WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Mengungkapkan perasaan.


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


" Kalau begitu, saya permisi dulu pak.. sepertinya tidak ada lagi yang harus dibicarakan. " Kata Joevanka pamit undur diri. Joevanka mengepalkan tangannya, ketika Jasmine membisikkan sesuatu sebelum ia benar benar keluar.


" Wanita murahan... " Ucap Jasmine menatap Joevanka dengan sinis.


Joevanka melangkah cepat dan seketika itu berlari meninggalkan kamar ekslusif pak direktur. Joevanka terus berlari, sampai seorang lelaki keluar dari gudang tak sengaja ditabraknya.


BRUKKK semua barang yang di bawanya terjatuh dari tangannya.


" Astaga.. maafkan saya pak, saya benar benar tidak sengaja. " Kata Joevanka dengan wajah memelas melihat barang yang dibawa lelaki itu terjatuh dan berantakan.


" Oh tidak apa apa nona, jangan terlalu dipikirkan. " Kata pria itu tersenyum karena ia melihat wanita itu hampir menangis. Joevanka dengan cepat mengumpulkan barang barang yang berantakan dan menyerahkan kepada pria itu.


" Terima kasih nona. " Ia mengambil barang itu dari tangan joevanka.


" Jangan bilang terima kasih pak, saya tidak enak. Saya yang salah tidak melihat bapak tadi. " Ujar Joevanka tersenyum tipis.


" Tidak apa apa nona. " Ucap pria itu mengangguk sambil tersenyum.


" Kalau begitu, saya permisi pak. " Ia sedikit membungkukkan badannya dan membalas senyuman pria itu, lalu pamit undur diri.


Joevanka kembali berjalan menuju pintu darurat. Joevanka akhirnya memilih tempat yang cocok untuk menangis. Ia memilih duduk menyembunyikan wajahnya diantara kedua lengan.


" Apa tidak ada kata kata lain apa? seenaknya mengatakan aku wanita murahan. " Tangan joevanka semakin gemetar, ia meremas tangannya sendiri, mengingat perkataan Jasmine.


" Apa yang harus aku lakukan? aku mencintainya. "


" Aku tidak bisa melepaskannya? sampai sekarang aku masih mencintainya. "


Joevanka menyentuh dadanya, getaran ini masih sama. Ia kembali mengingat ketika dirinya berada dirumah sakit. Semua kenangan masa lalunya kembali pada saat itu juga.


FLASHBACK ON


Joevanka merasakan sesuatu yang perih dipunggung tangannya saat ia menggerakkan tangannya. Ia melihat punggung tangannya sudah tertancap infus. Pandangannya buram, masih beradaptasi dengan cahaya ruangan. Perlahan-lahan Joevanka akhirnya berhasil membuka matanya dengan sempurna. Ia melihat sekelilingnya di dominasi warna putih. Aroma obat obatan tercium di hidungnya.


" Ah kepalaku? " Joevanka meringis kesakitan. Ia berusaha mengingat. ingatan itu kembali seakan berputar putar di dalam otaknya. Joevanka mencengkeram kepalanya begitu kuat. " AAARGGHH..."


" Bahkan aku berharap tidak ingin bertemu denganmu dan bahkan melihatmu sedetikpun, aku tidak ingin."


" Kau terlihat polos, ternyata kau jauh lebih buruk dari wanita penggila malam. "


" Aargghhhh...! " Joevanka kembali mencengkeram kepalanya, bahkan lebih kuat lagi. Napasnya terlihat naik turun.


" Suara apa itu? " Joevanka mendengar gemercik air dari arah kamar mandi. " Siapa itu? " Pikirannya berkecamuk dan berusaha menenangkan dirinya.


CEKLEK


Pintu terbuka dan bersamaan itu Joevanka kembali memejamkan matanya.


Suara langkah kaki terdengar mendekati ranjang tempat tidur.


Ivander mengambil kursi dan duduk di dekat ranjang dimana Joevanka sedang tertidur. Joevanka dapat merasakan jika Ivander sedang merapikan selimutnya. Ia juga merasakan Ivander mengambil tangannya. Jantungnya berdetak kencang dan sungguh menegangkan.

