WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Kesedihan Joevanka


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Dengan langkah gontai Joevanka memasuki tempat pemakaman umum dimana orang tuanya beristirahat untuk selamanya. Sementara Aaron dan Anastasia mengikuti joevanka dari belakang. Joevanka berjalan menyusuri jalanan sambil menyeka air matanya, hujan salju yang berjatuhan ke tubuhnya tak dirasakannya lagi. Dingin mencekam seakan gambaran dari hati Joevanka. Saat ini Joevanka seperti tidak berpijak pada bumi.


Rasa sakit akan kehilangan orang yang disayangi membuat Joevanka tidak kuat untuk melangkah.


Semakin ia melangkah mendekati makam orang tuanya, hatinya semakin pilu. Sungguh Joevanka tak bisa berkata apa apa , rasa sesak didalam dadanya membuat hatinya disayat dan terbelah menjadi beberapa bagian. Sungguh menyakitkan. Ia seperti berada ditepi jurang, tidak sanggup untuk melanjutkan hidup. kehidupan yang sangat menyedihkan. Benar? setelah melihat makam orangtuanya, ia baru menyadari kebahagiannya direnggut paksa. Joevanka merasakan dunianya hancur dan tidak berarti. Ia mengeluh kenapa semua ini terjadi pada dirinya. Jeritan tangisan terdengar begitu memilukan.


Joevanka bersimpuh di makam orangtuanya, Di sana ia kembali menangis lagi, meraung raung memanggil Daddy dan Mommynya. Tatapannya kosong, bahunya bergetar tidak mampu berkata apa apa.


Anastasia mewakili joevanka meletakkan bunga ke makam kedua sahabatnya.



Mata Anastasia sudah berkaca kaca, air bening yang sudah mengumpul menetes di pipinya. Sementara Aaron satu meter berdiri dibelakang mereka, setelah ia memberi penghormatan dan melakukan doa. Aaron mundur Ia membiarkan istrinya dan Joevanka menangis, ia hanya bisa berdiri dan menatap dua wanita itu.


Anastasia mengirimkan doa, berdoa agar Lionel dan Isabel yang sudah meninggal tidak berada diantara mereka yang ada di api penyucian melainkan menuju surga. Ia tahu jika kedua sahabatnya tersenyum melihat mereka yang datang mengunjungi makam mereka. Anastasia akan menepati janjinya, membawa Joevanka ikut bersama mereka.


Anastasia memegang pundak Joevanka yang terus menangis.


" Katakan sesuatu buat daddy dan mommymu, sayang! Mereka pasti bahagia melihatmu sudah sembuh dan kau datang mengunjungi mereka. " kata Anastasia tersenyum memandang joevanka. Joevanka memejamkan matanya, Ia menarik napas dalam dalam, untuk memenuhi paru parunya perasaan ini begitu menyakitkan. Hatinya saat ini seperti tengah dicengkram oleh sebuah tangan yang besar.

__ADS_1


" Katakanlah, mereka pasti merindukanmu sayang." kata Anastasia dengan dengan nada lembut, ia mengusap punggung Joevanka.


Sesaat joevanka menahan tangisannya sampai membuatnya sesenggukan. Dengan tatapan nanar, Joevanka berbicara.


" Dad, mom ! Apa kabar? " Mata Joevanka kembali mengkristal penuh dengan air bening yang sudah jatuh ke pipinya. Ia kembali sesenggukan. Joevanka mencengkeram baju yang ia pakai.


" Vanka akan ikut Aunty dan akan meninggalkan kalian buat sementara. Nanti kalau Vanka berhasil, aku akan kembali menemui kalian dad, mom ! Jaga Vanka selalu ya. Aku akan merindukan kalian..." Joevanka tidak sanggup melanjutkan kata katanya.Ia kembali menangis bahkan raungannya terdengar menyayat hati, Tangisannya tidak bisa di bendung lagi. Hidupnya begitu hampa tanpa orangtuanya. Tidak ada lagi daddy selalu berteriak membangunkannya lagi, walau terkadang Joevanka memang sengaja melakukannya.


Sementara Mommynya, Ahhhh...ia tidak lagi menikmati masakan Mommynya. Semenjak Joevanka lahir, mommy tidak lagi bekerja. Mommy memberikan waktunya merawat Joevanka.


Pada saat akan bangkit berdiri tiba tiba tubuhnya lingluh dan limbung , ia merasa kepalanya tambah pusing dan melayang. Pandangannya kabur dan joevanka tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya dan sepersekian detik Joevanka sudah terjatuh. Tubuhnya lemas dan tidak sadarkan diri. Anastasia kaget, begitu juga dengan Aaron. Ia langsung berlari membantu.


" Sayang! Joevanka pingsan, bagaimana ini? " keluh Anastasia cemas.


" Jangan cemas sayang, sekarang Joevanka kita bawa kerumah sakit terdekat. " kata Aaron langsung mengangkat tubuh Joevanka dan mereka langsung menuju mobil. Anastasia benar benar khawatir.


Anastasia juga pernah merasakan hal yang sama. Seperti tidak ada harapan hidup. Apalagi semua keluarga menjauh. Namun seiring perjalanan waktu, Joevanka pasti bisa melaluinya semua ini walau dalam hidup kita pasti akan mengalami cobaan lain dan itu akan membuatnya semakin kuat.


⭐⭐⭐⭐⭐


Melisa adik dari Lionel menghantar Joevanka didepan pintu kedatangan. Mereka saling memeluk, Melisa membelai rambut Joevanka dengan sayang dan kembali mengusap punggungnya dan memeluknya dengan erat. Melisa berharap Joevanka bisa melupakan kesedihan atas kepergian Orangtuanya walau itu memerlukan waktu.


" Auntie! Aku pergi...! " ucap Joevanka melepaskan pelukannya dan memandang Auntienya dengan pandangan nanar. Air matanya yang terkumpul di kelopak matanya sudah tergelincir membasahi pipinya. Melisa menghapus air mata joevanka, walau saat ini Melisa juga ingin menangis karena melepas kepergian Joevanka. Jarak yang terbentang jauh, membuat mereka tidak bisa bertemu.


"Jaga kesehatan ya sayang, tetap semangat ! ingat, sekarang daddy dan mommymu sudah bahagia. Sekarang lanjutkan sekolahmu dengan baik, buat daddy dan mommymu bangga ya sayang. " kata Melisa menahan isak tangisnya.


Joevanka hanya menganggukkan kepalanya, tapi air matanya tidak bisa berbohong. Kesedihan hatinya begitu jelas dan nyata. Tak banyak mereka bicarakan hanya ada rasa sedih yang begitu menggerogoti jiwanya.


Bunyi pembuka terdengar bergema di bandar udara Heathrow London. Anastasia melangkah mendekati Melisa,

__ADS_1


" Kami pergi Melisa ! " Kata Anastasia memeluk Melisa.


" Joevanka aku serahkan padamu, jaga dia baik baik Tasia. " ucap Melisa tersenyum penuh keharuan.


" Pasti Melisa! " Jawab Anastasia dengan anggukan. Aaron juga mengulurkan tangannya untuk menjabat Melisa untuk terakhir kali.


Melisa kembali memeluk Joevanka. Berpisah dengan Joevanka tentunya teramat menyedihkan bagi Melisa, tapi ia berusaha menutupi rasa sedihnya, agar Joevanka tidak berat meninggalkan London. Ia tetap memberikan senyum terbaiknya kepada Joevanka dan mengatakan semua akan baik saja. Sehingga segala kesedihan yang ada biarlah hanya Melisa yang merasakan.


Kembali Bunyi pembuka terdengar bergema di bandar udara Heathrow London. Mereka berjalan menuju pintu gerbang keberangkatan. Aaron sudah mendorong koper. Langkah Joevanka pelan begitu sampai didepan pintu gerbang. Ia membalikan tubuhnya dan melihat Auntienya melambaikan tangan, air matanya kembali terjatuh begitu saja. Ia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekelilingnya. Rasa sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia sembunyikan, tempat ini akan ia rindukan. Tempat dimana ia dilahirkan. Kenangan bersama kedua orang tuanya. Joevanka menutup mulutnya ketika sudah Memberikan tiketnya pada petugas pemeriksa melakukan check in dan menunggu di gerbang keberangkatan. Joevanka melangkah dengan segala kesedihan. Ia selalu melihat kebelakang auntie masih berdiri sampai ia benar benar tidak terlihat lagi.


Anastasia dapat merasakannya kesedihan Joevanka, ia mengusap punggung Joevanka dengan lembut. Joevanka hanya bisa tersenyum singkat dan mereka kembali berjalan.


Sepanjang mengudara Joevanka hanya bisa diam dalam tangisannya. Ia sengaja memilih tempat duduk didekat jendela pesawat. Tatapannya kosong, ia memiringkan kepalanya dan menatap keluar jendela. Air matanya mengalir begitu saja. Ia selalu bicara dalam hatinya, banyak yang ia sesali. Kepergian kedua orangtuanya semua karena kesalahannya.


" Apakah aku bisa hidup tanpa kalian? Sepertinya aku tidak sanggup dad, mom..!" Kata Joevanka berbisik dalam hatinya. Ia memejamkan matanya.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ

__ADS_1


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU


__ADS_2