
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Satu hari sebelumnya.
Setelah Ivannia pergi, Ivander kembali menutup pintu kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya, menatap seisi kamar tidur yang menurutnya merupakan ruangan privasi. Ia tampak kesal karena Ivannia masuk tanpa izin darinya dan bahkan memeriksa ponselnya. Baginya privasi tetaplah privasi. Ivander tidak membiarkan pengurus rumah tangga untuk membersihkan kamarnya. Ivander melakukannya sendiri. Ia di didik menjadi anak yang mandiri.
Ivander biasanya akan melepas lelah di kamarnya dan menghabiskan waktunya untuk belajar, atau sekadar bersantai menikmati waktu luangnya. Interior kamar tidur Ivander terlihat sederhana dan tegas.
Ivander menyukai kamar tidur dengan nuansa gelap, tak terlalu banyak warna, namun tetap elegan. Tampilan maskulin dan gentleman jelas identik dengan interior kamar tidur yang ia desain sendiri.
Ivander duduk di tepi ranjang dan menatap ponsel kembali. Ia membuka galeri dan melihat beberapa foto yang diam diam ia ambil ketika mereka di mall, dan foto Joevanka berhasil ia ambil ketika dia sendiri menunggu alea dan ivannia di kamar mandi. Ivander memperbesar foto tersebut, dan memfokuskannya pada wajah Joevanka. Lama ia menatap foto Joevanka tanpa sadar, Ivander tersenyum sendiri.
TOK TOK TOK
Ivander mengernyitkan keningnya, ia yakin Ivannia kembali untuk mengantarkan jus untuknya.
Ivander membuka pintu " Ada apa Ivan....? " Ivander kaget karena bukan Ivannia yang berdiri di depan pintu. Jantungnya berdebar kencang ketika Joevanka tersenyum dan memberikan sesuatu untuknya.
" Maaf Ivander, menganggu! ini minuman jahe aku buat sendiri dan ku tambah lemon. Minuman ini sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Aunty sangat menyukai minuman ini. tidak salah jika kau mencobanya! " Kata Joevanka gugup , tatapan mata Ivander saat ini membuatnya serasa lumpuh. Tatapan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Kenapa Ivander sangat tampan hari ini? menggunakan kaos putih dan celana berbahan denim. Garis rahang yang tegas, membuat Joevanka tersenyum samar.
Ivander menerima minuman dari tangan joevanka. " Terima kasih! " Ia mengangkat gelasnya dan membalas senyum Joevanka dengan senyuman singkat.
Setelah minuman itu berpindah ke tangan Ivander, tanpa sepatah kata, Joevanka langsung berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Ia menggigit bibir bawahnya, " Dia tersenyum? benarkah dia tersenyum? " Joevanka masih tidak percaya, saat ini Ia begitu bahagia, Ivander membalas senyumannya.
Ivander menutup kembali pintu kamarnya,
Huuuuu kembali ia melakukan ritualnya, menghempaskan napasnya lewat mulut, ia berusaha menenangkan dirinya. Sekali lagi menarik napasnya, jantungnya masih terpukul kencang. Ia mengangkat gelasnya dan berlahan meneguk minuman jahe lemon yang masih hangat. Ivander kembali tersenyum, minuman ini benar benar menghangatkan tubuhnya.
Tiba tiba ia di kejutkan dengan suara getaran yang berasal dari ponselnya. Ivander mengambil dan melihat layar depan yang hanya tertera angka saja.
Ivander mengernyitkan keningnya, benar kata Ivannia nomor ini kembali memanggilnya.
" Halo! " jawab Ivander dengan nada datar.
" Ini saya nak Ivander, mommy Delia. " terdengar sahutan suara wanita yang tidak asing dari seberang.
Ivander menatap ponselnya, lalu menempelkan kembali ke telinganya. " Jadi aunty Celin yang menghubunginya, kenapa ia tidak menyapa Ivannia? " Batin Ivander.
" Ya, aunty apa kabar? " Tanya Ivander dengan sopan.
" Kabar baik sayang, bagaimana kabarmu? aunty rindu nak, kamu tidak pernah datang ke rumah lagi? kau sibuk ya, bagaimana hubunganmu dengan Delia, apa ada masalah nak? " Kata Celin menghujani Ivander dengan pertanyaan. celin mengubah suaranya menjadi sedih, ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada hubungan anaknya.
" Maaf aunty, Akhir akhir ini aku benar benar sibuk, apalagi minggu ini ada kegiatan mahasiswa melakukan pendakian dari kampus. " jawab Ivander menjawab dengan baik.
" Kenapa Delia tidak pernah cerita ya? "
" Delia memang tidak pernah ikut aunty. " Jawab Ivander.
" Bodoh, harusnya Delia ikut, ini kesempatan Delia memperbaiki hubungan mereka." ucap Celin dalam hati.
" Oh begitukah? aunty ingin bertemu. Bisakah nak Ivander kau datang ke rumah? Aunty benar benar merindukanmu nak Ivander. " kata celin kembali ke tingkat kesadarannya setelah ia bergelut dengan pikiran kotornya.
" Maaf, aunty kalau ke rumah aku rasa tidak bisa. Karena untuk saat ini, aku dan Delia sudah berjanji untuk tidak bertemu dulu. " jawab Ivander tegas.
Tiba tiba hening, tidak ada suara. Ivander menatap ponselnya kembali, panggilan belum terputus.
" Halo...aunty..,apa aunty masih disana? " tanya Ivander.
Tiba tiba Ivander mendengar isak tangis dari seberang, Celin menangis untuk mengambil simpatik dari Ivander, tangisan itu semakin jelas di dengar olehnya.
" Ternyata benar hubungan kalian ada masalah nak ivander? " Celin kembali terisak.
Ivander hanya diam, ia juga tidak tahu harus mengatakan apa.
" Pantas saja, Delia beberapa hari ini selalu mengurung diri di kamar, setiap aunty tanya ia tidak mau mengatakannya. Ia bahkan tidak mau meminum obatnya nak Ivander. " Celin kembali menangis. Isakannya semakin terdengar.
__ADS_1
Ivander membuang napasnya. Lagi lagi ini yang terjadi. " Aunty...dengarkan saya ! Delia harusnya bersikap dewasa, jangan menyiksa dirinya sendiri. Delia yang melakukan hubungan ini tidak baik. Semua ini aku lakukan demi kebaikannya. Saya rasa ini jalan yang terbaik, mengakhiri semua ini juga harus dengan baik baik, saya rasa itu cukup aunty. " Ivander tidak melanjutkan kata katanya.
" Jangan seperti itu nak Ivander, apa lebih baik kita bertemu dan membicarakannya dengan baik baik. Aunty mohon sayang! " Pinta Celin, ia sendiri mulai cemas tidak bisa membujuk Ivander.
" Baiklah aunty, besok kita bertemu tapi di taman bunga di tengah perkotaan pukul lima sore. " kata Ivander akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan mommy Delia.
" Baiklah, sampai bertemu nak Ivander." kata Celin mematikan ponselnya sepihak. Ia membuang ponselnya di atas sofa. Menatap Delia. Celin sudah menunjukkan kilatan kemarahan yang jelas terpancar dari matanya. Ia dengan posisi tangan di pinggang. Saat ini celin sudah begitu marah.
" Sebenarnya apa yang salah dengan hubungan kalian Delia ? Kenapa Ivander begitu kecewa dan ingin mengakhiri hubungan kalian ? "
Wajah Delia berubah," Ivander mengatakan itu mom? " kata Delia terlihat takut dan menunjukkan rasa cemas. Ia menggeleng pelan. " Tidak, mom ini tidak boleh terjadi, aku dan Ivander tidak boleh putus. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. " ucap Delia menangis, ia menutup wajahnya. Ada rasa takut merayapi dirinya.
" Sekarang jawab mommy, apa yang salah dengan ivander, kenapa dia terlihat begitu Kecewa denganmu? " Celin sudah mulai Meninggikan suaranya.
" Aku menghajar pelayan cafe mom dan tidak mengakuinya..."
" Terus? "
" Dan ternyata Ivander melihat kejadian itu mom. "
" Astaga dasar bodoh, harusnya kau minta maaf, apa susahnya kau bersandiwara di depan Ivander sih... " keluh Celin.
" Itu bukan tipeku mom, aku tidak ingin menurunkan harga diriku meminta maaf kepada pelayan tidak tahu diri itu." sengit Delia.
Celin menggeleng, Delia memang paling susah di mengerti. " Bagaimana Ivander akan mempercayai hubungan ini, jika kau saja tidak pernah mengakui kesalahanmu. Sekarang mommy minta perbaiki dirimu jika kau ingin kembali kepada Ivander." kata Celin menekan setiap perkataannya.
