
💌 Whisper of love 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Joevanka terbangun ketika di sadarkan dari pikiran, tubuhnya tiba tiba merasakan kedinginan, sampai menusuk tulangnya. Ia meringkuk mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya, ujung kaki dan tangannya terasa menggigil. Rasa dingin itu semakin terasa, seiring malam semakin larut. Lampu penerang di kamar gudang tidak ada.
Cuaca di kota London masih tetap dingin, walaupun musim semi akan berakhir. Angin musim semi menerpa sampai menembus kulit tubuhnya yang tidak beralaskan apa apa.
Kamar gudang yang pengap dan lembab, membuat Joevanka tak nyaman. Aroma tidak sedap langsung tercium di hidungnya. Joevanka mengedarkan pandangannya. Ia pun menarik napas dalam dalam. Ia bersandar di dinding dengan napas menahan dingin, sambil memeluk kakinya. Melisa sama sekali tidak menghidupkan penghangat ruangan. Joevanka tersenyum miris, bagaimana ia bisa mengharapkan penghangat sementara ia berada di gudang. Gudang yang berukuran tiga kali tiga, berisikan barang barang yang tidak terpakai dan meninggalkan bau debu yang menusuk hidungnya.
Joevanka tidak bisa keluar, tidak ada jendela. Hanya ada pintu dan jelas dia tahu pintu itu terkunci. Joevanka mulai menangis, menarik napasnya sesekali. Menahan dinginnya malam. Ia mengatur napasnya, mengingat perkataan auntie Melisa, hatinya kembali sakit. Tetesan demi tetesan air mata terjatuh begitu saja. Joevanka memiringkan badannya meringkuk memeluk kakinya. Joevanka kembali tertidur.
Pagi hari di kota London.
Bunyi kunci pintu dibuka.
BRAKKKK
Pintu tiba tiba terbuka dengan kasar.
Joevanka sontak terbangun dan memeluk tubuhnya sendiri, matanya masih menyesuaikan cahaya yang tiba tiba masuk ke dalam gudang.
Melisa tersenyum sinis, ia membawa satu piring nasi berisi lauk buat Joevanka. Meletakkan piring itu di lantai dan ia dengan sengaja menendang pelan piring itu, hingga tergeser sampai ke kaki Joevanka.
" Aku masih berbaik hati memberikanmu makan, besok hari terakhir mu disini. Sebaiknya kita berdamai dan jangan mempersulit keadaan, aku tidak ingin kau memancing amarahku. Mengerti! " kata Melisa menekan setiap perkataannya.
" Cih...Kau yang membuat semua ini sulit auntie.. Sampai sekarang aku tidak mengerti dengan semua ini." Joevanka menatap sinis.
" Aku tidak ingin berdebat denganmu Joevanka, semua ini ku lakukan untuk kebaikanmu dan untuk kebahagiaanmu juga, bukankan kau sendiri yang menginginkan berhenti kuliah? Dari pada kau menyusahkan, lebih baik aku menjual mu dan aku bisa menghasilkan banyak uang. Bereskan? " ucap Melisa seraya tertawa.
" Jadi sekarang makan ini! " Melisa kembali menendang piring itu dengan kasar agar mendekat dengan kaki Joevanka.
Melihat ia diperlakukan seperti binatang, Joevanka langsung bangkit dan menatap Melisa dengan tajam.
" Kau lebih buruk dari binatang auntie, kau manusia berwujud iblis. " Kata Joevanka dengan emosi.
Melisa tersenyum dan manggut-manggut, bibirnya ia bengkokkan dengan tangan bersedekap. Melisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ketika melihat Joevanka begitu berapi-api mengucapkan kata katanya. Melisa menganggap Joevanka seperti kaset rusak dan ia bahkan tidak melihat Joevanka berbicara.
" Kau wanita gila, gila akan harta..." Sesaat Joevanka mengatur napasnya. " Kau bahkan menjijikkan dan aku harap Tuhan mengampuni mu. "
" Keponakan yang baik, kau masih bisa mendoakan auntie. Terima kasih sayang! " Kata Melisa bersikap tetap tenang bahkan tidak terpancing dengan perkataan Joevanka.