__ADS_1


Deg deg deg


Joevanka menahan napas, jantungnya berdebar begitu keras. Ivander mencium tangannya dengan lembut. Ia berusaha menenangkan dirinya, bersikap biasa saja seperti wanita yang memang sedang tertidur.


" Begitu sulitkah kau mengingat ku Vanka? Maafkan aku jika aku membuatmu bingung. Aku akan selalu menunggu sampai kau benar-benar mengingat ku. Aku sangat mencintaimu vanka, sangat..."


Joevanka dapat mendengar hembusan napas Ivander, ia seperti lelaki putus asa. Tiba tiba hening, tidak ada suara lagi. Joevanka perlahan-lahan membuka matanya. Benar saja Ivander sudah tertidur dengan posisi duduk sambil memegang tangannya.


Air bening yang sejak tadi terkumpul di kelopak matanya terjatuh di antara ujung matanya. Ia kembali menatap langit langit kamar. Ingatan itu semakin jelas. Ternyata lelaki yang dicintainya adalah sosok yang yang tidur di sampingnya. Uncle Aaron pernah mengatakan jika Ivander menyesali perbuatannya dan memintanya pulang karena Ivander mencintainya.


" Aaahhhhh.. Samuel apa kabarmu? "


" Ivannia, Alea, Aunty Anastasia Uncle Aaron, apa kabar kalian? "


Tubuh Joevanka bergetar menahan isak tangisnya. Ia menutup mulutnya agar tangisan itu tidak didengar oleh lelaki itu.


FLASHBACK OFF


⭐⭐⭐⭐⭐


Mengingat semua yang terjadi padanya, apa yang telah dilakukan auntie Melisa kepadanya. Aaahhhhh... Joevanka mendongak keatas, mulutnya terbuka.


Air matanya kembali menguasai dirinya. Ia tidak bisa menolak betapa hancurnya hatinya saat itu. Joevanka tersenyum miris.


Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi. Air bening yang sedari tadi berjatuhan kini seperti menganak sungai membasahi pipinya. Ia kembali menyentuh dadanya.


" Aku mencintainya, sampai sekarang pun aku mencintainya. Disaat aku hilang ingatan, aku tetap ingat seseorang pernah aku cintai. Tapi aku tidak tahu kalau itu kau Ivander? " Joevanka mengeluarkan suara lirih. Joevanka kembali mendongak keatas, ia memejamkan matanya. Menyenderkan tubuhnya dinding sambil memukulkan bagian belakang kepalanya dengan pelan. Ia ingin menghentikan waktu.


" Aku layak bahagia, aku layak bahagia kan mom, daddy? Aku bisa bahagiakan? " kata Joevanka tertawa sambil menangis. Air mata mengalir begitu deras di pipinya. Ia mengeluarkan suara lirih, wajahnya mengerut, ia berusaha bernapas meski sesenggukan.


Tubuh Joevanka semakin bergetar, air matanya terus mengalir ke dagunya.


Perasaannya kembali, mencoba menstabilkan napas yang semakin naik turun. Joevanka membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya.


Ivander menghembuskan napasnya sekaligus lewat mulut, ternyata Joevanka tidak mencintainya lagi. Ia berusaha tidak ingin mengingat kenangannya dulu. Berarti itu sama artinya dia ingin mengubur masa lalunya. Buat apa memaksanya lagi. Dengan cara melepaskan adalah pilihan terbaik.


Ivander menuruni anak tangga kembali dan berdiri di depan Joevanka.


" Vanka....! " Panggil Ivander menatap Joevanka dengan sendu.


Joevanka menghentikan kegiatan menangis-nya. Ia mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Joevanka mendongak keatas. Jantung nya memukul sangat kencang. Napasnya pun ikut tertahan di dada saat melihat sosok yang ada di depannya.


" Vanka, kenapa kau menangis? Apa kau meragukan cintaku? " Tanya Ivander berusaha menguatkan hatinya untuk melepaskan Joevanka.


Joevanka menutup erat mulutnya, agar tidak mengeluarkan suara tangisnya. Wajahnya memerah dan mengerut. Air matanya kembali tergelincir membasahi pipinya.


" Apa kau tidak bisa membuka hatimu Vanka? " Kata Ivander berusaha tersenyum walau hatinya begitu perih.


Joevanka menggeleng, hatinya sakit mendengar kata kata itu, sejujurnya ia sangat mencintai Ivander.


Ivander menarik napasnya dalam dalam, matanya tidak lepas menatap joevanka. Walau kata kata ini sangat berat untuk dia ucapkan.


" Baiklah, jika memang kau tidak bisa membuka hatimu, aku akan membiarkanmu pergi dan melepaskanmu. Aku tidak bisa menahanmu jika engkau selalu menangis seperti ini. Sebelum aku melepaskanmu, ada baiknya kau tahu perasaanku yang sebenarnya. " Ivander sesaat terdiam, ia menarik napasnya dalam-dalam. Seakan mengumpulkan kekuatan untuk mengatakannya.


" Aku tidak tahu, sejak kapan aku mencintaimu. Semakin hari perasaan ini semakin bertambah. Namun Samuel lebih dulu mengatakan cintanya kepadamu. Sebelumnya aku salah paham, aku menduga kau menerima cinta Samuel Vanka dan pada saat itu aku memilih mundur karena aku masih memikirkan persahabatanku dengan samuel dan memutuskan untuk memendam perasaan ini. Setelah kau pergi aku membaca buku diary-mu, semuanya tentang perasaanmu untukku. Dan saat itu aku tahu kau ternyata mencintaku vanka..." Sesaat Ivander terdiam, Kata-katanya sendiri menyengat di batinnya, dalam sekejap menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi. Bahkan untuk menelan salivanya saja ia tidak sanggup.


" Buku diary? " acap Joevanka dalam hati, wajahnya berkerut dan menatap Ivander dengan pandangan nanar.


" Dan aku berusaha untuk menemuimu ke London Vanka, tapi grandpa meninggal disaat aku mau berangkat dan tidak lama disusul dengan grandma. Aku sangat berduka atas kehilangan mereka dan aku sampai lupa untuk menemuimu ke London. Dan setelah itu, aku memantapkan diriku untuk menemuimu lagi. " Lagi lagi Ivander terdiam, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap wajah Joevanka dengan lekat.


" Kau tidak ada Vanka, dan aku berusaha mencarimu dengan menanyakan kepada orang orang disana. Tapi salah satu dari mereka tidak ada yang tahu. Tapi aku percaya, suatu saat kita akan dipertemukan. Dan ternyata benar kita dipertemukan kembali di Australia namun keadaannya sudah berbeda. Kau tidak mengingatku. Aku sampai frustasi dan menanyakan ke daddy dan mereka mengatakan kebenarannya. Kau berusaha menyelamatkan mommy. Itu yang membuat aku kembali lagi ke Australia dan membuatmu berada di dekatku agar ingatanmu kembali dan kita bisa memulai kembali hubungan ini. Namun kenyataannya tidak seperti yang aku harapkan. Kau bahkan semakin membenciku. Maafkan aku Vanka, semua itu aku lakukan karena aku sangat mencintaimu. Aku akan melepaskanmu dan membiarkanmu pergi. Aku akan memberikan surat perpindahanmu ke Australia lagi. " ucap Ivander dengan suara terendahnya. Ia berusaha untuk tetap kuat dan melanjutkan kata katanya.

__ADS_1


" Terima kasih sudah menjadi sekretarisku selama tiga bulan Vanka. Aku harap kau bisa menemukan kebahagiaanmu. " Kata Ivander memaksakan bibirnya untuk tersenyum, ia menepuk pundak Joevanka dengan lembut. Ia perlahan berjalan menaiki tangga untuk meninggalkan Joevanka.


Joevanka semakin menangis, ketika mendengar semua pengakuan dari Ivander. Ia bangkit dan menatap lelaki itu. Suaranya bergetar, air matanya kembali terjatuh. Joevanka menangis dan terus menggeleng.


" Siapa yang mengizinkanmu pergi Ivander? " Ucap Joevanka dengan pandangan nanar. Bahu Joevanka bergetar, tatapannya lemah. perasaannya saat ini benar benar kalut, takut dan resah.


" Selangkah kau pergi meninggalkanku, aku akan membunuhmu." ancam Joevanka dengan suara tangis yang sesenggukan.


Ivander perlahan membalikkan tubuhnya, ia menatap Joevanka yang terus menangis.


" Aku mencintaimu Ivander, aku sangat mencintaimu...." erang Joevanka tersedu-sedu.


Jantung Ivander langsung terpicu cepat ketika mendengar pengakuan Joevanka.


" Jadi jangan pergi, tetaplah seperti ini dan tetaplah mencintaiku Ivander. "


Ivander tidak tahan lagi, dengan langkah cepat Ivander menuruni anak tangga. Menatap Joevanka dengan haru dan langsung menyambar tubuh joevanka dengan erat, hingga tubuh Joevanka sampai terangkat. Perasaannya saat ini sangat lega. Ivander mengeratkan pelukannya.


" Terima kasih Vanka, terima kasih..."


Aaahhhhhhhhh ringis suara tangis Joevanka semakin terdengar keras. Ia terus menangis di dada Ivander. Mulutnya terbuka dengan wajah mengerut. Ivander ikut menangis.


" Aku merindukanmu Vanka...Selama enam tahun aku selalu merindukanmu. Kau berada di dekatku tapi tidak bisa memilikimu. Tapi sekarang hati ini lega. Kau mengingat semuanya. Terima kasih Vanka...terima kasih. " Kata Ivander mencium puncak kepala Joevanka dengan erat dan beberapa tetesan air matanya terjatuh.


Joevanka hanya mengangguk tidak mampu untuk berbicara. Beberapa kali ia membuka mulut dan untuk mengeluarkan napasnya yang tertahan. Bersama mereka melepaskan rindu. Walau mereka belum mengungkapkan perasaan mereka dulu. Tapi cinta membuktikan bahwa hati mereka tetap menunggu.


Ivander melepaskan pelukannya, menatap Joevanka dengan sayang. Ia mengusap air matanya yang terus terjatuh dipipinya.


" Jangan menangis lagi Vanka, aku akan membuatmu bahagia. Kamu mengerti? " Kata Ivander dengan lembut.


Joevanka mengangguk sambil tersenyum. Namun air matanya terus terjatuh begitu saja.


Ivander memajukan wajahnya dengan pelan dan meraih bibir Joevanka, mencium bibir itu dengan sentuhan yang sangat lembut. Mencoba menghentikan tangisan Joevanka dengan Lmatan- Lmatan yang dalam. Menjelajah setiap bagian lembut, mengecap tanpa sisa.


Gemuruh di dada Joevanka semakin menjadi. Ia benar benar terlena. Ivander berhasil menghentikan tangisannya. Tubuhnya gemetar hebat dan merasakan sensasi yang luar biasa dari dalam dirinya. Seluruh ototnya terasa menegang. Seperti ada aliran listrik yang menyetrum dengan kedutan kedutan yang menjalar keseluruh tubuh.


Ivander melepas tautan bibirnya. Suara terengah-engah terdengar begitu jelas dari keduanya. Ivander menangkup kedua pipi Joevanka menatap Ivander dengan sayu. Ivander menatapnya dengan tersenyum lembut.


" Saya rasa kita bisa lanjutkan kembali, tapi tidak disini..." ucap Ivander berbisik, napasnya berhembus hangat membuat wajah Joevanka bersemu merah.


Ivander meraih tangan Joevanka, memasukkan jari jarinya ke sela-sela jari Joevanka. Keduanya tersenyum bahagia. Ivander membawa Joevanka meninggalkan tempat itu.


BERSAMBUNG


❣️ Hayoooo siapa yang baper 🤣 saya sendiri kah? jangan malu angkat tangan


☝️🤣


❣️ Semua sudah terjawab disini, ingatan Joevanka sudah Kembali ketika ia dirawat di rumah sakit ya.


❣️ Saya rasa kita bisa lanjutkan kembali, tapi tidak disini. 🤣🤣🤣


Aih.. babang Ivander gak sabaran banget ya, kira kira ngapain coba wakakakaka emak anak tiga baper habis nih...


❣️ Hahahaha Jangan lupa ikuti terus ya sayang sayangku 😘🥰


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌

__ADS_1


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2