WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Tidak ingin bertemu


__ADS_3

๐Ÿ’Œ Whisper of love ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


Delia mendengus kasar, ia menatap ponselnya berulang kali. Ia duduk di kursi cafe sembari melirik jam yang ada di tangannya.


" Apa jalan macet? kenapa dia belum datang ? " Delia nampak gelisah, matanya terus menatap ke arah pintu cafe. Delia masih berusaha menahan kesabarannya. Ia bukan tipe orang yang suka menunggu lama.


Delia menatap gelasnya, berulang kali membuang napasnya dengan kasar, tubuhnya terkulai lemas, ia menyenderkan tubuhnya di kursi. Seakan luruh hilang tanpa daya. Rasa kesalnya benar benar menggerogoti hatinya.


" Sampai kapan kau buat aku menunggu Ivander? " Ucap Delia frustasi. Ia menarik oksigen sebanyak-banyaknya dari mulut dan hidungnya lalu menghembuskan napasnya sekaligus.


" Apa kau sengaja menghindariku ? " Geram Delia ingin meluapkan kemarahannya, ia mengatupkan rahangnya dengan kuat.


" Jika benar kau sengaja menghindariku, aku tidak bisa terima, aku tidak terima Ivander! " Delia Mengepalkan tangannya dengan menggebrak meja, terlihat jelas kilatan marah memancar di bola matanya. Napasnya berhembus tidak beraturan.


" Satu jam kau buat aku menunggumu.." Delia tersenyum sinis, menatap ponselnya berulang kali.


Sepuluh menit berlalu.


Delia memutar gelasnya, mengaduk aduk minumannya. Delia tidak percaya dengan dirinya, bisa menunggu Ivander begitu lama. Bosan, kesal dan ingin marah itulah yang dirasakan Delia.


" Kau selalu mengatakan agar memberikanku waktu. Tapi sampai kapan? kapan ? Kapan? "


Delia benar benar tidak bisa menunggu, waktu yang di tentukan Ivander tidak jelas sampai kapan. Delia tidak ingin berpisah dari Ivander, dan apapun alasannya, Delia tidak akan terima. Delia menggeleng dengan cepat. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilnya.


Tidak ada jawaban, Delia menatap ponselnya dengan kesal. Lalu mencoba untuk menghubungi Ivander kembali.


" Dialihkan? " Delia tidak percaya. " Ivander mengalihkan panggilanku? " Delia menatap ponselnya dengan emosi, ia tidak terima panggilannya di alihkan. Dengan cepat Delia mengetikkan sesuatu dalam pesan WhatsApp.


" Lagi dimana sayang, kenapa kau mengalihkan panggilanku, bukankah kita ada janji bertemu di cafe xx. Datanglah aku menunggumu! "


" Angkat ponselmu dong sayang, kita harus bicara dan menyelesaikan masalah kita, aku mohon jangan mengabaikanku, aku bisa gila sayang. "


Tanda pesan sudah centang dua berwarna biru, bertanda pesannya sudah dibaca oleh penerima. Delia tambah geram, Ivander tidak membalasnya.


" Brengsek....!!!!!! " Teriak Dalia membuang gelasnya.


PRAAANGG


Suara beradunya gelas yang pecah berpencar di dinding cafe, membuat pengunjung terkejut dan menatap Delia yang nampak begitu marah. Pengunjung cafe terdengar berbisik. Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut mereka. Tidak berani mendekati Delia yang masih terlihat begitu emosi.


Pelayan cafe langsung menghampiri Delia dan minta pertanggung jawaban atas kekacauan yang dilakukan Delia di Cafe.


" Maaf nona, anda harus bertanggung jawab dengan kekacauan yang anda buat, anda sudah membuat pengunjung di sini ketakutan. " kata pelayan cafe kepada Delia.


" Sudahlah, kau tidak usah basa basi, kau mau minta ganti rugikan? " Ia mengeluarkan beberapa uang kertas dan memberikan kepada pelayan.


" Ini.. ambil uang ini pakai untuk membeli gelas yang telah ku pecahkan itu, urusan selesai, kan ? " Sinis Delia langsung beranjak ingin pergi. Ia tidak perduli tatapan orang orang di cafe.


Namun sebelum Delia melangkah pergi, tangannya di cekal bahkan sampai dicengkeram kuat oleh pelayan cafe itu.


" Enak saja, apa kau pikir uangmu ini bisa menyelesaikan semua kekacauan yang kau buat? " Dengan sekuat tenaga pelayan cafe menarik tangan Delia dan ia tersenyum miring.

__ADS_1


" Apa yang kau lakukan? " kata Delia terbelalak tidak percaya, suaranya terdengar begitu nyaring.


" Apa yang saya lakukan? Seharusnya pertanyaan itu untuk anda. Apa anda lupa, apa yang barusan anda lakukan? " Kata pelayan itu tersenyum kecut. " Sebelum anda membereskan kekacauan ini nona, anda tidak bisa meninggalkan tempat ini. Anda harus bertanggung jawab dan minta maaf kepada pengunjung cafe di sini! " Ucap pelayan menatap Delia dengan geram.


" Apa aku tidak salah dengar? " ejek Delia.


Pelayan mengernyitkan keningnya, kesabarannya benar-benar di uji untuk hari ini. Tadi pagi ia di bentak supir taxi, sekarang ia mempunyai pengunjung tidak waras dan membuat keributan.


" Tidak, anda tidak salah dengar nona, semua itu jelas dan nyata. Anda terlalu banyak alasan saja, sekarang bereskan kekacauan ini, jangan seenaknya pergi . " tegas pelayan cafe .


Delia tertawa hambar, ia menatap pelayan itu dengan tajam.


" Bukankah aku sudah mengganti rugi gelas yang tidak bernilai harganya itu. Aku sudah membayarnya seratus kali lipat dari harga gelas cafe ini? sekarang apa lagi? Cih.. apa kurang banyak? " Kata Delia dengan wajah sangat dingin dan menunjukkan sikap angkuh dan sombong.


" Astaga nona, anda harusnya minta maaf dengan baik bukan cara seperti ini, dasar manusia sombong. Masih banyak orang yang melebihi anda diluar sana, tapi tidak seperti anda nona angkuh dan sombong..! Semoga Tuhan mengampuni dosa dosa anda. " ucap pelayan cafe menyeringai tajam dan sisi bibirnya naik keatas.


" Apa? " pekik Delia tidak terima dirinya dibandingkan dengan orang lain. Apalagi mendengar ujung kalimat dari pelayan cafe itu, membuat emosinya langsung tersulut.


" Kenapa, anda tidak terima? " tantang wanita itu tidak takut.


" Kau hanya pelayan rendahan saja sudah banyak tingkah! dasar brengsek! " Teriak Delia histeris meluapkan emosinya yang dari tadi terkumpul. Delia langsung mendorong tubuh pelayan cafe dan menghajarnya. Membuat semua orang panik dan berusaha memisahkan mereka. Namun tidak berhasil, Delia masih tetap unggul di posisi paling atas walau rambut Delia di tarik hingga membuat Delia kesakitan. Delia di tendang hingga terjatuh.


Delia berusaha menahan tubuhnya yang gemetar karena menahan emosinya. Napasnya terlihat naik turun.


" Kali ini kau kumaafkan! " ucap Delia merapikan pakaian dan rambutnya.


" Ambil ini! " Delia melemparkan uang ke wajah pelayan cafe. " Pakai uang itu, untuk mengobati lukamu. Jika cafe ini tidak ingin di tutup aku harap kau bisa menjaga mulut kotormu itu ! " sinis Delia menatap sang pelayan dengan sinis.


" Apa yang kau lakukan Delia? " terdengar suara bariton yang tidak asing di telinga Delia. Membuat sekujur tubuhnya seperti terpaku dan tidak berani memutar tubuhnya.


" Apa yang kau lakukan Delia? " Ulang Ivander menatap Delia dengan tatapan dingin, ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Delia sudah menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" Dia membuat kekacauan memaki saya tuan! Jadi saya harap anda perlu membawanya ke rumah sakit jiwa. Dia wanita gila! "


Tangisan Delia semakin pecah, ia langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Ivander untuk meminta pembelaan.


" Dia bohong sayang, dia yang berusaha memancing amarahku. " kata Delia menangis untuk menutupi kebohongannya.


" Jelas jelas anda yang membuat kekacauan di sini nona, kenapa anda tidak mengakuinya saja. " ucap salah satu pengunjung cafe.


Delia menggeleng, " mereka bohong sayang! mereka..." belum lagi Delia melanjutkan kata katanya, Ivander sudah melangkah meninggalkan Delia. Ia mulai terlihat geram atas sikap Delia.


Dengan cepat Delia mengejar Ivander.


" Ivander dengarkan aku dulu, Ivander....! " Teriak Delia. Namun Ivander tidak perduli, ia langsung masuk ke dalam mobilnya. Dengan cepat Delia menghadang mobil Ivander dengan kedua tangannya, agar Ivander tidak pergi. Matanya sudah berkaca-kaca, menatap mata Ivander yang terlihat begitu marah.


" Lebih baik aku mati di tanganmu Ivander, dari pada kau tidak mempercayai aku! "


" Selalu itu yang kau katakan. " kata Ivander bergumam pada dirinya sendiri.


Ivander membunyikan klakson mobilnya. Delia menggeleng dan tidak mau beranjak dari tempatnya.


" Aku tidak akan pergi sebelum kau mendengarkan penjelasanku, kita harus menyelesaikan masalah kita sayang, kita harus bicara ivander, jangan siksa aku seperti ini ! " Kata Delia setengah berteriak, ia tidak perduli jika orang orang sedang memperhatikan mereka.


DELIA SMITH


__ADS_1


Ivander hanya menatap Delia yang berdiri di depan mobilnya dengan pandangan nanar. Menghembuskan napas panjangnya. Namun tidak sedikit pun untuk mengurangi rasa kekesalannya kepada Delia. Alis nya melengkung ke tengah.


" Ivander kita harus bicara. " Delia mengulangi perkataannya.


Akhirnya Ivander keluar dari mobilnya. Ia berjalan mendekati Delia dengan wajah dingin dan kaku. Menunggu di posisinya sambil memasukkan tangan ke dalam kantong celananya.


" Sekarang apa yang ingin kau katakan? "


Ivander menatap Delia dengan wajah penuh penghakiman. Terlihat tidak suka, muak, bahkan Ivander tidak ingin melihatnya. Ia sendiri melihat jelas apa yang terjadi di cafe itu. Namun Ivander menginginkan kejujuran dari Delia tapi kenyataannya dia selalu mengulangi hal yang sama. Ia menunggu Delia untuk bicara.


" Maafkan aku Ivander..." kata Delia dengan nada lirih. Ia menundukkan wajahnya. Saat ini tatapan Ivander sudah siap menghunus jantungnya.


" Kau tidak melakukan kesalahan untukku, untuk apa kau minta maaf ? " tukas Ivander dengan nada dingin.


Delia semakin menunduk, perkataan Ivander benar benar menyindirnya.


" Bukan kah seharusnya kau minta maaf kepada pelayan cafe itu? " kata Ivander menatap sinis kepada Delia, Alisnya sudah terangkat.


" Dia yang salah Ivander, buat apa aku minta maaf! " protes Delia membuang mukanya tidak suka.


" Aku melihat semuanya Delia, apa lagi alasanmu? "


" Aku tidak bersalah Ivander !!! " Delia sudah meninggikan suaranya.


" Lagi, lagi dan lagi... kau berbohong Delia, aku muak dengan semua kebohonganmu.


Apa tidak ada sedikitpun kejujuran darimu Delia, ha..? " tengking Ivander meninggikan suaranya, ia mulai jengah dengan sikap Delia, ia menatap wanita itu dengan tajam.


" Apa maksudmu Ivander? " kata Delia terkejut.


" Aku tidak ingin menjelaskan dari awal sampai akhir Delia, yang jelas semua yang ku dapat dari kau hanyalah kebohongan saja. Sekarang aku tidak ingin bertemu denganmu. " Ucap Ivander dengan nada sangat dingin.


" Aku benar benar tidak mengerti apa maksudmu Ivander, aku tidak ingin kau seperti ini? " ucap Delia frustasi melihat sikap Ivander. Ia memegang tangan Ivander, namun dengan cepat ia menepisnya.


" Aku mohon Delia, untuk saat ini aku tidak ingin bertemu! " kata Ivander menekan setiap perkataannya. Terdengar begitu tegas.


" Aku tidak ingin kita berpisah Ivander! " Delia menyadari apa maksud perkataan Ivander. Ia terduduk lemas di hadapan ivander. Air matanya yang sedari tadi berkumpul di kelopak matanya, tumpah begitu saja.


" Aku minta maaf Ivander! Aku tidak bermaksud untuk membohongimu. " keluh Delia dengan tangisannya. Ia menatap Ivander yang berdiri mematung di posisinya.


" Semua itu tergantung ke dirimu, aku ingin kita benar benar introspeksi diri. Aku akan memutuskan sendiri kapan kita akan membicarakan hubungan ini, apa mau di lanjutkan apa tidak itu semua ada di tanganmu, tapi untuk saat ini aku tidak ingin bertemu. " Kata Ivander melangkah meninggalkan Delia yang menangis memanggil namanya.


" Ivander....Aku mohon jangan lakukan itu. " Teriak Delia semakin menangis, perasaannya benar benar kalut, bingung, takut dan khawatir.


Ivander dengan terburu-buru menghidupkan mesin mobilnya. Ia menginjak penuh pedal kopling, dan memasukkan persneling mundur, Ivander berlahan memundurkan mobilnya memperhatikan kondisi belakang, agar tidak mengenai Delia yang masih terduduk di depan. Ketika di rasanya cukup Ivander dengan cepat memutar mobilnya dan menginjak pedal gasย untuk menjalankan mobilnya. Ivander meninggalkan parkiran cafe.


" Ivander...!!!!! " Teriak Delia kembali menangis, bahunya bergetar menahan goncangan tubuhnya karena isak tangisnya. Ia menunduk dan memejamkan matanya, tatapannya lemah melihat kepergian mobil Ivander yang melaju pergi meninggalkannya.


Hatinya hancur berkeping keping tanpa sisa.


BERSAMBUNG


# Salam sehat untuk kalian yang selalu menunggu up date cerita ini ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜


.


.


๐Ÿ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐Ÿ’Œ

__ADS_1


๐Ÿ’Œ BERIKAN VOTEMU ๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN BINTANGMU


__ADS_2