WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Menikmati sejuknya malam.


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


" Gavin....." Joevanka berteriak dan melompat ditempat. Ia melambaikan tangannya agar Gavin melihatnya. Joevanka memajukan langkahnya mendekat ke pria itu. Ketika melihat Gavin keluar dari pintu kedatangan. Ia semakin mempercepat langkahnya dan tersenyum kepada pria itu. Joevanka tidak sabaran ia langsung berlari.


BRUKK


Joevanka berhambur kepelukan Gavin yang langsung merentangkan tangannya untuk memeluk Joevanka. Pelukannya begitu erat sampai membuat Gavin tidak bisa bernapas.


" Astaga Joe, aku tidak bisa bernapas. Apa kau ingin membunuhku? " protes Gavin.


" Biarkan seperti ini dulu gavin, aku terlalu merindukanmu. " keluh Joevanka dengan suara parau.


" Baru juga dua bulan tidak bertemu. Kau sudah seperti anak yang kehilangan ayah." ujar Gavin terkekeh. Joevanka mencubit lembut perut gavin. Sampai membuat Gavin mengeluh kesakitan.


" Ini sudah mau tiga bulan Gavin, aku memang merindukan ayahku yang bawel seperti kau. " kata Joevanka.


" Hiks hiks hiks " Terdengar sayup sayup suara isak tangis Joevanka.


Tubuh Gavin membeku, ia merasakan tetesan air mata joevanka basah mengenai bajunya.


" Kamu menangis ? " Tanya Gavin mengernyitkan keningnya. Ia mendorong pelan bahu Joevanka hingga pelukannya terlepas, ia menatap wajah Joevanka.


" Siapa yang menangis. Aku kelilipan Gavin, aduh..." Ia dengan cepat menghapus air mata di ujung pelupuk mata. Joevanka membuka mulut menarik napas dan mendongak ke atas. Mencoba sekuat tenaga menahan air matanya. Ia menunduk ketika Gavin menatapnya dengan lekat.


Gavin tersenyum sendu, mengangkat wajah Joevanka yang sudah merah dan matanya sudah basah karena air mata.


" Setiap aku menghubungimu, kau selalu mengatakan kau baik baik saja, apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui Joe? "


Joevanka menggeleng, air mata yang sedari tadi berkumpul di kelopak matanya terjatuh begitu saja. Dengan cepat ia mengusapnya. " Aku baik baik saja, aku hanya terlalu merindukanmu Gavin. " Kata Joevanka memberikan senyuman terbaiknya.


" Baiklah, kalau begitu untuk melepaskan kerinduan kita, bagaimana kalau kita makan dulu, habis itu kita bisa bersenang-senang. Bagaimana putri cantik? " usul Gavin agar Joevanka tersenyum.


Benar saja, Joevanka tersenyum dan mengangguk.


" Apa ada tempat makan yang terbaik di sini Joe? "


" Aku tahu Gavin, kita bisa ke sana. "


" Oke kita bisa ke sana. Kau bisa mengajakku kemana pun yang kau mau. Hari ini kita bersenang-senang. Besok tugas sudah menunggu kita Joe. "


Mobil mereka melaju meninggalkan airport. Joevanka hari ini menjadi supir pribadi Gavin. Mereka menuju restoran mewah Jepang yang ada dikota xx. Hari ini Joevanka membawa Gavin menikmati makanan shabu-shabu.


" Sudah pernah makan ini Gavin? " Joevanka mencondongkan tubuhnya, setengah berbisik kepada Gavin.


Gavin hanya menggeleng, dia hanya serius melihat Joevanka menata setiap bahan bahan makanan dipinggir kompor.


" Aku menyukai tempat ini, semenjak seseorang pernah membawaku menikmati shabu-shabu di restoran ini. Sekarang tempat ini menjadi tempat favorit ku Gavin. Aku hanya ingin kau ikut merasakan bagaimana makanan enak di sini. Aku akan menikmati makan malam dengan baik bersamamu Gavin. "


" Benarkah? "


" Ehm..." Joevanka mengangguk antusias.


Joevanka menyalakan api, " Kita tunggu hingga dashi jiru-nya mendidih, Gavin. " Kata Joevanka tersenyum dan tangannya bergerak cepat mempersiapkan saus tare.


" Sepertinya kamu sudah biasa makan di sini Joe. "


" Ehm, aku pernah datang bersama teman teman dan seseorang juga ke tempat ini."


" Seseorang? " Gavin mengernyitkan keningnya. " Siapa dia? "


" Oke, airnya sudah mendidih Gavin, sekarang kita masukkan sayur seperti daun bawang, lobak, serta tahu terlebih dahulu." Joevanka bergerak cepat.

__ADS_1


" Joe, kau tidak menjawab pertanyaanku. " keluh Gavin melihat Joevanka masih terlihat serius memasukkan beberapa jenis sayuran kedalam panci.


" Ada deh..." Kata Joevanka mencondongkan tubuhnya dan ia kemudian terkekeh.


Gavin menelan salivanya, ia mulai tertarik ingin mencoba shabu-shabu buatan Joevanka.


" Apa sudah bisa di nikmati Joe? " Kata Gavin berkedip cepat ketika Joevanka memasukkan bahan makanan kedalam panci yang berisi kaldu.


Joevanka menghalangi Gavin menghentikan tangannya dengan sumpit yang ia pegang. Ia membuat gestur tidak mengizinkan Gavin menikmati makanan.


" Sabar, kita bisa menikmatinya sepuluh menit lagi, oke! " Joevanka tersenyum melihat wajah Gavin mengerucut ke bawah.


Joevanka kembali memainkan tangannya, mengambil satu lembar daging menggunakan sumpit, lalu celupkan ke dalam kuah sehingga seluruh bagian daging masuk ke dalam kuah sambil Joevanka ayun-ayunkan.


" Kamu tahu Gavin kenapa harus digerakkan seperti ini? " Joevanka menunjukkan tangannya sambil mengayunkan sumpitnya.


" Apa harus seperti itu? " Tanya Gavin menautkan kedua alisnya.


" Tentu saja, gerakan itu disebut dengan shabu-shabu. Anda sekarang paham tuan Gavin? "


" Kamu serius? "


" Ehm, apa kamu sekarang meragukanku? Aku bisa masak karena mommy ku yang hebat. "


" Kita sudah bisa makan Gavin, selagi masih hangat.


" Sepertinya enak Joe. "


" Coba saja, jangan lupa celupkan ke saus tare dan yakumi yang sudah aku siapkan tadi." ujar Joevanka.


" Selamat menikmati Gavin. " Joevanka tersenyum melihat Gavin menikmati makanan secara perlahan-lahan karena memang masih panas. " Bagaimana? " Tanya Joevanka kembali mencondongkan tubuhnya kedepan. Seakan meminta penilaian dari juri.


" Astaga seenak ini Joe? " Gavin memberikan kedua jempolnya kepada Joevanka. " Sumpah enak sekali Joe. "


Joevanka tersenyum singkat, Joevanka bisa menikmati makannya sekarang. Mereka sambil berbincang-bincang, bagaimana pertemuan pertama mereka pada saat di London. Sekarang Joevanka menjadi pemandu perjalanannya di kota itu dan masih banyak lagi yang mereka bicarakan sampai keduanya tertawa lepas, mengingat kenangan mereka.


" Ada lagi? "


" Ya, di restoran ini wajib menikmati makanan penutup. "


" Astaga rasanya tidak sanggup lagi. "


" Ehmm, tidak boleh. Aku akan marah jika kau tidak menghabiskannya. " Ancam Joevanka, matanya mendelik menatap Gavin. Lalu ia tertawa melihat ekspresi Gavin yang pasrah.


" Oke, kita menggunakan nasi saja ya, kita hanya memasukkan nasi ke dalam dashi jiru dan kita rebus hingga lunak. Setelah itu kita masukkan secara merata telur yang sudah dikocok dan kita hanya menunggu hingga setengah matang. Mudah kan ? "


" Saya rasa, kau sudah bisa buka restoran Jepang Joe. "


" Benarkah? Aku rasa aku sudah bisa memberikanku modal Gavin. "


" Boleh Joe, aku setuju. "


" Kita bukanya di Australia saja. "


" Apa? " Gavin tersentak mendengar pernyataan Joevanka.


" Oke kau bisa langsung meminum sampai habis dashi jiru-nya sebagai pengganti sup, Gavin. "


" Kau belum menjawab ku Joe? "


Joevanka menarik napasnya dengan berat. Lalu menatap Gavin dengan sendu.


" Aku hanya tiga bulan disini Gavin. Setelah itu aku akan kembali ke Australia. Aku akan membuka usaha restoran di Australia. "


" Apa maksudmu Joe? Apa kamu dipecat? "


" Ceritanya panjang Gavin, yang jelas aku tidak ingin berhubungan dengan perusahaan Donisius lagi dan aku tidak dipecat. " Sungguh berat Joevanka mengatakannya sampai bibirnya bergetar karena menahan segala gejolak yang ada di dadanya.


" Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk mengatakan sekarang. Aku akan tunggu sampai kau siap. Jadi kau masih ada utang kepadaku Joe. "

__ADS_1


" Oke Gavin. " Joevanka memaksa bibirnya tersenyum.


" Sekarang kita pulang? "


" Aku ingin berjalan sebentar Gavin. Aku ingin menikmati malam ini dengan baik. "


" Baiklah, apa yang tidak untuk Joevanka. " Keduanya tersenyum bersamaan.


Setelah melakukan pembayaran, mereka keluar dari restoran. Tanpa menyadari ada Ivander direstoran yang sama. Ivander masih bisa melihat punggung Joevanka yang pergi meninggalkan restoran.


Ia hanya bisa membuang napas panjang. Sedari tadi Ivander mengamati mereka.


Ivander hanya bisa tersenyum miris. Dalam sekejap ada rasa yang menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi. Ada getaran-geraran samar yang mengelayut di hati dan meninggalkan bekas-bekas luka yang menyesakkan.


Ivander kembali melakukan ritualnya menghembuskan nafasnya lewat mulut mencoba menstabilkan napasnya untuk menenangkan dirinya. Ia berusaha untuk menahan sesak yang teramat dalam.


DI SISI LAIN


Joevanka dan Gavin berjalan beriringan dan sejajar, mereka menyusuri jalan. Suara kendaraan seakan saling bersahutan. Angin malam berhembus membelai wajah dan rambut Joevanka yang menjuntai indah.


" Apa pekerjaanmu berat Joe, kau seperti menyimpan beban berat. "


" Apa aku terlihat seperti itu? " Joevanka tersenyum singkat, ia memeluk dirinya sendiri.


" Ya, matamu tidak bisa berbohong Joe. "


" Aku tidak ingin membahas pekerjaan Gavin. Aku hanya ingin menikmati malam terbaikku disini. Aku ingin pulang bersamamu. Dan memulai kehidupan yang baru. Aku kan membuka restoran seperti yang kau katakan. Jadi aku berharap kau bisa memberikanku pinjaman. "


" Tidak masalah Joe, soal dana aku bisa membantumu. "


" Kau selalu yang terbaik Gavin. "


" Bagaimana soal penyakitmu Joe? Apakah kau masih merasakan sakitnya? "


" Sepertinya tidak Gavin. "


" Syukurlah Joe, ketika aku mendengar kau tidak masuk kantor dan ternyata kau sakit. Aku langsung ke apartemenmu. Beruntung aku tahu nomor pin apartemenmu. Awalnya aku menduga kau itu mimpi buruk Joe. Karena kau menggigau tidak jelas dan kau nampak gelisah, bibirmu bergerak tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Hembusan napasmu terdengar tidak beraturan. Butiran keringat yang meluncur deras membasahi keningmu dan tidak beberapa lama kau mengalami kejang Joe. Aku begitu terkejut dan ingin mati saja dan aku membawamu kerumah sakit joe. " Jelas Gavin, wajahnya berubah sendu.


" Aku berterima kasih kak, aku beruntung dipertemukan denganmu. Kau seorang kakak yang baik. " Joevanka mengerucutkan bibir dan mengangkat alis Melihat ke arah Gavin.


" Kakak? Apa kau tidak bisa membuka hatimu untukku Joe. "


" Maafkan aku Gavin, hati ini belum terbuka untuk menerima seseorang mengisi hatiku. "


" Apakah kau masih mencintai pria yang belum kau temukan sosoknya sampai sekarang Joe ? "


Joevanka tersenyum miring. Ia tidak menjawab Gavin. Mereka hanya terus berjalan beriringan. Larut dalam pemikiran masing masing. Menikmati sejuknya malam.


Malam ini menyampaikan kesunyian hatinya dan kosong tak selalu dapat disinggahi.


Joevanka berharap saat malam nanti sudah pergi, biarkan kekhawatiran memudar. Hanya tidur lelap yang bisa membantu memulai hari besok dengan baik.


BERSAMBUNG


❣️ My readers yang tersayang terima kasih masih mengikuti kisah Whisper of love 😘


❣️ Setiap hari aku akan update dua episode, siang dan malam ya. Karena pagi anak anak belajar daring. Jadi masih butuh bimbingan emaknya 😂 jadi ngirimnya agak sore begini.


❣️ Salam sehat buat kalian ya cintah 🥰


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌

__ADS_1


__ADS_2