WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Kesepakatan menjadi sekretaris


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Setelah sadar jika yang dipeluknya bukan bantal guling, Joevanka mengerjap dan menatap pria yang tertidur nyaman di sampingnya. Bersamaan itu Ivander membuka matanya. Mereka saling berpandangan.


" Tidakkkkkk !!!! Apa yang kau lakukan pak ???? " Joevanka membelalakkan matanya dan berteriak.


Dengan cepat, Joevanka berbalik dan terjatuh dari tempat tidurnya.


" Aaahhhhhhhhh .." Joevanka mengerang kesakitan. Sementara Ivander hanya bisa tersenyum melihat tingkah Joevanka pagi ini.


Joevanka tidak perduli dengan rasa sakit. Ia kembali fokus untuk menyelamatkan diri. Joevanka terus mundur untuk mencari tempat yang aman baginya. Tubuhnya terhenti ke dinding dekat jendela kamar. Ia menekuk kakinya seakan melindungi diri.


Ivander tersenyum dengan posisi tengkurap dan memeluk bantal. " Kau mengagetkanku Vanka? " kata Ivander dengan suara serak bangun tidur.


" Kenapa bapak ada di kamarku? " erang Joevanka dengan tatapan tajam. Wajahnya mengerut serius dan menatap Ivander dengan tatapan permusuhan.


Ivander tersenyum miring, matanya tidak mau lepas menatap joevanka.


" Apa yang bapak lakukan di kamarku pak? " ulang Joevanka. Kesabarannya sudah mulai hilang. " Jangan sampai aku memanggil security apartemen ini pak. " bentak Joevanka.


" Apa kau tidak ingat Vanka? " kata Ivander kembali tersenyum smrik sambil mengangkat setengah alisnya. Pandangannya masih tidak mau lepas dari Joevanka.


Sejenak Joevanka berpikir. " Ingat? ingat apa maksudnya? " gumam Joevanka menurunkan pandangannya.


Ivander menunggu dengan posisinya yang masih memeluk bantalnya dengan malas. Ada kebahagiaan menggelitik hatinya, membayangkan Joevanka menjadi istrinya. Ivander tersenyum sendiri.


" Bapak sengaja menutupi kesalahan, sudah jelas bapak tidur disini. Bapak tidak bisa mengelak lagi. " Nada suara joevanka naik satu oktaf.


Ivander terkekeh, " Apa aku perlu membantumu untuk mengingatnya Vanka? "


Joevanka berpikir, ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Wajahnya berkerut ingin mencari tahu, setelah sampai ke apartemen, asisten pribadi pak direktur minta izin pulang.


" Aku sendiri langsung masuk ke dalam kamar dan tidur, itu saja! tidak ada yang lain lagi kan? " Batinnya berbicara, Joevanka kembali menatap Ivander.


" Jangan jangan, kamar ini? " Joevanka mulai panik, ia mengedarkan pandangannya.


" Apa kau menemukan jawabannya Vanka? " Tanya Ivander tersenyum singkat, Ivander bangun dari tidurnya dan berjalan mendekati Joevanka. Ia menekuk salah satu kakinya. Sekarang mereka saling berpandangan.


Pak direktur sudah sangat dekat dengannya. Ia tidak bisa mundur lagi. Matanya membulat sempurna. Joevanka menunduk cepat. Kedekatan ini tentu membuatnya tidak nyaman.


" Kau salah masuk kamar Vanka..." ucap Ivander dengan suara terendahnya.


" Aa-pa? " Joevanka mengangkat wajahnya dan fokus dengan tatapan Ivander yang menguncinya.


Joevanka kembali tertunduk, wajahnya bersemu merah.


Ivander tersenyum miring, ia mengangkat tangannya untuk menyelipkan anak rambut Joevanka.


" Bisakah tangan anda menjauh pak? " Joevanka mengangkat wajahnya dan matanya memandang tajam. Menampakkan kekesalan yang begitu besar.


Ivander bergeming, ia justru memberanikan diri menatap Joevanka dengan senyumnya. Untuk menggoda Joevanka.


" Anda membuat saya tidak nyaman pak. " Joevanka menekan setiap kalimat yang dia ucapkan. Kali ini tatapannya menghunus wajah Ivander.


" Benarkah Joevanka? "


" Jangan anda membuat saya pergi dari sini pak? Anda selalu membuat saya tidak nyaman, apalagi tinggal satu rumah dengan anda seperti ini."


" Kita juga sudah pernah tinggal satu rumah Vanka. " Ivander tersenyum samar, dan masih dengan posisi menekuk kakinya.


Karena pernyataan pak direktur yang semakin membuat perasaannya campur aduk, seperti mengingatkan nya pada seseorang. Reflek Joevanka mendorong tubuh Ivander dengan cepat.


" Bapak keterlaluan...! Jika aku salah masuk kamar, harusnya bapak tidak masuk juga ke sini dan tidur satu ranjang denganku ! " Nada suara di dalam kalimat Joevanka begitu kental. Ia bangun dari duduknya dan berjalan setengah berlari keluar dari pintu.


