
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Ivander begitu terkejut ketika pintu di buka dengan kasar. Ia sedang serius memeriksa hasil pekerjaan Gavin. Pandangannya teralihkan, Ivander mengangkat wajahnya bahkan Ia sampai mengerutkan keningnya. Pertemuan hari ini menurutnya kacau. Dari permasalahan perusahaan yang tiada habisnya, ditambah laporan tertinggal dan kali ini karyawan berulah masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
Pantas saja anak perusahaan ini, tidak berkembang dengan baik. Karyawan disini tidak memiliki ciri karyawan yang berkualitas.
Ivander mendengus kesal, ia bahkan mengeraskan rahangnya. Setiap karyawan tidak hanya memiliki tanggungjawab pada pekerjaannya dan memiliki kualitas terbaik saja, namun harus ada sopan dan beretika juga.
Ivander tidak percaya, jika yang melakukan itu adalah karyawan wanita. Ia tersenyum smrik sambil mengangkat setengah alisnya, Ivander mengubah posisinya dengan memangku siku di atas meja dan memicingkan matanya menatap wanita itu.
Hening, mereka hanya bisa diam, Gavin menepuk keningnya dan pasrah. ketika Joevanka membuka pintu dengan kasar. Mau bilang apa lagi, semua sudah terjadi. Sekarang mereka hanya siap menunggu teguran dari direktur saja.
Astaga Mimpi apa lah dia tadi malam, hari ini tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Gavin sangat tahu jika direktur tidak suka hal seperti ini. Ia hanya bisa menatap direktur. Diam tanpa ekspresi, sangat sulit untuk menebaknya. Apakah direktur marah? atau bagaimana?
Oh my God, Keluarkan aku secepatnya dari tempat ini, sebelum direktur murka. Gavin hanya bisa membuang napasnya dengan lesu.
" Astaga joe, kenapa kamu nekat masuk dan tidak mengetuk pintu dulu.. " Gavin berbicara dalam hatinya, Ia merutuki keberanian Joevanka. " Apa dia tidak takut di pecat, aku bahkan berulang kali mengingatkannya, jika sifat dari direktur Donisius ini sangat berbeda dari direktur sebelumnya. " Wajah Gavin memelas pasrah, ia sendiri tidak akan bisa membantunya jika Joevanka dipecat.
" Sekarang, tamat kariermu joe..." Batinnya kesal.
Ivander masih diam, ketika wanita itu membungkuk badannya dan memegang lutut nya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat.
Ivander hanya tersenyum sambil menaikkan sisi bibir kanannya naik keatas.
Namun ketika posisi wanita itu tegap dan berdiri menghadap padanya.
" Maafkan atas keterlambatan saya pak! " Ia membungkukkan badannya dan berusaha menahan tubuhnya lebih lama dan kembali dengan posisi tegap. Ia melemparkan senyumnya kepada Direktur utama Donisius.
" Saya membawa laporan yang anda minta pak. "
DEG DEG DEG
Sepersekian detik, jantung Ivander terpukul kencang. Napasnya ikut tertahan di dada, ekspresi wajahnya tiba tiba berubah menegang. Ia bahkan terbelalak dan berkedip cepat saat melihat sosok yang dikenalnya berdiri di depannya.
Ivander menatapnya penuh kerinduan yang sangat mendalam. Ia terdiam dengan mulut terbuka dan napasnya sudah terlihat naik turun. Ivander masih tidak percaya. Getaran getaran lembut yang tercipta dari jantung semakin terpompa lebih kencang.
Apakah ia sedang bermimpi? ia menyadarkan dirinya. Tidak, ini bukan mimpi, ini benar-benar nyata.
Ivander kembali mengingat perkataan daddy-nya, jika Joevanka menolak kembali, bahkan ia tidak ingin kembali dan memilih menetap di London. Dia ingin memulai kehidupan yang baru tanpa bantuan keluarga Donisius lagi. Daddy-nya bahkan mengatakan jika Joevanka sudah memaafkan Ivander. Namun jika untuk bertemu dengannya, Joevanka belum siap.
Sekarang, Joevanka telah membuktikannya, seiring berjalannya waktu masa lalu akan terkubur dengan segala moment-moment baru yang ada di pikiran, sehingga membuat masa lalu itu hilang.
Aaahhhhhhhhh Ivander menarik napasnya kembali. Tapi saat ini ada hal aneh yang ia ucapkan, Ivander mencoba mencerna, dan mencoba mengerti apa yang dikatakan joevanka. Kini wajah Ivander sudah terlihat pucat. kenapa ia sangat berbeda, apa yang terjadi pada joevanka kenapa dia tidak mengenalinya.
" Anda mengenal saya pak? " kata kata itu seakan berputar seperti kaset di dalam otaknya.
Bahkan kata kata itu seperti suara petir menyambar seakan berbunyi kencang di telinganya. Wajahnya berubah tegang. Napasnya bahkan berhembus tidak stabil. Ia bangkit dan membalikkan tubuhnya agar orang yang berada di sana tidak melihat ekspresinya yang pucat. Ivander nampak gugup dan langsung meninggalkan ruang rapat dan masuk kedalam kamarnya. Semua nampak bingung melihat sikap bapak direktur. Mereka saling berpandangan, ingin mencari tahu, tapi tidak ada yang berani bertanya.
Ivander mengeluarkan napasnya secara cepat tidak beraturan dari mulut. Ia melonggarkan dasinya, untuk mengurangi rasa sesak yang menghimpit dadanya.
" Joevanka apakah itu benar benar kau? "
Dengan cepat Ivander menghubungi Halbert, memerintahkan Halbert agar mereka keluar dari ruangan itu. Saat ini ia hanya butuh bicara dengan joevanka.
" Mohon maaf rapat akan dilanjutkan satu jam kemudian. Pak Gavin, anda diminta untuk mengurus klien, saat ini pak direktur tidak bisa diganggu."
" Apa beliau sedang sakit? "
" Saya tidak mempunyai wewenang untuk menjawab itu pak, saya mohon maaf ! "
" Lebih baik kita keluar. " Joevanka menarik tangan Gavin.
__ADS_1
" Maaf bu, kecuali anda. Bapak ingin bicara dengan anda. "
" Apa???? Saya pak??" Joevanka terkejut sambil menunjuk ke dirinya.
" Ya, bapak ingin bicara dengan anda. "
Joevanka mengerutkan keningnya, menatap Gavin. Ia ingin meminta jawaban dari pria itu. Namun Gavin hanya bisa mengangkat kedua bahunya, bertanda ia juga tidak mengetahui apa-apa.
" Kenapa tiba-tiba bapak direktur ingin berbicara kepadaku pak Gavin? "
" Aku juga tidak tahu Joe.."
" Apa karena keterlambatan ku membawa laporan itu atau jangan jangan karena sikap tidak sopan ku yang membuka pintu dengan kasar ya pak?" Joevanka nampak cemas.
" Jawab aku pak Gavin ? " Joevanka menepuk kakinya dengan gelisah. Sumpah saat ini tingkat penasarannya naik level sepuluh.
Gavin hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" Saya juga tidak tahu. " Gavin menekan perkataannya, ia berbisik kepada Joevanka.
" Apakah saya akan di pecat? " Wajah Joevanka memelas pasrah.
" Sepertinya Joe..."
" Apa? " Joevanka terbelalak kaget. Kata kata itu seperti tamparan hebat buatnya.
" Mohon maaf pak, anda dipersilahkan keluar. Direktur ingin berbicara berdua dengan ibu joevanka." kata Halbert tersenyum ramah, ia membaca id card yang dipakai Joevanka.
Joevanka menarik tangan Gavin, ia menggeleng kepalanya. " Jangan tinggalkan aku pak, bapak bisa dampingi aku. Bukankah kita berdua yang membuat laporan itu pak, kita sama sama bertanggung jawab. " Joevanka memohon dengan wajah memelas.
" Maaf ibu Joevanka, direktur tidak mau menunggu lama." Halbert mengingatkan.
" Bisakah bapak Gavin ikut bersama saya pak? "
" Tidak, bapak direktur meminta anda menemuinya di kamar. "
" Tidak apa apa Joe, jika bapak direktur marah, cukup kau minta maaf saja. Jangan membantah, Semangat Joe! " Gavin mengepalkan tangannya dan memberi semangat untuk Joevanka. " Kami menunggu di ruang sebelah. " Gavin menepuk lengan Joevanka dengan lembut, lalu melangkah meninggalkan Joevanka.
" Tidakkkkkk... " Jerit Joevanka dalam hati.
βββββ
Joevanka menutup matanya sambil membuang napas dari mulut. Ia meremas tangannya, seakan pasrah dengan nasib hidupnya.
" Silahkan masuk ibu Joevanka! " Halbert mempersilahkan Joevanka masuk.
" Anda tidak pergi kan pak asisten? " Tanya Joevanka penuh harap agar pria ini tidak meninggalkan nya.
" Maaf ibu Joevanka, anda sudah ditunggu.." Halbert membungkukkan badan seraya memberi hormat, lalu menutup pintu dengan pelan.
" Astaga dia benar benar pergi?" Joevanka menatap pintu yang sudah tertutup. Ia memutar bola matanya seakan tidak percaya.
Sebelum ia melangkah masuk, Joevanka kembali melakukan ritualnya menghembuskan napasnya lewat mulut. saat ini ia pasrah jika memang harus di pecat Joevanka sudah siap. Joevanka benar benar menyadari atas kesalahannya.
Joevanka melangkah pelan memasuki kamar eksklusif.
Joevanka terbelalak melihat kamar hotel yang ditempati bapak direktur. Benar benar kamar mewah.