__ADS_1
Joevanka tertawa hambar, ia Kembali memicingkan matanya, menatap Melisa dengan tajam.
" Kau memang manusia gak punya hati, Kau tidak menyadari, Sesungguhnya kau sudah mendapat hasil dari pembuatanmu. Kau ditinggal uncle dan memilih wanita lain karena Uncle tahu, kau manusia buruk dan jauh lebih buruk dari bintang auntie. " kata Joevanka dengan emosi jiwanya.
PLAKKK
Dengan kekuatan penuh, Melisa mengayunkan tangannya, menampar pipi Joevanka dengan begitu keras, suara tamparan itu begitu nyaring sampai membuat Joevanka kehilangan keseimbangan.
" Apa kau bilang? Kau sengaja memancing emosiku, heh... " Jemari kuat Melisa mencengkeram baju Joevanka dan mendorong tubuh Joevanka sampai mengenai dinding.
Joevanka meringis menahan rasa sakit , akibat benturan kepala dan tubuhnya yang kuat mengenai dinding. Tanpa rasa takut, Joevanka menatap tajam, ia bahkan menantang Melisa dengan senyum sinisnya.
" Kenapa ? " Mata Joevanka mendelik menatap melisa . " Auntie tidak terima? " Joevanka tersenyum menyeringai. " Aku masih, ingat bagaimana uncle meninggalkanmu, kau bahkan dianggap sama seperti sampah auntie..." kata Joevanka tidak takut.
Mendengar itu, membuat emosi Melisa tersulut, ia semakin mencengkram pundak Joevanka semakin mengencang hingga terasa sangat sakit.
" Kau seharusnya kubiarkan mati, brengsek! " tengking Melisa dengan kekuatan penuh mendorong tubuh Joevanka hingga mengenai tumpukan barang barang yang tidak terpakai.
Aaaarrrrrgggghh
Joevanka terjatuh dan mengenai benda tajam hingga melukai tangannya.
" Kau harusnya mati menyusul Lionel dan Isabel, tidak ada yang menginginkanmu hidup, brengsek..! " Teriak Melisa dengan seringai iblisnya.
Tubuh Joevanka di tendang berulang kali hingga membuat Joevanka menangis kesakitan. Teriakan dari Joevanka tidak dipedulikannya.
Mata Joevanka kembali basah oleh air mata, sementara napasnya tersengal menahan emosi, ia mengambil sesuatu untuk melindunginya. Dengan cepat Joevanka melempar benda itu tepat dibagian kening Melisa dan hampir mengenai matanya.
Aaaarrrrrgggghh
Suara kesakitan, membuat Melisa mundur dan menyentuh bagian keningnya yang terluka.
" Berani kau melukaiku? " Melisa semakin histeris melihat darah di keningnya.
Joevanka mengambil kayu dengan cepat dan mengarahkan kepada Melisa.
" Jika kau berani mendekat, kayu ini akan menghabisi tubuhmu..." Kata Joevanka dengan mata menyala, ia menekan setiap perkataannya, Joevanka bahkan mengeraskan rahangnya.
" Aku Joevanka Mark, gadis pemberani lahir dari seorang wanita kuat. Dan aku tidak akan menangis dan tidak akan tertindas lagi. Aku tidak takut dengan wanita sepertimu. Kau bukan dari keluarga Mark, Kau hanya manusia iblis. " Kata Joevanka begitu emosi menguasai dirinya. Ia bahkan menatap Melisa dengan tatapan permusuhan.
" Apa kamu pikir aku saudara dari daddy-mu? " Kata Melisa tersenyum sinis, ia masih meringis merasa kan bekas luka di kening nya.
