
💌 Whisper of love 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Ivander berhasil memarkirkan mobil dengan baik setelah tiba di apartemen milik Joevanka. Ia membuka pintu mobil dan memencet tombol kunci.
TIT !
Ivander mengarahkan kunci remote ke arah mobil dan berlari memasuki lobby apartemen. Ia menaikkan lengan jasnya untuk melihat jam. Pukul tujuh lewat sedikit. Hanya tiga jam jarak yang ditempuh Ivander karena kecepatannya membawa mobil melebihi pembalap.
TING!
Pintu lift terbuka, Ivander melangkah keluar dan berjalan menuju apartemen Joevanka. Ia menekan tombol angka di sana.
TININIT!
Bunyi dari pintu berbunyi ketika Ivander membuka dengan mengetikkan password yang berupa angka untuk membuka pintu kunci digital apartemen Joevanka. Sebelum masuk, Ivander pun menarik napasnya dalam-dalam. Lalu menghembuskannya sekaligus. Ritual yang biasa dilakukan jika sedang nervous. Entah mengapa perasaan Ivander saat ini seperti baru mengenal Joevanka. Hatinya benar-benar tidak tenang. Perasaannya seperti baru jatuh cinta. Detak jantungnya terus berdebar.
Lalu ia membuka kenop pintu dengan sangat pelan agar Joevanka tidak menyadari kedatangannya. Perlahan Ivander memasuki ruangan itu. Remang-remang tidak terlalu terang, mungkin Joevanka sengaja tidak menyalakan lampu utama.
Apartemen Joevanka menggunakan lampu otomatis pada ruangan depannya. Lampu akan menyala saat ada orang disekitarnya dan mati begitu orang tersebut pergi. Ivander melepas napas panjang dan melangkah masuk ke dalam pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka oleh joevanka. Ia melihat sedang tertidur dengan posisi miring dan memeluk bantal guling. Benar saja Joevanka sepertinya habis menangis. Ia tertidur seperti bayi. Wajahnya terlihat polos. Napasnya teratur dan berhembus lembut tanpa dengkuran.
Napas Ivander berhembus pelan, ia berjalan untuk menyalakan lampu meja yang ada di atas nakas, membiarkan kamar itu remang-remang. Dengan cahaya lampu yang ada di atas nakas, Ivander dapat melihat wajah Joevanka. Matanya yang sembab membuat Ivander merasa bersalah. Ivander melepaskan jasnya dan mulai menaikkan kedua kakinya ke kasur. Ivander merebahkan tubuhnya dengan posisi ikut miring agar berhadapan dengan Joevanka. Ivander tersenyum menatap Joevanka yang belum menyadari kehadirannya. Tidur lelapnya membawanya ke alam mimpi. Ia terus mengedip menatap wajah Joevanka. Sungguh terlihat lucu.
Napasnya naik turun, dadanya kembang kempis. Ivander kembali menelan salivanya. Ia menaikkan sebelah tangannya membelai rambut Joevanka dengan lembut. Turun perlahan ke hidung menyapu panjang hidung Joevanka yang mancung. lalu menyentuh bibir Joevanka dengan jari jempolnya. Gerakan halus Jari-jarinya Ivander bergeser sedikit menyapu atas dan bawah yang sangat menggoda itu. Jari-jarinya masih berada di pipi Joevanka, mengakses setiap lekukan wajah indah wanita pujaannya itu. Wanita yang sempurna, pemberian Tuhan yang diciptakan untuknya. Ivander tersenyum samar. Ia kembali menyentuh bibir dan kali ini tubuh Joevanka merespon.
Joevanka menggeliat, ia seperti bermimpi merasakan sentuhan Ivander. Namun rasa kantuknya masih menguasainya. Ia masih terpejam seakan menikmati mimpinya itu. Joevanka bahkan semakin memeluk bantal guling serasa itu adalah Ivander. Belum ingin terbangun.
Ivander tersenyum dan matanya berubah sayu. Ia mendengar napas Joevanka kembali berhembus teratur. Terus menikmati wajah itu kembali. Tatapan menginginkan dan ingin segera memiliki. Dengan persiapan napas, Ivander memajukan wajahnya. Pelan-pelan namun pasti. Ivander mengecup kening Joevanka cukup lama. Lalu menarik tubuh menjauh dari Joevanka.
"Tidurlah sayang hari ini aku akan membuatkan makanan sehat untukmu." Bisik Ivander. Lalu ia turun dari kasur dan melangkah meninggalkan kamar Joevanka.
⭐⭐⭐⭐⭐
Setelah mendapat bahan-bahan makanan dari supermarket terdekat. Ivander membuka YouTube untuk melihat cara memasak makanan yang sehat untuk pujaan hatinya. Hari ini ia rela bergelut di dapur. Biasanya ia hanya terbiasa di depan laptop dan tablet digitalnya. Kali ini demi Joevanka apapun ia lakukan untuk kesehatan kekasihnya itu.
Menu hari ini Steak Salmon Saus Lemon.
Ivander mengambil salmon, Ia mencampurkan bahan-bahan seperti garam, jeruk lemon, mentega tawar dan merica hitam sebelum di panggang. Ivander mengaduk rata agar ikan salmon dapat meresap dengan baik. Sambil menunggu ikan meresap, Ivander akan membuat saus untuk salmon. Bumbu untuk membuat saus Ivander sudah menyiapkan bahan-bahan seperti jeruk sunkist, tepung, bawang bombay dan kecap Inggris yang didapatnya dari supermarket.
Ivander terus memperhatikan YouTube agar mendapat hasil yang baik dan tidak mengecewakan "Huft ternyata susah juga ya, Ini tidak semudah yang ku bayangkan. Aku lebih baik bernegosiasi dalam memenangkan proyek." Ivander terus bermain dengan spatula.
"Jika mommy melihat ini. Mommy akan memasukkan ini menjadi sejarah terbaik dalam keluarga Donisius." Ivander terkekeh sendiri.
"Waktunya memanggang ikan salmon." Kata Ivander dengan semangat ketika ia sudah selesai membuat saus.
Ivander sengaja memilih Ikan salmon karena diketahui memiliki manfaat yang bagus untuk kesehatan dan terutama untuk otak. Ivander menyukai ikan ini karena memiliki tekstur daging yang lembut dengan rasa yang gurih.
__ADS_1
Ivander tidak perlu lama-lama memasak ikan salmon, jika di masak lama itu akan mengurangi manfaatnya.
SEMENTARA DI DALAM KAMAR.
Dalam tidur yang menyentuh lelap, Joevanka seperti bermimpi, ia berharap ini bukanlah mimpi. Ia seperti merasakan pipinya dibelai lembut. Aaahhhh... mimpi itu benar-benar seperti nyata. Pikirannya sudah terbangun dari tidur lelapnya tapi tidak dengan tubuhnya. Ia masih malas membuka matanya. Ia menelusuri sprei lembut dan mencari-cari ponselnya. Matanya perlahan-lahan melihat jam yang ada di ponselnya.
"Pukul delapan? Aaah... "Joevanka masih bermalas-malasan. Ia kembali memeluk bantal guling.
Namun tiba-tiba ia mengerjap dan terduduk. Joevanka mendengar sesuatu dari arah dapurnya. Matanya terbelalak sempurna.
"Astaga, ada pencuri...." Joevanka menutup mulutnya. Seakan menyadari ia sekarang dalam bahaya.
Jantung semakin terpompa lebih kencang, setelah mendengar suara itu nyata dari arah dapurnya. Napasnya berhembus tidak karuan. Kini yang ia lakukan adalah mengumpulkan keberanian dan mencari sesuatu untuk melindungi dirinya. Dengan napas yang tertahan, ia dengan hati-hati turun dari kasur. Dengan langkah gugup ia mengambil Tongkat Baseball yang biasa ia simpan di balik lemari. Suatu waktu memang sangat diperlukan jika ada seseorang masuk ke rumahnya. Jadi Joevanka membelinya. Huft...joevanka mendesah panjang dan ternyata tidak sia-sia ia menyimpan ini.
"Aku saat ini sangat membutuhkanmu." Kata Joevanka menatap baseball dengan terharu. Ia harus menghabisi pencuri. Mata Joevanka menyala tanda ia marah.
Ia mulai bereaksi, mengendap-endap keluar dari kamarnya. Saat ini ia seperti detektif FBI. Joevanka terus menghembuskan napasnya agar tetap tenang. Walau saat ini rasanya ia ingin pingsan. Dalam hati ia menggerutuk, menyayangkan sikap pencuri.
"Apa coba mau di ambil di dalam apartemen ini. Astaga...pencuri bodoh!" Joevanka terus mengumpat. Ia mengatur napas yang terlihat naik turun.
Joevanka terus mengendap-endap dan bersembunyi di balik dinding, takut si pencuri melihatnya. Dengan gerakannya yang lambat ia sesekali mengintip. Joevanka Ingin mengetahui apa yang di lakukan si pencuri di dapurnya. Namun tiba-tiba hidungnya tercium oleh masakan yang benar-benar menggugah seleranya. Langkahnya mulai pelan dan Joevanka tiba-tiba berhenti.
Bubk..!
Joevanka menjatuhkan Tongkat Baseball dan mengagetkan Ivander yang sedang melakukan “Food Plating” untuk penataan makanan di atas piring yang hampir selesai ia lakukan.
Napas Joevanka keluar dengan terbata, tanpa di undang air matanya menetes ke pipinya bahkan tanpa mengedip. Ia hanya terdiam dengan mulut yang terbuka. Sosok lelaki yang dua hari ini begitu ia rindukan. Sosok lelaki yang marah dan tidak ingin bertemu dengannya.
Bibir Joevanka bergetar, tadi pagi ia tidak mengenal sosok itu dan kini senyum itu kembali lagi. Ia terus menangis, mengerut dengan suara lirih."Ss-sayang...?" Joevanka masih belum percaya. Ivander kembali datang dan kini wajah itu tidak dingin lagi. Mata coklat dari Ivander kembali berbinar lagi.
"Kamu kembali sayang? " Kata Joevanka dengan suara parau. " Maafkan aku, aku salah, tapi aku mohon jangan pergi lagi. Ehmmmm..." kata Joevanka dengan air mata yang terus tergelincir di pipinya.
Ivander melangkah karena tidak tahan melihat Joevanka menangis lagi. Ia menarik tubuh Joevanka masuk ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepala Joevanka dengan sayang.
"Ssstttt...jangan menangis lagi, itu akan melukai perasaanku sayang. Aku seperti lelaki brengsek, yang selalu membuatmu menangis."
Namun bukannya berhenti, Joevanka semakin menangis di dada Ivander. Mulutnya terbuka dengan wajah mengerut.
"Jangan tinggalkan aku Ivander, aku tidak sanggup jika itu terjadi." erang Joevanka dalam sesenggukan.
"Hei..siapa yang meninggalkanmu? Aku juga minta maaf karena membuatmu bersedih. jadi jangan menangis lagi, ehmm..." pinta Ivander melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Joevanka dengan sayang.
Ivander menatap wajah yang memerah dan basah oleh air mata itu. Ia mengusapnya dengan lembut sambil terus memandang Joevanka. Ia memegang dagu Joevanka dan memajukan wajahnya dengan perlahan. Mengecup bibir Joevanka dengan pelan, singkat dan berulang-ulang. Mata Joevanka terpejam dan membukanya dengan pelan. Matanya sayu seakan meminta lebih dari kecupan.
Namun Ivander tidak ingin terburu-buru, ia memang sengaja melakukannya agar menciptakan debaran yang bisa membakar jiwa mereka. Ivander menyelipkan anak rambut Joevanka ke telinganya. Pandangan mereka kembali bertemu.
CUP.. CUP..CUP...
Ivander kembali mengulang ciumannya. Wajah joevanka sampai terundur ke belakang. Joevanka hanya memandang sayu.
Joevanka benar-benar terlena dan membuat gemuruh di dadanya semakin menjadi. Sesaat Ivander membiarkan Joevanka membuang napasnya dan Joevanka meletakkan tangannya di dada Ivander.
Ivander kembali memajukan wajahnya dan mencium bibir Joevanka. Ia menekan bibir Joevanka dengan menggunakan bibirnya yang sedikit terbuka. Joevanka membalasnya dengan tarikan dan Lmatan, saling bertukar saliva. Ciuman itu semakin dalam dan semakin menuntut. Keduanya merinding dan berdebar.
__ADS_1
Ivander semakin mencengkram tubuh Joevanka, mata mereka saling terpejam seakan menikmati gelora asmara. Terus ingin mengecap dan tidak ingin lepas dari tautan bibirnya. Ivander terus menjalarkan tangannya dipunggung Joevanka. Ciuman mereka terlepas. Mereka sama-sama mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Napas keduanya semakin memburu dan tidak beraturan.
"Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu." Kata Ivander menarik tubuh Joevanka masuk ke dalam pelukannya. Joevanka tidak menjawab. Ia membalas pelukan Ivander dengan erat. Mereka terus menikmati kenyamanan ini.
" Sekarang kita makan dulu, mumpung masih hangat." Kata Ivander melepaskan pelukannya dan menatap Joevanka dengan sayang.
"Habis itu,kau punya utang cerita denganku sayang." kata Ivander mengerlingkan salah satu matanya.
"Utang cerita?" Wajah joevanka mengerut.
"Ehm, ceritakan semuanya tentang dirimu. Semuanya...!" Ucap Ivander tersenyum lalu menarik tangan Joevanka menuju meja makan.
Joevanka meloncat bahagia dan melihat makanan tersaji Indah di atas meja. "Serius, kau yang masak ini sayang?" Kata Joevanka begitu antusias.
"Iya, apa kau meragukan keahlianku?" Kata Ivander dengan wajah mengerucut.
Joevanka terkekeh dan mencubit pipi Ivander dengan lembut. "Tentu saja aku mempercayaimu, karena aku mencium aroma masakan ini benar-benar dari dapur ku, bukan dari dapur restoran." ujar Joevanka mengecup singkat bibir pria kesayangannya itu.
"Kalau begitu kita makan ya.." Ivander menggeser kursi untuk Joevanka. "Salmon sangat baik untuk otak sayang."
Joevanka terdiam dan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka kembali bertemu. Ivander Hanya tersenyum teduh.
"Apa kau mengetahui sesuatu sayang..?" kata Joevanka sedikit ragu.
"Waktunya kita makan, aku ingin kau menikmati makanan ini dengan baik. Habis makan, ceritakan semuanya. Aku akan mendengar semuanya. Mari kita saling terbuka."
Joevanka mengangguk dan tersenyum lembut kepada Ivander. "Baiklah sayang, sekarang mari kita habiskan makanan ini dulu" Kata Joevanka kembali.
Ivander meraih tangan Joevanka dan menciumnya dengan lembut. "Aku rasa bulan depan kita sudah bisa mempersiapkan pernikahan kita. Aku tidak ingin menunggu lagi dan memang tidak ada yang mau ditunggu lagi. Kita saling mencintai dan lebih cepat lebih baik." Ucap Ivander menatap Joevanka dengan lekat.
Joevanka tersipu malu, pandangan mereka kembali bertemu. Saling menikmati debaran-debaran yang tercipta dari detak jantung mereka. Seketika Joevanka seperti merasakan kupu-kupu berterbangan indah keluar dari dalam perutnya. Ia bahagia dan sangat bahagia saat ini.
.
.
BERSAMBUNG
❣️ My readers tunggu undangan dari mereka ya 🤣 🤣
❣️Salam sehat buat kalian semua. Tetap jaga kesehatan ya 😘
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU 💌
__ADS_1