
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Halbret sudah melakukan pembayaran melalui Imperial Card. Jadi Ivander bisa langsung membawa Joevanka pergi. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan hujan benar benar sudah berhenti. Ia menggendong tubuh Joevanka dengan kedua tangannya keluar dari ruangan. Ivander tidak perduli jika semua mata memandangnya. Ia terus berjalan sampai ke parkiran.
Ivander memasangkan sabuk pengaman ke tubuh joevanka.
Lagi lagi ia tertegun sambil menatap wajah Joevanka dari dekat. Ivander menyelipkan anak rambut ke telinga Joevanka. Mencium keningnya dengan lembut. Lalu mengatur duduknya agar ia nyaman dengan tidurnya. Senyuman kecil kembali tersungging di bibirnya.
Ivander membawa mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan restoran. Sambil membawa Joevanka yang tertidur lelap. Ada kebahagiaan menggelitik hatinya. Ia tersenyum sambil memasukkan jari jarinya ke sela-sela jari milik Joevanka. Sepanjang jalan Ivander terus bernyanyi mengikuti lagu dari audio mobil. Ia tidak mau melepaskan tangannya. Ia bahkan menggenggamnya erat seakan menyatakan kepemilikannya. Kebahagiaan ini benar benar merayapi hatinya.
" Aku tidak sabar memilikimu sebagai kekasihku Vanka. " Lirih Ivander sambil mencium punggung tangan Joevanka dengan lembut.
DALAM KAMAR JOEVANKA
Butiran keringat yang meluncur deras membasahi keningnya. Matanya bergerak terus. Kepalanya menggeleng pelan. Rasa sakit itu kembali lagi. Tubuhnya seperti menggigil. Joevanka memegang kepalanya yang begitu sakit. Namun matanya masih tetap tertutup.
Terdengar Joevanka meringis kesakitan.
Joevanka gelisah dan terus mencoba untuk mengangkat kedua kelopak mataku yang sejak tadi masih terpejam, terkunci dengan sempurna.
" Obat...obat...! " Joevanka bergumam berusaha membuka matanya yang masih terasa berat dan layu. Perlahan-lahan matanya terbuka, menatap langit langit kamar. Joevanka menatap lurus, melihat jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari.
" Ssssshhhhh..." Joevanka meringis kesakitan. " Astagaa kepalaku sakit sekali. " Joevanka kembali menegakkan pandangannya, ia merubah posisinya dengan duduk. Mendorong tubuhnya ke belakang sampai terhenti ke sandaran kasur. Joevanka kembali meringis kesakitan. " Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku sakit sekali? " Keringat masih membasahi keningnya.
Tiba tiba perutnya mual, Joevanka berlari sedikit oleng menuju toilet. Joevanka memuntahkan isi perutnya tanpa sisa. Setelah puas, memuntahkan isi perutnya. Joevanka bangkit dengan memegang dinding kamar hotel. Tubuhnya lemah dan ia kembali berjalan sedikit oleng. Joevanka terjatuh dipinggir tempat tidur dan meletakkan kepalanya pinggiran kasur.
" Kepalaku.., sakit sekali! Sakitnya luar biasa... Gavin dimana kau...? " Joevanka berusaha bangkit berjalan meraih tas yang ada diatas nakas.
" Oh, sakitnya? sakit dan sangat sakit. AAARGGHH..." Joevanka terus meringis dan menahan kesakitan sampai mencengkeram bagian kepalanya, Ia bahkan mengurut bagian kepalanya agar mengurangi rasa sakit.
Joevanka mengeluarkan isi tasnya tanpa sisa. Mencari obat yang ada di botol kecil. Ia mengambil air yang memang sudah disediakan pihak hotel. Joevanka menelan beberapa butir obat yang diambilnya dari tas.
" Semoga aku baik baik saja, aku memang sudah gila. Menghabiskan satu boto wine. Oh my God, apa kamu gila Vanka.... Beruntung kamu masih hidup? " Joevanka merutuki kebodohannya.
Haaaaahhh Joevanka membuang napas lega ketika obat itu sudah masuk kedalam tubuhnya. Ia memilih tidur kembali ketempat tidur. Menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. perlahan-lahan matanya kembali terpejam akibat reaksi obat yang dimakannya.
Di PAGI HARI YANG CERAH.
Pagi hari yang indah, langit terlihat cerah. Terlihat beberapa gulungan awan putih menggulung begitu indah.
Joevanka masih berada di dalam selimut. Efek obat yang dimakannya, rasa kantuknya masih menguasainya.
Tubuhnya masih nyaman berbaring.
Walau alam kesadarannya mulai muncul namun ia masih malas membuka matanya.
TING NONG
Bunyi bel dari kamar Joevanka berbunyi.
" Siapa juga pagi-pagi sudah datang, apa itu Gavin? " Joevanka menyibak selimut dari tubuhnya, Lalu berdiri menuju pintu.
CEKLEK
Joevanka membuka pintu kamar hotel, rambutnya acak-acakan. Matanya memicing melihat seseorang yang berdiri didepan pintu.
" Gavin..? "
" Selamat pagi Joe, bagaimana perasaanmu setelah membuat kekacauan semalam? " Kata Gavin tersenyum smrik sambil mengangkat setengah alisnya.
Joevanka mengerucutkan wajahnya. " Masuk!!! " Kata Joevanka berjalan duduk di tepi ranjang.
" Hei, kau belum bersiap? Pak direktur memintamu menemuinya Joe. " Kata Gavin mengikuti langkah Joevanka.
" Kenapa pak direktur tiba-tiba ingin menemui ku Gavin? " Joevanka mengernyit bingung.
" Aku juga tidak tahu." kata Gavin.
" Bagaimana perasaanmu setelah membuat kekacauan Joe? " tanya Gavin kembali.
" Kekacauan apa ? "
" Ehmm...Aku bodoh bertanya sama orang mabuk ya, pastilah kau tidak tahu. Huftt..." ejek Gavin sambil membuang napasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Hei...aku buat kekacauan apa Gavin?" Tanya Joevanka tidak sabaran.
"Kau membuatku gila dan memaki seseorang terus dan kau tahu? matamu terus mengarah kepada pak direktur. Itu yang membuatku tidak kuat Joe dan ingin menarikmu keluar dari restoran itu."
"Heuh? Kamu serius? " Mata Joevanka membulat sempurna.
" Apa kamu lihat wajahku menunjukkan kebohongan Joe?" Tanya Gavin mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan joevanka. " Sekarang yang menjadi pertanyaan ku, Apa kau buat kekacauan lagi setelah pak direktur mengantarmu pulang? " Gavin memicingkan matanya menatap Joevanka.
" Apa maksudmu? "
" Joevanka... setelah kau tertidur, pak direktur yang mengurus kekacauan yang kau buat. " Jelas Gavin.
Glek.. Joevanka menelan salivanya, ia bangkit dan terdiam mematung di posisinya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Saat ini lidahnya keluh bak dipatuk ular. Ia terdiam menyisir rambutnya ke atas dan tangannya yang kiri memegang pinggangnya.
" Jadi yang pulang bersamaku bukan kau? " Joevanka sangat terkejut.
" Ya, pak direktur yang mengantarmu pulang Joe. " Kata Gavin santai, namun sepersekian detik wajahnya berubah. " Jangan katakan kau membuat kekacauan Joe? " Gavin menaikkan alisnya setengah.
Joevanka saat ini tidak bisa menutupi keterkejutannya. Mendengar dari Gavin bahwa yang mengantarkannya pulang adalah pak direktur.
Ia menggigit bibir bawahnya, memandang Gavin sekilas lalu melarikan lagi pandangannya. Joevanka berubah gelisah, pikirannya tidak tenang. Mencoba mengingat potongan potongan kalimat yang ia ucapkan semalam.
" Ada apa denganmu Joe? "
" Apa yang aku katakan kepadanya? " Joevanka menepuk kakinya gelisah. Mencoba sekuat tenaga mengingat.
" Joe, kau tidak menjawabku. Apa yang terjadi? "
" Aku bisa gila Gavin. "
" Kenapa, jawab dulu..."
" Sepertinya tadi malam aku memaki pak direktur. Apa yang harus aku lakukan? "
" Oh my God...Aku sudah menduga itu Joe, bagaimana ini. Kau harus minta maaf. "
" Minta maaf? Jangan mimpi aku akan minta maaf kepada pak direktur. "
"Lah, Kenapa? " Gavin mengernyitkan keningnya, ia bingung dengan perkataan Joevanka.
" Apa yang harus aku lakukan? " keluh Joevanka menggeleng lemah.
" Minta maaf. " jawab Gavin singkat.
" Memang kamu pikir, Masih ada di atas kata minta maaf? Kalau ada ya kau cukup mengatakannya."
"Kenapa tambah hari kau mengesalkan Gavin?" Kata Joevanka sedikit kesal.
"Yang aku katakan benar kan? " Gavin tersenyum dan mengacak rambut Joevanka dengan acak. Sekarang kau mandi ! Pak direktur sudah menunggumu. "
Gavin melangkah keluar meninggalkan Joevanka yang terdiam di tempatnya.
"Kau mau kemana Gavin? "
"Aku tunggu 30 menit Joe, jangan sampai pak direktur menunggumu. l" Gavin mengingatkan.
"Ya Tuhan, jadi aku itu bicara sama Pak direktur? Bukan kepada Gavin? Bagaimana ini, AHHHHHHH..." Joevanka begitu frustasi. Jantungnya memicu dengan kencang. Ia mengacak rambutnya dengan kasar.
"Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana jika beliau marah?" Joevanka menepuk kepalanya dengan pelan secara berulang kali. Berusaha mengingat apa saja yang ia katakan kepada pak direktur.
" Dasar bodoh..." Joevanka bergegas untuk membersihkan tubuhnya. " Mau di taruh dimana wajahku? " Teriak Joevanka didalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya. Joevanka sudah bersiap menemui pak direktur.
" Huftt..." Joevanka menghembuskan napasnya. " Sekarang anggap saja tidak terjadi apa apa Vanka. Jika bertemu dengan beliau, bersikap biasa biasa saja, oke! " Joevanka menyemangati dirinya.
Joevanka sampai di kamar pak direktur. Ia mengetuk pintu dan menunggu jawaban dari dalam.
Pintu mulai terbuka pelan, Ivander muncul di balik pintu.
DEG DEG DEG entah mengapa tiba tiba jantungnya Joevanka terpukul lebih kencang ketika melihat Ivander tersenyum menyambut kedatangannya. Ia berdiri tegak dengan menyandarkan salah satu bahunya di dekat pintu dengan kedua tangannya bersedekap.
" Kamu datang Vanka...? Silahkan masuk! " Ivander menarik tangan Joevanka dengan lembut.
Joevanka tersentak, Ia melihat tangan Ivander menuntunnya masuk ke dalam. Ivander kembali tersenyum, pandangannya tidak mau lepas memandang Joevanka.
" Pak...saya..." Joevanka mengucapkan Kalimatnya dengan gagap.
" Sssstttt...." Ivander meletakkan jarinya ke mulut Joevanka. Sampai membuat Joevanka terbelalak atas tindakan Ivander.
Ivander menghimpit tubuh Joevanka ke dinding kamar hotel sampai membuat Joevanka membelalakkan matanya terkejut dengan kedekatan mereka.
__ADS_1
" Saya ke sini hanya minta maaf atas kejadian semalam pak, saya sudah membuat kekacauan, jikapun saya mengeluarkan kata kata yang membuat anda tidak nyaman. Maafkan saya pak! " Kata Joevanka menarik napas dan berusaha berpijak pada tingkat kesadaran yang nyata.
Ivander mengernyitkan keningnya, ia hanya tersenyum sambil menaikkan alisnya lebih tinggi.
" Maaf untuk apa Vanka, aku bahkan berterima kasih karena engkau telah jujur mengatakan perasaanmu. Kita bisa memulai dari nol lagi. Memulai hubungan yang baik dengan saling mencintai. ehm.."
Hahahaha Joevanka tertawa. " Apa maksud bapak? Aku tidak mengerti." Joevanka mendorong tubuh Ivander, agar ia terbebas dari himpitan Lelaki itu.
" Vanka, ingatanmu sudah kembali. Kita saling mencintai. Kita bisa memulainya lagi." kata Ivander matanya masih mengunci Joevanka.
" Anda percaya kata kata orang mabuk pak? " Joevanka berdecak dan menatap Ivander, sambil menaikkan sisi bibirnya naik keatas.
" Vanka...orang mabuk itu berkata jujur.
Semuanya sudah jelas, setiap hembusan napasmu hanya menyebut namaku. Kita saling mencintai apa yang salah dengan itu? " Ivander berusaha meyakinkan Joevanka.
Tiba tiba suara ketukan pintu terdengar, Ivander melangkah membuka pintu dan melihat Jasmine masuk begitu saja, sebelum di persilahkan.
" Kau...? " Jasmine menatap Joevanka dengan tatapan sinis.
" Kalau begitu, saya permisi dulu pak.. sepertinya tidak ada lagi yang harus dibicarakan. " Kata Joevanka pamit undur diri.
" Vanka kita belum selesai. "
" Maaf pak, hal pekerjaan kita bisa bicarakan kantor. " Ucap Joevanka kembali dan berlalu pergi meninggalkan kamar pak direktur.
" Sombong sekali dia, cih.. ada urusan apa dia, sampai kau menghubungi sekretarismu datang kesini Ivander? " tanya Jasmine membawa berkas yang ada ditangannya.
" Sekarang serahkan dokumen yang mau di tandatangani. Hari ini terakhir hubungan kerjasama kita kan? Semoga seterusnya berjalan dengan baik. " Kata Ivander menyerahkan dokumen itu kembali setelah ia selesai menandatangani dokumen itu.
" Kau boleh keluar ! " Kata Ivander.
Namun sepersekian detik Jasmine terkejut sambil mengernyit bingung ketika melihat Ivander berlari. Ivander langsung kembali keluar mengejar Joevanka. Ivander mengusap wajahnya dengan kasar ketika melihat pintu lift tertutup.
" Permisi pak, anda mencari seorang wanita menggunakan baju warna putih ya? "
" Ya pak, saya mencarinya. Bapak melihatnya?" Tanya Ivander tidak sabar.
" Dia berjalan menggunakan tangga darurat pak. " Kata pria itu.
" Terima kasih pak. " ucap Ivander tersenyum kepada petugas cleaning service.
Ia langsung berlari menuju pintu untuk mengejar Joevanka. Namun Langkahnya melambat ketika mendengar suara tangis yang tidak asing didengarnya. Joevanka sedang membenamkan wajahnya diantara kedua kakinya dan sedang menangis.
" Vanka....! Panggil Ivander, kini berada dihadapannya.
Joevanka menghentikan kegiatan menangisnya. Ia mendongak keatas dan melihat Ivander sedang berdiri.
" Apa kau meragukan cintaku Vanka? "
Joevanka menutup erat mulutnya, agar tidak bersuara. Wajahnya memerah dan mengerut. Ia kembali menangis lagi, melihat sosok Ivander.
" Apakah kau tidak bisa membuka hatimu Vanka? "
Joevanka menggeleng, hatinya sakit mendengar kata kata itu, sejujurnya ia sangat mencintai Ivander.
" Baiklah, jika memang kau tidak bisa membuka hatimu, aku akan membiarkanmu pergi dan melepaskanmu. Aku tidak bisa menahanmu jika engkau selalu menangis seperti ini. Maafkan aku Vanka, semua itu aku lakukan karena aku sangat mencintaimu. Aku akan memberikan surat perpindahanmu ke Australia. " ucap Ivander dengan suara terendahnya. Ia berusaha tersenyum walau hatinya begitu sakit.
" Terima kasih menjadi sekretarisku selama tiga bulan Vanka. Aku harap kau menemukan kebahagiaanmu. " Kata Ivander menepuk pundak Joevanka dengan lembut. Ia perlahan berjalan menaiki tangga untuk meninggalkan Joevanka.
" Siapa yang mengizinkanmu pergi Ivander? " Ucap Joevanka dengan pandangan nanar. Ia kembali menangis melihat sosok yang diam membeku tanpa ekspresi.
.
.
BERSAMBUNG
β£οΈ Maaf my readers tersayang atas keterlambatan ini. Karena saya memang lagi sibuk di dunia nyata. Ngurus anak tiga, belum lagi bapaknya π€£π€£π€£
β£οΈ Terima kasih masih setia menunggu. Semoga tetap suka ya.
Happy weekend ya my readers tersayang.
Salam sehat buat kita semua π₯°
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
__ADS_1
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMUπ