WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Memilah-milah undangan.


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Perjalanan melewati tepian sungai yang cukup indah membuat ia melupakan lelah yang mulai terasa. Ia terus menyusuri jalan bersama dengan ke dua temannya. Wanita itu menarik napas panjang dan tersenyum ketika ia sudah tiba di panti Asuhan. Ia saat ini bahagia bisa sampai ke tempat ini. Di gerbang panti asuhan. Seorang wanita yang menggunakan velum ini tersenyum, ia mengedarkan pandangannya. Melihat anak-anak berlarian saling berkejaran-kejaran.


Cat gerbangnya berwarna biru yang mulai memudar, pintu gerbangnya juga sudah mulai berkarat, engselnya mengeluarkan bunyi nyaring kalau digerakkan. Namun yang membuat tempat ini indah, banyak bunga-bunga yang menghiasi halaman pekarangan panti asuhan. Anak-anak berlarian di halaman panti yang cukup luas, ada yang sedang bermain ayunan, main bola plastik, main karet. Melihat keramaian itu ia tersenyum dan melangkah pelan mendekati anak-anak sedang bermain. Seorang anak menyadari kedatangannya berteriak bahagia melihat sosok siapa yang datang. Sosok yang mereka tunggu-tunggu dan mereka rindukan.


"Suster Delia...." Teriak salah seorang anak berlari, yang diikuti anak-anak yang lain. mereka berhambur memeluk wanita yang memakai velum itu.


"Hei, baru seminggu juga kita tidak bertemu anak-anak manis." kata Delia ketika tubuhnya dipeluk beberapa anak.


"Kami merindukan suster. Ayo kami sudah tidak sabar menunggu cerita dongeng dari suster."


"Ehmmm.." Delia memiringkan bibirnya. Pupil matanya naik ke atas dan mengetuk keningnya berulang kali dengan jari telunjuknya.


"Sepertinya kalian hanya merindukan dongeng dari saya saja tapi tidak merindukan suster. Ehmmmm saya jadi sedih nih.." wajah Delia mengerucut.


"Tidak, tidak, kami merindukan suster juga." Kata anak-anak spontan.


"Ehmm, Benarkah? anak baik tidak boleh bohong lho. Kalau bohong di marah....?"


"Tuhan...." Seru anak-anak serentak.


"Jadi anak-anak harus berkata...?"


"Jujur....."Jawab mereka lagi.


"Jadi kalian berkata jujur atau bohong?"


"Jujur..."


"Berarti di sayang?"


"Tuhan...."


"Anak pintar. Sekarang kalian mandi dulu. Saya akan tunggu kalian di aula dalam waktu 30 menit, oke..." Seru Delia antusias dan tersenyum ketika melihat anak-anak panti langsung berlari masuk untuk membersihkan tubuh mereka.


Di saat menunggu anak-anak mandi sore dan bersiap-siap terlebih dahulu. Waktu Delia dimanfaatkan berkeliling panti dan melihat-lihat bagaimana kehidupan di sana. Menempati kompleks yang cukup luas, sarana yang tersedia di sana sangat memadai. Anak-anak itu dibesarkan dalam lingkungan yang nyaman, bersih dan sehat. Delia datang bersama dua orang teman biarawati nya. Mereka menyiapkan boneka lipat origami Pinguin dan Kelinci sebanyak-banyaknya untuk dibagi-bagikan diakhir acara.


Setelah hampir 30 menit mereka menunggu, tibalah saat yang dinantikan. Terlihat anak-anak itu berbaris rapi memasuki sebuah aula yang juga sudah dihias. Hampir 60 anak terlihat begitu ceria dan penuh semangat menyambut kedatangan Delia dan temannya. Mereka mengikuti setiap acara dengan antusias, termasuk ketika Delia tampil menghibur dengan dongengnya.


