WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Gavin sahabat yang terbaik.


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Joevanka menyeduh teh celup dalam air panas dan ia menambahkan dua sendok teh madu. Ehmm minuman kesukaan aunty Anastasia. Ia menghirup uap hangat dari cangkir.


" Kau masih mengingat kesukaan nyonya Anastasia."


" Tentu saja aku masih ingat ibu. Ini kesukaan daddy juga. "


" Benarkah? saya dengar nyonya Anastasia sahabat dekat dengan daddy-mu."


Wajah Joevanka berubah sendu. " Bisa dikatakan, mereka seperti saudara bu. Mereka tidak bisa dipisahkan, dengan mommy juga begitu. " Ucap Joevanka tersenyum tipis.


" Persahabatan bagai kepompong ya nona. " Berneta menimpali perkataan Joevanka sambil mengambil nampan berisi teh madu buatan Joevanka.


" Benar sekali ibu. " Joevanka mengambil nampan. " Aku antar ini dulu ya bu. " Joevanka menunjuk nampan yang ada di tangannya. Berneta mengangguk sambil tersenyum, membiarkan Joevanka meninggalkan dapur.


DI DEPAN RUANGAN.


Joevanka masih diam di tempat, ia tidak berani mengetuk pintu. Joevanka tersentak mendengar suara Ivander menyebut nama seseorang yang tidak asing baginya.


" Delia sakit? Sakit apa? " Batin Joevanka, ia bertambah gugup ketika mendengar suara langkah mendekati pintu.


Joevanka langsung menjauh dan memilih bersembunyi. Ia membuang napasnya, melihat Ivander melangkah panjang meninggalkan ruangan dalam keadaan marah.


Joevanka kembali mendekati pintu dan mengetuknya. Ia memilih menemui mereka dan menyapa uncle dan aunty,setelah sekian lama tidak bertemu.


TOK TOK TOK


Joevanka tidak menunggu sahutan dari dalam, Ia masuk ke dalam ruangan itu, karena posisi pintu memang sedang terbuka.


" Aunty, uncle...." Joevanka berjalan tersenyum.


Aaron dan Anastasia sangat terkejut mendengar suara yang tidak asing di telinga mereka dan menoleh bersamaan. Anastasia terjengkit dari duduknya.


" Joevanka, kamu kah itu sayang? " Anastasia bangun dari duduknya dan memastikan penglihatannya. Joevanka meletakkan minuman yang ia bawa di atas meja dan mengangguk tersenyum.


" Benar sayang, dia Joevanka? " Ucapnya kepada suaminya. Anastasia mendekat dan memeluk Joevanka, lalu melepaskan pelukannya. Anastasia tidak puas, ia menangkup pipi Joevanka, memeriksa keadaan Joevanka.


" Kamu sudah ingat Joe? " Aaron ikut bangkit dan mendekati Joevanka.


Joevanka kembali mengangguk dan tersenyum lebar.


" Astaga sayang. " Joevanka kembali memeluk Joevanka, ia benar-benar belum percaya, joevanka kembali.


" Kita duduk dulu Joe. Apa kabarmu, kamu datang sendiri sayang? " Anastasia menghujani beberapa pertanyaan kepada Joevanka.


" Sepertinya Joevanka lah yang disebut Ivander menjadi menantu kita sayang." kata Aaron antusias, ia sepertinya menemukan titik terang atas rasa penasarannya semenjak Ivander mengatakan dia ingin menikah.


" Benarkah Joe? " Anastasia mengambil tangan Joevanka dengan lembut.


Joevanka menunduk malu, ia menjepit bibirnya dan menganggukkan kepalanya.


" Astaga aunty senang sekali, Joevanka akan menjadi menantu kita sayang. Aku yakin Ivander sudah tidak bisa tidur lagi karena begitu bahagia. " Ucap Anastasia terkekeh.


" Terima kasih Joe, kamu kembali lagi, Uncle sampai sekarang belum bisa melupakan apa yang terjadi terakhir kali."


" Kita jangan ingat lagi uncle, aku juga berterima kasih karena aunty dan uncle begitu baik dengan Vanka. Selama enam tahun, uncle masih memperhatikan Vanka dengan baik. "


" Kamu sudah tahu kabar sayang? " tanya Anastasia.