" Aku bukan adik kandung dari Lionel, aku saudara tiri yang tidak pernah di anggap keluarga ini, bahkan dipandang sebelah mata. Ini semua karena karena keluarga Mark. Ibuku dapat penghinaan terus, dan aku di anggap pembawa sial. Ya..bisa dikatakan hanya Lionel yang menyanyangiku, memberikan apa yang aku mau.Tapi semua berubah ketika dia menikah dengan Isabel, dia bahkan tidak pernah menanyakan keadaanku. Aku benci semua itu, ditambah kau ada, Lionel bahkan tidak perduli dengan nasib rumah tanggaku.Tapi sekarang tidak masalah buatku, semua yang kuinginkan kudapat. Harta yang ditinggikan Lionel bisa aku nikmati. " kata Melisa tertawa.
" Aku sudah menduga auntie memang tidak memiliki darah dari keluarga Mark, karena sifat auntie menunjukkan auntie dari orang yang tidak berpendidikan dan pantas saja grandpa tidak pernah menganggapmu auntie. Kau menunjukkan dirimu dari kelas rendahan. " Kata Joevanka dengan suara nyaring dan diiringi dengan tawa hambar.
" Apa? " Melisa sudah sangat marah, ia bahkan mengeraskan rahangnya. Langkah Melisa terhenti ketika Joevanka kembali menunjukkan kayu untuknya.
__ADS_1
Joevanka langsung melindungi tubuhnya ketika Melisa mendekat.
" Ayo...Coba saja jika kau mendekat! " kata Joevanka menunjukkan kayu itu.
" Dasar brengsek! sekarang aku bisa terima perlakuanmu Joevanka, besok aku akan lihat bagaimana kau menangis bersujud di kakiku. Ketika lelaki tua menjadikanmu sebagai istri simpanannya. "
Hahahahaha Melisa tertawa dengan nada penuh kemenangan dan terdengar sombong.
Ia melangkah meninggalkan gudang dan mengunci pintu kamar itu kembali.
Joevanka memundurkan langkahnya kebelakang, mencoba menstabilkan napasnya, yang tersengal karena menahan emosinya. Sesungguhnya ia sangat ketakutan, takut melawan. Namun entah dorongan dari mana ia seperti memiliki keberanian untuk melawan perkataan Melisa. Tangannya masih gemetar, ia membuang kayu, benteng untuk melindungi dirinya. Dengan cepat joevanka berlari dan mendekati pintu, ia menggedor-gedor pintu berulang kali.
" Buka pintu.... bukaa....." Teriak joevanka. Ia menggeleng pelan, menolak perkataan Melisa. Ia akan dijual dengan lelaki tua. Air matanya langsung membanjiri pipinya.
Tubuhnya menempel di pintu, menangis ia tidak tahu apa yang harus di lakukanya. Perkataan Melisa seakan teringang di telinganya. Kakinya terasa lemah dan ia terduduk. Tatapannya lemah, ia menatap nasi yang sudah berhamburan di lantai. Saat ini nasibnya begitu buruk.
Seharusnya ia bertahan di keluarga Donisius. Di sana semua orang menyanyanginya.
Apakah sekarang ia menyesalinya?
Joevanka telah gegabah mengambil tindakan. Perasaan ingin kembali ingin memulai kehidupan yang baru justru membuatnya semakin terpuruk, dan semuanya menjadi semakin buruk.
Sesal datang memang sungguh menyesakkan. Pikiran untuk memutar waktu tak bisa di hindari, keinginan untuk memperbaiki, seribu pengandaian menghampiri, dan ribuan sesal yang hanya bisa ia tangisi. Joevanka sadar sekeras apapun keinginannya untuk memutar waktu, semua tidak akan berguna. Bahkan hanya akan membawanya ke dalam keterpurukan.
Joevanka hanya bisa menangis.
Joevanka yakin cepat atau lambat awan gelap yang menaungi hidupnya saat ini akan berganti menjadi awan terang yang menemani hari-harinya selanjutnya.
Bukankah mendung tak berarti hujan? Ya, takdir memang di tangan Tuhan. Tapi jalan hidup kita? Kita sendirilah yang menentukan.
Mungkin ini jalan hidupnya dan Joevanka harus menerima kenyataan itu.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌
__ADS_1