WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Menikmati momen ini


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Mobil Ivander telah tiba di rumah sakit. Seorang security yang bernama Thomas ikut bersama Ivander langsung berlari menuju Unit Gawat Darurat.


" Tolong, ada pasien pingsan! " Kata Thomas kepada perawat yang berjaga.


" Dimana pak...? " Kata perawat hampir terjengkit dari kursinya, karena kaget melihat sosok pria gemuk masuk mendorong pintu kaca sedikit kasar.


" Ada diluar, tolong bantu! " Kata Thomas dengan napas yang tersengal, karena ia berlari sekuat tenaga.


Petugas langsung keluar mendorong blankar.


Ivander yang tengah menggendong Joevanka sedikit berlari, dan memindahkan tubuh Joevanka ke blankar pasien. Parkiran sedikit jauh dari UGD. Sesuai peraturan rumah sakit, mobil pribadi tidak bisa masuk sampai UGD kecuali mobil ambulance. Walau tadi Ivander sempat cekcok mulut dengan petugas, namun akhirnya Ivander mengalah.


Napasnya masih memburu dan terdengar naik turun, lumayan jauh ia berlari ke UGD.


Dokter yang berjaga mendekati ranjang rumah sakit untuk memeriksa pasien. Ivander hanya bisa berdiri sambil memegang tangan Joevanka dengan erat, bahkan ia tidak melepaskan ketika salah satu perawat untuk mengecek tekanan darah joevanka.


Tak butuh lama, setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Dokter menatap pria itu dan tersenyum.


" Bagaimana keadaannya dokter? " Tanya Ivander. Matanya tidak lepas menatap joevanka yang tertidur lemah.


" Pasien tidak apa-apa pak, hanya kelelahan saja, ia menderita Anemia juga. "


" Saya ingin anda benar benar memeriksanya dok. Tolong periksa kembali. " Kata Ivander sedikit khawatir. Ia benar-benar takut, seperti cerita mommynya terakhir kali.


" Saya sudah periksa pak, gak ada yang perlu dicemaskan. Pasien hanya butuh istirahat saja. " terang dokter menjelaskan.


Ivander membelai puncak kepala Joevanka dengan lembut.


" Saya rasa pasien dirawat inap saja pak, untuk pemulihan. Kita akan pasang infus, memberikan cairan untuk asupan tambahan bagi tubuh pasien. Pasien juga kekurangan cairan. " Kata dokter.


" Tidak masalah dok, dirawat juga lebih bagus. " Sahut Ivander.


" Baik kalau begitu pak, kita akan pindahkan setelah anda membayar administrasi dan kami akan memasang infus dulu. Silahkan memberikan data tentang pasien untuk mengisi formulir pasien baru pak. "


" Baik dokter." Jawab Ivander. Ia menatap Joevanka yang masih tertidur lemah.


Wajah Joevanka terlihat berkerut dalam. Ivander kembali membelai kepala Joevanka agar Joevanka bisa tertidur nyaman. Kemudian wajahnya berubah menjadi tenang. Ia seperti bermimpi buruk.


Ivander berjalan meninggalkan Joevanka untuk mengisi data pasien. Dan kembali setelah melakukan pembayaran administrasi.


" Permisi pak.." ucap Thomas mendekat sedikit membungkuk.


Ivander memandang kearah suara yang memanggilnya. " Astaga, saya hampir lupa pak, terima kasih atas bantuannya hari ini. Anda bisa pulang! " Kata Ivander tersenyum ramah, ia mengeluarkan uang beberapa lembar dan memberikannya kepada Thomas.


" Ah..Jangan pak..! tidak, tidak pak. " Tolak Thomas cepat. Ia menggeleng sambil mengibaskan tangannya.


" Ambillah pak, sebagai ucapan terima kasih. Kalau anda tidak menghubungi saya tadi. Mungkin saya tidak tau dia berada di kantor. " Ivander memaksa Thomas untuk menerima uang itu.


" Terima kasih pak, saya menjadi tidak enak. " Thomas terpaksa menerimanya.


" Saya yang harusnya berterima kasih pak Thomas." Kata Ivander tersenyum.


" Kalau begitu saya permisi dulu pak. " Thomas pamit undur diri.


⭐⭐⭐⭐⭐⭐


Ivander langsung menghubungi Halbert untuk membawa perlengkapan baju ganti. Sementara Joevanka sudah menggunakan pakaian khusus yang di pakai pasien.


Setelah memasang infus, para perawat mendorong Brankar menuju ruang perawatan yang diikuti Ivander. Joevanka masih terlelap sama sekali tidak terganggu dengan jarum infus yang menancap ditangannya.


Mereka sudah berada di ruangan rawat inap dimana Joevanka harus mendapatkan perawatan selanjutnya. Perawat memindahkan tubuh Joevanka ke tempat ranjang rumah sakit. Setelah mengecek selang infus dan keadaan pasien, mereka pamit undur diri.


" Keadaan pasien sudah baik pak, kalau ada apa apa, tinggal panggil saja pak. "


" Terima kasih. " Kata Ivander.


Pintu kembali tertutup.


Tiba tiba suara nada dering dari ponselnya Ivander berdering, ia menatap layar depan dan panggilan itu ternyata dari mommynya.


" Ya mom..." jawabnya singkat.

__ADS_1


" Hai sayang, mommy masak makanan kesukaanmu, cepat kesini ya! Ada uncle, aunty dan Alea juga di sini. " kata Anastasia antusias.


" Alea sudah kembali mom, kapan? " Ivander sedikit terkejut.


" Baru dua hari sayang. Dia membawa calon suaminya juga. Mama tunggu ya my son. Sekarang! "


" Maaf mom, aku tidak bisa. " kata Ivander dengan suara terendahnya.


" Kamu di luar kota ya? "


" Aku lagi di rumah sakit. "


" Kamu di rumah sakit? Kamu sakit apa sayang? " Anastasia menghentikan kegiatannya masaknya. Ia begitu panik.


" Bukan Mom, aku sehat kok, yang sakit Joevanka mom...! " Kata Ivander untuk menghilangkan kekhawatiran mommynya.


" Joevanka??? " Anastasia bertambah terkejut, " Kamu serius sayang. Bukannya Joe ada di Australia? "


" Ya, Vanka memang di Australia, tapi aku membawanya kembali mom. Aku membuatnya menjadi sekretaris, aku membuatnya berada didekat ku mom." terang Ivander.


Anastasia hanya bisa mendesah. " Apa dia mengingatmu? " kata Anastasia lirih.


" Dia tidak mengingatku. Dia berubah menjadi Vanka yang berani. Tidak seperti gadis yang pertama kali datang ke kediaman Donisius mom. "


" Apa sakitnya serius? " tanya Anastasia.


" Tidak mom, kata dokter hanya kelelahan saja. Joevanka harus dirawat untuk pemulihan."


" Apa dia pingsan lagi? "


" Ehm..." Ivander hanya menjawabnya dengan menggumam.


Anastasia membuang napasnya. " Apa mommy dan daddy ke sana saja sayang? " Tanya Anastasia dengan nada cemas.


" Jangan mom, aku tidak mau Joevanka bingung setelah melihat mommy. Ya, Joevanka memang tahu jika mommy pernah merawatnya. Tapi jika dia tau bahwa aku adalah anak mommy, pasti dia begitu terkejut mom. Aku tidak ingin dia bingung. " lirih Ivander


" Jika seperti itu yang terbaik, mommy ikut saja sayang. Buatlah Joe nyaman berada di dekatmu. Kabari mommy jika sesuatu terjadi."


" Baik mom, mohon maaf tidak bisa gabung bersama kalian mom. Sampaikan salam buat Alea dan calon suaminya. "


" Oke sayang. nanti mama sampaikan. Selamat malam my son! "


Tit tit tit... Hubungan telepon terputus. Ivander menghela nafas panjang. Ia memasukkan kembali ponselnya.


CEKLEK !


Pintu terbuka.


" Selamat malam pak ! " Halbert masih berada di pintu dan memberi salam kepada pak direktur.


" Masuklah... "


" Apa yang terjadi pak, bukannya tadi sekretaris Joe baik baik saja pak? " Halbert masuk dan mendekat.


" Saya juga tidak tahu, tiba tiba dia pingsan. "


" Ini pakaian yang anda butuhkan pak. " Halbert menyerahkan paper bag kepada Ivander yang berdiri tanpa ekspresi. " Dan ini pak, saya tahu pasti bapak belum makan. Tadi saya mampir ke restoran favorit bapak dan membeli makanan kesukaan bapak. Silahkan di makan pak. " Halbert meletakkan wadah makanan.


" Terima kasih Halbert. "


" Apa pihak Keluarga dari sekretaris Joe sudah dihubungi pak? " Halbert berdiri tepat di samping pak direktur kembali.


" Joevanka tidak memiliki keluarga Halbert."


" Kasihan sekali pak, siapa yang menjaganya disini pak? "


" Saya yang akan menjaganya disini. " Kata Ivander dengan datar.


" Apa pak? " Halbert terkejut sampai matanya terbelalak.


Halbert tidak percaya, yang dia tahu pak direktur tidak pernah mengurusi hal seperti ini. Apalagi itu menyangkut karyawan wanita. " Pak direktur dikenal kaku dan dingin kepada karyawan wanita. " Halbert sibuk dengan pikirannya dan terus berbicara dalam hati.


" Bagaimana kalau kita hubungi bagian HRD saja pak, kebetulan beliau belum menikah, sangat tepat jika dia yang menjaga sekretaris Joe disini. " usul Halbert dengan ide cemerlangnya.


" Jangan merepotkan orang lain Halbert, masalah sekretaris Joe, biar saya yang mengurusnya."


" Anda tidak keberatan pak? Atau anda ..."


Ivander mengangkat tangannya keatas, agar Halbert tidak bicara lagi.


Glek... Halbert menelan salivanya, ia paham gestur itu. Tutup mulut jangan banyak bicara.

__ADS_1


" Kau boleh keluar ! " Kata Ivander dengan datar.


" Jika anda membutuhkan bantuan saya, bapak tinggal hubungi saja. Saya akan menunggu di luar pak. " Kata Halbert membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Ia melangkah meninggalkan ruangan kamar inap.


Ivander memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.


Tak butuh waktu lama, Ia sudah selesai melakukannya.


Ivander mengambil kursi dan duduk di dekat ranjang rumah sakit. Ia merapikan selimut Joevanka agar menutupi seluruh tubuhnya dengan baik. Ia menatap Joevanka dengan pandangan sayu.


" Begitu sulitkah kau mengingat ku Vanka? Maafkan aku jika aku membuatmu bingung. Aku tidak akan memaksamu lagi Vanka, aku akan selalu menunggu sampai kau benar-benar mengingat ku. " Ujar Ivander, tangannya membelai kepala Joevanka dengan lembut.


Ivander kembali menatap Joevanka. Perasaannya saat ini campur aduk. Ia kembali larut dalam pikirannya. Ia mendesah dan menghembuskan napasnya lewat mulut.


Lalu ia mengambil tangan Joevanka dan menempelkannya dipipi. Ia menutup mata sekejap lalu mencium tangan itu dengan lembut. Ivander tanpa sadar tertidur dengan posisi duduk. Ia bahkan tidak menyentuh makanan yang di bawa Halbert tadi.


SATU JAM BERLALU


Joevanka nampak gelisah, bibirnya bergerak namun tidak bisa mengeluarkan suara. Hembusan napasnya semakin terdengar tidak beraturan. Butiran keringat yang meluncur deras membasahi keningnya. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Kepalanya menggeleng cepat seakan mengatakan tidak. Tubuhnya seperti menggigil ketakutan. Isak tangisannya terdengar.


" Hmmm.....mmmm...." Joevanka kembali mengigau dan mengerutkan wajahnya.


Air matanya menetes dari ujung matanya dan mengigau tidak jelas.


Ivander menyadari, ia bangkit sampai terjengkit dari kursinya.


" Vanka...Vanka... " Ivander berusaha membangunkan Joevanka. Namun tidak berhasil.


Ivander melihat Joevanka terlihat gelisah dan bibirnya mengigau terus. Ia mengerutkan keningnya dan terkejut melihat Joevanka menangis dengan keringat sebesar biji jagung meluncur dari keningnya. Suhu kamar dingin namun Joevanka berkeringat.


" Mom... Dad...Jangan...jangan pergi, jangan tinggalkan Vanka.."


" Vanka... Vanka...bangun! " Ivander menepuk pipi Joevanka dengan lembut agar wanita itu terbangun dari mimpi buruknya. Setelah melakukan berulang kali. Namun tidak berhasil.


HIKS...HIKS... Joevanka terisak dalam tangisannya. Tubuhnya seperti menggigil kedinginan.


Joevanka masih menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


Ivander semakin bingung, ia diam mematung tidak bisa berbuat apa apa. Joevanka masih terus mengigau.


Ivander akhirnya memutuskan naik ke atas ranjang rumah sakit, ia merebahkan tubuhnya menyamping dan berhadapan dengan Joevanka. Dengan perlahan dan hati hati, Ivander menekuk siku. Merangkul punggung Joevanka agar mendapat sandaran yang nyaman di lengan Ivander. Ia menarik tubuh Joevanka dan membuat Joevanka menghadap kearahnya. Ivander terus merangkulnya dengan erat dan agar Joevanka tidak merasakan menggigil lagi. Ivander mengusap kepala Joevanka dengan lembut.


" Tidurlah...Jangan mimpi lagi, aku akan membuatmu nyaman Vanka ! Ssssshhhhh ssssshhhhh..." ucap Ivander pelan sambil menepuk pundak Joevanka, ia seakan menidurkan anak kecil.


Posisi Joevanka sudah tertidur menyamping. Ia mulai tidur dengan nyaman dan tenang. Tidak terdengar suara mengigau lagi.


" Ssssshhhhh... ssssshhhhh...." Ivander mengulangi tepukannya. Dekapannya semakin erat, ia bahkan mencium puncak kepala Joevanka berulang kali.


Sekarang napasnya terdengar teratur dan berhembus lembut. Ivander mengusap wajah Joevanka untuk menghapus sisa keringat yang masih membasahi dahinya.


" Begitu buruk kah mimpimu Vanka? " Ivander mengelus punggung Joevanka dengan lembut.


Ivander kembali menegakkan wajahnya,menarik kepala Joevanka hingga bersandar nyaman di dadanya.


Tanpa menyadari Joevanka menerima dengan baik, ia bahkan menempelkan kepalanya di dada Ivander. Dengan sigap Ivander mengambil tangan Joevanka yang tertancap infus, melingkarkan tangannya di pinggang Ivander. Agar tangan Joevanka baik baik saja.


Tangan Ivander bergetar hebat ketika Joevanka terus menikmati kenyamanan tidurnya, kepalanya mengendus ke dadanya. Sepersekian detik jantungnya bergemuruh seperti genderang. Berdetak begitu kencang, sampai membuatnya sulit bernapas. Getaran itu seperti menyetrum dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ivander tersenyum singkat.


" Bisakah aku menikmati kebahagiaan ini Vanka? Aku berharap waktu berhenti sekejap."


Tanpa sadar Ivander mulai ikut tertidur, ia memilih untuk menikmati momen ini.


Besok Ivander harus bangun lebih dulu, sebelum Joevanka menyadari.


Ia tidak mau Joevanka semakin membencinya.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMUπŸ’Œ

__ADS_1


__ADS_2