" Kabar apa aunty? "


Anastasia menghembuskan napasnya. ia mengambil tangan Joevanka kembali lalu menepuk-nepuk nya dengan lembut.


Joevanka semakin bingung, " Ada apa aunty, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran aunty? " Joevanka berusaha menenangkan perasaannya, ia mulai gelisah.


" Melisa sudah meninggal sayang, dua minggu yang lalu. "


Joevanka mengangguk. " Vanka sudah tahu aunty. Aku tahu dari keluarga yang di London."


" Jadi kamu sudah tahu sayang? "


Joevanka kembali mengangguk pelan. " Auntie meninggal karena sakit. Auntie sempat mendapat pertolongan. Tapi Tuhan berkehendak lain Aunty." ujar Joevanka membuang napasnya dengan berat.


Anastasia memeluk Joevanka, " Baguslah sayang, jika kamu sudah tahu. Dimana Ivander? "

__ADS_1


" Dia ada di kamar aunty. "


" Temui dia sayang, Ivander sedang marah. Aunty yakin jika kau yang menenangkannya. amarah Ivander akan berkurang. "


Wajah Joevanka berubah merah. Ia tersipu malu ketika Aunty mengatakan hal seperti itu. " Aku tinggal dulu aunty, uncle. " Joevanka pamit undur diri.


Perasaannya campur aduk, sesaat Joevanka menarik napasnya dalam lalu menghembuskan sekaligus. Kini perasaannya sedikit lebih baik. Lalu ia melangkah untuk menemui Ivander.


⭐⭐⭐⭐⭐


Dalam perjalanan pulang yang di iringi dengan musik Jazz yang mengalun. Awalnya mereka masih asyik berbicara. Namun setengah perjalanan Joevanka menutup mulutnya berulang kali karena di dera ngantuk yang luar biasa. Di tambah jalanan yang macet membuat Joevanka akhirnya tertidur.


" Sayang, kita sudah sam..." Ivander melihat ke samping. Kalimatnya terhenti melihat Joevanka tertidur. Ivander mengulas senyum tipis di bibirnya. Ia sudah menarik rem tangan namun tidak mematikan mesin mobil. Ia mengubah posisi duduknya menghadap wanita yang dicintainya itu. Memegang lembut tangan Joevanka dan memperhatikan wajahnya yang terlihat polos jika sedang tertidur seperti ini. Napasnya teratur dan berhembus lembut. Kepalanya miring ke kanan dan sedikit menggantung, Ivander tersenyum menatap Joevanka. Ia tertegun sejenak. Membiarkan Joevanka tertidur sebentar. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan menatap Joevanka dengan lekat. Ia mencondongkan tubuhnya ke samping dan mencium pipi Joevanka dengan lembut.


Merasakan ciuman mendarat di pipinya, Joevanka membuka matanya perlahan.


" Heuh...Kita sudah sampai? " Joevanka terkejut melihat Ivander sudah sangat dekat dengannya.


" Aku tidak tega membangunkan mu Vanka. "


" Harusnya kau membangunkan ku, kau masih harus ke kantor sayang. "


Ivander tersenyum sambil menyisihkan lengan jasnya untuk melihat jam. " Masih ada waktu 40 menit lagi. "


" Sekarang aku turun ya. "


" Jangan ke kantor lagi, istirahatlah di rumah. nanti aku akan menjemputmu kembali. "


Joevanka mengangguk. Namun sebelum keluar, tangannya di tahan Ivander.


Joevanka terkejut dan menahan debaran jantungnya yang terpukul cepat karena tatapan mereka bertemu. Tatapan Ivander kali ini mengisyaratkan sesuatu darinya.


" Ada apa sayang? "


" Kau melupakan sesuatu. "


" Melupakan apa ? " Joevanka menatap bingung.


Ivander tersenyum menyeringai tipis, ia mengangkat alisnya dan Joevanka hanya diam menunggu apa yang akan diucapkan Ivander.


" Kau sungguh tidak tahu? " Ivander semakin menaikkan alisnya lebih tinggi.


Ivander menarik tubuh Joevanka dan mencium bibirnya lembut, memberikan Lmatan singkat di bibir Joevanka.


