
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
" Kenapa kita tidak langsung turun saja? aku sudah tidak sabar untuk menghabisi Melisa. " Anastasia membuka pintu mobil, namun dengan cepat Aaron menghalangi istrinya.
" Jangan sayang! Ferdi saja belum datang. kita menunggu sampai Ferdi masuk dan menghubungi kita.." Kata Aaron.
" Kenapa dia begitu lama? " Anastasia membuang napasnya dan menyenderkan punggungnya kesandaran kursi yang ada di mobil.
" Mereka sudah sepakat bertemu jam delapan, Kita saja yang terlalu cepat datang. " Aaron nampak menarik ujung lengan kemejanya, melihat ke arah jam yang dikenakannya. Masih ada sisa waktu sepuluh menit lagi.
" Tapi aku sudah tidak tahan untuk mencabik wajah Melisa..jadi biarkan aku turun! " Anastasia sudah nampak bosan.
" Kita harus sabar, rencana kita bisa gagal sayang, kita lebih baik menunggu. Oke! " Aaron berusaha menenangkan istrinya.
Namun Anastasia mengerucut bibirnya, ia berdecak, karena harus menunggu. Aaron tersenyum dan memutar tubuhnya agar menghadap istrinya.
" Apa kau sengaja Menggodaku dengan bibirmu itu? " Aaron tersenyum smrik dengan menaikkan alisnya setengah.
" Apa? "
Aaron langsung menangkup pipi istrinya, mengecup bibir Anastasia secara singkat dan berulang ulang. Ia tidak mempertahankan ciuman yang lama. Aaron hanya mengulangnya secara intens. Sampai membuat Anastasia terbelalak.
Aaron terkekeh, ia mengusap bibir istrinya dengan jari jempolnya.
" kau menggodaku sayang.."
Anastasia hanya bisa berkedip cepat dan menjepit bibitnya lebih dalam. Ia mencubit pinggang suaminya dengan lembut.
Aaron meringis kesakitan.
" Apa sakit sayang? " tanya Anastasia menyentuh pinggang suaminya. Reflek Aaron tertawa. Anastasia membengkokkan bibirnya.
" Itu cara terbaik, agar kamu bisa merasa tenang sayang. " Kata Aaron terkekeh. Anastasia kembali mencubit bagian perut suaminya.
Dan bersamaan itu tawa mereka lepas. Kemudian mereka kembali fokus memperhatikan keadaan rumah.
" Jadi ini semua rencanamu? " tanya Anastasia menatap suaminya dan kembali melihat ke arah rumah Melisa.
" Ya.. Untuk kali ini, kita tidak bisa membiarkan Melisa lagi. Selama ini aku membiarkannya karena kasihan dengan Joevanka, dia begitu sayang dengan Melisa. Tapi Joevanka tidak tahu Melisa itu seperti apa. Namun semenjak Joevanka berada disini, Melisa sepertinya, berniat ingin menjual joevanka. Aku memasukkan perangkap, dan membiarkan anak buahku untuk mengikuti permainannya. "
" Dia memasukkan nama Joevanka ke prostitusi online. " sambung Aaron.
" Apa? " Anastasia sangat terkejut sampai menutup mulutnya.
" Beruntung kita cepat mengetahuinya, jadi bisa dikatakan kita yang membeli Joevanka untuk menyelamatkannya. " jelas Aaron.
" Aku tidak menduga Melisa berubah seperti ini. Selama aku mengenalnya, dia tidak seperti itu sayang. Apalagi sampai melakukan kejahatan seperti ini, oh my God.." Anastasia membuang napasnya, matanya sudah berkaca-kaca.
" Aku yakin Melisa melakukan ini karena sakit hati. "
" Sakit hati? " Anastasia menatap suaminya kembali, " Bukankah selama ini Lionel begitu baik kepada Melisa, menurut aku dia berubah semenjak Lionel meninggal, lalu apa salah Joevanka? Bukanlah dia sudah puas menikmati harta yang bukan miliknya dan sampai mengabaikan joevanka. " Anastasia nampak jengkel.
" Melisa bisa menutupi sakit hatinya, karena Lionel baik kepadanya. Menurutku ini karena masalah keluarga sayang. Semenjak Lionel meninggal, Melisa berubah menjadi orang tamak. "
" Jadi sekarang, dia masih sakit hati dan menjadikan Joevanka untuk pelampiasan sakit hatinya, begitu? " Anastasia menyapu rambutnya keatas, ia sampai menggigit bibir bawahnya karena jengkel.
" Sepertinya begitu..ia melampiaskannya dengan cara menghabisi harta Lionel dan membuat Joevanka menderita. "
" Dan bahkan menjual joevanka? dasar manusia tidak punya hati. " geram Anastasia mengepalkan tangannya.
Anastasia menggeleng, Melisa bahkan dianggapnya bodoh, dia tidak berpikir dengan baik. Melisa terlalu mementingkan dirinya sesaat tanpa memperhatikan orang lain termaksud Joevanka, ia sudah melukai hati Joevanka.
ββββββ
Disisi lain kediaman Melisa
Satu jam sebelumnya.
" Sekarang percantik dirimu, dalam waktu sepuluh menit kau sudah harus selesai. Aku tunggu..! " Tegas Melisa menekan setiap perkataannya.
" Tidak, aku tidak mau!! " Kata Joevanka cepat, ia menatap Melisa dengan tajam, kilatan marah jelas terpancar di bola matanya.
" Jadi kamu tidak mau, apa kau mau aku menghabisi lelaki yang kau cintai? "
Joevanka tertawa sambil menangis, kemudian tawanya hilang, ia kembali tersenyum sinis.
__ADS_1
" Drama apa lagi yang akan kau tunjukkan auntie, Apa kau pikir aku percaya? " Kata Joevanka dengan nada mengejek.
" Benarkah anak manis, " dengan cepat Melisa mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan Video kepada Joevanka.
" Apa kau mengenali tempat ini. Kau lihat jam dan tanggalnya. Lelaki yang kau cintai sekarang berada di sini. "
" Aku tidak akan percaya, jadi singkirkan itu! " Joevanka menepis tangan Melisa sampai membuat ponselnya terjatuh.
Hahahaha Melisa tertawa, dengan ekspresi kesal, ia memukul kepala Joevanka sampai membuat rambutnya berantakan.
" Jadi kau tidak mengenal lelaki ini? " Melisa kembali mencengkram dagu Joevanka dan menunjukkan video itu kembali.
" Aku ada saudara di sana dan sekarang lagi mengikuti Ivander. Jika sudah terjadi kecelakaan, aku tidak bisa menarik ulang perkataanku. Aku tunggu dua puluh menit. " kata Melisa melepaskan cengkeramannya.
Melisa sudah keluar dari kamar. Joevanka menarik napasnya dalam dalam sambil memegang dadanya. Matanya sudah mengkristal penuh dengan air bening dan terjatuh membasahi pipinya. Ia mengerang dan hanya bisa menangis. Wajah Joevanka mengerut, dia berusaha untuk bernapas walau tetap sesenggukan. Ia sampai menutup mulutnya, mencengkram dadanya dengan kuat.
Suatu rasa yang menghempaskan amarah yang mendalam. Yang di butuhkan saat ini adalah terlepas dari penderitaan ini. Sakit dan sakit, hanya rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Sekarang Joevanka pasrah, yang dia lakukan hanyalah mengikuti perkataan Melisa.
Melisa tersenyum melihat Joevanka keluar menggunakan pakaian yang dia beli tadi pagi.
" Sekarang duduklah...! " Melisa menunjuk sofa dengan gerakan kepalanya.
" Jika kau menurut dan tidak membuat keadaan sulit, semua akan mudah Joevanka. Jangan sampai kau mengulangi hal itu lagi. Kau akan mati ditangan pria itu. Mengerti ?! "
TOK TOK TOK
" Itu dia sudah datang..." Melisa bangkit untuk menyambut tamu pentingnya. Ia menoleh kepada Joevanka agar ia ikut berdiri bersamanya. " Senyum...." mata Melisa sudah mendelik menatap Joevanka, ia menekan perkataannya dengan nada ancaman.
Seorang pria tua berkepala plontos dengan perut buncitnya dan tidak lupa cerutu disematkan di ujung bibirnya, tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Melisa dan tangannya berganti kepada Joevanka.
" Apakah dia anak yang kau katakan? " Kata pria itu tersenyum dan jarinya ia mainkan ditangan Joevanka. Reflek Joevanka kaget dan melepaskan tangannya dengan paksa.
Melihat tindakan Joevanka, Melisa membulatkan matanya, dan menatap Joevanka dengan tajam.
" Benar tuan, namanya Joevanka. " Ucap Melisa tersenyum hangat.
Joevanka tersenyum miris, ketika melihat sosok lelaki tua itu. Ia hanya bisa memejamkan matanya dan menghembuskan napas dengan berat, menekan rasa pahit dalam hidupnya. Sakit tak terperi sampai membuatnya tidak bisa bernapas.
" Nama yang indah sayang, malam ini akan menjadi malam yang indah buat kita. Kau akan bahagia.." Kata pria membawa dua koper di tangannya yang berisikan uang.
" Silakan duduk tuan ! Semoga anda suka dengan keponakan saya ini, dia anak baik dan penurut. "
" Berarti saya salah satu lelaki yang beruntung di dunia ini. " Pria itu terkekeh.
Wajah Melisa terlihat bahagia, sorot matanya nampak berbinar. Ia tersenyum ketika pria itu membuka isi koper.
" Sempurna tuan! " Melisa tertawa nyaring.
Joevanka sendiri mencengkeram bajunya. Ia menunduk lemah. Ketika air matanya sudah kosong terperas dan butiran-butirannya membawa sesak dan kehampaan. Joevanka hanya bisa membisikkan sesuatu dalam batinnya " Aku siap untuk saat ini, aku siap mencoba menerima semua ini. "
" Sekarang ambil dan bawa dia bersamamu tuan. " Kata Melisa dengan cepat memeluk koper itu.
" Tunggu nyonya! " pria berkepala plontos, menghalangi Melisa untuk mengambil koper itu. " Anda harus bertemu seseorang dulu, baru mengambil uang ini. Karena beliau yang akan membawa keponakan anda ikut bersamanya. "
" Jadi bukan anda, siapa dia ? " kata Melisa dengan wajah mengerut dalam. Ia nampak bingung.
" Sebentar nyonya! " Ferdi bangkit berdiri, Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
" Anda bisa masuk tuan! " Kata Ferdi mengakhiri pembicaraan mereka dan mematikan ponselnya . Ekspresi wajah Ferdi berubah kaku dan dingin.
Melisa nampak gelisah, tiba tiba perasaannya tidak enak. Joevanka juga begitu, ia mencengkram tangannya dengan kuat untuk menutupi kegugupannya.
Dan tidak menunggu lama, lelaki yang dihubungi Ferdi sudah datang. Ferdi mendekat dan membungkukkan badannya seraya memberi hormat.
" Selamat malam tuan! " Kata Ferdi dengan sopan. Bersamaan itu Melisa dan Joevanka terkejut.
" Apa kabar Melisa? " Anastasia berjalan memasuki ruang keluarga dengan angkuh. Ia tersenyum sinis, melihat keterkejutan Melisa.
" Aunty..." gumam Joevanka.
" Kalian? " Melisa tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.
Mata Joevanka sudah berkaca-kaca, napasnya terlihat naik turun. Bibir Joevanka bergetar, napasnya keluar tidak stabil. Perasannya tidak bisa ia gambarkan saat ini, ketika melihat sosok yang dikenalnya.
" Ya, Kenapa Melisa? saya yang akan membawa Joevanka pergi! " kata Anastasia dengan menyeringai tajam.
" Apa yang kalian lakukan dirumah ku, pergi! Sekarang kau masuk ke kamar. " Melisa mendorong tubuh Joevanka sampai membuatnya terjatuh.
" Apa yang kau lakukan! " Anastasia melangkah panjang membantu Joevanka.
" Jangan kau sentuh dia, sekarang kau masuk! " teriak Melisa kepada Joevanka.
Aaron mendekat dan menghalangi Melisa.
__ADS_1
" Singkirkan tanganmu! " Melisa menepis tangan Aaron. Ia menatap Anastasia dengan tajam.
" Sekarang bangun sayang! " kata Anastasia.
" Keluar! Kalian keluaaarrrr !! " Melisa berteriak histeris. " Kau jangan jadi sok pahlawan, jangan ikut campur dengan keluarga Mark. " Melisa menunjuk kearah Anastasia.
" Sekarang kau mengaku bagian keluarga Mark? Setelah apa yang kau lakukan terhadap Joevanka. " kata Anastasia tersenyum kecut.
" Ya, aku melakukan itu karena untuk membalaskan dendam ku. "
" Termaksud untuk Joevanka? "
" Ya, semua yang ada hubungannya dengan Keturunan Mark. "
" Kau tidak punya hati...kurang baik apa Lionel dan Isabel. Setelah mengabaikan Joevanka di rumah sakit, kini kau menjual Joevanka? "
" Jadi sekarang kalian keluar, jangan ikut campur..." kata Melisa dengan nada geram. Melisa mengambil sesuatu dari laci mejanya.
" Atau Joevanka ku tembak .."
Aaron dengan Anastasia nampak terkejut ketika Melisa mengeluarkan pistol dan mengarahkan kepada Joevanka.
" Jangan lakukan itu Melisa! Jika sesuatu terjadi pada Joevanka kau akan mati ditanganku." kata Anastasia ketakutan, ia memberi peringatan.
" Aku tidak takut...! " Melisa kembali menekan kata katanya dengan tempo sangat lambat.
" Kau tidak tahu polisi sudah menunggumu diluar, jangan mempersulit keadaan, kau terlibat kejahatan jadi menyerahlah Melisa." Aaron berusaha untuk menenangkan Melisa agar tidak lepas kendali menarik pelatuknya.
" Hahahaha, Apa katamu? menyerah? tidak, satu diantara kita harus mati. " kata Melisa menaikkan alisnya setengah, ia tersenyum jahat.
Ferdi nampak bingung, ia takut melangkah untuk mengambil tindakan.
Semua nampak panik, Anastasia sudah ketakutan diam mematung ditempatnya. Tubuh Joevanka gemetar. Ia melangkah pelan dengan tangan dibawah untuk meredakan kemarahan Melisa yang sedang menodongkan senjata.
" Auntie aku akan ikut denganmu, tapi aku mohon letakkan pistol itu. Aku akan ikuti semua kemauanmu. " Air mata Joevanka sudah terjatuh. Jantungnya sudah bergemuruh.
Hahahaha " Benarkah? Apa kau pikir aku percaya! " Sengit Melisa.
Joevanka mengangguk cepat. " Aku akan ikut auntie, aku berjanji. Kita akan pergi jauh, kumohon.." Joevanka berusaha mengembalikan kepercayaan Melisa. Walau sesungguhnya ia sangat takut. Air matanya saat ini mewakili perasaannya.
" Tidak, salah satu di antara kita akan mati." Melisa menarik pelatuknya ke arah Anastasia. Bersamaan itu Aaron terkejut.
" Hentikan! Jangan !!!!! "
DOOOORRRR
Bunyi suara tembakan terdengar, Anastasia memejamkan matanya. Begitu juga Aaron diam membeku ditempatnya. Saat ini ia sangat terkejut. Anastasia membuka matanya berlahan, ia sangat berharap Melisa hanya memberikan tembakan peringatan. Namun saat dilihatnya, detak jantungnya langsung terpukul kencang, ia sangat terkejut ketika melihat Joevanka merentangkan tangannya, untuk menghalangi Anastasia agar tidak terkena tembakan.
Bersamaan itu air matanya menetes di pipinya, kakinya lunglai seakan tidak bertulang dan terjatuh.
Melisa nampak frustasi. " Jangan salahkan aku Joevanka, kau yang memberikan dirimu. " Ia langsung lari lewat pintu belakang.
" Tidakkkkkk!!!!!! " Teriak Anastasia, menangkap tubuh Joevanka.
Joevanka ingin membuka matanya, namun ia tidak sanggup melakukannya. Hanya air mata yang menetes dari ujung matanya. Suara tangisan aunty Anastasia masih bisa terdengar. Lama lama semakin jauh dan hilang.
Polisi yang berada diluar sangat terkejut mendengar suara tembakan dari dalam. Sebelumnya mereka di perintahkan jika ada panggilan untuk menangkap, mereka akan masuk. Namun di luar dugaan ternyata tersangka memiliki senjata api. Dengan cepat mereka berpencar ketika Ferdi mengatakan tersangka kabur.
" Bangun sayang, bangun..." Anastasia menangis histeris dengan raungan memanggil nama Joevanka.
Aaron masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Joevanka dengan cepat menyerahkan dirinya untuk menyelamatkan istrinya.
" JOEVANKA....!!!!!" Anastasia kembali menangis, memeluk kepala Joevanka dalam lengannya dan mengusap rambut Joevanka keatas dengan cepat dan mendekap tubuh Joevanka dengan erat. " JANGAN SEPERTI INI, BANGUNLAH SAYANG...!!! " Anastasia menangis semakin ketakutan.
Dalam mimpi Joevanka, ia tersenyum.
" Inikah keajaiban Tuhan? apakah aku sedang bermimpi? Aku bertemu daddy, mommy..mereka tersenyum menyambut tanganku...aku bahagia, sangat bahagia. Tapi siapa yang menangis ? Kenapa dia menangis? raungannya begitu menyayat hati...Aku harus kemana? aku harus ikut siapa ? "
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU π
__ADS_1