
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Joevanka menatap dirinya lagi di cermin. Ia membuang napasnya dengan gugup lalu tersenyum melihat penampilannya. Joevanka kembali menarik napasnya dalam-dalam hingga bahu dan dadanya terangkat. Joevanka ingin tampil cantik di acara formal yang akan menjadi sejarah dalam hidupnya. Ia menggunakan dress hasil koleksi dari Goddiva menggunakan gaun maxi dengan warna krem yang memiliki detail sulam dan terdapat rok jala mengambang sehingga penampilannya saat ini bak seorang puteri raja. Apalagi dengan ornamen yang lembut pada bagian pinggang dan potongan leher V sehingga tubuh terlihat lebih jenjang.
"Vanka kau sudah siap sayang?"
"Sebentar lagi aunty!" ucap Joevanka dengan lembut.
Joevanka mengundang pihak keluarga dari mommy nya untuk acara pertemuan keluarga.
Meva hanya tersenyum maklum, ia kembali duduk bersama suaminya Antonio.
Joevanka keluar dengan cantiknya. Ia menyanggul rambutnya sehingga leher jenjangnya terlihat. Dengan tas dan kalung berserta sepatu yang berkelap-kelip berpantulan cahaya. Joevanka terlihat anggun dan menawan. Meva tersenyum.
"Wow,, cantik sekali kamu sayang. Kamu mirip sekali dengan mommy mu." Kata Meva mengagumi keponakannya. Ia tersenyum hangat.
Joevanka tersenyum gugup, wajahnya merona. "Terima kasih aunty." Jawabannya.
"Oke, sekarang kita pergi." kata Antonio bangun dari duduknya.
Mereka saling melempar senyum lalu masuk ke mobil menuju restoran ternama di kota xx untuk melakukan pertemuan keluarga.
SEMENTARA DI RESTORAN.
Ivander nampak gugup dan berulang kali mondar mandir di dalam ruangan VIP.
"Duduknya lah sayang.." Kata Anastasia tersenyum lembut melihat Ivander berdiri dan selalu melihat jam yang ada ditangannya. Kegugupan anaknya terlihat jelas.
"Sebentar lagi Joevanka sampai juga kak, apa kakak takut Joevanka tidak datang?" kata Ivannia terkekeh.
"Duduklah my son, kau terlihat sangat gugup sekali." timpal Aaron ikut tersenyum. Walau sesungguhnya ia sangat mengerti situasi yang dialami Ivander, pasti ia sangat nervous.
Aaron kembali mengingat bagaimana dulu pertemuan keluarga yang dilakukan bersama pengolah panti asuhan Vincentius putra, dia yakin istrinya saat itu sangat terluka. Ia sendiri bahkan meninggalkan istrinya. Ia menyentuh tangan istrinya dan tersenyum teduh. Anastasia mengernyit melihat ekspresi suaminya yang tiba-tiba berubah. Namun Aaron hanya mengangguk pelan dan kembali tersenyum teduh.
Sementara Ivannia membuka ponselnya karena terdengar bunyi notifikasi dari WhatsApp nya. Ia membuka chattingan yang pengirimnya adalah Gavin. Ia mendengkus dan menatap malas. Gavin mengirimkan gambar dirinya sedang makan. CK.. Ivannia kembali menyimpan ponselnya. Dan tidak mau membalasnya. Ia tersenyum menaikkan sisi bibirnya.
Saat mereka masih Asyik berbicara. Joevanka masuk ke ruangan. Matanya Ivander mengedip cepat dan menatap serius. Joevanka datang bersama keluarga yang di undangnya dari kampung. Keluarga dari pihak mommynya. Ia malam ini cantik sekali dengan balutan gaun indah.
Wanitanya sudah datang dengan menggunakan gaun maxi dengan warna krem yang jatuh hingga mata kaki. Penampilannya saat ini bak seorang puteri raja, cantik dan terlihat elegan. Ivander bergeming dan terus menatap Joevanka, matanya tidak berkedip. Jika ia berkedip takut wanita pujaannya akan menghilang. Cih... sungguh lucu tentunya jika Ivander berpikiran seperti itu. Cara berjalannya menampakkan keelokan seorang wanita yang elegan dan sempurna bagi Ivander. Wanita sempurna.
Ivander langsung berdiri yang di ikuti Aaron dan Anastasia bersama dengan Ivannia. Mereka tersenyum menyambut kedatangan tamu istimewa malam ini. Joevanka tersenyum ke arah Ivander. Ya Tuhan dia sangat gagah dengan menggunakan jasnya itu. Wajahnya Ivander sangat bersinar dengan rambut yang di sisir ke atas. Rapi dan segar. Ivander juga seperti itu, Ia tetap fokus memandang Joevanka dengan tatapan serius tanpa berkedip. Perasaan bahagia bercampur haru berkecamuk di dada Joevanka.
