WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Ulang tahun pernikahan


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Kemewahan pesta ulang tahun pernikahan yang ke 32 tahun Aaron dan Anastasia semakin lengkap dengan dekorasi glamor di setiap sudut Kediaman Donisius. Pesta diadakan pada malam hari. Anastasia meminta tambahan lampu dan lilin sebagai penerangan untuk menambah suasana menjadi tetap kesan hangat dan romantis.


Lilin ditambahkan sebagai hiasan pada meja makan, sedangkan lampu di gantungkan pada pohon. Rangkaian bunga yang tersebar di setiap sudut ruangan dan halaman rumah menjadi lebih cantik.


Sementara pada meja dan kursi di hias dengan pita dan kain berwarna senada dengan tema garden.


Pada pintu masuk kediaman Donisius dihias dengan nuansa bunga-bunga serta undangan disiapkan di jamuan meja bundar. Acara ulang tahun pernikahan, di jaga ketat oleh security yang didatangkan Ivander dari perusahaan Donisius. Para undangan wajib menunjukkan kartu undangan agar bisa masuk.


Pada acara itu, Anastasia hanya mengundang sekitar 250 undangan teman, relasi, kolega, dan keluarga yang datang dari luar negeri juga. Aaron dan Anastasia menyapa beberapa tamu undangan. Anastasia mengenakan gaun rancangan Jean-Louis.


Joevanka menggandeng tangan Ivander memasuki halaman dimana acara akan diadakan. Joevanka mengenakan Mini Dress Putih Elegant. Senyum terus mengembang di bibir Ivander. Membawanya berkeliling menyapa tamu rekan bisnisnya. Seolah seperti mereka yang mengadakan acara tersebut. Tidak jauh dari mereka ada Alea dan juga Ferdinand asyik berbicara. Sementara Halbret sibuk mengganggu Ivannia.


Berbagai acara telah di mulai, dengan didampingi anak- anak, Aaron dan Anastasia kemudian memotong kue ulang tahun pernikahan ke 32 setinggi 2 meter menggunakan pedang yang dihias bunga. Kedua pasangan yang berbahagia ini kemudian saling menyuapi kue dan undangan menyanyikan happy birthday.


Usai pemotongan kue ulang tahun. Kata sambutan acara keluarga disampaikan oleh Ivander. Semua tamu undangan diam untuk mendengar kata sambutan dari direktur Donisius itu.


" Selamat berbahagia daddy dan mommy. Di usia pernikahan yang telah lama ini, kalian masih bertingkah layaknya pengantin baru. Kalian adalah pasangan favoritku." Kata Ivander terkekeh, sehingga para undangan ikut tertawa. Ivander mengatur napasnya, melemparkan senyum teduhnya kepada kedua orangtuanya dan kembali berkata.


"Daddy selalu bisa memenangkan hati mommy dan kalian berhak dianugerahi gelar PhD di bidang memahami satu sama lain." Kata Ivander tersenyum, namun kata-kata Ivander membuat para undangan kembali tertawa karena ucapannya.


"Karena kalian, aku dan Ivannia tidak pernah kekurangan kasih sayang. Kalian adalah orang tua yang setiap anak harapkan untuk di miliki. Kalian adalah pasangan yang setiap pecinta harapkan untuk dipunyai. 32 tahun mengarungi bahtera rumah tangga tidak semudah membalik telapak tangan. Kalian adalah fondasi yang diharapkan oleh setiap keluarga. Mengajarkan kami bahwa cinta sejati itu ada. Jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, aku berharap bisa seperti daddy yang berhasil menikahi perempuan impiannya dan menikah dengan bahagia dalam waktu yang lama." Pandangan matanya mengarah pada wanita pujaannya. Tatapan kasih sayang yang di balas Joevanka dengan senyum indahnya. Joevanka ikut merasakan kebahagiaan yang Ivander sampaikan. Uncle dan aunty, Joevanka sebut pasangan fenomenal.


"Satu-satunya hal yang lebih baik dari pada memiliki kalian sebagai orang tua adalah memiliki kalian sebagai grandpa dan grandma untuk anakku nantinya. Teruslah membahagiakan satu sama lain. Panjang umur untuk pernikahan kalian daddy dan mommy, kami sangat mencintai kalian." ucap Ivander dengan mata berkaca-kaca dan berjalan pelan yang di ikuti Ivannia. Semakin mendekat dengan langkah-langkah kecilnya dan langsung memeluk kedua orang tuanya.


Anastasia tidak bisa berkata apa-apa. Ia memeluk anak-anaknya dengan perasaan terharu dan bahagia.


" Daddy dan mommy sangat bahagia memiliki kalian sayang." Ungkap Anastasia mencium Ivander dan Ivannia.


Aaron berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh, ia memeluk Ivander dan Ivannia bergantian. Semua undangan dapat merasakan kehangatan dari keluarga ini. Ivander memang di kenal seperti Aaron. Ia lelaki penyayang. Pekerja keras dan tidak mudah menyerah. Terbukti Ivander dapat menjalankan perusahaan Donisius dengan baik semenjak Aaron menyerahkan jabatan direktur kepada Ivander.


Acara pesta masih berlangsung. Pesta ulang tahun pernikahan serta perjamuan makan berjalan dengan sangat meriah.


Ivander membawa Joevanka masuk ke dalam, karena tadi Ia melihat Ferdinand datang bersama Alex. Ia ingin menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Joevanka melihat Berneta masih sibuk melayani beberapa tamu yang berada di dalam rumah.


"Apa kamu bosan?" Tanya Ivander mengambil tangan Joevanka dan menciumnya berulangkali.


"Tidak juga." Kata Joevanka matanya teralihkan dari Berneta dan menatap Ivander kembali.


"Ikut bersamaku." Ajak Ivander.


" Kemana?"


"Bertemu beberapa rekan bisnisku. Aku ingin memperkenalkan mu kepada mereka."


"Bukankah tadi sudah sayang?"


"Itu baru sebagian."


"Aku menunggu disini saja." Kata Joevanka menolak ajakan Ivander.


" Oke, kalau di sini aku tidak setuju sayang, kau bisa masuk ke kamar dan istirahat. Acara ini masih berlangsung sampai tengah malam, nanti aku menyusulmu." ujar Ivander.


" Oke.." Kata Joevanka." Tapi setelah aku menghabiskan cake ini." Ia mengangkat piring kecilnya.


" Baiklah, aku tinggal ya." Kata Ivander. "Ingat, habis makan itu langsung ke kamar ya." Ivander kembali mengingatkan, lalu berjalan meninggalkan Joevanka yang duduk di ruang keluarga sambil menikmati cake.


Joevanka melihat Berneta kewalahan melayani beberapa tamu di dalam rumah. Ia memang ditugaskan aunty melayani tamu hanya di dalam saja, Namun kebanyakan pebisnis muda memilih di dalam. Sementara bagian luar itu sudah ada pelayan khusus dari restoran yang melayani tamu di luar. Joevanka bangun dari duduknya dan menghampiri Berneta.


" Biar aku bantu ibu, dari tadi ibu repot sekali." Kata Joevanka mengambil alih nampan berisi makanan. "Mau diantar kemana?" Kata Joevanka.

__ADS_1


"Jangan nona, nanti gaun anda rusak."


"Rusak apanya ibu?" Joevanka terkekeh. "Ini mau dibawa kemana?" ucap Joevanka kembali.


Berneta menunjukkan kembali ruang keluarga yang tidak jauh dari Berneta berdiri.


" Apa memang harus dilayani seperti ini ibu, apa tangannya gak bisa ambil sendiri?" protes Joevanka.


"Jika ada acara keluarga memang biasa dilakukan seperti ini nona." jawab Berneta tersenyum.


"Oke, saya antar ya. Ibu bisa istirahat!" Kata Joevanka mengambil alih pekerjaannya Berneta.


Sementara pelayan yang lain memilih berpencar melayani tamu di setiap rumah mewah yang cukup besar ini. Joevanka berjalan membawakan beberapa cake.


" Silakan makanannya." Kata Joevanka tersenyum ramah dan membungkukkan badannya. Ia meletakkan cake itu di atas meja.


Mendengar suara yang tidak asing, seorang pria berbalik dan melihat ke arah belakang.


"Joevanka?"


Joevanka tersentak, ia kembali bertemu Alex disini. " Astaga bagaimana ini, jika Ivander tahu, bisa gawat." Batin Joevanka.


"Silakan dinikmati Alex, aku harus kembali." kata Joevanka berusaha menghindari Alex. Ia langsung meninggalkan tempat itu dan kembali ke dapur.


Joevanka mengelus dadanya, ia selamat dari Alex. Ia kembali mengambil beberapa minuman untuk di bawanya kembali untuk tamu undangan.


"Kemana ibu Berneta?" Joevanka mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita paruh baya itu.


"Kemana lagi aku membawa ini? Apa ke taman belakang saja kali ya." lirih Joevanka berjalan ke taman belakang. Sesampai di taman belakang tidak ada siapa-siapa.


"Tidak ada orang?" Joevanka mengernyit. Ia membuang napasnya dan kembali masuk lagi. Namun langkah terhenti ketika Alex sudah berdiri dihadapannya. Ia menyandarkan salah satu bahunya dengan bersedekap.


"Sangat disayangkan Joe, kau masuk ke keluarga ini hanya dijadikan sebagai pelayan.Cih..menyedihkan sekali." Kata Alex tersenyum sinis.


"Alex?"


"Lebih baik kau ikut bersamaku cantik, aku akan menjamin kebahagiaanmu. Bagaimana?"


Namun sebelum Joevanka melangkah Alex mendorong tubuh Joevanka sampai ke dinding. Nampan yang berisi gelas terjatuh dari tangannya.


"PRANG!"


Mendengar suara gelas pecah membuat Berneta terkejut dan langsung mencari tahu.


Joevanka terbelalak ketika tubuhnya dihimpit Alex." Apa yang kau lakukan Alex?" sengit Joevanka.


" Membuatmu menjadi milikku." Kata Alex tersenyum jahat.


"Berani kau lakukan itu,aku akan membunuhmu."


" Lakukan saja, bunuh aku dengan cintamu. Dengan senang hati aku siap." kata Alex tersenyum angkuh dan menaikkan alisnya.


"Benar kata Ivander, kau lelaki brengsek."


"Apa dia mengatakan itu?"


"Lepaskan aku!" Cengkraman tangan Alex membuatnya kesulitan melepaskan diri.


" Kita akan bersenang-senang malam ini, aku akan membuat Ivander tidak bisa memilikimu lagi dan kau akan menjadi milikku."


" Ck...Percaya diri sekali kau." Joevanka berusaha melepaskan cengkraman tangan Alex.


Dan tiba-tiba...


Mulut Joevanka dibekap membuatnya kesulitan mengeluarkan suara untuk minta tolong.


"Hmmmppppp" Joevanka berusaha minta tolong. Taman belakang yang cukup luas dan cahaya lampu yang kurang membuat Alex aman dan tidak ada yang tahu jika mereka berada di taman belakang. Mulut Joevanka dibekap dan di seret.


Berneta nampak gugup, Ia tidak berani mengatakan jika nona Joevanka di ganggu pria asing. Tapi karena keselamatan Joevanka lebih penting dari apapun. Berneta memberanikan diri mendekati Ivander dan berbisik kepada Ivander. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah, wajahnya menegang, bibirnya gemetar menahan amarah. Dia tahu itu pasti perbuatan Alex. Dengan langkah panjang Ivander menuju taman belakang. Ia mengepalkan tangannya. Kilatan marah memancar di bola matanya.


"Brengsek...!!!!!"

__ADS_1


Ivander berlari cepat ketika Alex berusaha mencium Joevanka. Ia mencengkeram baju Alex dari belakang dan memberikan bogem mentah beberapa kali ke wajah Alex, sampai membuat pria itu mengadu kesakitan. Napas Ivander tersengal karena begitu emosi. Ia kembali menendang Alex dengan keras dari depan sampai membuatnya terhuyung ke belakang.


BRUKKKKKK! Alex terjatuh.


Joevanka menangis dan langsung memeluk Berneta. "Maafkan aku nona." Kata Berneta ketakutan.


"Aaarggghh" Alex bangkit ingin membalas Ivander.


Namun sebelum itu terjadi Ivander lebih dulu menghajar dengan kekuatan penuh menendang keras pada bagian pipi dengan arah menyamping.


BRUKKK!


Alex terjatuh kedua kali. Alex meringis kesakitan sambil memegang pipinya. Ivander mendekat dan menarik tangan Alex kebelakang. Ivander berjongkok dan menarik rambut Alex.


"Berani sekali kau membuat keributan di kediaman Donisius. Beruntung tulang-tulang mu tidak aku patahkan Alex. Aku masih berbaik hati karena ini acara bahagia keluarga Donisius. Aku akan membuatmu mendekam di dalam penjara." Ucap Ivander begitu geram.


"Aku harap kau bisa menikmati hari-hari baikmu di jeruji besi." Sengit Ivander menarik rambut Alex lebih kencang sehingga membuatnya meringis kesakitan.


"Aaarggghh"


Ivander mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Sekarang kalian masuk ke taman belakang. Jangan sampai mengundang perhatian tamu. Secepatnya!" Kata Ivander mematikan ponselnya dengan sepihak.


Dua orang security dengan cepat menuju taman belakang. Mereka terkejut ketika tubuh seorang lelaki babak belur.


"Apa yang terjadi Tuan?"


"Sekarang hubungi polisi, sebelum polisi datang jangan biarkan dia pergi. Aku tidak ingin dia merusak acara keluarga Donisius di sini!"


" Baik tuan." Jawabnya dengan cepat memegang tubuh pria itu agar tidak kabur.


"Polisi masuk lewat belakang. Ingat seperti yang aku katakan jangan mengundang perhatian orang."


"Baik Tuan." Jawab mereka serentak.


Ivander melangkah panjang mendekati Joevanka. "Kau tidak apa-apa sayang?" kata Ivander memeriksa tubuh Joevanka. Berneta hanya bisa diam dan menjauh.


Joevanka mengangguk lemah. Tiba-tiba tubuhnya melayang karena digendong Ivander. Dengan cepat Joevanka mengalungkan tangannya ke leher Ivander. Ia menyembunyikan wajahnya.


Mereka menjadi pusat perhatian orang yang ada di dalam rumah. Ivander terus membawa joevanka ke dalam kamarnya. Dengan hati-hati Ivander merebahkan tubuh Joevanka.


"Tidurlah..." Kata Ivander kembali merapikan jasnya yang sedikit terangkat. Lalu memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. Raut wajahnya berubah datar, tanpa tersenyum. Ivander ingin melangkah dan tiba-tiba tangannya di pegang Joevanka.


"Maafkan aku sayang, aku hanya membantu ibu Berneta. Maafkan aku."


"Istirahatlah..." Kata Ivander tidak melihat wajah Joevanka dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Meninggalkan Joevanka begitu saja.


Joevanka tertegun dan hanya bisa terdiam. Bunyi pintu yang di tutup membuat Joevanka mengerjap. Ia duduk dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kasur. Alisnya mengerut. Baru kali ini Joevanka seperti tidak mengenal Ivander. "Sayang.." Lirih Joevanka.


Joevanka nampak gelisah dan menggigit jari tangannya. Ia terus melihat ke arah pintu, berharap ivander kembali. Kini jantung Joevanka terpicu resah. Joevanka terus memegang dadanya dan mencoba mengatur kembali pernapasannya. Alisnya terus melengkung ke tengah.


"Maafkan aku sayangku."


.


.


BERSAMBUNG


❣️ Hati-hati Vanka babang Ivander kalau marah diam lho 🀣


❣️ Ivander marah karena apa ya? ada yang tau gak. Mohon bantu author mencari tau ya. Saya juga bingung dengan babang Ivander kenapa tiba-tiba dingin ya 🀣


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ

__ADS_1


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU πŸ’Œ


__ADS_2