Reflek mata Joevanka terpejam dan membukanya kembali dan DEG DEG... ciuman itu berhasil membuat jantungnya terpicu lebih cepat dan membuat wajahnya merah merona.


" Sekali lagi jangan lupakan ciuman itu kelinci manisku." bisik ivander lembut di telinga Joevanka.


Sensasi seperti ini, membuat Joevanka seperti terkena sengatan listrik. Joevanka mengatur napasnya dan langsung membuka pintu mobil.


Ivander menurunkan kaca mobilnya dan Joevanka menundukkan badannya.


" Hati hati tuan tampanku. "


" Oke, masuklah..aku ingin benar-benar melihatmu masuk."


Joevanka mengangguk dan berjalan menuju apartemen dan sesekali berbalik melihat ke belakang melihat mobil Ivander yang masih terparkir di sana. Joevanka melambaikan tangannya, sampai ia benar-benar masuk ke lobby apartemen.


" Joevanka...."


Joevanka membalikkan badannya dan melihat Gavin sudah berada di belakangnya.



" Gavin? Bukannya kau sudah kembali ke Australia? " Mata Joevanka membulat sempurna.


" Setelah aku melihatmu dengan pak direktur, bagaimana aku bisa kembali ke Australia. Kau masih mempunyai utang cerita denganku. "


" Hahahaha, kau tidak berubah. Tingkat penasaran mu lebih tinggi dari pada aku Gavin. " Joevanka berbisik seraya menyingkut lengan Gavin diiringi dengan tawa renyahnya.


" Kau yang membuat aku penasaran Joe. " Wajah Gavin mengerucut ke bawah.


" Kita naik...! " ajak joevanka berjalan memegang tangan Gavin. Mereka menunggu pintu lift terbuka.


" Joe..." Gavin memandang Joevanka sekilas lalu menatap lurus ke arah pintu lift.


" Ehm..." Joevanka menjawab Gavin dengan menggumam dan tangannya masih setia mengandeng tangan Gavin.


TING!


Pintu lift terbuka mereka berjalan masuk dan pintu lift kembali tertutup.


" Tadi kau mau bilang apa Gavin? "

__ADS_1


" Apa ya, sudah lupa. Nanti aku ingat lagi. " Kata Gavin meledek Joevanka. Ia berjalan ketika pintu lift sudah sampai di lantai empat.


Joevanka membiarkan Gavin masuk ke dalam apartemennya. Ia mengambil minuman soft drink dari lemari pendingin dan beberapa makanan ringan untuk mereka nikmati. Joevanka menyusul Gavin, duduk santai sambil menikmati acara televisi.


" Silahkan di minum Gavin. " Joevanka meletakkan minuman dan cemilan yang di bawanya dari dapur.


" Sekarang ceritakan semua Joe! eitsss.. tanpa sisa. " Gavin mengingatkan, ia mengunci pandangannya pada joevanka.


" Ehm, aku mulai dari yang mana ya? " Joevanka memegang dagunya, ia sedang menunjukkan gestur berpikir.


" Apakah pak direktur lelaki yang selalu kau cari Joe? Kau mencarinya tapi tidak tahu siapa dia? "


Joevanka mengangguk dan tersenyum memegang soft drink dan meneguknya beberapa kali. Ia menarik napasnya dan menatap minuman kaleng itu.


" Semua berawal dari ketidaksengajaanku mencintainya. Bisa dikatakan aku mengenal cinta semenjak mengenal dia, Gavin. Duniaku lebih berwarna. Aku lebih bahagia. "


" Jadi kau mencintai pak direktur dalam diam? bukan,bukan.. maksudku cintamu bertepuk sebelah tangan? "


Joevanka menggeleng. " Pak direktur bahkan tidak tahu jika aku mencintainya. Hari-hari ku lalui dengan terus memperhatikanya, hingga tanpa aku sadari muncul rasa yang awalnya tak ku mengerti itu apa, dan aku tak tahu pasti sejak kapan rasa itu menghuni hati ku. Ku coba terus mencari tahu, rasa apa yang menghuni hatiku ini. Hingga akhirnya aku tau kalau itu cinta." Joevanka mengambil makanan dan menikmatinya. Gavin menjadi pendengar yang baik. Dia juga begitu penasaran, sebesar apa cinta Joevanka kepada Ivander, sehingga ia tidak bisa membuka hatinya kepada siapapun termasuk pada dirinya.


