
💌 Whisper of love 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Sekitar pukul enam pagi lebih sedikit, semburat fajar berwarna jingga memenuhi langit. Warnanya hampir sama dengan lembayung senja ketika matahari terbenam, munculnya fajar pagi menyambut kehidupan.
Warna orange keemasan sangat indah berpadu dengan langit yang masih gelap dan putihnya awan menjulang di angkasa.
Joevanka tersenyum hangat, ia masih merasakan hangatnya dekapan dari seorang lelaki yang dicintainya. Ia merasa sangat bersyukur masih bisa merasakan fajar pagi dan menyambut matahari terbit dan siap menjalani hari-hari yang panjang. Kini suasananya berbeda. Sekarang Joevanka bahagia bersama lelaki yang dicintainya.
Joevanka kembali memejamkan matanya, hembusan napas dari Ivander begitu terasa menyentuh pipinya. Senyuman mulai terulas di bibirnya. Ia benar-benar terhanyut menikmati aroma tubuh Ivander.
Ditambah suasana benar benar menaburkan energi romantis yang menyenangkan.
Sebuah dekapan hangat membuat mereka terlelap. Malam itu, Ivander terus membuatnya tersenyum. Ivander tidak mau berhenti menyanyikannya lagu untuknya. Joevanka kembali tersipu malu. " Cih..Mentang dia jago nyanyi, ia menghabiskan suaranya malam itu." Ditambah Pak Adam memasang api unggun, benar benar keseruan yang luar biasa bagi Ivander. Perapian yang menyala ditambah dengan sinar bulan menambah suasana menjadi tampak indah.
Mereka masih berbaring nyaman di sofa. Beruntung ukuran sofa nya lumayan besar, jadi bisa tidur nyaman dan tidak harus membuat badan mereka sakit. Posisi tidur mereka miring. Ivander mendekap Joevanka dari belakang. Saling memberi kehangatan sampai pagi menyingsing.
Joevanka tersenyum dan bergerak, berusaha lepas dari dekapan Ivander. Namun..baru juga ia bergerak, tangan Ivander kembali menariknya semakin dalam dan memeluknya lebih erat lagi.
" Mau kemana sayang? "
" Kita akan bersiap pulang. Halbret dari tadi malam menghubungimu. Mungkin ada masalah di kantor. " Ujar Joevanka menyentuh tangan Ivander dengan lembut.
" Ehhmm, sebentar lagi. Aku masih nyaman seperti ini. "
Joevanka membalikkan tubuhnya menatap Ivander dengan lekat. Ia menyentuh bagian pipi Ivander, seakan menikmati pemandangan yang tidak ingin di lewatkannya. Walau sedang tertidur ia kelihatan tampan sekali. Hihihihihi Joevanka tersenyum sendiri. Wajah yang terlihat tegas, hidungnya yang mancung dan bibirnya? reflek Joevanka menggigit bibirnya. Benar benar lelaki sempurna.
" Bagaimana kalau kita langsung menikah saja. kau bisa menikmati wajahku setiap pagi dan aku yakin kau akan lebih bersemangat menjalani hari-harimu sayang." ucap Ivander masih terpejam.
" Kita bersiap ya? " Bujuk Joevanka.
Namun di luar dugaannya. Mata Joevanka membulat kaget dengan gerakan tiba-tiba yang dilakukan Ivander mlumat lembut bibir Joevanka dan kembali mengeratkan pelukannya.
" Aku benar-benar nyaman sekali seperti ini Vanka, bisakah kita menikah secepatnya. Kita tidak perlu menunggu restu lagi. Aku yakin daddy dan mommy pasti setuju. Bagaimana? " Ujar Ivander membuka matanya dan menatap Joevanka dengan sayang.
Joevanka melepaskan pelukannya, ia mencubit hidung Ivander dengan lembut. " Ini masih terlalu pagi membicarakan pernikahan. Sekarang kita bersiap untuk pulang. " Joevanka mengalihkan pembicaraan. Ia mencium pipi Ivander dan bergegas bangkit untuk membersihkan tubuhnya.
" Ayolah, jangan malas. Aku tidak sabar ingin bertemu mereka. " Joevanka tersenyum sambil menepuk lengan Ivander.
Ivander hanya bisa melihat punggung Joevanka lalu menarik napasnya dalam-dalam. Apakah itu hanya perasaannya saja. Jika di tanya masalah pernikahan Joevanka selalu menghindarinya.
Ivander kembali menepis prasangka buruknya. Mungkin Itu hanya perasaannya saja.
Ivander mengencangkan otot-otot nya. Sembari menunggu joevanka, Ia berjalan menuju balkon untuk menghirup udara segar di pagi hari. Pandangannya jauh, suasana di tempat ini benar-benar menenangkan jiwanya. Ivander merentangkan kedua tangannya. menarik oksigen sebanyak-banyaknya dari mulut dan hidungnya. Mengumpulkan oksigen di paru-paru lalu menghembuskan napasnya sekaligus.
⭐⭐⭐⭐⭐
Mobil Ivander memasuki rumah halaman rumah. Joevanka mengedarkan pandangannya, rumah ini masih terlihat sama seperti ia tinggalkan terakhir kali. Kediaman Donisius gaya Eropa ini sangat besar. Pilar yang ada di luar rumah ini menjulang tinggi dari permukaan. Memiliki ukiran cantik di sekitar jendela dengan warna yang mengkilap seperti emas. Bagian fasad akan dihias menggunakan bunga-bunga atau tanaman hijau merambat. Ada juga yang menggunakan lampu dinding antik di dekat jendelanya dan beraneka ragam bunga cemara masih membentuk pagar pendek mengelilingi rumah ini.
Ivander tersenyum dan menggenggam tangan Joevanka dengan erat. Seketika Joevanka tersadar untuk menghentikan aksinya untuk melihat keunikan rumah ini.
" Sudah siap kelinci manisku ? " ucap Ivander mencium punggung tangan Joevanka.
Joevanka tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
" Sekarang kita keluar, kita temui mereka yang sudah berkumpul. " kata Ivander.
Joevanka menarik napasnya dalam-dalam, ia lalu keluar dari pintu mobil dan di sambut Arnold.
" Astaga, siapa ini? " Arnold kaget sampai terbelalak. " Apakah ini nona Joevanka? " Arnold memastikan penglihatannya.
Joevanka tersenyum lebar. " Apa kabar pak Arnold, wajah anda tambah berseri-seri pak, terlihat awet muda. "
" Astaga jadi benar ini anda? Hahahaha nona anda bisa saja memuji saya. Membuat hari hariku bertambah lebih baik lagi. "
" Apakah selama ini hari hari bapak tidak baik? " ledek Joevanka tersenyum simpul.
" Tentu saja baik, tapi berbeda hari ini. Perasaan ini bertambah bahagia, karena anda datang bersama lelaki yang hampir saja tidak pernah tersenyum semenjak anda pergi. "
__ADS_1
" Pak Arnold..." Ivander menatap tajam dan menekan perkataannya. Membuat Joevanka dan Arnold terkekeh.
" Siap Tuan Ivander! " Arnold langsung menghormat dan menahan senyumnya karena melihat wajah Ivander yang terlihat jengkel.
" Saya akan potong gajimu empat bulan, bersiaplah.." kata Ivander berjalan sambil memeluk pinggang Joevanka dan Ia melambaikan tangannya kepada Arnold.
Sementara Joevanka Mengerlingkan salah satu matanya kepada Arnold yang terus berbicara.
" Ahhhhh tidak masalah pak, yang penting anda bahagia. Itu sudah cukup bagi saya..." Kata Arnold dengan mata berkaca-kaca. Ia bahagia melihat Joevanka kembali.
Arnold sudah menganggap Ivander sebagai anaknya sendiri. Ivander dikenal baik dan ramah. Namun semenjak wanita yang dicintainya pergi, yang dilihatnya Ivander bukan seperti lelaki yang biasanya. Ahhhhh...Jangan di ingat lagi. Arnold menyeka air matanya yang sempat terjatuh di pipinya. Ia kembali berjalan menuju pos dan sesekali berbalik melihat punggung Ivander dan Joevanka.
