
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Udara sejuk khas pegunungan langsung menyapa saat Ivander dan Joevanka memasuki area pegunungan. Pepohonan rindang berjajar di sisi kiri dan kanan jalan membuat suasana menjadi teduh.
" Kita mau kemana sayang? " Tanya Joevanka mengernyit bingung. Ia melihat pemandangan yang meneduhkan matanya.
" Kita akan ke villa Donisius. "
" Benarkah ? " Ujar Joevanka tersenyum penuh antusias sambil membuka kaca mobil. Ia mengeluarkan tangannya, merasakan udara pegunungan kembali.
" Tempatnya benar benar indah, kau akan menyukainya My Bunny. Kebetulan dari tempat lokasi proyek tidak jauh, hanya membutuhkan waktu dua jam saja. Kau tidak lelah kan sayang ? " Ivander melirik Joevanka dan matanya kembali fokus ke jalan.
" Aku justru menyukainya sayang, sudah lama aku tidak bisa menikmati liburanku semenjak kau datang menculikku. " Kata Joevanka tersipu malu. Ia menjepit bibirnya ke dalam. Menahan senyum di bibirnya.
" Hahahaha. " Ivander tertawa renyah. " Aku memang menculik kelinci manisku. Agar tidak lari lagi. "
Joevanka tersenyum malu, ia kembali melihat pemandangan.
" Apa di sana ada sesuatu yang unik? " tanya Joevanka dengan senyum yang merekah, ia duduk menyamping agar berhadapan dengan Ivander.
" Sesuatu yang unik? seperti apa? " Tanya Ivander tersenyum menggoda.
" Mungkin ada Pantai atau perkebunan? "
" Sepertinya tidak ada sayang. Kenapa, apa kau menyukai pantai? " Tanya Ivander.
" Ya, aku menyukai pantai tapi lebih menyukai perkebunan. Dulu daddy memiliki perkebunan strawberry. Kamu tahu, di sana tidak hanya ada strawberry saja, ada banyak buah berry yang lain seperti raspberry dan gooseberry. Kita bisa langsung memetik dan menikmati buahnya di perkebunan. Di sana ada juga pembuatan kue yang menghasilkan olahan dari strawberry itu sendiri. "
" Ehmm, benarkah? kau bisa mengajakku kesana my Bunny. Kita bisa langsung memetik buah dan menikmati buah segar disana."
Raut wajah Joevanka berubah drastis. tiba tiba ia diam dan kembali memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
" Perkebunan strawberry nya, sudah tidak ada lagi sayang. " Kata Joevanka dengan suara terendahnya. Ia mencengkram tangannya sendiri untuk menguatkan dirinya.
" Kenapa?" Sahut Ivander, sambil menatap wajah Joevanka dengan menautkan kedua alisnya melihat perubahan dari Joevanka.
" Auntie menjualnya. "
β Maaf, my Bunny. β kata Ivander dengan penuh kehati-hatian.
Takut semakin melukiskan kesedihan dari Joevanka, Ivander mengambil tangan Joevanka dan mengecup punggung tangannya.
" Nanti kita pikirkan, bagaimana mengembalikan perkebunan itu kembali, Oke? " Kata Ivander memberikan senyum terbaiknya kepada kelinci manisnya.
Matanya yang tadi hanya membuat tatapan kosong, kini berusaha kuat menahan air yang tengah sesak memenuhi matanya. Tinggal menunggu satu momen lagi, mungkin air matanya itu akan berjatuhan. Namun Ivander kembali menguatkannya agar Joevanka tidak mengingat kesedihannya lagi dan ia mampu menghentikan air matanya agar tidak keluar.
Mereka kembali menikmati jalanan pegunungan yang sepi dengan pemandangan pepohonan hijau yang sejuk, membuat Joevanka menikmati dengan baik. Ia kembali menatap keluar jendela dengan pandangan sayu.
" Mom, dad, sekarang aku tidak bersedih lagi. Kini aku menemukan cintaku untuk tempatku berlindung didalamnya. Vanka akan berjanji tidak menangis lagi. Tidak akan bersedih lagi. Berbahagialah di sana dad, mommy. Jagai Vanka selalu, di manapun Vanka berada. " ucap Joevanka berbisik di dalam hatinya dan kembali melihat Ivander dengan tatapan teduh.
Mobilnya tetap melaju kesebuah pedesaan yang cocok bagi mereka untuk menghabiskan waktu sebelum mereka kembali. Suasana pegunungan dan udara yang sejuk bisa menenangkan hati dan pikiran termaksud Joevanka sendiri.
Mobil mewah milik Ivander memasuki halaman villa yang membawa mereka tiba dengan selamat. Joevanka keluar dari mobil dan mengedarkan pandangannya. Ia berdecak kagum melihat Vila dengan model desain yang bahannya memanfaatkan kayu. Di London juga Joevanka banyak menemukan rumah seperti ini.