" Bagaimana memperbaiki, sementara Ivander tidak ingin bertemu mom? "
" Aku dengar kampusmu mengadakan pendakian mahasiswa pecinta alam, kau harus ikut! "
" Apa ikut? " Delia terbelalak.
" Ya kau harus ikut..." ulang celin.
" Tidak, tidak...aku tidak mau mom, apalagi mendaki, oh tidak, aku tidak ingin lelah apalagi sampai merusak kulitku. Cuaca panas di tambah dingin, itu membuat kulit cepat rusak mom. " sungut Delia.
" Ini adalah jalan satu satunya. Kesempatan memperbaikinya hubungan kalian sayang, pokoknya kau harus ikut bersama Ivander. Mommy gak mau tahu dan tidak menerima asalan ! " kata Celin.
" Mommy...." Delia membuang napasnya.
" Besok mommy ingin bertemu Ivander, biar mama yang urus semua. Serahkan semua sama mommy."
" Bisa aku ikut mom, aku merindukannya. " kata Delia dengan nada sedih.
" kau tetap di rumah, setelah ini kau akan bebas menemui Ivander. " Ucap Celin bangkit meninggalkan putrinya.
" Mommy.....!!! " Rengek Delia seperti anak kecil. Delia menatap punggung Mommynya yang sudah menutup pintu kamarnya.
Delia hanya bisa menarik napasnya dalam dalam.
βββββ
Ivander mengunakan kemeja dengan logo berbentuk buaya untuk hari ini. Kemeja motif kotak-kotak itu Ia padukan dengan celana jeans berwarna netral merek Earnest Sewn. Ivander menggunakan sepatu kets Swarovski FilaFX2. Sepatu mewah dengan warna putih dan bergaris merah dan biru menjadi koleksi yang kesekian. Ivander terlihat tampan hari ini.
Ivander melangkah keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dan melihat Ivannia sedang duduk sembari menikmati cemilan sore.
" Ivannia kakak pergi dulu ya.." Kata Ivander mendekati adiknya.
" Kakak mau kemana...? " Ivannia bangkit. " Bukannya kakak pergi bersama samuel? " Sambung Ivannia.
" Tidak, aku tidak ikut bersama mereka, ada hal lain yang ingin kakak kerjakan." Sahut Ivander. " Lagian buat apa kakak ganggu mereka. "
Ivannia langsung tersadar dengan ucapan Ivander. Ia memicingkan matanya untuk meminta penjelasan dari lelaki yang berdiri di hadapannya.
" Oooh, Jadi itu benar ya kak?" Ivannia bersedekap, mencondongkan tubuhnya agar mendekat dengan kakaknya, aroma parfum dari Burberry Brit Men langsung tercium kehidung Ivannia.
" Benar soal apa? " tanya Ivander balik bertanya.
" Tadi Samuel cerita, soal dia jadian dengan Joevanka. Apa itu benar kak? "
" Menurutmu bagaimana? " tanya Ivander mengangkat alisnya setengah.
" Ehm..." Ivannia menunjukkan gestur berpikir.
Ivander mengernyitkan keningnya lalu mengangkat dagunya. Ia menunggu jawaban dari Ivannia.
" Saya rasa sikap Joevanka biasa saja kak, tidak menunjukkan kalau Samuel adalah kekasihnya, ia selalu menunjukkan sikap datar bahkan, terlihat biasa saja. "
__ADS_1
" Benarkah seperti itu? " Ivander menautkan kedua alisnya dan tersenyum simpul.
" Apa ada yang aneh kak? " tanya Ivannia menatap wajah Ivander lekat lekat.
" Ya, penilaianmu salah, karena yang aku lihat, Joevanka sudah menerimanya di kampus beberapa hari yang lalu. " sahut Ivander menjawab, terlihat jelas tanpa ekspresi.
" What? " Ivannia hampir terkejut sampai terbelalak. " Serius kak? "
" Ya, kalau kau masih penasaran, tanyakan langsung kepada mereka. "
Ivander berjalan meninggalkan Ivannia, hari ini ia akan menemui aunty Celin seperti janjinya kemarin,bertemu di taman di tengah kota.
Ivander melarikan mobilnya mengejar waktu untuk membelah jalan menuju taman. Ia terlambat 15 menit karena kemacetan di jalan. Tak butuh waktu lama Ivander sudah tiba di tempat tujuan. Ivander memarkir mobilnya, Ia menginjak pedal rem, dan menarik rem tangan. Setelah di rasanya cukup, Ivander keluar dari mobilnya menggunakan kacamata mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Ia menyusuri jalan menuju taman. Kursi taman yang di susun rapi oleh pemerintah setempat, sengaja ditaruh, agar warga bisa menikmati bunga yang ada taman. Ivander menangkap sosok aunty Celin sudah duduk di sana menunggunya.
" Selamat sore aunty ! " Sapa Ivander dengan ramah seraya membuka kaca mata yang bertengger di hidungnya.
Celin langsung bangkit, ia memeluk hangat tubuh calon menantunya itu.
" Selamat sore sayang, mari duduk! " Celin menarik tangan Ivander dengan lembut.
Sesaat mereka terdiam, celin terlihat membuang napasnya dengan kasar. Wanita itu mulai berbicara.
" Jika kau ingin memutuskan Delia, aunty tidak akan menghalangi. " Kata Celin dengan suara terbata bata, matanya sudah berkaca kaca. Ivander mengernyit, ia melirik wanita yang kini menundukkan kepala karena menahan tangisannya.
Celin memutar tubuhnya agar menghadap Ivander. " Maafkan Delia, jika tidak pernah jujur, tapi semua itu dia lakukan karena dia tidak ingin kau menilainya buruk. Awal mula di cafe karena wanita itu tidak melayaninya saja. Tapi semua itu tidak perlu di bahas lagi nak. " Celin terdiam. Akhirnya air mata yang sedari tadi berkumpul tergelincir begitu saja.
" Tapi aunty mohon sayang, tinggalkan Delia setelah benar benar sembuh. Sekarang saja dia tidak mau makan obatnya. " Celin terisak, suaranya sepertinya tercekat di leher, ia menahan isak tangisnya sampai membuat tubuhnya bergetar.
Celin sampai bangkit dan bersujud di hadapan Ivander membuat lelaki itu terkejut.
" Aunty jangan lakukan ini, apa pandangan orang orang? " Ivander menahan tubuh wanita itu agar tidak bersimpuh di hadapannya.
Celin semakin menangis, " Tolong, bantu aunty sayang, agar kau tetap berada di sampingnya. Jika Delia sudah sembuh. Aku akan membiarkanmu melepaskan putriku."
Ivander menarik napasnya, ia tidak bisa berkata apa apa.
" Aunty mohon sayang, Tolong lebih bersabar lagi menghadapi Delia nak. Itu semua kerena penyakitnya kadang membuat emosinya tidak stabil." Kata Celin masih menangis.
" Mungkin dengan mendaki, Delia bisa melepaskan sakitnya nak, dia ingin ikut kegiatan pendakian. Aku harap nak Ivander bisa menjaganya. "
Saat ini perasaannya campur aduk, akhirnya Ivander berkata jujur tentang perasaannya.
" Untuk kembali, aku tidak bisa aunty. Perasaanku dengan Delia tidak bisa di paksakan lagi. Tidak ada cinta lagi, namun jika untuk menjadi teman untuk mendukung ke sembuhannya, aku siap melakukannya." Kata kata Ivander jelas, dan mantap.
Celin mencengkeram tangannya dengan kuat, ia kecewa dengan jawaban Ivander. Ia menunduk untuk menutupi kemarahannya. Ia geram, Ivander ternyata bukan seperti lelaki yang ada dipikirannya. Sifat kerasnya sama seperti Aaron Donisius. Ia kemudian tersenyum licik.
" Jika seperti ini aku akan kembali ke cara yang ke dua. Kau akan jatuh ke tangan putriku Delia." Batinnya berbisik.
Kemudian Celin menghadap Ivander, memaksakan dirinya untuk tersenyum.
" Baiklah nak Ivander, jika itu menurutmu terbaik, lakukan lah...tolong jaga anak aunty selama pendakian. "
.
.
BERSAMBUNG
# Terima kasih banyak masih setia menunggu Up date dari kisah Ivander dan Joevanka ππ
Kisah ini jelas bukan seperti The Fate Of My Mariage.
Dari judulnya aja sudah berbeda ya sayang sayangku π₯°
# Semoga tetap suka ya π€ Selamat beraktifitas buat my readers, tetap jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia ya. π₯°
Salam sehat ππ€
.
..
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMUπ
__ADS_1