Ivander tersenyum singkat sambil menekuk kedua kakinya. Ia membuang napasnya menatap kearah pintu.


" Lagi lagi kamu terlihat lucu Vanka. "


Ivander akhirnya tertawa, sambil menunduk.

__ADS_1


" Aku semakin menyukai semua tentang dirimu. Terus saja seperti itu, aku semakin suka. "


SEMENTARA DI DALAM KAMAR


Joevanka masuk ke dalam kamar yang sebenarnya. Ia langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. Joevanka menarik napasnya dengan kasar. Ia ingin melampiaskan kekesalannya. Mulutnya terbuka dan mendesah. Mengingat perkataan pak direktur yang terakhir kali.


" Dia semakin aneh, Kami pernah tinggal satu rumah? Dia benar benar gila ya, bagaimana seorang direktur bisa berbicara seenaknya. "


Joevanka berusaha menstabilkan napasnya, yang naik turun begitu cepat. Joevanka menyapu rambutnya ke atas dengan posisi berkacak pinggang dan mondar mandir di dalam kamar.


TOK TOK TOK " Vanka bersiaplah, setengah jam lagi, kita akan ke kantor. " Kata Ivander dari balik pintu.


" Astaga ..dia mengagetkanku. " Joevanka menyentuh dadanya, mengatur napasnya kembali.


" Aku akan membunuhmu pak direktur. Lihat saja, kau tidak tahu siapa Joevanka sebenarnya! " lagi lagi Joevanka hanya bisa menggeram tanpa bersuara.


Joevanka memutuskan untuk membersihkan dirinya. Ia harus mempersiapkan diri kekantor. Ini adalah pengalaman pertama bekerja sebagai sekretaris.


Ini akan menjadi tantangan buat Joevanka menjadi sekretaris profesional.


" Cih...baru juga di mulai, kau sudah mengatakan dirimu profesional Joevanka. "


Joevanka memandangi dirinya di pantulan cermin. Penampilannya harus rapi, itu salah satu yang utama.


Ia belum mengeluarkan pakaiannya dari koper. Jika apartemen yang dikatakan pak Halbert sudah selesai, Joevanka akan cepat keluar dari rumah ini. Joevanka tersenyum sinis. Membayangkan wajah pak direktur yang terlalu seenaknya.


Sekarang Joevanka harus memikirkan menjadi seseorang sekretaris yang memiliki berbagai informasi yang kemungkinan sewaktu-waktu dapat dibutuhkan. Sekretaris profesional dapat mensupport tentang informasi, teknis, serta pendukung kelancaran perusahaan.


" Oke, selesai...! " Joevanka keluar dari kamarnya.


Lagi lagi Joevanka terkejut melihat pak direktur sudah berdiri di depan kamarnya.


Ia berpenampilan lengkap, menggunakan kemeja berwarna putih, dasi bermotif, celana dan jas abu berbahan wool silk. Ia memasukkan tangannya ke kantong celana. Berdiri dengan posisi santai.


" Sudah siap melakukan pekerjaan pertamamu, Vanka ? " Tanya Ivander menaikkan alisnya setengah dan tersenyum smirk.


Tak ada jawaban, Joevanka berjalan melewati pak direktur yang tersenyum kepadanya.


" Sepertinya kita sarapan di kantor saja Vanka, pukul sembilan ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan. Sebelumnya ada hal yang ingin saya bahas denganmu. "


" Baik pak! " Hanya itu yang bisa ia ucapkan saat ini. Sekretaris profesional tidak banyak membantah, cukup setuju apa yang dikatakan pimpinan.


Glek Joevanka menelan salivanya dan berkedip cepat, ia terdiam mematung di posisinya.


" Pak, saya rasa anda berlebihan, mana ada sekretaris menjadi supir pribadi anda. " Protes Joevanka dengan mengikuti langkah pak direktur.


" Jangan banyak membantah Vanka, ikuti saja perintah pimpinan. " kata Ivander terus melangkah dan tersenyum.


Joevanka hanya bisa pasrah, ia menegakkan badannya dan memijit pelipisnya. Tiba tiba kepalanya begitu sakit memikirkan pak direktur.


KANTOR DONISIUS


Ivander disambut beberapa tim ketika ia keluar dari mobil yang di ikuti dengan Joevanka. Mereka memasuki gedung Pencakar langit. Para manager personal, manager pemasar, dan manager pabrik sudah berjejer rapi untuk menyambut kedatangan Ivander, mereka menundukkan kepala menyambut direktur utama Donisius.


Langkah kaki menggema serentak mengikuti langkah Ivander, tidak cepat dan tidak lambat. Joevanka mengikuti langkah mereka dengan posisi tegap. Walau beberapa karyawan sempat terkejut melihat karyawan baru yang berjalan mengikuti langkah pak direktur.


Para karyawan yang sudah duduk di depan laptop, menyambut kedatangan direktur utama, mereka dengan cepat menundukkan kepala dengan memberi hormat.


Ivander memberikan senyum terbaiknya kepada para karyawan.


" Apakah semua yang saya minta sudah siap pak Halbret? " Tanya Ivander ketika mereka sudah berada di dalam lift.