Taterial kayu yang natural membuat tampilan rumah terkesan unik. Belum lagi, pilihan kayu tertentu dengan corak yang bervariasi bisa membuat tampilan rumah terasa berkarakter.
Kayu yang diukir sesuka hati sesuai dengan kreativitas bisa menjadi dekorasi yang menarik.
Rumah bergaya Kanada ini memiliki tampilan yang bukan saja unik namun elegan.
Salah satu keunikannya bisa dilihat dari log yang menjadi elemen utama pada rumah ini.
__ADS_1
Ukuran log yang besar serta perpaduan warna coklat tua dan muda membuat rumah ini tampak mirip seperti rumah lego. Pola warna kayu yang tidak seragam membuat kesan natural yang ditampilkan terasa lebih kental.
" Kamu menyukainya? " Ivander memeluk pinggang Joevanka dan mencium puncak kepalanya.
" Ehmm...Rumah ini mengingatkan aku pada kota kelahiranku sayang. "
" Kita bisa masuk. " Ivander memeluk pinggang Joevanka dari belakang.
Mereka disambut oleh pak Adam dengan penuh kehangatan. Lelaki yang berusia 63 tahun ini masih setia menjaga Villa keluarga dari Donisius. Istrinya meninggal 4 tahun yang lalu sementara ia sekarang tinggal bersama anak lelakinya.
" Selamat sore nak Ivander. " Sapa Adam membungkukkan badannya.
" Bapak tambah gagah saja, kalah dengan saya yang muda ini. " kata Ivander memeluk Lelaki itu, disusul dengan Joevanka mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
" Ah, nak Ivander bisa saja. " Kata Adam tersenyum hangat.
" Dimana Daniel pak? "
" Lagi keluar sebentar nak Ivander. "
" Oh begitu ya, perkenalkan pak, ini adalah calon istri saya. Bapak bisa memanggilnya Joevanka. "
Lagi lagi Joevanka terkejut dengan kejujuran Ivander, membuat ia hanya bisa menahan senyumnya.
" Selamat sore pak. " sapa Joevanka melemparkan senyum terbaiknya.
" Selamat sore juga nak Joevanka, anda sangat beruntung mendapatkan nona cantik ini nak Ivander. "
" Bapak menilainya bagaimana? " Tanya Ivander, matanya tidak lepas menatap joevanka.
" Selain cantik, nona ini memiliki hati yang lembut dan disukai banyak orang.."
" Penilaian bapak sempurna, nanti anda akan mendapatkan bonus dari saya. " Kata Ivander tersenyum bahagia.
Joevanka tertawa sambil menutup mulutnya.
Ivander mengernyitkan keningnya, menatap pak Adam seakan meminta jawaban langsung. Lelaki ini memang bisa melihat seseorang dari wajahnya.
" Dia terlalu banyak menyimpan kesedihan. "
Joevanka tertegun, tatapannya bertemu dengan Ivander yang memandangnya dengan tatapan sendu.
" Benar sekali pak Adam. Sebelumnya Joevanka memang menyimpan banyak kesedihan tapi sekarang tidak lagi. " Kata Ivander mengambil tangan Joevanka untuk memberi kekuatan kepada wanita yang berhasil mencuri hatinya.
" Jika ada beban berat, jangan disimpan nak Joevanka. Itu akan menyakitimu. Ceritakan semua nak, agar bebanmu berkurang. " Kata Adam tersenyum hangat, ia pamit undur diri dan membungkukkan badannya meninggalkan Ivander dan Joevanka.
" Sekarang tidak ada kesedihan lagi sayang. Tidak ada yang akan memisahkan kita. Kamu tahu itu kan? Aku akan membuatmu bahagia."
Joevanka mengangguk dengan pelan, ia tersenyum lembut menatap Ivander. Tubuh mungilnya didekap hangat oleh tubuh Ivander. Hatinya begitu tenang dan damai.
Ivander melepaskan pelukannya dan mengajak Joevanka menikmati alam yang indah dari balkon villa. Ia tahu jika Joevanka menyukai senja.
Mata Joevanka langsung disungguhkan dengan pemandangan panorama alam yang indah. Pancaran cahaya senja yang cahayanya berkilau orange keemasan meneduhkan hatinya.
Joevanka langsung melepaskan tangannya dari Ivander. ia berjalan keluar balkon dan bersandar pada pagarnya. Joevanka membuka kedua tangannya, membiarkan angin menerpa wajahnya. Udara ini benar benar berbeda.
Ivander mendekat dan memeluknya dari belakang. " Kamu menyukainya? " Tanya Ivander tersenyum lembut sambil mengeratkan pelukannya.
Joevanka hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia menyandarkan pelipisnya pada pipi Ivander.
" Tempat ini sungguh indah dan membuatku bahagia, apalagi itu bersamamu." Kata joevanka, merasakan pelukan Ivander yang menggetarkan hatinya. Ia memejamkan matanya menikmati momen kebersamaan ini.
Hati Ivander seketika berubah hangat, perjalanan cintanya dengan Joevanka dirasanya begitu unik. Memendam perasaan yang sama dan akhirnya dipertemukan kembali. Jadi ini akan selalu diperjuangkan Ivander untuk tetap menjaga cinta ini apapun yang terjadi dan membuat Joevanka selalu bahagia.
" Tetaplah bahagia seperti ini my Bunny. Berjanjilah kepadaku. "
Joevanka membalikkan badannya dan mengalungkan tangannya dileher Ivander.
Tatapan mereka kembali bertemu, Joevanka menaikkan alisnya setengah.
__ADS_1
" Berjanji apa? "
" Jangan pernah meninggalkanku, apapun yang terjadi sayang. "
Joevanka tertegun lalu ia tersenyum lembut. Ia mengambil telapak tangan Ivander dan menaruh ke pipinya. " Siapa yang akan meninggalkanmu? Aku lebih dulu mencintaimu tuan tampan dan hal mustahil yang kulakukan jika aku sampai berhenti mencintaimu. Jadi jangan pikirkan jika aku meninggalkanmu, berarti itu sama artinya melukai perasaanku."
" Benarkah sayang ? "
" Ehmm, tentu saja. Buktinya aku hilang ingatan saja. Tidak ada seorang lelaki aku biarkan memasuki ini.... " Joevanka memindahkan tangan Ivander dan meletakkan di dadanya. Ia tersenyum penuh arti sambil menaikkan alisnya setengah. " Di hati ini hanya ada IVANDER DONISIUS. "
" Aku juga seperti itu, aku bertahan dan tidak mencintai wanita manapun karena aku sangat mencintaimu. Sampai sekarang aku tidak membiarkan wanita manapun memasuki hatiku. Kamu faham itu sayang? " kata Ivander tidak mau kalah.
" Ya, aku mempercayaimu tuan tampan. " ucap Joevanka terkekeh.
Ivander kembali memeluk Joevanka. " Aku juga mempercayaimu kelinci manisku. "
" Terima kasih karena tetap menungguku."
Ivander semakin mengeratkan pelukannya, ia mencium puncak kepala Joevanka dengan sayang.
" Bagaimana kalau kita mandi,lalu makan. Aku yakin pak Adam sudah mempersiapkan makanan enak buat kita. "
Joevanka mengangguk pelan. " Kamu dulu atau aku? "
Ivander menyeringai tipis, Ia membisikkan begitu sensual ditelinga joevanka. " Bagaimana kalau mandi berdua? "
DEG DEG
Joevanka tersentak dan mencubit lengan Ivander dengan lembut. Kata kata itu berhasil membuat pipinya merona dan debaran jantungnya berdetak hebat.
" Hahahaha." Ivander tertawa sambil memeluk tubuh Joevanka. " Aku tidak akan melakukan itu, sebelum kita mengikat janji pernikahan. Aku bukan tipe lelaki brengsek sayang. "
Joevanka mengangguk sambil tersenyum. Ia mengeratkan pelukannya dan masih nyaman dengan posisi seperti ini.
Ivander melepaskan pelukannya dan menatap Joevanka dengan sayang. " Kamu mandi dulu, aku menunggumu dibawah." Ucapnya sambil mencium bibir Joevanka dengan lembut. Memberikan Lmatan singkat. Mata Joevanka terpejam dan kemudian membukanya lagi. Joevanka semakin menyukai ciuman yang memabukkan itu. Ia tersenyum sayu memandang Ivander melangkah meninggalkan balkon dan langsung menyusul pak Adam.
DISISI LAIN
Seorang wanita berjalan memasuki kediaman Donisius. Wanita itu mengedarkan pandangannya. Menatap rumah mewah yang didesain modern. Security membuka pagar otomatis dan mempersilahkannya masuk Ketika ia mengatakan tujuannya.
Rumah ala Eropa ini, tersaji dengan dinding-dinding terbuat dari kaca dan terlihat berkilau dengan lampu-lampu yang memantul dari luar. Terdapat beraneka ragam bunga Cemara sekaligus membentuk pagar pendek.
Wanita itu melangkah menyusuri taman kecil. Ia berhenti tepat di depan pintu teras rumah.
Sebelum menekan Bell, ia menarik napasnya dalam-dalam. Bersiap dengan apa yang dihadapi. Wanita itu mengumpulkan keberanian. Perlahan ia mengangkat tangannya, menekan Bell kediaman Donisius.
Pintu mulai terbuka pelan. Seketika Jantung wanita itu berdetak kencang ketika pintu terbuka sempurna.
" Anda mencari siapa? " Tanya Berneta menatap wanita itu dari atas sampai kebawah.
" Saya mau mencari Ivander Donisius. "
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU π
__ADS_1