Joevanka menelan salivanya, untuk menutupi kegugupannya.
Sementara di dalam kamar.
Ivander menarik napasnya dalam, bunyi langkah masuk semakin terdengar. Jantung Ivander semakin terpicu cepat dan ia sangat gugup saat ini.
Deg Deg Deg
Lagi lagi Ivander menarik napasnya dalam. bahkan jika dikatakan saat ini Ia lebih sulit bernapas.
Ivander sedang berdiri menatap ke dinding kaca yang menyajikan langsung pemandangan kota dari atas.
__ADS_1
" Permisi pak! " Joevanka sudah berdiri empat meter dari jarak ia berdiri.
Jantung Ivander berdesir, ketika mendengar suara yang tidak asing ditelinganya. Suara yang begitu ia rindukan. Napas Ivander berhembus pelan dari mulut, namun tidak mengubah posisinya. Ia tetap berdiri dengan posisinya sambil memasukkan tangan kedalam kantong celananya.
Melihat bapak direktur tidak bergeming, Joevanka bertambah gugup. Ia bahkan meremas tangannya dengan kuat. Joevanka menggembungkan pipinya untuk mengatur debaran jantungnya. Takut jika bapak direktur membalikkan tubuh dan memakinya, Joevanka langsung cepat meminta maaf atas tindakannya.
" M-m-maaf pak atas kejadian tadi, saya benar benar spontan masuk dan menghempas pintu dengan kasar. Sekali lagi saya mohon maaf pak. Tapi saya mohon jangan pecat saya pak. " Kata Joevanka dengan suara terendahnya. Ia berharap direktur utama dapat menerima dan tidak memecatnya.
Ivander memenjamkan matanya, ia tidak tahan dengan segala gejolak yang muncul di dadanya. Pertanyaan demi pertanyaan seakan berputar putar didalam otaknya.
Ia langsung berbalik dan menatap Joevanka yang reflek menundukkan kepalanya. Ia menatap Joevanka dengan penuh kerinduan.
" Maafkan saya pak! " ucap Joevanka kembali.
" Apa kabar Joevanka? " suara Ivander terdengar lembut sedikit serak dan parau, bibirnya sudah gemetar, tatapannya saat ini sedang mengunci Joevanka. Ya saat ini, tubuhnya ingin bergerak memeluk Joevanka. Namun ia menahannya. Ivander tidak ingin Joevanka terkejut atas tindakannya.
Joevanka terkejut, bukan kata makian yang ia dengar. Ia mengerjap beberapa kali, ketika pandangan mereka bertemu.
" Apa kabarmu Joevanka, apakah selama ini kau baik baik saja ? " Gemuruh di dada Ivander siap meledak saat ini.
Joevanka sedikit kaget dengan pertanyaan itu.
" Maaf pak, kabar saya baik baik saja. " jawab Joevanka, ia ingat pesan dari Gavin. Jika ditanya, Ia harus menjawab dengan baik.
Tapi saat ini, Joevanka benar benar tidak nyaman dengan tatapan dari pak direktur.
" Apa kau benar-benar tidak mengenaliku, Joevanka? "
" Apa pak? " Lagi lagi pertanyaan yang membuat Joevanka bingung. " Maaf pak, yang saya tahu anda adalah direktur utama di perusahaan tempat kami bekerja pak. " Joevanka menjawab apa adanya.
Ivander memejamkan matanya, ia menarik napasnya kembali.
" Bukan itu maksudku.." sesaat Ivander terdiam.
" Apa kita pernah bertemu pak? Maafkan saya sebelumnya jika saya lancang pak." Joevanka menunduk ketika tatapan pak direktur menguncinya. Astaga kenapa saat ini jantungku mau runtuh? Joevanka tidak berani mengangkat wajahnya.
Ivander menarik napasnya dalam dalam, ia menatap Joevanka dengan lekat.
Joevanka banyak berubah. Dia bukan seperti Joevanka yang Ia kenal dulu. Tapi bagaimana dengan perasaannya, apakah perasaannya sudah hilang juga ?
" Apa yang terjadi denganmu Joevanka? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau tidak mengingatku. Apa yang terjadi dengan enam tahun yang lalu? Apakah daddy sengaja merahasiakan ini? " Ivander berkata dalam hati. Ia menatap Joevanka yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
# Hai my readers tercinta di episode selanjutnya, saya akan menjawab kenapa Joevanka lupa ingatan.
# Kenapa langsung 6 tahun kemudian thor, berarti Ivander gak mengejar cinta Joevanka dong. Besok semua akan terjawab.
# Terima kasih masih setia membaca karya saya. Terima kasih buat kalian yang selalu kasih vote, komentar dan dukungan yang buat aku lebih semangat lagi.
# Salam sehat buat kita semua, tetap bahagia ya π€π€π€
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMUπ
__ADS_1