" Sudah pak. "


" Selamat pagi pak asisten yang baik hati ! " Joevanka menyapa Halbret dengan suara terindahnya.


" Selamat pagi Joevanka.." Sahut Halbert dengan senyum terbaiknya.


Ivander mendengus kesal, dengan Halbert ia bisa seramah itu. Sementara dengannya, Joevanka selalu menciptakan permusuhan.


Sikap Ivander kembali berubah serius. Begitu propesional dan berwibawa.


Begitu masuk ruang CEO. Ivander langsung berjalan menuju kursi kekuasaannya. Joevanka dan Halbert berdiri tidak jauh dari direktur. Wajah Joevanka mengerut serius, ia mengedarkan pandangannya. Melihat ruangan pak direktur yang begitu mewah. Joevanka mulai berbicara sendiri.


" Kantor saja, sudah semewah ini? Bagaimana dengan rumahnya ya? "


" Ada dua meja? Meja siapa itu? " Joevanka berkata dalam hati, ia masih nampak bingung.

__ADS_1


Sementara Halbret berdiri tegap, siap menunggu instruksi dari direktur. Untuk membahas persiapan mengenai rapat yang akan di laksanakan pukul sembilan nanti.


" Apa rapat sudah dipersiapkan pak Halbert? "


" Semua sudah siap pak. " jawab Halbert cepat.


" Persiapkan yang akan kita bawa kesana, sekarang kau bisa keluar. "


" Baik pak, saya pamit undur diri. " Halbert membungkukkan badannya seraya memberi hormat. Ia berjalan menuju pintu keluar.


Setelah pintu tertutup, Joevanka berdiri tegap di depan pak direktur.


Ivander sesaat memeriksa pekerjaannya, ia menatap tablet digital ditangannya. Wajahnya nampak serius.


Joevanka mengerutkan keningnya. Ia masih bersabar. Dua puluh menit telah berlalu. Joevanka mulai meremas tangannya sendiri.


Lagi-lagi lelaki ini membuatnya kesal.


" Apakah pekerjaan sekretaris hanya berdiri melihatnya bekerja seperti itu? " Joevanka menahan geram tanpa bersuara.


" Kita tunggu lima menit lagi..." Joevanka menahan napasnya yang terlihat naik turun karena menahan emosinya.


" Oh my God, kenapa aku bisa bertemu dengan pria ini. " Jerit hati Joevanka, matanya menatap tajam, menampakkan amarah yang begitu besar.


SATU


DUA


TIGA


" Pak, apakah pekerjaan saya hanya berdiri di sini saja? " tanya Joevanka, kesabarannya sudah mulai hilang, ia meremas tangannya begitu kuat.


Ivander mengangkat wajahnya menatap Joevanka dengan serius. Ia mencondongkan tubuhnya dan berpangku siku di atas meja.


" Maafkan saya Vanka, saya membuat anda menunggu. "


Ivander bangun dari duduknya dan melangkah mendekat kepada Joevanka. Ivander bersandar, dengan posisi setengah duduk diatas meja. Ia menatap Joevanka yang mengerucut tidak suka.


" Baca ini...! " Ivander menyerahkan secarik kertas. Ivander menyilangkan tangannya dengan bersedekap. Ia mengamati wajah Joevanka yang serius membaca isi kertas itu. Tatapannya tidak lepas menatap joevanka.


Joevanka mengerut serius, begitu banyak poin yang tidak masuk di akalnya. Tapi poin ini yang benar benar tidak bisa diterima Joevanka.


Menemani pak direktur selama 24 jam dan tidak ada kata penolakan.


" Apa maksud isi kertas ini pak? "


" Apa kau tidak bisa baca Vanka...? "


" Aku tidak mengerti pak, apakah ini maksud dari pekerjaan sekretaris? " Nada suara Joevanka mulai naik.


" Apa ada yang salah? " Ivander menaikkan alisnya.


" Semua isinya salah pak, bagaimana isi dari pekerjaan sekretaris seperti ini? dan ini..." Joevanka menunjuk satu poin yang membuatnya kesal " Apa arti dari menemani anda 24 jam pak? "


" Tidak ada penolakan Vanka, lakukan pekerjaanmu dengan baik."


" Apa kata bapak, anda seenaknya seperti ini pak. Semenjak saya bertemu dengan anda saya merasa tertekan dan tidak bahagia. " keluh joevanka terang terangan.


" Saya tidak mau mengulangi perkataan saya Joevanka, Lakukan pekerjaanmu dengan baik. " Ivander kembali duduk di kursi kekuasaannya. " Silahkan duduk di sana?! " Ivander menunjuk meja yang ada sebelah kiri Ivander.


Mata Joevanka berkaca kaca, Ia mengepalkan tangannya begitu kuat. Ia melangkah gontai berjalan pelan menuju mejanya.


" Tunggulah IVANDER DONISIUS, kau akan terima pembalasan dariku. "


Ivander hanya bisa tersenyum dalam diam. Ia kembali sibuk menatap beberapa pekerjaannya di atas meja.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌

__ADS_1


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2