
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
TOK TOK TOK
Ivannia mengetuk pintu tiga kali, lalu masuk ke dalam kamar kakaknya.
" Kak....! " panggil Ivannia celingukan.
Tidak ada siapa-siapa, kamar nampak sepi dan keadaan tempat tidur masih rapi.
" Apa kakak belum pulang ya ? " gumam Ivannia pada dirinya sendiri. Ia mengembungkan pipinya seraya mengangkat ke dua bahunya. Ivannia melangkah ingin keluar dari kamar Ivander.
Namun sebelum ia keluar, terdengar bunyi ponsel bergetar. Ivannia berbalik dan mengambil ponsel Ivander yang tertinggal di atas nakas. Ia melihat nomor tidak ada nama atau tidak terdaftar di ponsel Ivander.
" Halo..." Jawab Ivannia, namun tidak ada suara. Ivannia mengernyitkan keningnya, menatap ponsel. Panggilan belum terputus.
" Halo, ini siapa? " Ivannia masih bersabar, hasilnya masih tetap sama, senyap tidak ada jawaban dari seberang. Ivannia menatap ponsel dan memaki si penelepon. " Dasar Kurang kerjaan ! " Ivannia nampak geram dan langsung memutuskan panggilan.
Ivannia membuang napasnya dan menatap ponsel itu kembali, maksud hati ingin memaki. Namun yang terjadi, Ivannia terkejut dan matanya terbelalak hampir tidak percaya. Ivannia berkedip cepat untuk memastikan penglihatannya. Menatap ponsel berulang kali, jelas dan tidak salah lagi.
Glek ! Ia menelan salivanya, gambar joevanka terlihat di layar depan.
" Bukankah ini ponsel kak Ivander ? Lalu gambar ini? " Ivannia masih tercengang.
Ponsel Ivander memang ada dua dan ponsel ini selalu ia tinggal di rumah. Rasa ingin tahu menguasai dirinya.
" Sejak kapan dia menggunakan kata sandi? " Ivannia mendengus kasar. Ia membuka ponsel itu dengan kata sandi dengan nama berbeda, dari tanggal lahir, nama panggilan dan juga nama bintang. Hasilnya sama tetap gagal kata sandi yang anda gunakan salah, anda bisa mencoba 30 menit lagi.
" Astaga, kenapa juga kak Ivander menggunakan kata sandi." Kata Ivannia kesal, Ia kembali menatap ponsel Ivander.
" Tempat ini kan? mall yang kami datangi dua hari yang lalu, astaga apakah kakak....? " Ivannia terbelalak dan sepersekian detik ia tersenyum, semoga apa yang ada di dalam pikirannya benar.
" Joevanka begitu cantik di sini. Kak, apa kau menyukai Joevanka ? " gumam Ivannia tersenyum tipis.
" Apa yang kau lakukan Ivannia? " Ivander melangkah panjang dan merampas ponselnya dari tangan Ivannia.
" Kak, kau membuatku kaget ! " pekik Ivannia, ia kesal karena kedatangan kakaknya yang tidak di undang. Eh salah, bukan tidak di undang, tapi datang tiba tiba membuat Ivannia terkejut, ia mengelus dada dengan menghembuskan napasnya.
" Apa yang kau lakukan di kamar kakak? " Bentak Ivander.
" Aku datang ke sini untuk mencarimu dong kak. Gak mungkin juga cari Joe. " sungut Ivannia tidak terima di bentak. Ivander menautkan kedua alisnya menatap Ivannia dengan tajam, ia yakin Ivannia sudah melihat foto itu.
" Daddy mau bicara ! " Seru Ivannia menatap Ivander yang wajahnya berubah.
" Kakak sudah bicara, sekarang kau boleh keluar! "
Ivannia tambah kesal, ia mulai mencurigai sikap kakaknya yang terlihat gugup dan pucat.
" Kak, kenapa foto joevanka ada di ponselmu ? "
" Kau memeriksa ponsel kakak? " sesal Ivander sedikit terkejut.
" Tadi ada panggilan masuk dan nomor itu tidak di kenal, tidak ada jawaban apa mungkin itu Delia?" Ivannia merubah wajahnya tidak suka. Ivander tidak menjawab.
" Jadi kenapa foto joevanka ada di layar depan kakak? Aku penasaran kak. " ucap Ivannia penasaran.
Ivander nampak gugup, Ia berusaha mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan kepada Ivannia. Jika ia mengatakan perasaannya, bisa heboh seisi rumah ini.
"Ehmm..itu.., sebenarnya..gimana ya kakak menjelaskan? " Ivander nampak berpikir.
" Apa mungkin.....? " Ivannia sengaja menggantungkan kata katanya dan ia tersenyum miring menatap Ivander.
Ivander langsung menyela,
" Ponsel Vanka rusak, kakak ingin memberikan ponsel ini, dan aku sengaja mengambil fotonya untuk membuat gambarnya menjadi wallpaper-nya. Aku harap Vanka suka. " ucap Ivander gugup, ia sedikit lega alasan itu sangat tepat untuk menutupi perasaannya.
" Benarkah seperti itu? " Ivannia menaikkan alisnya, ia tersenyum smrik.
" Ya, " sahut Ivander cepat.
" Huftt....Aku pikir kakak suka dengan Joevanka, ternyata bukan! " Ivannia membuang napasnya lesu.
" Aku orang yang paling bahagia bila itu benar benar terjadi kak. Karena Joevanka jauh lebih baik dari Delia. " Tukas Ivannia.
" Apa kakak tidak tertarik dengan Joe, dia cantik, ramah." Goda Ivannia. "Tapi....sayang dia sangat tertutup ya kak." sambung Ivannia dengan lirih.
Ivander hanya diam, " Aku memang menyukainya, tapi dia sudah menjadi milik Samuel. " Ucap Ivander dalam hati.
__ADS_1
" Kapan kau bisa lepas dari siluman Delia itu kak? harusnya kakak bisa memutuskannya sebelum terlambat. " Kata Ivannia mengerucutkan bibirnya.
" Delia, sepertinya aku harus mencari cara untuk berpisah baik baik dengannya. " ucap Ivander dalam hati.
" Kak...kok diam? " tanya Ivannia.
" Kau terlalu banyak bicara, sekarang kakak mau istirahat. " usir Ivander, mendorong tubuh adiknya hingga depan pintu.
" Sekali lagi jangan masuk ke kamar kakak tanpa izin dari kakak. " tegas Ivander.
" Ya, ya, aku minta maaf ! " Sungut Ivannia mengerucutkan bibirnya. " Selamat tidur kak ! " Kata Ivannia masih berdiri di depan pintu. Ia tersenyum manis kepada Ivander.
" Selamat tidur adik kecil, mimpi yang indah ya.." sahut Ivander mengacak rambut adiknya.
" Ah Rambutku ?" rengek Ivannia mencubit lembut perut Ivander.
" Joe! " panggil Ivannia berlari kecil mengikuti langkah Joevanka yang sedang menuruni tangga. Joevanka berbalik dan tersenyum ia menunggu Ivannia di tangga.
Ivander hanya tersenyum samar, menatap dua wanita yang beda usia tiga tahun itu. Ia menutup pintu kamarnya dan berjalan lunglai, Ivander duduk di tepi ranjang dan menatap ponselnya. Ia membuka galeri dan melihat beberapa foto yang diam diam ia ambil ketika mereka di mall, dan foto Joevanka berhasil ia ambil ketika dia sendiri menunggu alea dan ivannia di depan toilet. Ivander memperbesar foto tersebut, dan memfokuskannya pada wajah Joevanka.
" Aku menyukai senyummu, vanka..."
" Kenapa bertambah hari aku semakin mencintaimu, ketika kamu tersenyum, seluruh dunia berhenti bergerak dan ingin selalu melihatmu, kau luar biasa dan apa adanya vanka.." Ivander tersenyum samar.
Joevanka hanya seperti mimpi indah yang tidak bisa digapainya lagi. Tapi Ivander tidak menyesal untuk mencintai Joevanka. Ia tetap bahagia karena mencintainya.
Walau ia hanya mencintainya dalam diam.
Memendam rasa yang begitu dalam.
dan hanya bisa melihat punggungnya dari belakang.
βββββ
Anastasia mendapat morning kiss dari suaminya ketika ia sibuk mempersiapkan sarapan buat anak anaknya. Saat ini Berneta izin pulang kampung karena anaknya sedang sakit. Anastasia masih tetap terjun langsung mengurus dapur.
" Duduk lah sayang, sarapan sudah mau siap! " Kata Anastasia memberikan senyuman termanisnya buat suami.
" Anak anak dimana? " tanya Aaron menyeruput kopi yang di sediakan istrinya. Lalu membaca surat kabar untuk mengetahui perkembangan dunia bisnis sekarang.
" Mereka joging sayang. " sahut Anastasia, tangannya masih sibuk menata sarapan di atas meja.
" Besok ada perjalanan bisnis lagi, aku harap istriku bisa ikut bersamaku. " kata Ivander masih tetap fokus membaca.
" Lagi? " kata Anastasia menghentikan kegiatannya.
Aaron langsung melangkah mendekati istrinya, memeluknya dari belakang.
" Anak anak kita sudah besar, sampai sekarang aku tidak terbiasa harus jauh darimu sayang, walaupun itu hanya sehari..." Ucap Aaron berbisik di telinga istrinya.
Anastasia tersenyum, ia memegang tangan suaminya.
" Baiklah, aku akan ikut ke manapun suamiku pergi. "
Ivander langsung mencium leher istrinya, membuat Joevanka bergidik, ia menggeliat menerima respon ciuman dari suaminya.
" Nanti anak anak datang sayang. " Lirih Anastasia, ia mulai tidak tahan dengan tindakan suaminya.
" Bukankah anak anak joging? "
" Nanti Berneta datang. "
" Berneta lagi pulang kampung, sayang.. " Kata Aaron tidak mau kalah dari istrinya.
Anastasia langsung berbalik ia benar benar tidak kuat, pagi pagi di beri sensasi seperti ini. Ia mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
" Jadi sekarang apa maumu? " Kata Anastasia menaikkan alisnya. Ia tersenyum nakal dan menaikkan sisi bibir kanannya naik ke atas.
" Saya rasa mandi bersama bisa kita lakukan sekarang. Bagaimana? " Kata Aaron menjawab pertanyaan istrinya, ia tersenyum penuh kemenangan.
" Oke, itu usul bagus tuan Aaron, sekarang bawa aku dalam gendonganmu. " pinta Anastasia dengan senyuman yang menggoda.
Dengan cepat Aaron mengendong istrinya ala bridal style, Anastasia mengalungkan tangannya ke leher suaminya dan ia hanya bisa mengulum senyumnya. Anastasia terkadang masih malu atas tindakan suaminya, selalu memberikan kejutan di luar dugaannya.
Siang ini matahari memancarkan cahayanya sangat panas. di sambut kelengangan siang yang sunyi dan sepi. Tidak banyak orang lalu lalang. Sepanas kondisi saat ini. Mungkin ini semua pengaruh dari keadaan yang terjadi saat ini. Orang-orang malas untuk keluar rumah, mereka keluar bila ada keperluan yang mendesak. Seperti halnya
dengan Joevanka, dia berjalan di ikuti samuel untuk mencari kebutuhan mereka selama pendakian gunung.
Sesekali dengan sikap kejahilan Samuel, ia mengajak Joevanka Selfi dan mengirimkan gambar gambar mereka kepada Ivander
" Joe, kita Selfi ya dan gambar kita ini kita kirim ke Ivander. "
" Gak enak Samuel, Apa gak masalah buat Ivander? " Kata Joevanka merasa tidak nyaman.
" Siap suruh juga dia gak ikut, aku yakin dia akan menyesal tidak ikut bersama kita. "
Mereka selfi dan membuat berbagai ekspresi wajah yang lucu-lucu, imut dan menggemaskan seperti menjulurkan lidah, menjulingkan mata, memonyongkan bibir, mengekspos gigi dan mendekat ke kamera, dan berbagai pose konyol lainnya.
__ADS_1
Mereka melakukan di tempat yang berbeda, gambar terakhir Samuel memberanikan diri untuk mencium pipi Joevanka.
Joevanka begitu kaget, mulutnya masih ternganga tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya .
Samuel sengaja melakukannya agar Ivander iri melihat keromantisan mereka.
Samuel langsung mengirim semua gambar mereka ke ponsel Ivander.
Dari gambar yang terakhir, Samuel mengirim gambar dengan membuat caption " DUDE, AKU SANGAT BAHAGIA DAN BERHARAP CINTA INI AKAN SELAMANYA. "
Sementara dari tempat yang berbeda....
Terdengar suara notifikasi dari WhatsApp Ivander, Ivander membuka semua pesan WhatsApp yang berisikan gambar dari Samuel dan Joevanka. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, jelas tidak bisa ia sembunyikan.
Ivander mengangkat wajahnya dan menatap jauh. Caption yang di tulis Samuel membuat perasannya campur aduk.
Ia menarik napas dan melangkah meninggalkan taman yang ia datangi untuk menemui Mommynya Delia.
Ia melangkah menuju mobilnya dan meninggalkan taman, hari sudah sore. Ivander membawa mobilnya kembali ke rumah.
Pagar utama sudah tertutup otomatis. Ia turun dari mobil dan ingin memberikan makanan yang ia beli tadi.
" Selamat sore tuan! " Sapa Arnold langsung bangkit dari duduknya ketika Ivander mendatangi pos.
" Selamat sore, ini saya bawakan makanan buat kalian. " Ivander menyerahkan langsung kepada Arnold, lelaki yang sudah lama bekerja di kediaman Donisius.
" Gak usah repot-repot tuan. " Arnold mengambil kemasan box makanan.
" Tidak apa apa, selamat menikmati. " Kata Ivander tersenyum singkat.
" Terima kasih tuan! " Jawab mereka serentak dan tersenyum bahagia seraya membungkukkan badannya.
" Pak Arnold, tolong masukkan mobil ya! " Ucap Ivander melangkah meninggalkan pos security.
" Tuan...! " panggil Arnold berlari keluar dari pos membawa sesuatu.
Ivander berbalik dan melihat Arnold berlari.
" Ada apa pak? "
" Sebelumnya, aku minta maaf tuan..."
" Minta maaf untuk apa? "
" Tuan, pernah menyuruhku memasukkan mobil ke garasi dan saya mengeluarkan tas ini dari mobil anda. " Sesal Arnold.
" Tas? " Ivander mengerutkan keningnya. " Bukankah ini tas Joevanka yang tertinggal di rumah sakit ? " bisik ivander dalam hati. lalu ia mengambil tas itu dari tangan Arnold.
" Maaf kan saya tuan, karena tidak langsung menyerahkan kepada tuan Ivander. Tas ini sudah lama di pos. "
" Ya sudah tidak apa apa pak. Nanti tas ini aku serahkan kepada Joevanka. "
" Terima kasih tuan! " Ucap Arnold membungkukkan badannya seraya memberi hormat.
Ivander kembali berjalan memasuki rumah. Mendapati Berneta tersenyum ramah dan menyapanya.
" Selamat sore tuan. "
" Apa Joevanka sudah pulang? "
" Sepertinya belum tuan, ada perlu tuan? "
" Tidak, aku hanya ingin mengembalikan tas ini. "
" Biar saya sendiri yang memberikan kepada Joevanka. " usul Berneta.
" Tidak, tidak...biar saya sendiri yang memberikan tas ini. " Kata Ivander berjalan meninggalkan Berneta, Ia menuju kamarnya.
Ivander meletakkan tas Joevanka ke dalam lemari walk-in closet yang ada di kamarnya dan rencananya akan menyerahkan tas itu jika Joevanka sudah pulang.
Ivander berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMUπ
__ADS_1