WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Cukup mempercayai cintaku.


__ADS_3

๐Ÿ’Œ Whisper of love ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


TIBA DI APARTEMEN MEWAH MILIK IVANDER.


Ivander membenarkan jasnya dan langsung keluar dari mobil membuka pintu untuk Joevanka. Ivander menunggu, namun Joevanka belum juga keluar.


" Sayang, kau tidak mau keluar? " Ivander sedikit menunduk dan matanya tidak lepas menatap joevanka.


Joevanka mencengkeram tangannya sendiri dan menghembuskan napasnya lewat mulut. Ia tahu kalau Ivander cemburu mendengar perkataan Alex tadi. Matanya benar-benar tidak bisa berbohong. Joevanka merasa gugup. Rasa cemburu Ivander saat ini begitu besar. Joevanka menggigit bibirnya dan keluar dari mobil. Tanpa menunggu lama Ivander menutup pintu mobil dan meraih tangan Joevanka.


TIT !


Mobil terkunci otomatis ketika Ivander menekan tombol remote.


Ivander memasukkan jari-jarinya ke sela jari-jari Joevanka. Dengan cukup bertenaga Ivander menarik tangan Joevanka dan berjalan cepat memasuki lobby Apartemen sampai Joevanka kesulitan mengikuti langkahnya. Ia hanya melihat ke arah tangannya yang kembali merah, akibat pegangan tangan Ivander yang kuat dipergelangan tangannya.


Mereka hanya diam ketika memasuki lift. Ivander tetap dengan ekspresi tidak terbaca, menatap lurus dan tetap bergeming.


" Ss-sayang..." Joevanka membuka suara.


" Aku tidak ingin bicara. " Kata Ivander dingin.


Mendengar itu, jantungnya seperti terhenti. Napas Joevanka seakan terpompa kencang ketika melihat perubahan Ivander yang begitu drastis. Joevanka membuang napas panjang, tertunduk lesu.


TING!!


Pintu lift terbuka. Ivander tetap mengunci tangan Joevanka hingga mereka memasuki apartemen milik Ivander.


BRUKKKKKK


Pintu tertutup sedikit kasar dan bersamaan itu, ia melepaskan tangannya dari Joevanka.


Ivander masih berusaha mengendalikan rasa kesalnya. Membuka jas yang ia gunakan dan melemparnya dengan asal.


Ivander memasukkan tangan ke kantong lalu mendesah kesal. Ia masih berdiri di tengah ruangan.


Suasana seperti ini membuat Joevanka semakin tidak nyaman. Ia hanya berdiri tepat di belakang Ivander.


" Apa yang membuatmu marah tuan tampan? " Joevanka mulai berbicara dan berusaha mencairkan suasana, karena sedari tadi Ivander hanya diam.


Mendengar itu, Ivander membuang napasnya dengan kasar. Ia berbalik dan matanya tetap mengunci Joevanka. Tak tertebak oleh joevanka.


" Aku tidak suka kau bersikap seperti itu pada pria lain! " tegas Ivander menekan perkataannya.


" Heuh? " Joevanka tersentak, sejujurnya ia hanya berbicara biasa saja dan tidak bersikap berlebihan yang membuat Ivander cemburu. Yang membuat Ivander marah hanya perkataan Alex saja. Jadi sekarang apa yang di takuti Ivander. Bukankah dia tahu, kalau Joevanka hanya mencintainya saja. Seharusnya Ivander mempercayai itu.


" Apa kurang jelas Vanka, Alex mengancamku untuk mengambil mu dariku. Berarti Alex berusaha untuk mencuri hatimu."


Joevanka tersenyum dan berusaha bersikap tenang. Ia menatap Ivander dengan perjuangan batin yang cukup berat. " Maaf, tapi apa yang kau ragukan, apa kau kurang yakin dengan perasaanku? Biarkan Alex mengatakan apa saja, asal hatiku tidak berubah. Bukankah begitu? "

__ADS_1


" Tapi aku tidak suka kau tersenyum dengan pria lain Vanka. "


" Oke, maafkan aku. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi jika itu membuatmu terluka, tersenyum atau apa pun itu. "


Ivander melangkah maju, memegang pinggang Joevanka dan mendorongnya hingga punggungnya Joevanka menempel di dinding dan menghimpit tubuh Joevanka.


" Ya, kau memang harus melakukan itu. Aku tidak terima alasan apapun." ucap Ivander tegas dan semakin mendekatkan wajahnya kepada Joevanka.


Heeeeeee, Joevanka terbelalak dan mendesah gugup. Jantungnya seketika terpompa lebih kencang. Napas Ivander berhembus menerpa wajahnya. Ivander langsung mencium bibir Joevanka dengan tarikan dan Lmatan yang kuat dan dalam. Napasnya juga ikut menarik aroma wajah Joevanka. Ivander mengeratkan pelukannya dan mengambil semua bibir Joevanka tiada ampun. Tangan Joevanka seketika mengepal. Ivander mencengkeram pinggang Joevanka dan kembali memainkan bibir Joevanka.