Antonio memberikan jabatan tangan kepada Aaron. Mereka saling tersenyum. Anastasia memeluk singkat tubuh Joevanka penyambutan dengan rasa sayangnya. Begitu juga dengan aunty Meva disambut hangat oleh Anastasia. Joevanka melempar senyum kepada Ivannia yang membuka tangannya untuk memeluk Joevanka. Pelukan yang hangat dan menciptakan keakraban.
"Kakak ipar?" Kata Ivannia dengan balasan pelukan hangat dari Joevanka.
__ADS_1
"Kau cantik sekali, aku yakin Ivander sudah tidak sabar ingin mencium mu." Bisik Ivannia kepada joevanka.
Joevanka hanya terkekeh, melepaskan pelukannya dari Ivannia. "Terima kasih adik ipar, kau juga cantik sekali." timpal Joevanka dengan tersenyum lembut.
Ivander berpindah dan menyambut wanitanya. Ia menunduk dan mencium tangan Joevanka dengan lembut. Ia mendekat dan berbisik. "Kamu cantik sekali sayang, aku bersumpah tidak akan melepaskanmu malam ini."
Joevanka mengulum senyuman tersipu malu. Ia mengangkat alisnya sedikit, lalu membalas berbisik. "Kamu juga sangat tampan sayang, aku tidak sabar untuk memiliki mu. Kita tunggu sampai kita bersumpah dihadapan Tuhan."
Ivander tersenyum dan membawa Joevanka duduk di sampingnya. Tidak sedikit pun melepaskan tangan Joevanka. Mereka mengambil duduk masing-masing dan saling melempar senyum.
Para pelayan kembali masuk keruangan kelas VIP menyajikan makanan handalan restoran itu.
Ivander sendiri memilih menu makanannya Bubble & Squeak. Makanan ini berbahan dasar daging beku, kentang dan kubis, tetapi wortel, kacang polong, kecambah Brussels. Sayuran dan daging dingin di cincang dan kemudian digoreng. Makanan handalannya. Menu yang selalu di pesan jika ia makan di restoran ini.
Joevanka sendiri memesan Roast meats, makanan yang lezat yaitu daging panggang. Pelayan membuka botol wine dan menuang ke gelas mereka masing masing. Berbicara hal-hal kecil yang terkadang mengundang tawa. Suasana yang menciptakan kehangatan antara kedua belah pihak.
"Terima kasih atas kedatangan kalian, undangan keluarga untuk menjalin kedekatan antara kita." kata Aaron mengarahkan gelasnya untuk kepada Antonio.
"Sama sama Aaron. Saya sangat bersyukur Joevanka mengenal lelaki baik dan akan menikah dengan pria yang dicintainya." ucap Antonio mengarahkan gelasnya. Anastasia dan Meva berbicara elegan dan terlihat seperti berbisik-bisik.
Ivander juga mengarahkan gelasnya dan mengetuk ke gelas Joevanka.
TING !
Permukaan gelas mereka bertemu, berdenting menghasilkan suara yang merdu.
"Terima kasih sayang, kau cantik sekali hari ini." Bisik Ivander masih terlihat gugup. Joevanka terkekeh dalam hati dan tersenyum singkat.
"Silahkan nikmati makanannya dengan baik! " Kata Aaron kepada keluarga yang di bawa Joevanka.
Mereka kembali menikmati makanan sesuai dengan urutan makanan yang di sajikan para pelayan. Ivander sendiri menikmati makanannya dalam diam, rapi dan tenang.
Tangannya tidak mau lepas dan bersembunyi di bawah meja. Ivander terus menggenggam lembut dan mengusap-usap tangan Joevanka dengan jempolnya. Namun tangan kanannya tetap memegang sendok dan makan dengan elegan dan sopan.
Acara makan malam bersama berlangsung dengan baik. Mereka membicarakan rencana pernikahan. Walau Ivander terkadang tidak konsentrasi. Ia di panggil berulang kali karena ia terus fokus menatap ke arah Joevanka. Namun mereka paham bagaimana rasanya jatuh cinta. Sesuai rencana pembahasan pernikahan, mereka membahas tipe acara, perkiraan tanggal, seberapa besar skala acara yang ingin digelar, dan ritual pernikahan yang ikuti. Aaron tetap membiarkan Ivander dan Joevanka ikut andil dalam mengurus masalah pernikahan mereka.
Ivannia bangun dari duduknya dengan terburu-buru keluar dari ruangan VIP dan mengangkat ponselnya yang sedari tadi bergetar di dalam tas selempang nya.
Ia menggerutuk dan mengangkat ponselnya dengan desahan kesal.
"Ada apa Halbret?" Ivannia mendengus.
Terdengar tawa kekehan dari Halbret yang membuat Ivannia menjauhkan ponselnya dan menatapnya dengan geram.
"Sekarang katakan apa yang kau inginkan, kalau tidak aku matikan ponsel ini." Kata Ivannia.
"Hei cantik, jangan marah dong. Aku hanya ingin tahu kau lagi dimana sekarang?"
Ivannia mengembungkan pipinya dan membuang napasnya sekaligus. "Kau bodoh atau bagaimana Halbret. Kau benar-benar tidak tahu aku dimana?" erang Ivannia.
"Kau ikut acara pak direktur ya?"
"Nah itu kamu tahu, kenapa tanya lagi?" keluh Ivannia tersenyum sinis.
__ADS_1
"Aku sekarang ada di depan restoran Ivannia, bisa keluar sebentar?"
"Buat apa aku keluar?" Ucap Ivannia setengah berteriak.
"Gak ngapa-ngapain juga sih,"
"Ya, sudah aku matikan. Aku malas berbicara denganmu." Gertak Ivannia.
"Jadi kamu gak bisa keluar Ivannia?"
"Astaga, aku malas Halbret."
"Jika kau tidak ingin keluar, sekarang berbalik lah dan lihat aku." pinta Halbret dengan suara terendahnya.
Ivannia kembali menatap ponselnya dan mengernyit heran. "Jangan membuatku kesal Halbret." Keluh Ivannia mulai geram.
"Berbalik lah dan lihat aku! "Kata Halbret kembali.
"Astaga..." Ivannia berbalik dan melihat Halbret. Ia terbelalak dan melihat aksi Halbret sedang berjalan melangkah pelan mendekati Ivannia dengan posisi tangan masih memegang ponsel di telinganya.
Halbret tersenyum memberikan bunga kepada Ivannia. "Terima lah bunga ini Ivannia. Aku harap kau bisa menerimanya." Kata Halbret tersenyum lembut menatap Ivannia.
"Aku ingin lebih mengenalmu lebih jauh lagi Ivannia. Aku ingat saat kau menangis di taman itu. Aku mulai menyukaimu detik itu juga. Aku selalu melihatmu dalam diam dan berharap aku adalah temanmu berbagai cerita."
Ivannia menghela napas dan menatap Halbret dengan senyum yang menyinggung naik keatas setengah. Ia seperti mengejek Halbret saat ini. "Apa kamu pikir aku menangis karena pria itu Halbret? dan kau datang bak seorang pahlawan untuk menutupi lukaku, begitu?" desis Ivannia sinis.
"Aku tahu kau putus cinta Ivannia." Kata Halbret.
"Oh, ya? Sekarang maumu bagaimana?"
"Aku ingin menjadi teman berbagi suka dan duka mu."
"Sayang sekali Halbret, aku tidak pernah berlarut-larut menyimpan sedihku dan aku tidak bodoh memikirkan luka yang bagiku itu tidak ada gunanya. Apalagi untuk berbagi sukaku aku tidak mau. Kau tau itu?"
" Tapi?"
Ivannia mengangkat tangannya menunjukkan gestur tubuhnya. Dia ingin Halbret tidak melanjutkan perkataannya.
"Jangan sebut hal itu lagi di depanku Halbret, karena aku menilai semua lelaki itu sama." Kata Ivannia tersenyum kecut. "Oh, satu lagi Halbret. Aku tidak suka bunga. Jika kau tidak ingin aku membencimu, jangan sekali-kali menunjukkan bunga itu untukku. Kamu faham itu?" Ucap Ivannia melangkah meninggalkan Halbret yang diam terpaku ditempatnya. Ivannia semakin menjauh meninggalkannya.
"Ivannia, aku akan berusaha mendapatkan cintamu." Ucap Halbret dengan lantang. Namun Ivannia tidak menoleh dan tidak ingin memutar tubuhnya untuk melihat kebelakang.
Halbret tersenyum, "Suatu hari nanti, kau akan bangun dan menyadari kalau seharusnya kau memberikan kesempatan pada hatimu untuk mencintaiku. Aku tidak akan berubah karena kau menolak cintaku. Kau sempurna apa adanya dan kau pantas dicintai di dunia ini."
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
__ADS_1
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU π