apa? ember ? " Ivander sedikit terkejut. " Siapa lagi ember ini ? " Ivander mengangkat wajahnya. Memicingkan matanya menatap Ivannia.
__ADS_1
" Bukan ember kak tapi Amber, dia temanku..." Ivannia memperjelas kalimatnya dengan lembut.
" Berhenti menjodohkan kakak. Jangan buang waktumu, hanya untuk mengurusi hal yang tidak penting. Sekarang lebih baik temui ember teman kamu itu dan jangan mengganggu kakak ! " kata Ivander menolak dengan tegas.
Ivannia memutar bola matanya. " Astaga Amber kak bukan ember. " Ivannia sedikit kesal. " Amber anaknya baik kak, cantik lagi... ayolah temui dia sekali ini saja. " Ivannia sedikit memohon.
" Jadi maksudmu, besok yang lain lagi, gitu? Ini sudah yang ke dua puluh Ivannia, berhenti mengurusi yang seperti ini dan aku tidak suka. " kata Ivander, ia menatap serius kepada Ivannia sambil menautkan kedua alisnya.
" Bukan aku kak, mereka saja yang ingin bertemu. Ya..aku gak bisa menolaknya." keluh Ivannia.
" Kamu kan bisa menolaknya dan kasih alasan yang baik."
" Aku gak tega kak.." wajah Ivannia memelas sendu.
" Tapi aku tidak suka Ivannia..." Ivander merendahkan suaranya. Percuma juga ia marah, toh Ivannia masih tetap melakukannya.
" Coba dulu, dia satu salah satu karyawan di salah satu bank swasta kak..."
" Bilang saja satu teman kerjamu..." protes Ivander.
Ivannia kembali cengengesan, " Kok bisa tahu kak? Ayolah kak, kali ini saja..ya, ya, ya kak... ayolah..." Rengek Ivannia memegang lengan Ivander.
" Kakak masih banyak kerja..."
" Jangan banyak alasan, ini hari libur. "
" Huftt... kapan kamu berhenti membuat perjodohan konyol ini ? " Ivander mulai kesal.
" Sampai kakak menerima salah satu diantara mereka."
" Berhentilah buat aku kesal Ivannia. "
" Ayolah kak, dia sudah menunggu."
Ivander bangkit, " aku masih sibuk. " Ivander melangkah mendorong tubuh Ivannia dengan lembut. " Kau hanya katakan, kakak gak ada di rumah, oke..." Ivander menutup pintu. Menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskan napas panjangnya sekaligus. Ia menggeleng lalu kembali mengambil tablet digital untuk memeriksa beberapa email yang di kirim Gavin dari Australia.
" Apa dia pikir dengan menjodohkan salah satu temannya, dia langsung menerima begitu saja? " huft.... Ivander hanya bisa membuang napasnya dan menggelengkan kepalanya. Karena menurutnya cinta tidak bisa dipaksakan karena akan berujung saling melukai.
..
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
__ADS_1
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU π