WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Joevanka Hilang


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Joevanka membuka resleting jaketnya karena basah, sampai mengenai baju dalamnya. Ia tidak sengaja menumpahkan air pada waktu ia minum.


" Kalungku? "


Joevanka tersentak, Ia berulang kali meraba lehernya dan melihat ke bawah. Jantungnya seakan berhenti seketika. Begitu menyadari kalung pemberian mommynya hilang. Hadiah kelulusannya di sekolah menengah atas. Kalung itu sampai sekarang ia jaga dengan baik.


" Kemana kalungku? " Joevanka tidak bisa menutupi rasa takutnya. Ketika mereka di gunung, kalung itu masih ada. Ia nampak gusar, beruntung perjalanan mereka belum jauh. Delia terlihat penasaran. Ia diam seakan ingin mengetahui apa yang terjadi.


" Kalung dia kehilangan kalung, cih paling kalung murahan. " Ucap Delia dengan nada sinis.


" Maaf kan aku Lona, aku harus kembali ke jalan yang kita lalui tadi. Kalung itu pemberian mommyku dan sekarang terjatuh, entah ke mana. Aku ingin mencarinya. aku rasa kalung itu masih berada di sekitar sini." Kata Joevanka menunjukkan rasa takut, ya takut kehilangan kalung itu. Ia langsung berbalik dan berjalan meninggalkan rombongan.


" Joe, tunggu! " Panggil Lona menghentikan langkah Joevanka, sementara Delia masih diam terpaku ingin mengetahui pembicaraan mereka lebih lanjut. Wajahnya terlihat tegang, ketika Joevanka kembali ke gunung.


" Nanti ketua mencarimu, aku takut Ivander marah Joe, karena kita sudah ditegaskan berulang kali, tidak bisa terpisah dari rombongan. Kau bisa menggantikan kalung itu lagi Joe, sekarang lebih baik kita kembali lagi. " kata Lona berusaha meyakinkan Joevanka.


Joevanka menggeleng pelan. Ia berusaha meyakinkan Lona. " Aku tidak bisa Lona, barang itu pemberian mommyku, barang itu sangat berharga buatku, kau jangan khawatir, Kalian bisa lanjutkan perjalanan kalian. Aku akan segera kembali. Aku akan ikuti petunjuk sesuai jalan menuju tenda. " Kata Joevanka tersenyum singkat, ingin mengatakan bahwa ia akan baik baik saja dan langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Lona.


" Tapi Joe....." Lona tidak dapat melanjutkan kata katanya karena Joevanka sudah berlari mencari kalung pemberian dari mommynya.


Lona membuang napasnya, Lona masih bisa melihat kepergian Joevanka. Ia Kembali melanjutkan perjalanannya.


Joevanka menelusuri lokasi yang ia lalui sejak kehilangan barang itu. Ia kembali ke titik-titik terakhir.


Sembari mengusap air matanya, joevanka mengedarkan pandangannya ke bawah. mencari keberadaan kalung pemberian mommynya itu.


" Bagaimana pun caranya kalung itu harus ketemu..." Joevanka terus berbisik pada batinnya sendiri. " Tas pemberian daddy sudah hilang, sekarang kalung, dasar bodoh kau Joevanka! " Ia kembali merutuki kebodohannya.


Ia berjalan semakin jauh, masih bersabar dan selalu berdoa semoga ia menemukan kalung itu " Ya Tuhan, kemana kalung itu? " batin Joevanka sedikit terisak. Joevanka sangat terpukul. kali ini ia benar-benar menangis, hatinya begitu sedih kehilangan barang itu. Ini adalah saat terburuk dalam hidupnya, Joevanka menghilangkan kalung pemberian mommynya. Kalung yang sangat berharga buat Joevanka.


Joevanka sampai menepuk kakinya dengan gelisah, sembari menyeka air matanya yang terjatuh begitu saja.


" Kamu di mana sih? " Membuat Joevanka seperti menyerah. Ia membungkukkan badannya kalau kalau kalung itu terselip di batu.


" Mommy, maafkan Vanka tidak bisa menjaga pemberian mommy..." Joevanka sedikit terisak, rasa sedih dan teringat bagaimana orang tuanya memberikan kejutan itu ketika mereka akan berangkat acara perpisahan sekolah. Kini barang itu hilang, membuat ia menangis.


Joevanka menghentikan langkahnya, ia berusaha mengingat kembali di mana kira-kira Joevanka kehilangan kalung itu. Ia menggigit jari jempolnya sambil menggeleng kepalanya dengan pelan. Joevanka mengambil napas dalam, agar ia tenang. Mencoba rileks agar pikirannya jernih.


Joevanka masih bersabar, ia kembali melakukan pencarian. Sampai Joevanka tidak menyadari bahwa Ia sudah tertinggal jauh dari rombongan.


Joevanka putus asa, ia sudah sampai ke puncak gunung tapi belum menemukannya, di sana Ia menangis.


" Maafkan Vanka mom, tidak bisa menjaga kalung itu...Apakah aku harus mengikhlaskan nya? " Joevanka terisak di setiap mengatakan kalimatnya.

__ADS_1


Ya, jalan terbaik atas kehilangan ini adalah mengikhlaskan saja. Joevanka harus menjadikannya sebagai pembelajaran. Pengalaman membuktikan, ketika keiklasan itu ada, maka pada waktunya akan mendapat gantinya.


Huft....joevanka menghembuskan napasnya lewat mulut, dengan lesu ia kembali menuruni gunung. Ia masih menyeka air matanya yang terjatuh. Joevanka menyisihkan lengan jaketnya untuk melihat jam.


" Astaga sudah pukul lima sore? " Joevanka terbelalak dan dengan cepat menuruni jalan pegunungan.


Saat akan menyusuri jalan setapak berbatu,


Ia memicingkan matanya, melihat benda yang sangat ia kenali, " Oh my God kalungku...?" Mata Joevanka membulat nanar, Ia terperanjak. Joevanka begitu bahagia dan campur aduk tentunya. Ia berlahan berjongkok dan mengambil kalung yang tergeletak di tanah. Ia meraih benda itu dengan tangan kanan. Joevanka menangis terharu, ia sampai memeluk benda itu. Suara Joevanka parau dan bergetar. Ia akhirnya menemukan kalung itu. Namun tiba tiba wajah Joevanka berkerut.


" Bukankah aku sudah melalui tempat ini? aku sudah mencarinya di sini, tapi tidak menemukan kalung ini? " Joevanka berusaha keras untuk berpikir.


" Ah terserah lah...yang penting aku bisa menemukanmu..." ucap Joevanka dengan wajah berbinar. Ia begitu bahagia saat ini.


Ia kembali berjalan cepat, menyadari waktu sudah semakin sore. Joevanka takut jika malam datang ia masih berada di hutan.


Joevanka mengikuti petunjuk arah yang di buat Ivander.


⭐⭐⭐⭐⭐


Lona berulang kali meremas tangan ketika Joevanka belum kembali. Ia sedari tadi mondar-mandir. Ada rasa cemas dan takut menggerogoti jiwanya.


Di pos ke tiga mereka memutuskan istirahat. Lona menggigit jarinya, ada keraguan ingin mengatakan kepada Ivander bahwa Joevanka kembali ke gunung. Perjalanan mereka sudah sangat jauh. Ini sudah lebih sejam tiga puluh menit namun Joevanka belum juga kembali.


Dengan langkah gontai dan perasaan campur aduk. Lona berjalan mendekati Ivander yang tengah memeriksa camera digitalnya produk dari Leica. Bibirnya tersenyum, ia memperbesar gambar joevanka yang berdiri sedang mengangkat ke dua tangannya.


" Ia seperti tidak ada beban..." ucap Ivander tersenyum dengan lirih.


Ivander mengangkat wajahnya, ketika menyadari Lona berdiri di depannya. Ia menarik alisnya setengah, dan mengernyit ketika melihat ke gugupan Lona.


Lona masih diam, apalagi tatapan Ivander yang seperti mengintimidasinya. Ini akan menjadi akhir hidupnya. Ia sangat takut jika sesuatu terjadi pada Joevanka. Perasaannya benar benar kacau dan firasatnya buruk. Dengan menarik dan menghembuskan napas panjang, Lona menenangkan dirinya dan memberanikan diri untuk mengatakan kepada Ivander.


" Aku harus memulai dari mana ya? " Lona menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ada apa Lona? " Ivander semakin mengernyit bingung.


" Joevanka, kembali ke gunung satu setengah jam yang lalu, ia mencari kalung pemberian ibunya yang terjatuh, Ia akan kembali setelah menemukan kalung itu, aku takut ia akan mencarinya karena kalung itu sangat berharga. Aku rasa Joevanka belum menemukan kalung itu Ivander, Karena sampai sekarang Joevanka belum kembali. "


Ivander terkesiap, telinganya seakan mendengung. Ekspresi wajahnya tiba tiba berubah, Wajah Ivander sudah menegang karena sangat terkejut.


Tanpa menjawab, ia langsung berlari sekuat tenaga menuju jalur yang mereka jalani tadi. Hingga membuat semua orang terlihat panik. Terlebih Samuel yang sedang duduk santai beranjak dan mendekati Lona, Ia ingin mengetahui apa yang terjadi.


Lona menjelaskan pada Samuel semuanya, sama seperti apa yang di katakan kepada Ivander


" Ya, Tuhan ! " Samuel panik. Semua orang mendekat dan kembali menanyakan hal yang sama karena melihat ketegangan Samuel.


" Apa yang terjadi? " Kata mereka ikut penasaran dan ikut merasakan kecemasan Samuel, apalagi melihat Ivander berlari masuk ke dalam hutan lagi.


Samuel mengangkat tangannya, meminta mereka agar tetap tenang dan diam. Sementara Delia tersenyum miring, Ia melipat tangannya dengan posisi bersedekap. Wajahnya terlihat sok serius mendengarkan penjelasan dari Samuel.


Samuel menjelaskan, bahwa semuanya akan baik baik saja.


Semakin banyak yang mencari, semakin lebih bagus. Samuel mengarahkan teman teman temanya yang lain agar ikut dengannya dan sebagian tertinggal menunggu jika Joevanka kembali. Samuel membuang napas panjang. Kemudian mereka ikut mencari keberadaan Joevanka.

__ADS_1


Sementara di sisi lain ,


Ivander nampak gugup, dadanya sesak seketika, sulit bahkan untuk menarik napas. Ia masih berlari menaiki dan menyusuri jalan setapak berbatu yang terlihat curam dan miring. Beberapa kali ia hampir terjatuh. Ia berharap Joevanka baik baik saja. Benar benar berharap seperti itu, meski... firasatnya tidak mengatakan demikian. Ia takut jika sesuatu terjadi kepadanya seperti beberapa bulan yang lalu.


Ivander nampak frustasi, ia mengusap wajahnya dengan kasar ketika ia berhenti di pos empat.


" Vankaaaaaa......" Teriak Ivander dengan nada panjang dan suaranya menggema di dalam hutan. Napasnya sesak, pendek dan terengah.


Ia terus menyerukan nama Joevanka dan memanggil nama itu berulang kali. Sampai suaranya begitu nyaring di dalam hutan. Ivander mengacak rambutnya dengan acak, ia nampak seperti orang kebingungan. Ivander kembali berlari, mungkin saja Joevanka ada di puncak gunung.


" Vanka aku bisa menggantikan kalung seperti pemberian mommymu dan tidak harus membahayakan nyawamu sendiri. " Ivander mengerutkan wajah sambil mengusap rambutnya ke atas.


Dengan cepat, ia tiba di atas puncak gunung. Mengedarkan pandangannya, tidak ada siapa-siapa ?


Ivander dengan jelas menonton pergerakan matahari yang mulai terbenam dan menunjukan bahwa malam akan tiba. Ivander bahkan melupakan bahwa dinginnya suhu di atas puncak gunung sudah mulai menusuk tulangnya. Ia melirik jam di tangannya. Pukul 6.30 wib.


Karena Joevanka tidak ada di atas puncak gunung, Ivander kemudian berlari menyusuri jalan setapak yang berbatu, Ivander seperti kehilangan arah, ia membuang napas, deru napasnya seakan memburu.


Dan tiba tiba langkahnya terhenti, berubah pelan. Ia memicingkan matanya, punggungnya melengkung masih dengan napas yang terengah-engah karena berlari menuruni jalan yang semakin curam.


Wajahnya berubah mengerut, napasnya berhembus sekaligus.


" Jalan ini bukan seharusnya tanda penunjuk pulang ke tenda. Siapa yang yang merubah jalan ini? Apakah Joevanka mengikuti petunjuk ini? "


Ketakutan semakin menguasai dirinya. Rasa marah melingkupi dirinya. Pikirannya kalut dan berkecamuk. Dadanya sesak, ia benar benar takut, jika Joevanka melalui jalan ini. Karena yang ia tahu jalan itu sangat angker.


" Vanka....."


" Vanka kau di mana? " Ivander berjalan dan menyingkirkan semak semak yang menutupi tubuhnya, jalan ini tidak pernah di lalui pendaki.


" Vankaaaaaa...."


" Vanka aku mohon ini tidak lucu, jangan membuatku cemas..."


" Vankaaaaaa... Vanka...kau di mana? " Teriak Ivander berulang ulang sampai suaranya memenuhi hutan yang terlihat sepi. Wajahnya terlihat frustasi, Ivander tidak pernah setakut ini. Apalagi ini adalah hutan, hari sudah semakin gelap.


VANKA......


VANKA.....


VANKA...


.


.


BERSAMBUNG


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌

__ADS_1


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2