WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Menunggu Lamaranmu


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Joevanka berjalan keluar dengan dengan langkah-langkah kecilnya. Sikap dan postur tubuhnya, tetap dijaga dengan tegap agar Ivander tidak tahu jika ia merasakan kesakitan.


CEKLEK !


Pintu tertutup, Joevanka menunduk dengan sedikit gemetar bertumpu pada dinding rumah sakit. Joevanka menggemeretakkan giginya menahan rasa sakit yang semakin menjadi. Ia kembali tegap dan memaksa bibirnya untuk tersenyum. Dia tidak ingin Celin mengetahui jika ia sedang tidak baik.


" Kamu mau menunggu di sini? Apa mau pulang saja. Sepertinya mereka butuh waktu lama untuk berbicara." kata Celin berhenti dan berbalik untuk melihat Joevanka.


" Maaf aunty, sepertinya saya tetap menunggu." jawab Joevanka berusaha menutupi rasa sakitnya.


" Seharusnya kau pulang saja. Mohon pengertiannya, kasih mereka kesempatan dan biarkan Delia bersama Ivander." Kata Celin dengan nada memohon.


" Apa maksud Aunty?" wajahnya Joevanka mengernyit serius. Sedangkan matanya terus memicing, memperhatikan Celin.


" Oh, maaf... maksud aunty bukan seperti itu. " Celin menyadari apa yang dikatakan adalah salah. Ia kembali tersenyum dan mengambil tangan Joevanka dengan lembut. " Maksud aunty kasih kesempatan buat mereka berbicara lebih lama. Jika kau menunggu disini, aku yakin Ivander tidak ingin berlama-lama di dalam. Delia sangat membutuhkan Ivander saat ini nak Joevanka." Celin menunduk lemah, suaranya bergetar menahan tangisnya. Ia menepuk tangan Joevanka dan berharap Joevanka mengerti dengan maksudnya.


" Maaf aunty, kita lihat sendiri tadi, Ivander bahkan menahan ku untuk tidak pergi. Saya tidak ingin mood Ivander berubah hanya karena aku pergi meninggalkannya."


" Saya hanya takut kau terlalu lama menunggu Ivander."


" Tidak masalah aunty, jika aku harus menunggu Ivander sampai besok juga tidak apa-apa. Aku akan pulang bersama Ivander." kata Joevanka tegas.


" Oh Maafkan aunty jika membuatmu tidak nyaman, aku tidak bermaksud apa-apa. Walau pun begitu aku tetap berterima kasih, karena memberikan waktu buat mereka. Delia sudah lama ingin bertemu dengan Ivander." Celin tersenyum lembut. " Sekali lagi aunty sangat berterima kasih. Aku tidak menyangka Ivander akan datang menemui Delia."


Joevanka mengangguk pelan." Sama sama aunty." Sahut Joevanka.


Joevanka melepaskan tangannya dari genggaman Celin. Ia mengepalkan tangannya agar tetap kuat, walau rasanya ia ingin berlari mencari toilet. Kepalanya begitu sakit dan perutnya terasa mual.


" Kamu pucat sekali, apa kamu sakit? Keringatmu? " Delia menyentuh kening Joevanka.


" Aku tidak apa-apa Aunty.." jawab Joevanka tersenyum dan menghindari tangan Celin.


" Tapi...?"


Joevanka tetap mengelak agar Celin tidak menyentuhnya. " Aku tidak apa-apa, aku mau ke toilet dulu. Permisi! " Joevanka menundukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Celin.


Di pembelokan Joevanka menyandarkan tubuhnya di dinding, Ia melihat celin sudah tidak ada lagi. Joevanka berjalan dengan cepat dan tergesa-gesa. Joevanka langsung pergi ke toilet. Ia berusaha kuat untuk menahan rasa sakit yang kian menyiksanya. Di dalam toilet ia kembali muntah hebat. Ia sampai mencengkeram wastafel untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dan menunduk lemas. Joevanka terdiam di depan wastafel sambil memandang pantulan dirinya. Tangannya bersandar di sisi beton wastafel. Joevanka memenjamkan matanya. Ia masih berusaha mengatur napasnya. Air matanya tergelincir begitu saja.


" Apakah aku harus menemui dokter, kenapa begitu sakit? " Air matanya lagi-lagi terjatuh, walau ia sendiri tidak mengundangnya.


Setelah di rasanya enak, Joevanka kembali berjalan dan ingin kembali ke kamar Delia menemui Ivander.


SEMENTARA DI DALAM RUANGAN.


Ivander mengambil kursi dan duduk dengan posisi tangan bersedekap.


" Bagaimana perasaanmu Delia? " tanya Ivander memulai pembicaraan mereka.


Delia menarik napasnya dan tersenyum. "Sepertinya sudah lebih baik Ivander."


" Baguslah, aku berharap kau bisa menjalani hari-harimu dengan baik dan cepat sembuh Delia." Kata Ivander memberikan sedikit perhatiannya.


" Apa kabarmu Ivander? Aku dengar dari auntie Anastasia, kau menjadi pria yang sukses dan kau bahkan di kagumi para pebisnis."


" Aku tidak sehebat daddy ku Delia.Jangan terlalu memuji ku. Perusahaan Donisius hasil dari usaha kakekku. Dan bukan usaha yang aku jalankan dari nol, aku hanya meneruskannya saja."

__ADS_1


Delia tersenyum dan mengangguk pelan. " Jika saja aku tidak berbohong dengan penyakitku, apakah kita masih seperti pasangan yang dulu mencinta Ivander? "


Ivander mengangkat wajahnya dan menatap Delia. Ia menarik napasnya dan menghembuskan kembali. "Jangan ungkit masa lalu Delia, waktu sudah berbeda."


" Maaf kan aku atas kesalahanku yang dulu. Saat itu aku masih terlalu mementingkan diriku sendiri. Semua itu aku lakukan karena aku terlalu mencintaimu Ivander. Sampai saat ini perasanku belum berubah. Bisakah...? "


" Jangan membicarakan itu lagi Delia. Tujuanku kesini hanya untuk melihat keadaanmu. Jika kau mengatakan mengenai hubungan kita yang sudah berlalu, aku akan pergi dari sini." Ivander menyela pembicaraan Delia. Sungguh ivander tidak ingin mengingat kenangan itu lagi. Itu hanyalah sebuah masa lalu.


" Maafkan aku Ivander, aku hanya ingin mengatakan apa yang ada di hatiku saja, aku tidak ada niat untuk merusak hubunganmu dengan Joevanka." Delia menutup matanya dan menangis. " Tapi aku masih mencintaimu. Apa yang harus aku lakukan agar bisa melupakanmu. Bantu aku menghentikan perasaan ini."


Ivander bangun dari duduknya dan menatap Delia dengan sorot mata yang tidak bisa di baca oleh siapapun termasuk itu Delia. Kali ini ia begitu kesal. Membuang napasnya berulang kali.


" Kau hanya membuka hatimu bagi lelaki yang tulus mencintaimu."


" Aku tidak bisa Ivander."


" Apakah ini bagian dari rencana kalian lagi Delia? " Ivander tersenyum tersenyum sinis sambil menaikkan alisnya setengah.


Delia menggeleng cepat. "Tidak Ivander, maafkan aku jika aku salah mengatakannya. Aku..."


" Cukup !!! Aku sudah menduga ini adalah rencana kalian. Bagaimana mungkin aku bisa percaya dengan semua ini." sengit Ivander.


" Tidak Ivander...tidak, aku salah, aku memohon maaf, jika aku salah mengatakan itu. Aku minta maaf dan jangan pergi...Maafkan aku.." Delia mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Ivander.


Namun Ivander berbalik dan melangkah ingin meninggalkan Delia. Sehingga Delia tidak bisa meraih tangan Ivander dan....


GUBRAKKKK


Delia terjatuh bersama tiang infus. Delia mengadu kesakitan.


AAARGGHH


Ivander shock dan berbalik melihat Delia sudah terbaring di lantai.


" Jangan pergi Ivander." Delia mengulurkan tangannya memanggil Ivander. Ia bahkan tidak perduli jika tubuhnya kesakitan.


" Jangan pergi Ivander, aku mohon! Aku hanya membutuhkan mu, sebentar saja berada disisiku." tangis Delia pecah.


Refleks Delia memeluk tubuh Ivander dan bersamaan itu pintu terbuka, Joevanka masuk ke dalam ruangan dimana Delia di rawat. Jantungnya tiba-tiba seolah berhenti. Kakinya seakan terkunci tidak sanggup untuk melangkah maju. Pikirannya berkecamuk dan hatinya seperti cengkeraman oleh sebuah tangan yang besar. Joevanka berusaha tetap berpikir positif. Ia kembali mundur dan menutup pintu kembali. Joevanka duduk menunggu sambil menggigit ujung jarinya. Hatinya gelisah, ia berusaha tenang tapi tidak bisa. Ia menunduk lemah. Matanya berkaca-kaca.


SEMENTARA ITU


" Maafkan aku Delia, aku harus pergi. Aku tidak ingin Joevanka terlalu lama menungguku. Aku berharap kau cepat sembuh dan jalani hari harimu dengan baik. Semoga engkau menemukan pria yang lebih baik dari aku."


" Ivander.." panggil Delia dengan air mata yang terjatuh di pipinya.


Ivander menghentikan langkahnya, namun ia tidak berbalik dan tetap berdiri dengan posisinya. Delia mencengkram selimut yang menutupi kakinya. " Terima kasih karena sudah datang. Terima kasih..." Delia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya ia menutup wajahnya dengan ke dua tangannya dan menangis.


Ivander menarik napas panjang dan kembali berjalan meninggalkan Delia.


" Sayang? " Panggil Ivander.


Joevanka mengangkat wajahnya dan melihat Ivander sudah berdiri dihadapannya.


" Kita pulang, maafkan aku membuatmu menunggu lama."


" Tidak apa-apa, kita pulang! " Kata Joevanka bangun dari duduknya. Ia tersenyum dan meraih tangan Ivander. Mereka terus berjalan dan tidak bicara sampai di parkiran rumah sakit.


" Bisakah kita menghirup udara segar sayang? Di dekat sini ada pantai." Kata Joevanka dengan nada suara cukup berat.


" Mencari angin segar?"


" Aku hanya ingin berjalan-jalan bersamamu." Kata Joevanka.


" Kita belum makan Vanka. Bagaimana Kalau kita makan dulu." Ivander menyisihkan lengan kemeja panjangnya untuk melihat jam. Memang sudah waktunya makan malam.

__ADS_1


" Aku belum lapar, kita hanya berjalan sebentar saja."


" Oke, baiklah.. apa yang tidak buatmu." Kata Ivander merangkul bahu Joevanka.


Joevanka dan Ivander berjalan beriringan dan sejajar dan kini Ivander memeluk pinggang Joevanka. Mereka menyusuri jalan. Suara deburan ombak terdengar dari atas jembatan di tambah dengan suara kendaraan seakan saling bersahutan. Angin malam berhembus membelai wajah dan rambut Joevanka yang menjuntai indah.


Joevanka tersenyum tipis sambil menunduk. Perasaannya saat ini campur aduk. Ia hanya bisa menarik napasnya, sesak begitu sesak. Rasanya ingin menangis. Sebelum ia kembali keruangan Delia, Joevanka pergi menemui dokter. Ia diminta kembali datang besok ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan electroencephalography atau EEG. Pemeriksaan electroencephalography merupakan pemeriksaan penunjang untuk merekam gelombang-gelombang aktivitas listrik di otak. Penguluran pola listrik ini dilakukan pada permukaan kulit kepala yang mencerminkan aktivitas kortikal yang biasanya disebut sebagai gelombang otak.


Joevanka memejamkan matanya. Ia masih mengingat wajah dokter itu mengerut serius ketika Joevanka mengatakan keluhannya. Walau di Australia ia sudah melakukan pemeriksaan. Namun kali ini lebih berbeda lagi. Joevanka hanya tertunduk sambil menatap kakinya bergerak bergantian.


" Vanka? " Ivander menatap kesamping dan melihat Joevanka yang sedari tadi diam.


" Ehm..." Sahut Joevanka dengan gumaman. Ia melihat ke arah Ivander.


" Apa kau tidak penasaran apa yang kami bicarakan tadi? " Kata Ivander berhenti dan menatap Joevanka.


Joevanka membuang tatapannya. "Penasaran? Apakah aku harus penasaran? Apa Delia memintamu kembali? Apakah Delia ingin kau menemaninya selama dia sakit?" Batin Joevanka dalam hati.


Joevanka terus berjalan pelan, sementara Ivander diam di tempatnya. Ia hanya melihat punggung Joevanka. Jarak mereka kini menyisakan sepuluh meter. Joevanka berbalik dan tersenyum. Disaksikan deburan ombak dan bintang-bintang yang berkelap-kelip di atas langit. Walau sesungguhnya ia takut dan sangat takut apa yang akan terjadi kepadanya, namun ia lebih takut kehilangan Ivander untuk ke dua kalinya. Ia sangat mencintai pria yang berdiri di hadapannya.


" Aku mempercayaimu Ivander.." Teriak Joevanka lebih nyaring. Kedua tangan membentuk corong di depan mulut-nya agar suaranya jelas di dengar Ivander.


" Walau apapun yang terjadi denganku tetaplah mencintaiku. " Kata Joevanka dengan suara terendahnya dengan derai air mata. Kata-kata itu tentu tidak didengar Ivander. Joevanka kembali berteriak. Ia tidak perduli jika pengendara mobil memperhatikannya.


" Aku akan tetap mempercayaimu sayangku. Kamu adalah tujuanku sekarang. Aku tidak perduli dengan yang lainnya." Kata Joevanka dengan lantang. " Aku tidak perduli dengan penyakit ku lagi..." Lagi lagi Joevanka hanya sanggup mengatakannya dengan suara pelan. Air matanya kembali terjatuh. " Aku hanya ingin kamu. Ivander....di dalam hidupku. Aku sangat dan sangat mencintaimu.." Kata Joevanka dengan suara nyaring. Ia tersenyum, senyumannya penuh arti. Joevanka membuka kedua tangannya agar Ivander datang kepadanya.


Sementara Ivander menatap Joevanka dengan tatapan nanar. Matanya berkaca-kaca penuh haru. Napasnya tersendat.


Ivander memajukan langkahnya mendekati Joevanka yang menunggunya. Langkahnya terus mendekat dan....


BRUKKKKKK


Ivander menyambar tubuh Joevanka sampai terangkat. Joevanka bertambah menangis. Wajah Joevanka mengerut. Air matanya membasahi pipinya. Pelupuk matanya tidak kuat menahan air matanya yang terjatuh.


" Tidurlah bersamaku Ivander..." Lirih Joevanka dalam isakannya.


Ivander mengerutkan keningnya, melepaskan pelukannya. " Tidur? ada apa denganmu kelinci manisku? Kenapa kau terlihat berbeda? " Ucap Ivander sambil mengusap air mata joevanka dengan jari jempolnya.


Joevanka hanya menggeleng dengan air mata yang terus tergelincir di pipinya. Ia terus menatap Ivander. " Tidurlah bersamaku.." Ulang Joevanka dengan nada memohon, pandangannya terus mengunci Ivander.


Ivander menangkup ke dua pipi Joevanka dan tersenyum. " Aku akan melamarmu dengan baik sayang. Aku akan membuatmu menjadi wanita yang bahagia dan berharga. Aku sudah pernah katakan, aku tidak ingin melakukannya sebelum ada ikatan pernikahan. Apa yang kau takutkan? aku akan membawamu bersumpah di hadapan Tuhan dalam ikatan pernikahan. Secepatnya sayang..." Kata Ivander tersenyum dan kembali menarik tubuh Joevanka masuk ke dalam pelukannya.


" Jangan menangis lagi,ehmm..."


Joevanka mengangguk dan memeluk pinggang Ivander dengan sangat erat. Joevanka membenamkan seluruh wajahnya ke dada Ivander.


" Terima kasih karena mencintaiku dengan tulus, aku akan menunggu lamaran terbaikmu." Kata Joevanka dengan suara serak penuh haru.


Ivander kembali tersenyum. Ia mendekap tubuh mungil dengan erat. Ivander menyandarkan pipinya dengan nyaman di puncak kepala Joevanka.


Suara deburan ombak, bintang-bintang yang berkelap-kelip seakan menjadi saksi mereka yang saling mencinta. Hati mereka telah menyatu tidak ada seorang pun yang dapat memisahkan mereka.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌

__ADS_1


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2