" Yang membuatku sakit ternyata dia memiliki ke kasih Gavin. Setelah aku tahu dia memiliki kekasih, aku mencoba menghapus rasa ini namun semakin besar usahaku untuk menghapus rasa ini, semakin kuat cinta yang aku punya. Dua tahun aku bisa menyimpan rasa ini, berharap tak ada satu orang pun yang mengetahuinya, termasuk dia. Cinta ku untuknya yang semakin hari semakin kuat. "


" Kenapa kau kembali ke London? Sementara kau mencintai pak direktur? "


Joevanka menggembungkan pipinya, lalu menghembuskan napasnya. " Beban. "


" Beban ? " Gavin mengernyitkan dahinya, menatap Joevanka dengan lekat.


" Ya, mereka terlalu baik Gavin. Sehingga aku memutuskan kembali ke London dan berhenti membebani mereka. Dan aku membiarkan cinta ini terus tumbuh. Hingga suatu saat aku mengetahui fakta jika pak direktur juga mencintaiku. "


" Bukankah pak direktur memiliki kekasih? "


" Ya, tapi hubungan mereka sudah berakhir Gavin."


" Dan sampai kau kehilangan ingatanmu? "


" Ya, sampai disitu kau sudah tahu kan? jadi aku tidak perlu menceritakannya lagi."


" Bagaimana soal penyakitmu Joe? "


Joevanka tersenyum miris, ia meneguk minuman soft drink nya sampai habis. Ia tertunduk sambil memainkan botol kaleng.


" Pak direktur belum tahu Gavin, pengobatan ku sudah 70 persen. Aku ingin cepat sembuh dan menghentikan pengobatan yang menyiksa ini. "


" Jadi kau tidak ada rencana untuk memberitahukan pak direktur? "


" Aku pasti mengatakannya, tapi tidak sekarang. Nanti ada waktunya Gavin. "


" Berbagi itu lebih indah Joe, apa penyakitmu masih sering kambuh? " Tanya Gavin mendesah kecil.


" Tidak lagi. Sepertinya aku sudah sehat Gavin." Ucapnya berbohong. Ia juga tidak ingin Gavin terlalu mengkhawatirkannya. Cukuplah ia menjadi lelaki super Hero selama mereka di Australia. Banyak sekali pengorbanan Gavin.


" Baguslah, aku ikut senang penyakitmu sembuh dan kau akhirnya menemukan cinta sejati mu. " Gavin tersenyum singkat.


" Terima kasih Gavin, kau menjadi kakak dan sahabat yang terbaik untukku. "


Gavin hanya mengangguk sambil tersenyum. " Melihatmu bahagia, aku juga ikut bahagia Joe. Kau hanya tinggal doakan, agar aku bisa menemukan jodoh secepatnya. Umur sudah bertambah tua. "


" Hahahaha " Joevanka tertawa menatap Gavin dari dekat. " Pasti kau menemukan yang lebih terbaik dari aku. percayalah.. "


Gavin mengangguk dan hanya bisa tersenyum kecil di bibirnya.


Gavin bisa dikatakan sahabat menjadi teman paling setia baik suka dan duka. Kehadiran Gavin dapat memberi warna tersendiri dalam hidupnya. Joevanka sangat beruntung mengenal Gavin. Begitulah sejatinya seorang seperti Gavin, meski dia tidak bisa membuat masalahnya yang di hadapinya menghilang, namun Gavin tak akan pernah menghilang di saat dia memiliki masalah. Gavin adalah sahabat yang ia percayai dan membuat ia tenang bersamanya. Dia menjadi tempat berbagi keluhan, berbagi kesedihan. Selama enam tahun joevanka dapat merasakan ketulusan Gavin.


.


.


VISUAL GAVIN USIA 31 TAHUN SEDANG MENCARI JODOH πŸ˜‚



.


.


BERSAMBUNG


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ

__ADS_1


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU πŸ’Œ


__ADS_2