WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Salam perkenalan dari Jasmine


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Dua minggu setelah kepulangan Joevanka dari rumah sakit.


Joevanka melakukan tugasnya sebagai mana biasanya. Pak direktur sudah memberikannya tugas layaknya sebagaimana seorang sekretaris.


Ia bernapas lega, setidaknya ia bisa menghabiskan waktunya sebelum masa training nya selesai.


Sehari-hari, pekerjaan Joevanka adalah bertanggungjawab atas segala hal yang diperlukan untuk memudahkan pak direktur dalam melakukan pekerjaannya. Cakupannya meliputi daily scheduling, mengurus surat dan dokumen masuk dan keluar, menghadiri dan membuat catatan rapat, menerima tamu, menyiapkan perjalanan bisnis. Di luar pekerjaan kesekretariatan, Joevanka juga dipercayakan tanggung jawab untuk mengelola anggaran operasional divisi dan membuat laporan harian produksi.


Joevanka semakin mencintai pekerjaannya.


Joevanka harus membutuhkan ketelitian, dan harus mempunyai insiatif sendiri, tanpa harus menunggu perintah dari direktur. Ia sekarang lebih banyak membaca untuk menambah wawasannya, ternyata setelah ditekuni Joevanka bisa melakukan pekerjaan dengan baik.


Joevanka menatap kursi pak direktur masih kosong. Ia sedikit ngantuk setelah menyelesaikan beberapa tugas yang berikan pak direktur untuknya.


" Hoamm...." Joevanka menutup mulutnya, ketika rasa kantuk itu datang lagi.


" Astaga ngantuk sekali. " Joevanka memijit pelipisnya. Ia melirik jam yang ada ditangannya. Sudah pukul 14.19 wib.


" Kenapa pak direktur belum kembali ya? " Gumam Joevanka berbicara pada dirinya sendiri.


Ya, setelah pak direktur memimpin rapat pada pukul sebelas. Beliau memenuhi undangan dari panti asuhan Vincentius putra. Pak direktur mengajak Halbret ikut bersamanya. Sementara Joevanka diperintahkan menyelesaikan tugas di kantor saja.


Untuk menghilangkan rasa kantuknya, Joevanka memilih membuatkan kopi untuknya. Ia berjalan keluar dari kantor menuju pantry. Namun Langkahnya terhenti ketika ia melihat pak direktur berjalan bersama seorang wanita tak lain adalah Jasmine. Ivander tersenyum lebar menatap Jasmine. Mereka terlihat serius berbicara. Sementara Halbret berjalan tidak jauh dari mereka, tetap mengikuti langkah dari pak direktur.


" Selamat sore pak. " ucap Joevanka sambil menundukkan kepalanya.


" Selamat sore sekretaris Vanka. " Kata Ivander melirik sepintas kearah Joevanka dan kembali menatap Jasmine. Mereka berjalan melewati Joevanka.


Joevanka mengerjap segera menundukkan kepalanya, ketika Jasmine meliriknya dengan sinis. Ia menghembuskan napasnya. Ia menutup matanya sekejap dan kembali mencoba sadar dan menggelengkan kepalanya.


" Apa tadi itu? apa dia merendahkan ku? " Ia menatap punggung wanita itu yang berjalan memasuki ruangan pak direktur. Joevanka mengerutkan dahinya sedikit protes dengan sikap Jasmine.


" Kenapa sekretaris Joe? wajah anda memerah."


" Apa pak? Aduh sepertinya AC ruangan ini rusak ya pak? " Joevanka berdalih dan mengibas-ngibaskan tangannya ke leher.


" Benarkah sekretaris Joe? Sepertinya ruangan ini cukup dingin." Halbret merentangkan tangannya sedikit, seakan menikmati udara yang menyejukkan tubuhnya.


" Pak, apakah saya harus buatkan minum buat mereka? " tanya Joevanka mengalihkan.


" ehm..." Halbret menunjukkan gestur berpikir.


" Buat saja Vanka. Kalaupun Ibu Jasmine tidak minum, yang penting di mata pak direktur kau sudah menjadi sekretaris yang terbaik menjalankan tugas tanpa harus diperintah. "


" Oke, baiklah. saya akan buatkan minuman buat mereka pak Halbret. " Joevanka tersenyum tipis.


Joevanka kembali melangkah menuju pantry. Membuatkan kopi buat pak direktur dan teh melati buat wanita sialan itu. Rasa kantuknya langsung hilang, ketika wanita yang bernama Jasmine itu, menatapnya dengan tajam.


" Astaga wanita itu sebenarnya cantik, namun kecantikannya hilang ketika siluman menguasai dirinya. Kenapa coba, dia menatapku seperti itu? " Joevanka berbicara sendiri, Ia menunjukkan rasa kesalnya.


" Apa karena aku lebih cantik dari dia ya? " Joevanka tersenyum sendiri. Setelah puas memuji dirinya yang ternyata cantik. Ia berjalan membawa baki dan dua kelas diatasnya yang berisikan kopi dan teh melati.


TOK TOK TOK


" Permisi, pak. " Joevanka mengintip diujung pintu.

__ADS_1


" Ehm, masuk! " kata Ivander dari dalam, ia masih terlihat serius berbicara dengan Jasmine.


Joevanka mengernyitkan wajahnya, melihat kedekatan yang tidak sewajarnya, antara wanita dan lelaki. Joevanka menaikkan sisi bibir nya naik keatas. Setelah ia datang, wanita itu merubah posisi duduknya. Ia menyilangkan kakinya, menunjukan kan bahwa kakinya adalah paling mulus dan putih se-dunia.


" Saya buatkan minum pak. " Kata Joevanka tersenyum singkat.


" Ehmm, terima kasih vanka. " Kata Ivander memandang sekilas.


" Aduh maaf ya, saya tidak suka minum teh melati. Mencium aromanya saja buat saya pusing. Tolong bawakan saya Es Teh Lemon Mint Jahe ya. Mungkin jika saya minum itu pusing saya bisa hilang. "


Joevanka mengerucutkan dahinya. " Oh, begitu ya. " Kata Joevanka memaksa dirinya untuk tersenyum. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Konsentrasinya seakan pecah. Tidak tahu apa yang dipikirkannya.


" Anda gak bisa dengar ya, saya minta minuman ini diganti dengan Es Teh Lemon Mint Jahe. Saya gak mau tahu, cari sampai dapat."


Ivander mengangkat wajahnya menatap Joevanka. Ia menaikkan sedikit sudut bibirnya melihat ekspresi joevanka yang terlihat kesal.


" Tolong bawa ini..." Jasmine menggeser minumannya. " Mencium nya saja, saya bertambah pusing. " keluh Jasmine.


" Ya Tuhan..." Joevanka memutar bola matanya, ia jengah melihat sikap wanita itu. Ia mengigit bibirnya bawahnya dengan kuat, Joevanka bahkan menggeram kesal tanpa bersuara.


" Apa yang kau tunggu sekretaris Vanka, jangan membuat tamu menunggu lama. Jadilah sekertaris propesional walau kamu hanya sebatas traning saja." Kata Ivander sedikit tegas. Ia kembali tersenyum singkat kepada Jasmine. Dan kembali menatap tablet digitalnya.


" Baik pak." Kata Joevanka mencengkram baki yang ada di tangannya. Ia mengambil minuman itu kembali.


" Aku tidak yakin dengan sekretaris anda pak. Kenapa perusahaan bisa menjadikannya sekretaris. Apa tidak ada yang lain lagi? " Kata Jasmine sinis, ia menatap Joevanka sekilas.


Joevanka menghembuskan nafasnya dengan kasar, Ia mengepalkan tangannya dengan kuat dan cepat meninggalkan ruangan pak direktur.


Ia keluar dari kantor mencari pesanan Jasmine, bersyukur ia menemukan di cafe xx. Lumayan jauh, Ia kembali ke kantor Donisius dan membawa minuman pesanan dari tamu terhormat pak direktur. Joevanka berlari menuju pantry. Ia hanya menambah es saja.


DIDALAM PANTRY.


" Cih..." Joevanka berkacak pinggang sambil berdecak. " Apa tadi pak direktur bilang? Jadilah sekertaris propesional walau kamu hanya sebatas traning saja. " Napas Joevanka semakin memburu menahan emosi.


Perkataan Ivander sungguh menghunus tajam kedada Joevanka perkataan itu terus mengiang. Bahkan membuatnya begitu marah.


Bunyi gelas dan sendok terdengar ribut, bunyinya menggema di dalam pantry.


" Lihat saja wanita sialan, aku akan membalas kata katamu. Jangan katakan aku Joevanka pengecut ya. " Joevanka terus berbicara.


" Apa kamu pikir aku tukang suruhan. Oh my God. Aku sekretaris, walau hanya di pakai tiga bulan saja. "


" Astaga ada apa denganku? Kenapa aku marah? " Joevanka menyadari tingkahnya. Ia menggeleng pelan.


Joevanka menarik napasnya dan menghembuskan-nya lagi. Berusaha menenangkan dirinya yang terlihat kacau.


Joevanka akhirnya keluar membawa minuman pesanan Jasmine dengan baki di tangannya.