Ciuman itu semakin memburu, membuat Joevanka mendesah dan terasa nikmat. Seluruh otot terasa mengencang dan menegang. Rasa cemburu Ivander mampu membuatnya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.


Gemuruh di dada Joevanka semakin menjadi, Tubuh Joevanka bergetar hebat. Ciuman itu benar-benar terasa membara. Joevanka semakin menikmatinya. Ivander kembali memainkan bagian terdalam milik Joevanka, mengecap semua bagian bibirnya tanpa sisa. Napas keduanya semakin memburu. Ivander seolah menyatakan bahwa joevanka adalah miliknya. Ivander melepaskan ciumannya, membebaskan Joevanka dari siksaan kenikmatan.


Mata Joevanka sayu, tidak berani menatap Ivander. Ia berusaha mengatur napasnya yang menggebu-gebu keluar dari mulutnya. Suara terengah-engah akibat jantung yang terpicu masih terdengar seirama.


Joevanka menjatuhkan tubuhnya di dalam dada Ivander.


" Kau adalah milikku Vanka, jadi aku tidak suka melihatmu tersenyum kepada pria lain. Kau mengerti? Jangan buat aku goyah untuk melakukan lebih dari ini. Aku mohon Vanka! " Ucap Ivander tegas seolah mengatakan bahwa perkataannya tidak bisa di ganggu gugat. Ivander menyatakan Joevanka sah menjadi miliknya dengan menggunakan materai cinta.


Joevanka tertunduk tidak sanggup mengatakan apa-apa. Ia masih berusaha mengatur napasnya yang memburu akibat debaran dari jantungnya.


" Lakukan saja perintahku Vanka, aku tidak mau mendengar alasan apapun itu. Termaksud itu Gavin. " Kata Ivander mengeratkan pelukannya. Ia memejamkan matanya menikmati aroma tubuh Joevanka.


Joevanka mengerutkan keningnya dan ia berusaha melepaskan pelukannya dari Ivander. " Apa maksudmu dengan Gavin? "


" Apa kurang jelas? " Ivander menautkan kedua alisnya.


" Aku tidak mengerti maksudmu? "


" Aku tidak ingin mengulangi ucapanku Vanka. "


" Aku sudah katakan, aku tidak mau mendengar Alasan Vanka. " Nada suara ivander mulai meninggi. Rasa cemburunya mulai menguasai.


" Tapi aku ingin tahu apa alasannya? " Joevanka mulai ikut kesal karena ia benar-benar tidak mengerti.


" Karena aku cemburu, apa semua itu kurang jelas? "


" Tapi tidak dengan Gavin, sayang..."


" Kenapa tidak? " Ivander menatap tajam kepada Joevanka, ciuman kenikmatan yang mereka rasakan tadi seperti hilang termakan amarah.


" Karena Gavin sudah ku anggap sebagai kakakku, aku tidak bisa melakukan itu dan apa yang membuatmu sampai cemburu kepada Gavin? " Joevanka menarik napasnya dan mencoba sabar menghadapi Ivander.


" Kemarin aku melihatmu membawa Gavin ke apartemenmu dan kau memeluk tangannya. Aku sampai menunggu di depan apartemenmu Vanka. Aku sampai tidak kembali ke kantor lagi. Karena apa? karena aku penasaran. Ternyata Gavin tidak pulang. Apa yang kalian lakukan? " Ivander meninggikan suaranya. Ia menatap tajam kepada Joevanka. Awalnya ia tidak ingin mengatakannya namun karena rasa amarahnya yang semakin besar, emosi Ivander semakin menguasainya.


DEG..DEG..


" Jadi karena itu kau tidak datang menjemput ku lagi ? "


" Ya, karena aku ingin melihat apa Gavin pulang atau tidak? " Ivander berbalik tidak ingin melihat Joevanka. Sungguh saat itu hatinya sakit. Ia berusaha untuk mempercayai joevanka. Namun Melihat Gavin tidak keluar dari apartemen Joevanka membuatnya tidak bisa menahan rasa cemburu ini.


" Jadi Kau menunggu di apartemen sampai malam? ehmm...kenapa tidak memilih masuk? " Tanya Joevanka dalam suara terendahnya. Namun Ivander tidak menjawab. Ia memilih bertahan dalam posisinya.


Joevanka berjalan pelan dan hanya bisa terdiam. Semakin mendekat dengan langkah-langkah kecilnya. Joevanka memasukkan tangannya dengan perlahan di dalam lengan Ivander. Ia memeluk pinggang Ivander dengan lembut. Kepalanya disandarkan dengan nyaman di punggung Ivander. Joevanka memejamkan matanya dan menikmati pelukan itu.


Sementara Ivander membuang napasnya melihat kesamping, merasakan pelukan itu kembali. Ia tidak bisa menolak, hatinya berubah hangat. Rasa marahnya hilang bersama dekapan Joevanka.

__ADS_1


" Tetaplah mempercayaiku pria tampanku. Aku sudah pernah mengatakan, aku hanya mencintamu. Aku sudah mengenal Gavin selama 6 tahun. Jika aku goyah dan tidak tulus mencintaimu. Mungkin aku sudah berpaling dan mencintai pria lain. Tapi tidak kan? hati ini selalu menunggumu. Kisah cinta kita memiliki kehebatan dan penantian panjang kita membuahkan hasil. Apa kau masih kurang yakin? "


" Kau tahu? yang aku butuh itu adalah kau. Kau bisa membuatku nyaman dan selalu tersenyum. Aku ingin engkau lah pria terakhir yang mengisi hati ku. Apapun yang terjadi, aku ingin kita selalu bisa bersama kini dan selamanya. Aku sayang kau, bahkan di setiap detak jantungku hanya menyebut namamu."


" Aku tak ingin terluka lagi, tak ingin disakiti seperti yang pernah ku alami sebelumnya. Aku tak ingin kau pergi meninggalkanku. Kau tahu itu? Jadi percayalah dengan cinta yang ku punya ini. ehmmm... " Joevanka memejamkan matanya. Mengeratkan pelukan, agar ia nyaman menyandarkan kepalanya di punggung Ivander.


Ivander ikut meresapi setiap kata-kata yang di ucapkan Joevanka. Rasa cemburu terlalu menguasai hatinya. Ia mengulum senyum sambil melihat ke belakang. Kemudian memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. " Hmmmโ€ฆMaafkan aku sayang, aku akan berusaha menerima Gavin sebagai kakakmu."


Ivander membalikkan tubuhnya, menatap Joevanka dan menatap mata indah itu sudah mengkristal dengan air bening yang menetes di pipinya. " Kamu menangis? "


Joevanka menggeleng. " Aku hanya terlalu bahagia memiliki mu. " Joevanka menahan air matanya agar tidak terjatuh Ivander.


" Maafkan aku sayang, maafkan aku..." Ivander menarik tubuh Joevanka dan memeluk tubuh mungil itu kembali.


Beban Joevanka terasa hilang. Ia membalas pelukan Ivander dengan erat dan membuat Joevanka semakin masuk dalam dekapan yang hangat dari tubuh Ivander.


" Tidurlah di sini malam ini, jangan pulang." Ucap Ivander mencium puncak kepala Joevanka dan kembali mengusap punggung Joevanka dengan lembut, lalu membelai rambut joevanka dari atas sampai bawah. Joevanka hanya bisa mengangguk pelan. Ivander melepaskan pelukannya dan menatap Joevanka dengan lekat.


" Kita masih menggunakan gaun pesta. Sekarang ganti gaun mu aku akan masak sesuatu yang bisa kita makan malam ini. " ucap Ivander membelai pipi Joevanka dengan jari jempolnya.


" Kau bisa masak? "


" Sekedar masak mie ramen, mungkin bisa. Malam ini kita makan ramen telur kari pedas ala Jepang. Bagaimana? "


Joevanka mengangguk cepat sambil tersenyum. " Sepertinya seru, sudah lama aku tidak menikmati makan mie instan. "


" Sekarang, kita ganti pakaian santai yang nyaman digunakan. "


" Sayang...? "


" Ehm, " Ivander berbalik dan menatap Joevanka.


" Bagaimana, kalau besok kita temui Delia. "


Ivander tersenyum lembut. " Selagi aku pergi bersamamu, besok atau lusa kita akan pergi menemui Delia. "


Joevanka tersenyum, dan kembali memeluk pria kesayangannya itu. " Terima kasih karena membuka hatimu, sayang...."


Ivander membalasnya dengan senyum teduhnya. " Sekarang bersihkan tubuhmu, aku akan kembali. "


" Oke.." Joevanka mengangguk, menyadari jika pakaiannya masih tertinggal di mobil, setelah Ivander penuh drama memintanya mengganti gaun berulang kali. Huftt Joevanka menggeleng dan bergegas membersihkan tubuhnya.


Ivander mengambil kunci mobilnya dan langsung turun menuju basement apartemen untuk mengambil baju salinan Joevanka. Habis itu, mereka akan menikmati makan ramen telur kari pedas ala Jepang.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


๐Ÿ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN VOTEMU ๐Ÿ’Œ

__ADS_1


๐Ÿ’Œ BERIKAN BINTANGMU ๐Ÿ’Œ


__ADS_2