WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Merindukan Mereka


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Joevanka melangkah gontai meninggalkan dapur, ia masuk kedalam kamarnya dan menangisi dirinya disana. Joevanka menyenderkan tubuhnya di pintu kamar dan rasa sedih ini kembali menyeruak, ia kembali menangis. Berlahan lahan tubuhnya merosot turun kebawah.


Joevanka duduk dan menyenderkan punggungnya dipintu, ia membenamkan wajahnya diantara kedua kakinya. Tubuhnya bergetar menahan goncangan tubuhnya oleh Isak tangis yang tertahan. Empat bulan disini, bukan mudah bagi Joevanka. Ia menyimpan kesedihannya agar tidak terlihat orang. Namun kenyataannya? ternyata ia benar benar paling menyedihkan di dunia ini.


" Aku berharap kau jangan terlalu banyak diam dan membuat dirimu terlihat bodoh. Kau itu bukan pembantu dirumah ini. "


Semua itu ia lakukan agar bisa menutupi kesedihannya, agar ia bisa melupakan kematian orangtuanya. Sungguh Joevanka tidak menginginkan seperti ini. Ia hanya membalas kebaikan orang orang yang menyayanginya. Bukan ingin terlihat bodoh dan menganggapnya sebagai pembantu. Mommynya mengajarkannya agar bisa membalas budi jika orang itu membantu dan menolong kita. kita harus mempunyai cara untuk membalasnya. Bukan karena Joevanka ingin terlihat bodoh didepan mereka. Joevanka benar benar tidak menginginkan seperti ini. Ia kembali menangis, semenjak kematian kedua orang tuanya Joevanka memang terlihat cengeng. Padahal ia dikenal wanita paling kuat dan mandiri. Tapi sekarang rasa percaya diri itu hilang begitu saja.


Joevanka mendongak keatas, menatap gambar kedua orangtuanya yang sengaja digantung di dinding kamarnya. Yang bisa ia lakukan hanya melihat gambar itu, mata indah Joevanka kembali mengkristal penuh dengan air bening yang sudah jatuh dipipinya.


Rasa sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia sembunyikan. Joevanka sedikit terisak.


Sesak dan hampa itulah yang dirasakannya. Perasaan Joevanka saat ini seperti berteriak tapi tidak mengeluarkan suara. Ia disergap rasa rindu yang teramat menyakitkan. Ia ingin memeluk kedua orangtuanya tapi itu tidak mungkin.


Joevanka melangkah menuju meja tempat ia biasa menulis disana. Ya, dengan cara melepas goresan pena, Joevanka bisa melepas rasa sedihnya. Dengan berurai air mata joevanka mulai menulis untuk melepas rasa rindu yang menerpa dirinya. Sesekali ia menyeka air matanya yang tergelincir jatuh keatas buku diary-nya.


*** Saat rindu ini datang menerpa,


Aku hanya bisa duduk berdiam diri disini.


Berharap mungkin kalian bisa datang untuk memelukku,


atau sekedar untuk bertegur sapa.


Namun,


Kenyataannya rindu ini tidak terbalaskan


Aku tidak bisa memeluk langsung


aku tidak bisa berbicara langsung


Kalian sudah pergi jauh meninggalkanku seorang diri di dunia ini.


Saat ini aku hanya bisa menyeka air mata

__ADS_1


dan mengenang kenangan yang tersisa.


Tak ada daya dan upaya,


Selain berkirim doa.


Untuk kalian yang kusayangi yang sudah tiada....


Gores demi gores tinta memunculkan sajak nan bermakna


Berusaha mengungkapkan namun tak memakai suara.


Berusaha bercerita namun tak ingin lagi dengan air mata..


tapi hati ini tidak bisa


Rindu ..rindu...aku hanya bisa merindu ***


Joevanka tidak sanggup melanjutkan tulisannya. Ia menutup bukunya dengan kasar. Bahu Joevanka kembali bergetar, ia terus menunduk dan memejamkan matanya. Tatapannya lemah, beberapa tetesan air matanya terjatuh keatas buku.


Perasaannya benar benar hampa dan menyakitkan. Ia benar benar merindukan Kedua orang tuanya.


Tiba tiba terdengar ketukan pintu dari luar.


Tok tok tok


" Kamu kenapa Joe? " ucap Samuel memiringkan kepalanya dan menatap Joevanka yang menundukkan kepalanya.


" Apa karena perkataan Ivannia tadi, kamu menangis ? " tanya Samuel kembali.


Joevanka menggeleng pelan, Ia semakin menyembunyikan wajahnya dan ia tidak mau membuka suaranya.


" Jadi kenapa kamu menangis? kamu bisa cerita kepadaku Joe. Aku bisa menjadi teman curhatmu. Percayalah aku bukan tipe lelaki yang mulut ember yang bergosip kemana mana. " ucap Samuel meyakinkan joevanka dengan kata katanya.


Mendengar kata kata Samuel, Joevanka semakin membenamkan wajahnya, ia menahan senyumnya karena mendengar ucapan Samuel. Melihat tingkah Joevanka Samuel menjadi salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Apa ada yang lucu? Aku serius Joe! Aku berharap kamu bisa menganggapku sebagai teman ceritamu ! " ucap Samuel memandang lekat lekat kepada Joevanka.


Melihat tatapan Samuel, Joevanka terlihat gugup. Ia membuang mukanya dan menatap kearah lain. Samuel melepas tatapan seriusnya lalu ia mengangguk tanda mengerti.


" Hmmmm....tidak mau menjawab ya? sepertinya aku paham, kamu masih ragu dengan ketulusanku, maaf jika kamu tidak mau bercerita, aku tidak akan memaksa. " kata Samuel tersenyum, namun terlihat jelas diujung kalimatnya terdengar ia begitu kecewa. Ia mengerti, Joevanka tidak mau berbagi cerita kepadanya.


" Tidak ! ehmmm... maksudku..." Joevanka menggantung kalimatnya. Ia kembali menundukkan kepalanya. Mata Joevanka kembali berkaca kaca. Samuel masih menunggu joevanka berbicara.


" Aku merindukan orang tuaku Samuel. " Akhirnya Joevanka bercerita. Terdengar nada suara joevanka bergetar, ia menahan perasaan yang bergejolak didalam dadanya. Perasaan rindu kepada kedua orangtuanya yang tidak bisa ia gambarkan. Ia mendongak dan melihat Samuel kini wajahnya sudah berubah sedih.

__ADS_1


" Aku menangis, karena merindukan mereka. Untuk melepaskan rasa rinduku saja aku tidak bisa Samuel, aku tidak bisa berkunjung ke makam mereka. Jadi yang aku lakukan hanya bisa menangis dan menatap foto mereka. " kata joevanka dengan nada suara seperti tercekat dileher. Ia kembali menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Samuel melangkah pelan, dan memeluk Joevanka. Hatinya begitu tersentuh mendengar penuturan Joevanka. Dengan refleks Joevanka membalas pelukan Samuel.


Ia menumpahkan segala kesedihan hatinya di dada Samuel. Agar rasa sesak didalam dadanya terlepas semua.


" Aku benar benar merindukan mereka.." Isak Joevanka kembali menangis, tangisan terdengar pilu.


Samuel memejamkan matanya, ia ikut merasakan kesedihan joevanka. Tentu ia mengerti bagaimana hancurnya hati gadis lembut ini ketika kedua orangtuanya meninggal dihari bersamaan.


Samuel hanya diam dan membiarkan Joevanka menangis. Dengan lembut Samuel menghusap punggung Joevanka. Ia lakukan berulang kali agar Joevanka merasa tenang.


Sementara Ivander hanya bisa berdiri dan diam terpaku ditempatnya. Ia mendengar semua pembicaraan Samuel dan Joevanka. Perasaannya saat ini campur aduk.


Ivander menarik oksigen sebanyak banyaknya dari mulut dan hidungnya. Ia mengumpulkannya di paru-paru lalu menghembuskan napasnya sekaligus.


Ia mengatur napas dan kembali berjalan meninggalkan kamar Joevanka.


Awalnya Ivander hanya menyusul Samuel yang belum muncul ketika ia diperintahkan mommy untuk memanggil Joevanka. Karena tidak kunjung datang. Ia kembali keatas menemui Samuel. Karena jam makan malam sudah waktunya. Daddy tidak bisa menunggu lama jika itu menyangkut soal makan.


" Dimana joevanka? " Kata Anastasia masih sibuk menata meja.


" Sebentar lagi menyusul mom! " kata Ivander mengambil posisi duduk disebelah Daddy-nya. Sementara Ivannia sibuk membalas chattingan dari ponselnya. Ivander melihat kedatangan Samuel dengan Joevanka dengan tatapan tidak terbaca. Tiba tiba wajahnya berubah tanpa ekspresi.


" Maaf Aunty, kami terlambat turun. " Kata Joevanka membungkukkan badannya dan langsung mengambil posisi duduk disamping Ivannia.


" Tidak apa apa sayang, kita belum makan juga." Kata Anastasia tersenyum.


" Apa kamu hanya tim patroli saja Samuel? " Kata Ivander mengangkat setengah alisnya.


" Tentu tidak, justru aku ingin cepat cepat makan dan menikmati masakan dari Joevanka. " Kata Samuel tersenyum smrik, ia melirik Joevanka dan mengerlingkan salah satu matanya. Melihat itu Ivander merasa jengah, ia berdecak kesal sampai terdengar oleh Joevanka.


Joevanka hanya diam dan menundukkan kepalanya. Ia tahu jika Ivander tidak terlalu menyukainya. Terlihat dari sikap Ivander yang selalu jaga jarak dengannya dan selalu membatasi jika mereka berbicara.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ

__ADS_1


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU


__ADS_2