Halbret melangkah cepat ketika melihat Joevanka berjalan menuju kantor pak direktur.


" Kenapa begitu lama? " Kata Halbret setengah berbisik.


" Saya mencari minumannya dari cafe pak. Ada apa? "


" Tadi ibu Jasmine marah marah, karena minumannya tidak kunjung di antar. "


" Jadi? " Joevanka sudah mulai nampak kesal. Ia bahkan menggerenyotkan bibirnya. Bertanda lefel kesalnya naik menjadi marah.


" Ia masih tetap menunggu jika dalam waktu 5 menit kau tidak datang, ia akan marah. "


" Siapa suruh minta yang aneh aneh pak. Makanya jadi wanita itu jangan banyak kehendak. Dikasih minum teh melati dia mau minta yang lain , jangan salahkan aku dong. "


" Sudah...sudah.. bersyukur, kau sudah Kembali. Masuk saja dan antar minumannya. " Kata Halbret memenangkan Joevanka.


" Bapak saja yang antar, saya malas. "

__ADS_1


" Jangan sekretaris Joe, nanti dia tambah marah. " Kata Halbret berusaha membujuk Joevanka.


" Aku tidak perduli pak, antar saja. Saya menunggu disini. " Kata Joevanka kesal.


Halbret hanya membuang napasnya dengan lesu. Joevanka terkenal dengan watak kerasnya. Jika ia tidak suka, dia pasti menunjukkan terang terangan.


Halbret mengambil baki yang ada ditangan Joevanka. " Oke, aku yang antar. "


" Terima kasih pak. " Kata Joevanka dengan suara terendahnya.


Tok tok tok


Halbret mengetuk pintu dan masuk dengan baki di tangannya.


Pak direktur di lihatnya sedang sibuk menatap laptopnya. Halbret tersenyum dan menggeleng. Jika ia sudah duduk di kursi kekuasaannya. Apa yang terjadi tidak akan ia perdulikan lagi. Ia hanya akan tetap fokus, fokus dan fokus pada pekerjaannya.


" Permisi ibu Jasmine, ini minuman yang anda pesan. " Jasmine mengernyitkan keningnya, menatap gelas dan Halbret secara bergantian.


" Apa ada yang kurang ibu Jasmine? " Tanya Halbret bingung.


" Dimana sekretaris yang saya minta membawa ini langsung kesini ? "


" Oh, sekretaris Joe ada diluar, ibu Jasmine. "


" Oke, baik. Terima kasih pak. " Kata Jasmine menatap gelas yang ditaruh Halbret di depannya.


Halbret langsung pamit undur diri ketika selesai membungkukkan badannya.


Joevanka langsung bangun dari duduknya ketika melihat pak Halbret keluar dari pintu ruangan pak direktur.


" Sudah pak? "


Halbret mengangguk tersenyum, Ia menyerahkan baki yang di bawanya tadi.


" Aku duduk disini dulu ya pak, gak enak mengganggu mereka. "


" Sepertinya pak direktur sibuk, tapi ibu Jasmine tidak mau keluar dari ruangan pak direktur. " Halbret setengah berbisik.


Joevanka mengernyit bingung." Kenapa pak? " Entah mengapa Joevanka penasaran dengan pernyataan pak Halbret.


Lelaki itu hanya mengangkat keduanya bahunya. Dia juga tidak tahu jawabannya.


" Aku turun dulu sekretaris Joe, ada yang mencariku. Kau tunggu mejaku ya. Aku hanya sebentar saja. Oke.." Halbret mengerlingkan salah satu matanya ke arah Joevanka.


" Oke pak Halbret, dengan senang hati. " Joevanka tersenyum lebar. Ia melihat punggung Halbret dan masih Melihat pria itu masuk ke dalam lift.


Joevanka sibuk menatap laptopnya. Ia mengetik sesuatu disana. Joevanka membantu pekerjaan pak Halbret yang tertunda. Namun tiba tiba minuman dingin mengalir dari atas kepalanya sampai ke tubuhnya. Joevanka tersentak dan mengangkat wajah, ia menatap Jasmine tersenyum sinis kepadanya.


" Setelah aku menunggu lama, kau mengalihkan tugasmu kepada Halbret. Kau wanita tidak layak dikasihani. " Kata Jasmine tersenyum menyeringai. Matanya yang tajam, siap menghunus jantung Joevanka.


Joevanka terbelalak, melihat dirinya sampai kebawah. Bajunya basah terkena minuman Es Teh Lemon Mint Jahe yang di beli nya tadi.


" Salam perkenalan buatmu sekretaris Direktur. " Sinis Jasmine tersenyum kecut.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌

__ADS_1


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2