
๐ Whisper of love ๐
ย
๐ HAPPY READING ๐
.
Mobil taxi berhenti di kediaman Donisius. Ia menyapa dua security yang berjaga di pos.
" Selamat siang pak! " sapa Joevanka dengan ramah.
" Siang nona cantik, itu pak Brian sudah menunggu anda di dalam. " kata Alberto memberitahukan keberadaan asisten sudah berada di dalam.
" Oh, terima kasih pak. " Sahut Joevanka melangkah meninggalkan pos.
Benar saja, Joevanka melihat pak Brian sedang menyeruput kopi dan berbincang-bincang dengan ibu Berneta. Joevanka langsung berlari ke dalam kamar untuk mempersiapkan diri buat keberangkatannya, namun sebelumnya ia sudah buat janji bertemu dengan Samuel. Ia kembali menghubungi samuel, sekedar mengingatkan. Tak butuh lama, Joevanka sudah rapi.
Ia mengambil napas, mengedarkan pandangannya melihat kamar yang sudah dua tahun lebih menemaninya beristirahat.
Tanpa sadar air matanya joevanka kembali tergelincir begitu saja. Ia segera menghapusnya dengan tangan.
Joevanka tersenyum samar, kamar ini mengingatkannya kembali. Ketika ia ketakutan dan Ivander datang sebagai super Hero untuk menyelamatkannya. Napasnya berhembus panjang, terdengar naik turun. Sesak itu kembali datang menyergap jiwanya.
Joevanka hanya bisa tersenyum dan larut dalam khayalnya. Mencoba mengembalikan kenangannya bersama Alea dan Ivannia. Joevanka berpijak pada tingkat kesadarannya, Ia harus menyudahi aksinya. lalu berjalan untuk membersihkan kamar itu, sebagaimana ia pertama kali masuk ke dalam kamar ini dan Joevanka juga harus meninggalkan kamar ini dengan keadaan rapi.
Dengan cekatan Joevanka merapikan sekaligus membersihkan seprai dan menutupi permukaan kasur. Ia merapikan posisi bantal. Meja tempat biasa ia menulis ia bersihkan juga. Boneka yang pernah diberikan Ivander, ketika Ivander berhasil memainkan mesin boneka di mall, ia letakkan di sisi kanan paling ujung. Joevanka tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih. Ia mengedarkan pandangannya dan menganggukkan kepalanya tanda ia puas dengan hasil kerjanya.
" Sudah rapi, sekarang kita berangkat! "
Joevanka sudah turun dengan kopernya, menarik hingga sampai ke ruang keluarga.
Dengan cepat Brian membantunya dan membawa koper itu ke dalam bagasi mobil.
" Sudah mau berangkat non ? " Berneta muncul dari dapur membawa kue kering yang sudah ia siapkan tadi pagi.
Joevanka tersenyum, " Seharusnya gak usah repot-repot ibu. " Joevanka menyambut dua kotak yang di bawa ibu Berneta. ia terharu, dan langsung memeluk Berneta dengan lembut.
Ia bersyukur di kelilingi orang orang yang menyayanginya.
" Saya mau bertemu teman dulu bu, baru langsung ke bandara."
" Selamat sampai tujuan ya non, Jika ada masalah berat dan kau tidak mau ceritakan pada teman atau saudaramu di sana. Non curhat lah pada Tuhan dalam doa. Jangan sekali pun nona putus asa dalam menghadapi setiap kehidupan ini. Prinsip non sekarang adalah bagaimana orang bisa, kita pun pasti bisa. Tetap semangat ya non, " Berneta mengelus rambut Joevanka dengan lembut.
Lagi-lagi air mata ini tanpa di undang terjatuh lagi. Tadi pagi aunty Anastasia menghubunginya dan mengatakan hal yang sama. Tapi di akhir kalimat " Nanti aunty yang akan menjemputmu ya sayang. Tetap jaga kesehatan. " Hubungan panggilan mereka pun terputus.
" Terima kasih ibu Berneta. " Joevanka kembali memeluk Berneta. Dekapan yang hangat yang sangat ia rindukan dari mommy nya. Mengeratkan pelukan singkat itu, dan Berneta hanya diam dan menepuk punggung Joevanka dengan lembut. Kali ini Joevanka membiarkan air matanya ia biarkan jatuh membasahi pipinya.
Pak Brian sudah menunggunya, Joevanka melambaikan tangannya. Ia langsung masuk ke dalam mobil. Lagi lagi ia menarik napas panjang melihat kembali kediaman Donisius dari dalam mobil. Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia sembunyikan.
" Selamat tinggal kenangan. " Lirih joevanka.
Mobil yang membawa mereka akhirnya meninggalkan kediaman Donisius. Setelah Joevanka memberikan ucapan selamat tinggal kepada security yang berjaga di pos.
โญโญโญโญโญโญ
__ADS_1
Joevanka sengaja memilih cafe yang tidak jauh dari bandara. Ia melirik jam di tangannya, masih ada waktu sepuluh menit lagi.
Ia memeriksa ponselnya, dan melihat pesan WhatsApp dari Lona yang isinya foto foto mereka tadi pagi. Ia tersenyum, ternyata foto foto mereka menggemaskan dan membuatnya tertawa.
" Mau pesan apa nona? "
Joevanka tersentak dan melihat Samuel sudah berdiri di depannya.
" Hei Samuel? Kau sudah datang? " Wajah Joevanka berbinar. " Duduklah! kita makan dulu. " kata Joevanka.
" Oke, kamu terlihat berbeda hari ini. Cantik! " Kata Samuel menunjukkan rasa kagumnya kepada Joevanka.
" Terima kasih Samuel. " Jawab Joevanka tersenyum singkat.
Setengah jam telah berlalu, mereka sudah selesai menikmati makanannya.
Meja sudah di bersihkan pelayan setelah Joevanka memintanya. Dia ingin berbicara dengan Samuel dengan keadaan tenang, tidak ada yang mengganggu pemandangannya.
Sesaat mereka terdiam, Joevanka ingin memilih kata kata yang tepat untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya.
Samuel masih menunggu joevanka berbicara. Ia sangat berharap Joevanka menerima cintanya dan bersedia menjadi kekasihnya.
" Tapi kenapa aku gugup ? " Batin Samuel berbicara dalam hatinya. Ia menatap Joevanka dengan sayang.
" Samuel....Terima kasih ya, karena selalu memberikan perhatian kepadaku, Kamu orang yang sangat menyenangkan. Kamu lelaki yang sangat baik, dan selalu ada jika aku sedih. " Sesaat Joevanka terdiam, ia menatap samuel dengan ekspresi wajahnya yang tiba tiba berubah. Wajahnya menegang, dan napasnya mulai berhembus tidak stabil. Joevanka harus menyampaikan perasaannya dengan jujur. Ia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Samuel.
" Maaf Samuel, aku tidak bisa menerima hatimu, dan aku hanya menganggapmu sebagai teman. "
DEG
Joevanka dengan lembut menyentuh tangan Samuel, ia juga tidak ingin menyakiti Samuel yang begitu baik kepadanya. Sebisa mungkin ia mengatur ucapannya tanpa harus menyakiti hatiย Samuel.
" Terima kasih karena sudah menyukaiku, Tapi percayalah, akan ada seseorang yang sangat beruntung karena bisa memiliki orang sehebat kamu, lelaki yang baik seperti kamu. Maaf kan aku ya... " ucap Joevanka dengan suara terendahnya.
Samuel mencoba mencerna, dan mencoba mengerti, hatinya makin perih saat ini. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Joevanka dengan lekat.
" Apakah kau mencintai seseorang Joe? " Kata-kata itu berhasil ia ucapkan walau butuh perjuangan.
" Maafkan aku Samuel..."
" Siapa lelaki itu? Apakah dia mencintaimu juga? bisa menjagamu dengan baik? "
" Maafkan aku Samuel..." Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
" Jika memang lelaki itu mencintaimu, aku akan mengiklaskan perasaan ini. Tapi siapa dia Joe? Apakah seseorang yang ku kenali? atau dia sahabatku? "
Dengan cepat Joevanka menggeleng. Ia tidak mau Samuel mengetahui perasannya. Itu justru membuatnya terluka.
" katakanlah Joe, aku sudah merelakan hatiku, kau bisa terbuka. " Kata Samuel bersikap tegar namun hatinya saat ini begitu terluka dan rapuh.
" Dia cinta pertamaku Samuel, dia lelaki yang ku kenal saat kami masih sekolah di London. Dan sampai sekarang kami masih berhubungan. " jawab Joevanka.
" Benarkah? " Kata Samuel menatap Joevanka, " Bukankah lelaki itu Ivander Joe? " Samuel melanjutkan kalimatnya dalam hati.
" Maafkan aku Samuel, aku akan kembali ke London dan menemui dia." Dengan berbohong dan demi kebaikan bersama, ia terpaksa melakukannya.
__ADS_1
" Kau mau pergi? "
" Ehmmm...Tidak lama kok, hanya sebulan saja, aku ingin menghabiskan waktuku berlibur Samuel. Aku merindukan London. "
Brian tiba tiba muncul dan menyapa. " Sudah waktunya nona! "
Dengan berat Joevanka bangkit dari duduknya, " Baik pak Brian, Tunggu saya di mobil pak! " Kata Joevanka dengan sopan.
Brian meninggalkan, Joevanka dan Samuel di dalam cafe setelah melakukan pembayaran.
" Sudah waktunya aku pergi Samuel, bulan depan kita masih bertemu kembali."
" Jaga dirimu baik baik ya, " Kata samuel dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak bisa menutupi begitu terlukanya dia.
Joevanka hanya mengangguk pelan. Ia memeluk Samuel, " Maafkan aku Samuel...! " Hanya kata kata itu yang bisa ia ucapkan saat ini. Samuel hanya diam, ia merasakan sesak yang begitu menguasai hatinya. Joevanka memberikan senyum terbaiknya, lalu melangkah meninggalkan Cafe. Samuel hanya diam membeku menatap kepergian Joevanka.
Bandara udara internasional.
Mereka sudah tiba di bandara, pak Brian langsung mengeluarkan koper dan dua kotak kue, yang ada di bagasi dan menariknya berada di dekat Joevanka.
" Terima kasih pak Brian." Joevanka tersenyum. Ia memegang ujung koper dan dua kotak kue.
" Sampai bertemu bulan depan lagi nona Joevanka. " Kata Brian membungkukkan badannya. Joevanka juga melakukan hal yang sama.
" Terima kasih pak Brian..." Kata Joevanka kembali dan tersenyum kepada pak Brian.
Kembali Bunyi pembuka terdengar bergema di bandar udara. Joevanka berjalan menuju pintu gerbang keberangkatan. Ia mendorong koper. Langkah Joevanka begitu pelan, sampai di depan pintu gerbang. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat pak Brian masih di sana, Joevanka melambaikan tangannya kembali. Joevanka menguatkan hatinya, Ia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekelilingnya. Ia menghembuskan napasnya lewat mulut. Lalu ia memberikan tiketnya pada petugas pemeriksa melakukan check in dan menunggu di gerbang keberangkatan. Joevanka melangkah dengan senyum hampa.
" Maafkan Aku aunty, uncle, Ivannia, Alea. Aku tidak akan kembali lagi. Terima kasih atas semuanya... " Kata kata itu ia ucapkan dengan perasaan terluka. Joevanka pun melangkah dengan senyum tipisnya.
Di sisi lain, Ivander mendapatkan telepon berulang kali. Tidak lain adalah pemilik club yang pernah mereka datangi bersama Samuel ketika menghajar Denian. Mereka mengatakan Samuel sedang mabuk berat. Dengan rasa cemas, Ivander menancap gas mobilnya berlari mengejar waktu. Ia melirik jam tangannya, pukul tujuh malam ? wajah Ivander mengerut.
" Apa yang terjadi padanya? Kenapa jam segini dia sudah mabuk? "
.
.
# Apakah Joevanka benar benar bahagia setelah meninggalkan semua orang yang mencintainya, apa yang terjadi dengan Joevanka ???
# Bagaimana nasib Ivander selanjutnya???
Terus ikuti ya sayang sayangku ๐ค๐
BERSAMBUNG
.
.
๐BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐
๐ BERIKAN VOTEMU ๐
๐ BERIKAN BINTANGMU
__ADS_1