Delia membuka acara dongeng sambil mengenalkan boneka tangan berbentuk tikus. Ini adalah trik yang digunakan untuk membangkitkan minat dan memusatkan perhatian anak-anak pada cerita yang akan dibawakan Delia.


"Sudah siap mendengarkan cerita saya?"


"Sudah suster..."


"Saya mau tanya, sudah berapa kali ya saya ke sini?" Tanya Delia menunjukkan gestur berpikirnya.


"Sudah ada 4 Kali suster."

__ADS_1


"Ingatan yang bagus..." Kata Delia tersenyum. Ada yang masih ingat dongeng apa yang saya bawakan?" tanya Delia kepada anak-anak kembali.


"Pangeran kodok dan Asal muasal kantung tupai suster." teriak mereka.


"Wah...anak yang pintar." Puji Delia dengan tepukan tangan. "Oke, sekarang saya akan memberikan cerita dongeng yang berjudul? penasaran gak dengan judulnya?" kata Delia membangkitkan rasa penasaran anak-anak. Delia tersenyum dan berkata.


"Si tikus Kecil yang Pandai." Kata Delia dengan antusias.


Awalnya cerita berjalan lancar dan menarik. Namun ketika tiba saat mengumpulkan barisan tikus-tikus, kejadian yang tak terduga terjadilah. Diawali ketika Angel merayu anak-anak untuk menjadi tikus-tikus kecil, mereka serentak berteriak,


“. . .bohong, pembohong! Pembohong!”


Delia tersenyum dan Delia menganggap anak-anak ini sangat cerdas dan dengan cepat menangkap maksud cerita bahwa si kucing yang merayu itu sebenarnya berbohong.


Kejadian tak terbayangkan pun berlanjut ketika saatnya bagi Angel untuk memangsa tikus-tikus itu. Mereka berlarian tidak mau ditangkap. Serunya, yang tertangkap dan dikembalikan ke tempat duduknya, tiba-tiba mereka berlarian kembali ke barisan untuk bergabung kembali dengan teman-teman yang belum tertangkap.


Cerita dongeng pun selesai, di lanjutkan dengan acara berikutnya.


Anak-anak melakukan makan bersama dengan tenang. Delia berjalan membagikan buah kepada anak-anak. Mereka dengan lahap menikmati makanan mereka. Anak-anak panti asuhan kembali duduk dan mengikuti kegiatan selanjutnya. Setelah menyanyikan dua buah lagu dan di akhiri doa bersama. Anak-anak panti mendapatkan boneka lipat origami Pinguin dan Kelinci yang dibagikan buat mereka. Semua anak mendapatkan masing-masing dan mereka kemudian beranjak menuju asrama, melewati koridor yang ramai oleh anak-anak kecil yang sedang berlarian ke sana ke mari untuk mendapatkan kamar mereka masing-masing. Mereka tiba di sebuah kamar yang cukup besar, di sana berjejer tempat tidur bertingkat. Anak-anak mengistirahatkan tubuh mereka.


Delia tersenyum melihat anak-anak sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Delia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan napasnya sekaligus. Dia begitu bahagia dan sangat bahagia melihat anak-anak tanpa dosa ini. Mereka sangat polos. Delia meninggalkan kamar setelah anak-anak dipastikan sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.


Pertolongan Tuhan begitu nyata dalam hidupnya. Ia dinyatakan sembuh dari penyakitnya. Delia akhirnya memilih menjadi seorang biarawati yang artinya dia meninggalkan segala yang dimilikinya dan semangat pelayanan terhadap sesama. Delia selalu mengikuti kegiatan misi dan panggilan yang diselenggarakan. Mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan. Ini adalah jalan hidupnya. Mommy setuju jika ia mengabdikan hidupnya sebagai pelayan sesama.


⭐⭐⭐⭐⭐


Joevanka sekarang berada di kediaman Donisius. Sementara Ivander melakukan rapat penting sebelum ia mengambil cuti panjang.


Bagi Joevanka, hari pernikahan merupakan hari paling spesial. Jadi Joevanka tidak akan membiarkan segala keriuhan dan tekanan persiapan menghapuskan kegembiraan. Kunci untuk bisa merasa enjoy dan gembira selama pesta pernikahan yaitu persiapan yang matang. Joevanka benar-benar memastikan segala hal disiapkan sedetail mungkin. Ia akan terjun langsung. Dengan persiapan yang rapi dan teratur, maka dipastikan pesta pernikahan pun akan berjalan dengan baik. Joevanka dan Ivander mempercayakan pada semua tim wedding organizer. Sementara undangan mereka melakukan sendiri. Keluarga ikut serta membantu untuk persiapan membuat pesta berjalan dengan mulus.


"Ada yang lucu?" Kata Ivannia memandang Joevanka yang sedari tadi menahan senyumnya sendiri. Mereka sedang memilah-milah undangan yang belum sempat di bagi.


"Aku belum berpikir sampai kesitu Alea, sudahlah jangan terus mengataiku. Bila perlu aku tidak ingin menikah." Keluh Ivannia.


"Ucapan adalah doa adik ipar. Tidak baik mengatakan hal seperti itu." Kata Joevanka melihat sekilas kepada Ivannia dan kembali menatap undangan yang ada di atas meja.


"Benar, apa yang salah denganmu? Biasanya jika kau sudah mengenal lelaki terkadang lupa diri karena kau lebih posesif dari pria." timpal Alea.


"Itu dulu Alea, tapi sekarang tidak lagi. Aku membenci semua pria. Jika dia bersedia, aku ingin melihatnya melompat dari gedung berlantai 30."


Joevanka dan Ivannia terbelalak, "Apa???" ucap mereka serentak. "Kau serius? astaga dimana Ivannia yang ku kenal dulu." Kata Alea merinding mendengar perkataan Ivannia. "Jika pria itu mati bagaimana? Apa bisa kau menghidupkan pria itu kembali dan mengatakan kau menerima cintanya."


"Setidaknya dia bisa membuktikan perasaannya." Desis Ivannia tersenyum smrik.


"Ivannia, apa kau terlalu sakit hati kepada lelaki yang memutuskan mu itu?" Tanya Alea dengan suara terendahnya.


"Sakit hati?" Ivannia tertawa. "Aku tidak sakit hati Alea, tapi bisa dikatakan aku kecewa pada semua pria yang ku kenal."


"Apa sedalam itu?" Sambung Alea.


"Yes, aku sangat membenci semua pria kecuali itu daddy dan kak Ivander. Aku sudah katakan. Jika mereka ingin membuktikan cintanya, silakan saja melompat dari gedung berlantai 30. Baru aku bisa mengakui sedalam apa cintanya."


Joevanka menarik napasnya dalam-dalam dan menatap Ivannia dengan lekat. Bagaimana ia akan menjodohkan Gavin dengan Ivannia? Jika adik iparnya memiliki dendam kepada semua pria. Ia ingat ketika Gavin meminta nomor handphone Ivannia. Setelah ditanya. Ternyata cewek yang di taksir Gavin adalah Ivannia. Joevanka kembali menghembuskan napasnya. Bagaimana pun ia akan membantu sahabatnya itu. Joevanka perlahan-lahan akan mengenalkan Gavin kepada Ivannia. Joevanka kembali fokus mengurus sisa-sisa persiapan pernikahannya saja dulu baru memikirkan hal yang lain. Luar biasa lelah tapi sangat menyenangkan.


Ivander pulang dengan di bantu Alberto. Melihat itu Joevanka langsung berlari mendekati Alberto. Setengah jam sudah berlalu,setelah ia selesai memilah-milah undangan. Dan memutuskan menunggu Ivander pulang. Sementara Alea sudah di jemput suaminya dan Ivannia sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Joevanka.

__ADS_1


"Sepertinya tuan Ivander mabuk."


"Hei...sayangku, aku tidak mabuk." Kata Ivander ketika melihat Joevanka berdiri dihadapannya. "Aku tidak mabuk sayang, Alberto saja yang terlalu takut." Ucap Ivander sedikit oleng.


"Biarkan aku yang membawanya pak!" ujar Joevanka mulai mengumpulkan tenaga untuk memapah Ivander sampai ke kamarnya.


"Baik nona." Kata Alberto membiarkan Joevanka segera mengalungkan tangan Ivander ke lehernya.


Huft ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Badannya terasa berat, Joevanka kembali mengumpulkan tenaga untuk memapah Ivander sampai ke atas.


"Ayo, sayang sedikit lagi." Joevanka memberikan semangat.


"Aku tidak mabuk sayang."


"Kau selalu mengatakan tidak mabuk. Kenapa badanmu sangat berat? Ayo, sedikit lagi." Kata joevanka terus mengatur napasnya. ia benar-benar kehabisan napas ketika menaiki tangga.


"Berhasil..." Kata Joevanka ketika tubuh Ivander sudah ia rebahkan ke atas kasur.


Joevanka membuka dasi yang di kenakan Ivander. Lalu ia sedikit membungkuk membuka sepatu dan menyimpan sepatu itu di dekat pintu keluar. Pada saat akan menarik tali pinggangnya. Dengan kekuatan penuh, Ivander menarik tangan Joevanka dan membuatnya terjatuh ke dada Ivander.


DEG DEG DEG


Jantung Joevanka terpukul kencang. Matanya membulat kaget ketika mendapat serangan mendadak dari calon suaminya.


"Aku sudah bilang,aku tidak mabuk sayang." Kata Ivander tersenyum menyeringai. Napas Ivander tercium bau alkohol.


Ivander mendorong tubuh Joevanka agar posisi telentang. Dan sekarang Ivander ada diatasnya. Ia menyapu rambut Joevanka ke atas dan mengusapnya dengan sayang.


"Kau tidak sabaran sayang. Langsung membuka tali pinggangku begitu saja." kata Ivander tersenyum dan menatap Joevanka dengan sendu.


DEG DEG DEG


Jantung Joevanka saat ini seperti genderang mau perang.


"Aku hanya membuatmu tidur dengan nyaman sayang, tidak ada maksud lain kok." Ucap joevanka menjepit bibirnya. Wajahnya sudah merona merah.


Napas Ivander berhembus lewat mulut, matanya mengarah ke bibir Joevanka dan tersenyum nakal. "Aku akan melepaskan mu setelah memberikan ciuman untukmu." erang Ivander. Ia memajukan wajahnya dan menatap Joevanka. Dengan sangat lembut ia memberikan ciuman pada bibir Joevanka dengan tempo lambat. Seperti menghayati setiap Lmatan-lmatan yang diberikannya. Joevanka memejamkan matanya merasakan kelembutan bibir Ivander. Pria kesayangannya itu terus mencumbunya. Membiarkan ciuman bergelora itu terus berlanjut. Semakin dalam dan menghanyutkan. Satu minggu lagi pesta pernikahan mereka akan dilangsungkan. Sungguh mereka tidak sabaran untuk saling memiliki. Namun Ivander masih bisa menahan.


" Sabar tinggal selangkah lagi." Batin Ivander mengerang.


.


BERSAMBUNG


❣️ Ehmmmm... Ivannia terlalu kejam gak ya 🙄 jika seorang lelaki mengatakan cinta. Dia harus bersedia melompat dari gedung berlantai 30 🤣 tragis amat jika Halbret kocak melakukan itu dan Gavin lelaki cakep melakukan lompat bebas dari gedung setinggi gunung Himalaya 🤪


❣️ Penasaran kan kenapa Ivannia begitu membenci pria.


❣️ Kisah Ivannia akan berlanjut ke season 2 ya. Tetap ikuti sayang-sayangku. Salam sehat buat kalian semua 🤗


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌

__ADS_1


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2