Ivander dan Joevanka memasuki ruang tamu. Berneta terbelalak sambil mempercepat langkahnya melihat siapa yang datang. Joevanka tersenyum sambil mengangguk.
" Nona Joevanka? " Berneta menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dengan perasaan terharu, ia memeluk Joevanka dengan mengelus rambutnya.
" Nona kembali lagi, apa kabar? " Berneta melepaskan pelukannya.
" Baik ibu Berneta. "
" Nona Joevanka tambah cantik saja."
" Hahaha " Joevanka tersipu. " Ibu Berneta bisa saja. Apa kabar ibu? "
" Baik, sangat baik apalagi melihat anda kembali. "
" Kemana mereka Berneta? " Ivander mengedarkan pandangannya, Melihat keadaan rumah yang tampak sepi.
" Tuan Betran sudah kembali, seperti biasa Ivannia pasti menginap di sana tuan. "
" Daddy di mana? " tanya Ivander kembali.
" Ada di ruang kerjanya tuan, bersama nyonya. " Sahut Berneta.
" Ayo, kita menemui mereka ! " Ajak Ivander.
" Jangan, jangan sekarang. Aku ke dapur menyiapkan minuman dulu. Nanti saya masuk dan surprise... Bagaimana? "
" Ide yang bagus my Bunny. Oke sekarang aku ke sana menemui mereka.."
SEMENTARA DI DALAM RUANGAN KERJA.
" Bagaimana proyek di sana my son? "
" Semuanya berjalan sesuai yang direncanakan dad, tahun ini saya rasa bangunan itu akan selesai."
" Daddy yakin dan percaya dengan hasil kerjamu my son. Daddy bangga dan sekarang Majalah Business News Belanda di TIMES Belanda, sedang panas membicarakanmu."
" Kau benar-benar seperti daddy-mu sayang. Mommy juga bangga sekali." timpal Anastasia.
" Ini berkat kalian daddy. Aku juga bangga memiliki orang tua seperti kalian. Aku bisa seperti ini karena didikan kalian." ucap Ivander nampak gelisah dan terus melihat ke arah pintu. Joevanka belum juga datang.
Anastasia menatap suaminya. Aaron hanya mengangguk memberi Izin kepada istrinya untuk mengatakannya.
" My son..." Anastasia memegang lembut tangan Ivander.
Wajah Ivander mengerut serius menatap mommy dan daddynya bergantian karena melihat perubahan wajah orangtuanya.
" Ada apa mom? "
Sesaat Anastasia menarik napasnya dan tersenyum lembut kepada Ivander.
" Kemarin mommy Delia datang sayang. "
Mendengar nama itu, wajah Ivander berubah gelap dan tidak suka. Ia sampai menautkan kedua alisnya dan menatap mommynya.
" Delia sedang sakit sayang dan ingin bertemu denganmu. "
" Terus? "
" Delia sangat berharap kamu datang menemuinya."
" Hahahaha..." Ivander bangkit dan tertawa. " Mommy percaya? " Tawa Ivander tiba-tiba hilang. Wajahnya berubah dingin.
" Celin sendiri datang dan mengatakan Delia sedang sakit, kanker yang dideritanya sudah menyebar."
__ADS_1
" Mereka pasti meminta untuk menemuinya dan kembali kepada Delia agar cepat sembuh, begitu? "
" My son duduklah, mommymu sedang bicara, tidak baik bersikap seperti itu. " Aaron mulai meninggikan suaranya.
" Sampai kapan pun aku tidak akan mempercayai mereka daddy. Mereka sudah pernah melakukan itu untuk memanipulasi hasil kesehatan Delia dan mengatakan Delia mengidap kanker, hanya untuk membuatku kembali kepada Delia. "
" Mommy sudah melihatnya sayang. Malam itu mommy langsung pergi ke rumah sakit dan melihat Delia. Dia hanya ingin melihatmu untuk terakhir kali. Hanya itu saja sayang. "
" Mommy percaya? Aku sudah bilang mereka manusia jahat dan bisa melakukan apapun untuk membuat kalian percaya mommy."
" Sayang jangan seperti itu, mommy sendiri sedih melihatnya. Tidak ada memanipulasi seperti yang kau katakan. Delia memang sakit parah. Jadi mommy terlanjur berjanji akan membawamu menemui Delia. Lakukan ini untuk mommy sayang. Mommy dan daddy akan menemanimu menemui Delia."
" Maafkan aku mommy aku tidak akan mudah terperdaya oleh mereka. Jika mommy dan daddy ingin melihat Delia silahkan saja. Tapi jangan bawa aku bersama kalian."
" Delia hanya ingin bertemu denganmu saja sayang. "
" Tidak mom, aku tidak mau. "
" Sayang... Ivander..." panggil Anastasia.
Ivander tidak perduli, ia tetap keluar meninggalkan ruang kerja daddynya dengan perasaan campur aduk, ia marah dan sangat kesal. Sebenarnya rasa capek dan lelah menempuh perjalanan tadi belum hilang. Ditambah ia mendengar hal seperti ini, membuatnya benar-benar ingin melampiaskan kekesalannya. Mommy dan daddynya begitu mudah percaya dengan Delia. Ivander membuang napas frustasi. Ia sampai melupakan Joevanka.
LIMA BELAS MENIT BERLALU.
Joevanka berjalan dan menarik napasnya, menatap sedikit kebawah dan melangkah ke depan. Joevanka maju dan mengulurkan ke dua tangannya, memasukkan ke sela-sela tangan Ivander dan memeluknya dari belakang. Dengan lembut ia merebahkan kepalanya di bahu Ivander. Joevanka mengunci tangannya di pinggang Ivander.
" Kamu tidak marah kan, aku masuk ke dalam kamarmu? "
" Tentu saja sayang..."
Ivander sedikit terkejut, sepersekian detik Hati Ivander seketika berubah hangat. Ia tersenyum memalingkan wajahnya ke samping. Ivander melihat Joevanka memejamkan matanya. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
" Ivannia pernah cerita, kau tidak suka jika seseorang masuk ke dalam kamarmu."
" Kecuali kau sayang."
Sesaat mereka terdiam masih nyaman dengan posisinya.
" Pergilah sayang, mungkin Delia benar-benar ingin bertemu denganmu." Kata joevanka dengan suara terendahnya.
" Apa kau mendengarnya? "
" Ehmm..." Gumam Joevanka sambil menganggukkan kepalanya, lalu mengeratkan kembali pelukannya. Ia ingin mencari posisi nyaman dan mendekap pria itu dengan sayang.
" Tapi aku tidak mempercayainya. " Ivander melepaskan pelukannya dan menghadap Joevanka. Ia memeluk pinggang Joevanka.
" Aunty sudah melihatnya sayang, aku berharap kamu bisa membuka hatimu untuk melihat Delia."
" Aku akan memikirkannya. "
" Aku mempercayaimu tuan tampanku. " Ucap Joevanka kembali memasukkan tangannya ke pinggang Ivander dan memeluk pria kesayangannya itu.
" Karena aku pernah merasakan, bagaimana sakitnya ketika kita merindukan seseorang tapi tidak bisa kita lihat apalagi memeluknya. Delia juga seperti itu, dia hanya ingin melihatmu, anggap saja pria tampanku membantu untuk ke sembuhannya. " kata Joevanka dengan lembut.
" Apa kau merindukan mereka sayang? "
" Sangat, tapi aku tidak bisa memeluk mereka. Aku hanya bisa mengirim doa buat mereka. " ucap Joevanka berhasil menjatuhkan air matanya. Ia memenjamkan matanya dan kembali terbuai dengan dekapan hangat dari pria kesayangannya.
Ivander mengeratkan pelukannya. Ia tersenyum dan mencium puncak kepala Joevanka dengan lembut.
BERSAMBUNG
❣️ Maaf atas keterlambatan ini ☹️ keluarga jauh ada yang meninggal. Jika cerita ini kurang dapat, harap maklum ya 😢 karena sempat gak konsentrasi.
❣️ Salam sehat buat kita semua, tetap jaga Kesehatan ya 🙏
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU 💌
__ADS_1