WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Apa yang kau takutkan


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Ivander berendam di dalam bathtub, Ia sudah lama tidak merileksasikan tubuh dengan menggunakan aromaterapi untuk membuat tubuhnya menjadi rileks dan segar. Ivander menggunakan essential oil hingga lilin aroma terapi dan alat pembaur aroma. Ia hanya melakukannya jika tubuhnya lelah saja. Nggak hanya itu, di samping itu essential oil juga mengandung sifat antibakteri dan antiseptik yang dapat mencegah kuman yang bisa merusak kulit.


Berhubung banyak waktu, Ivander menyempatkan dirinya berendam di bathtub. Ia berendam kurang lebih dari tiga puluh menit sampai ia tertidur, benar benar aroma terapi dari essential oil membuat pikirannya tenang.


Ivannia hari ini berada di rumah auntie Felin dan berencana akan menginap di sana. Sementara daddy dan mommy ada acara dengan rekan bisnisnya di sebuah hotel terkenal di kota xx. Besok daddy akan melakukan perjalanan bisnis bersama dengan mommy.


Joevanka sendiri belum juga pulang bersama Samuel sejak mereka pergi siang tadi untuk mempersiapkan kebutuhan perkemahan.


Ivander sudah membersihkan dirinya, Ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan kimono. Dengan rambut yang masih basah, Ivander berjalan menuju walk-in closet untuk mengambil pakaian santainya. Hari ini ia menggunakan kaos Tommy Hilfiger yang berwarna hitam dan celana berbahan denim. Setelah di rasanya rapi. Ivander mengambil laptop untuk menyelesaikan tugas dari dosen pembimbingnya. Ia tidak ingin menumpuk tugas akhir bulan dan berujung membuatnya pusing sendiri.


Tiba tiba Ivander mendengar suara teriakan minta tolong, berulang ulang dengan suara yang nyaring. Dahinya langsung mengerut serius, Ivander terdiam di posisinya. Ia fokus dengan pendengarannya.


" Tolonggggg !!!!! " Suara Joevanka semakin terdengar menggema dan lebih kencang. Kali ini suaranya terdengar seperti ketakutan.


Belum juga Ivander membuka laptopnya, ia langsung berlari membuka pintu kamarnya, Ivander berlari keluar mencari sumber suara. Teriakan itu semakin kencang, kali ini suaranya parau seperti menangis. Penuh ketakutan dan kegelisahan semua bergabung di suara lirih Joevanka.


Ivander berlari, menuju kamar Joevanka.


BRAKKKK


Ivander membuka pintu kamar dengan kasar,


Yang ia lihat Joevanka meringkuk ketakutan di atas sofa. Ivander mengernyitkan dahi bingung dan juga cemas.


" Vanka !!!! " Ivander berjalan mendekati Joevanka.


Joevanka yang terduduk ketakutan langsung berlari menyambar tubuh Ivander dengan pelukan erat. Joevanka sudah menangis dalam pelukan Ivander.


DEG DEG DEG


Ivander begitu terkejut, sangat terkejut.


" Aku takut, aku sangat takut.. hiks... hikssssss...." pelukan itu semakin membuat Ivander diam membeku, dekapan dari Joevanka membuat Ivander terbelalak dan bahkan mulutnya terbuka seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Joevanka semakin mengeratkan pelukannya, Ia sampai mencengkram pakaian yang di gunakan Ivander.


Jantung Ivander semakin terpukul kencang, sampai membuatnya sulit untuk bernapas. Jantungnya seakan memicu begitu cepat. Semua hormon dalam tubuhnya seakan aktif menggelitik hatinya.


" Vanka, apa yang terjadi? " Tanya Ivander masih terlihat bingung. Ia berusaha mengatur debaran jantung yang semakin terpukul kencang. Remasan dan dekapan Joevanka seperti aliran listrik yang semakin menyetrum dengan kedutan kedutan yang menjalar ke tubuhnya. Ivander sampai sulit bernapas karena pelukan Joevanka.


Joevanka masih tidak sanggup menjawab, ia bahkan memeluk Ivander dengan erat dan sangat erat.


" Vanka apa yang terjadi? apa Samuel membuatmu menangis? jawab aku! " Ucap Ivander masih nampak kebingungan, dahinya sudah berkerut.


Joevanka tiba tiba mengerjap, ia mulai menyadari sesuatu, pelukan darinya dan dekapan dari Ivander membuatnya terkejut. ia kembali berpijak pada tingkat kesadarannya.


Ia langsung mendorong tubuh Ivander agar menjauh darinya. Tubuh mereka akhirnya terlepas, Joevanka yang masih di kuasai rasa takut menyembunyikan wajahnya. Wajah Joevanka nampak berantakan. Hidung dan matanya nampak merah dan berair.


" Maafkan aku Ivander, sungguh aku minta maaf...Aku..."


Ivander langsung mendekat dengan senyuman lembut, ia sedikit membungkuk mensejajarkan agar bisa melihat wajah Joevanka. Wajah mereka semakin dekat, tatapan Ivander yang begitu sendu membuat joevanka berkedip cepat. Reflek ia mundur.


" Maafkan aku...! " ucap Joevanka dengan suara terendahnya.


" Apa yang terjadi ? apa yang kau takuti Vanka? " tanya Ivander berusaha menenangkan debaran debaran jantung yang semakin tercipta dari dadanya.


Joevanka belum sanggup menjawab, ia menyembunyikan rasa malunya. Namun tiba tiba matanya fokus ke arah binatang kecil yang tubuhnya sudah terbalik namun masih hidup.


Joevanka kembali menyambar tubuh Ivander dengan pelukan erat dan wajahnya terlihat pucat.


BRUKKKKKK

__ADS_1


" Aku takut, aku takut sama binatang itu Ivander, tolong jauh kan binatang itu. Hiks hiks..." Joevanka kembali histeris ketakutan. Ia menunjuk binatang yang ada di dekat tempat tidurnya.


Ivander memicingkan matanya menatap binatang kecil yang di takuti Joevanka.


" Astaga kau takut kecoak? " Ivander terbelalak, kaget, dan ingin tertawa.


Joevanka mengangguk cepat, ia masih menunjukkan wajah ketakutannya, ia bahkan terlihat gugup.


" Itu binatang gak menakutkan vanka dan tidak menggigit ? "


" Tapi aku takut, binatang itu menjijikkan."


" Kenapa kau takut? "


Joevanka menggeleng cepat, ia seperti menunjukan ekspresi cemas. " Aku fobia sama kecoak, karena binatang itu pernah merayap ke wajahku pada saat aku tidur dan dia binatang yang paling bau. Binatang itu.." Joevanka tidak berani melanjutkan kata-katanya, tubuhnya bahkan menggeliat karena mengingat binatang yang menjijikan itu. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Ivander.


" Binatang itu gak aneh Vanka, tidak apa apa, kamu tidak perlu takut, ada aku Vanka. oke?! " kata Ivander dengan nada lembut, dan berusaha menenangkan Joevanka.


" Aku takut..." Isak joevanka menggeleng.


" Jangan takut, tarik napas lalu buang! ketakutan yang berlebihan bisa hilang jika kita sering melihat binatang itu dan kau bisa menerimanya. Rasa takutmu akan hilang, percayalah.. " Ucap Ivander memandang lekat mata Joevanka.


" Kau bisa duduk dulu! Tenangkan dirimu ! " Ivander menuntut Joevanka duduk si sofa. Wajahnya masih terlihat tegang dan ketakutan bahkan ia terlihat pucat.


Posisi kecoa sebenarnya terbalik, itu yang membuat Joevanka ketakutan. Kecoak terbalik itu merupakan cara kecoa untuk bertahan hidup. Dengan membalikkan tubuhnya, kecoa sebenarnya sedang berusaha mendapatkan udara. Namun bagi Joevanka tangan kecoak yang bergerak gerak itu yang membuatnya geli dan jijik.


Dengan cepat Ivander membuang binatang sejenis serangga hemimetabola itu melalui balkon kamar Joevanka.


" Sekarang sudah aman, si kecoak sudah tidak ada lagi." ucap Ivander menahan senyumnya.


Menyadari Ivander seperti mengejeknya. Joevanka langsung membuang wajahnya tidak suka. Ketakutannya bukan ia buat sendiri. Ivander merubah wajahnya, ia tersenyum dan duduk menekuk kakinya bersimpuh di hadapan joevanka. Ivander menatap lekat lekat.


Joevanka masih membuang wajahnya, tidak mau menatap Ivander walau di dadanya begitu bergemuruh berdetak sampai membuat tubuhnya berdesir.


" Vanka...apa kau masih takut? Lihat aku! " pinta Ivander.


" Apa kau masih takut? jika tidak aku bisa keluar, besok Berneta sudah pulang, biar dia yang membersihkan kamar ini. " ucap Ivander.


Joevanka memalingkan wajahnya menatap Ivander.


" Apa kau masih takut? " Ivander sengaja mendekatkan wajahnya. Mempertahankan matanya di wajah Joevanka.


Mereka saling berpandangan, tubuh Joevanka menegang. Jantungnya semakin terpompa lebih kencang, napasnya tidak karuan. Hembusan napasnya semakin terasa dekat ke wajahnya.


Sementara Ivander tetap fokus menatap wajah Joevanka, ia menatap gadis lembut itu dengan pancaran penuh cinta, ia tersenyum penuh kehangatan.


" Ya Tuhan, wajahnya begitu cantik, apa yang harus aku lakukan. Bisakah aku menciumnya? " Batin Ivander, imannya serasa goyah.


Dengan cepat Joevanka memalingkan wajahnya, membuat Ivander menjauhkan tubuhnya. Ia menyadari jika situasi ini membuat Joevanka tidak nyaman. Bagaimana pun Joevanka adalah kekasih sahabatnya sendiri.


" Binatang menjijikkan itu, tidak ada lagi Vanka, sekarang kau boleh istirahat! " Ucap Ivander bangkit dan melangkah meninggalkan kamar Joevanka.


" Ivander..." Panggil Joevanka menghentikan langkahnya. Ivander diam di tempatnya namun ia tidak berbalik.


" Terima kasih...! " Kata Joevanka dengan suara terendahnya. Tidak ada sahutan, Ivander hanya kembali berjalan meninggalkan kamarnya.


Pintu kembali tertutup, Joevanka menghembuskan napasnya, ia mencoba memejamkan matanya, mencoba mengingat kembali apa yang telah dilakukannya kepada Ivander. sepersekian detik joevanka tersenyum.


" Bodoh bodoh.." ia memejamkan matanya, merutuki kebodohannya karena memeluk Ivander, namun di sisi lain ia tersenyum, ia benar-benar menikmati kebodohannya saat ini. Joevanka menggigit bibir bawahnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Malu....malu...malu..


⭐⭐⭐⭐


" Dude..." Panggil Samuel dari bawah tangga dan melangkah panjang untuk menghampiri sahabatnya.


" Kalian sudah pulang? " Astaga pertanyaan bodoh pastinya, jelas jelas Ivander tahu jika mereka sudah kembali dan Joevanka sendiri sudah membuat drama singkat dan berhasil membuat jantungnya hampir lepas.


" Baru setengah jam yang lalu. "


" Sepertinya kau menikmati kencanmu." Ucap Ivander melangkah memasuki kamarnya yang diikuti oleh Samuel.

__ADS_1


" Ehmmm...Banyak yang kami lakukan hari ini. " jawab Samuel dengan wajah yang terlihat bahagia dan berbinar.


" Jadi kenapa kau tidak langsung pulang saja? " tanya Ivander seolah menghusir Samuel secara halus.


" Aku kembali beli makanan untuk kita makan malam ini, dimana Joe? "


" Dia ada di kamarnya. " jawab Ivander. Jelaslah ia tahu, Ivander baru keluar dari sana.


" Oke, aku panggil dulu ya, nanti kau bisa langsung menyusul ke dapur. " Kata Samuel melangkah meninggalkan kamar Ivander.


Tidak sampai lima menit.


Ivander sudah turun menyusul Samuel dan Joevanka ke dapur. Mereka belum menyadari kedatangan Ivander.


Ivander nampak diam berdiri dengan menunggu di posisinya sambil memasukkan tangan ke dalam kantong celananya.


Mereka sepertinya bermain gombal gombalan. Cih.. Ivander menaikkan bibir sisi kanannya naik ke atas.


" Joe, Tuhan itu baik yah. Saat aku minta bunga mawar, aku diberi taman yang indah. Saat aku meminta setetes air, aku diberi lautan. Eh, saat aku minta malaikat, aku diberi kamu." kata Samuel mengerlingkan salah satu matanya ke pada Joevanka.


Joevanka kembali tertawa, sampai menampakkan giginya yang putih dan rapi.


" Aku gak pernah merasakan ketakutan sedikit pun ketika berada didekat kamu, karena kamulah kekuatanku." Kata Joevanka malu malu. Samuel mendengar itu tersanjung dan seraya ikut tertawa.


" Lanjut...lanjut...! " Kata Joevanka tidak mau kalah.


" Aku rela dipenjara asalkan pelanggarannya karena mencintaimu..." kata samuel menyambut gombalan Joevanka.


" Kurang panjang, harus panjang dong..." kata Joevanka memukul lengan Samuel.


" Oke, oke, aku berpikir dulu. " Samuel menunjukkan gestur berpikir.


" Ayo...1, 2, 3..." Joevanka tidak sabaran.


" Aku sangat berharap kamu tau, kalau aku tidak pernah menyesali cintaku untuk mu, karena bagiku memiliki kamu sudah cukup bagi ku. "


" Sekarang aku ya? " kata Joevanka menunjuk ke dirinya sendiri.


" Eheemmmm..." Ivander berdehem, ia berdiri tepat dibelakang mereka. Menunjukkan wajah kaku dan tanpa ekspresi.


Ke duanya refleks berbalik, dan melihat Ivander berjalan mengambil tempat duduknya.


" Ivander.. Makanlah! kami sudah menghabiskan setengah makanan kami. "


Ivander duduk tetap di depan Samuel dan Joevanka. Ia fokus menikmati makanannya, tanpa memperhatikan mereka yang saling sambut menyambut menyatakan cintanya, yang menurutnya seperti gombal tak masuk di akal. Lama lama Ivander merasa jengah, ia tidak pernah merasakan suasana makan seperti ini. Karena apa? Ya karena keluarga nya di larang keras bicara saat sedang makan. Ivander berdecak kesal, ia meletakkan sendok nya ke atas meja dengan kasar.


" Aku tidak bisa menikmati makananku dengan baik, Kalian terlalu berisik! " Kata Ivander bangun dari duduknya. Ia meninggal kan Samuel dan Joevanka yang diam terpaku.


" Ivander, kau belum menghabiskan makananmu? " kata Samuel menoleh kebelakang melihat Ivander meninggalkan makanannya.


" Aku tidak bernapsu lagi. " sahut Ivander dengan nada sangat dingin. Ia menaiki tangga menuju kamarnya. Ivander sedikit membanting pintu kamarnya.


Samuel dan joevanka tersentak, terlebih Joevanka. Seharusnya ia bisa jaga sikap karena aturan dari keluarga Donisius, memang di larang berbincang apalagi tertawa saat makan.


" Bagaimana ini, apa Ivander marah ya? " kata Joevanka merasa serba salah.


" Soal Ivander biar aku yang urus, lanjutkan makanmu Joe, biar aku nemui ivander. " kata Samuel berjalan meninggalkan Joevanka sendiri di meja makan.


Joevanka merasa tidak enak, ia menatap pintu kamar Ivander yang masih tertutup. Samuel masih berdiri di luar pintu.


Joevanka hanya bisa membuang napasnya dengan kasar, ia tidak menyentuh makanannya lagi.


.


BERSAMBUNG


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌

__ADS_1


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2