
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Joevanka sengaja mengajak Ivannia dan Alea ke taman bermain sebelum ia berangkat ke London. Dari pukul lima sore mereka sudah berada di tempat wahana permainan.
Taman bermain sangat tepat untuk menghilangkan kesedihan Joevanka. Ivannia mengajak Joevanka dan Alea mencoba merasakan semua wahana yang ada. Wahana ekstrim dari lintas-gunung dan balap air dan wahana roller coaster benar benar permainan pemicu adrenalin dan menegangkan.
Setelah lelah, dan sampai mengeluarkan teriakan teriakan yang menguras banyak tenaga, akhirnya mereka benar benar menyerah. Mereka keluar dari area permainan wahana dan memasuki sebuah restoran untuk mengisi perut karena mereka kelaparan. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Hal yang pertama di keluarkan Ivannia dari tas selempang-nya adalah ponsel.
Ia ingin membuka chattingan dari teman sekolahnya. Namun apa yang terjadi, Ivannia berhasil membulatkan matanya dengan sempurna.
" Haaaa...empat puluh panggilan tak terjawab? " Ivannia terbelalak sampai membuat mulutnya terbuka. " Gak biasanya kak Ivander, seperti ini...? " Wajah Ivannia berkerut.
" Serius? " Alea dengan cepat mengeluarkan ponselnya. Alea penasaran apakah Ivander juga menghubunginya. Dan benar saja dugaannya, Alea juga terkejut, menatap ponselnya, begitu banyak panggilan dari Ivander.
" Oh my God, aku dua puluh panggilan tidak terjawab. Kau di hubungi gak Joe? " tanya Alea. Joevanka yang sedari tadi memegang ponselnya, hanya menggeleng pelan.
" Telepon balik Ivannia, siapa tau ada perlu ! " kata Alea.
" Paling juga nyuruh pulang. Males! " Ivannia mengerucutkan bibirnya, Ia menopang dagunya dengan tangan kanannya.
" Ia, hubungi aja, aku gak enak jika Ivander sampai marah, karena aku yang ngajak kalian." timpal Joevanka.
" Sudah gak bakal di marah, takut amat sih.." Keluh Ivannia, ia langsung meneguk minuman dingin di hadapannya.
Tak beberapa lama, makanan yang mereka pesan, sudah tersaji di atas meja.
Mereka menikmati makanannya dalam diam. Seperti biasa Ivannia akan mengambil beberapa foto dan akan meng-upload nya ke media sosial. Tak menunggu lama Ivannia langsung mendapatkan like dan komentar hingga sampai ribuan. Termaksud Ivander ada di kolom pertama mengomentari postingannya mengatakan, ' PULANG, KALAU TIDAK KAU AKAN TIDUR DILUAR.' Ivannia hanya terkekeh, ia melanjutkan menikmati makanannya.
" Ada yang lucu? " Tanya Alea.
" Kak Ivander nampaknya kesal, dia mengomentari postinganku dengan mengirimkan emoji marah."
" Ivander marah? " Alea memasang wajah serius.
" Kau seperti tidak mengenal kak Ivander saja, dia itu paling benci jika kita pulang terlalu malam, lihat jam ini..." Ivannia mengetuk jam yang ada di tangannya, " Ini sudah pukul sepuluh malam." sambung Ivannia.
" Benar juga ya, Sekarang mari kita menghabiskan makanan kita dan langsung pulang, ngeri lihat Ivander kalau marah, kayak singa lapar! " Alea mendengus.
Joevanka tidak memberi komentar, ia tetap menghabiskan makanannya dalam diam. Dia hanya ingin menikmati malam terakhir bersama Alea dan Ivannia saja. Joevanka sangat menghargai betapa besar nilai kebersamaan dengan mereka. Tiket yang mahal pun tidak berarti apa-apa. Besok, bahkan seterusnya Ia sendiri tidak akan bisa melepaskan rindu untuk bertemu dengan mereka lagi.
ββββββ
Mereka berpisah di restoran. Alea membawa mobil sendiri dan langsung pulang. Begitu juga dengan Ivannia dengan cepat membawa mobilnya membelah keheningan malam. Ia sendiri juga takut jika Ivander marah. Ketika Ivander marah, kakaknya bahkan tidak lagi berpikir jernih. Ia bahkan melampiaskan banyak hal secara gamblang di hadapan Joevanka. Jadi sebisa mungkin Ivannia akan menghindari hal itu, bila perlu ia akan meredam emosi Ivander. Apalagi akhir-akhir ini Ivander sering marah tanpa sebab yang jelas, membuat Ivannia terkadang menggeleng tidak percaya.
Ivander berdiri tanpa ekspresi dan memicingkan matanya, ketika melihat mobil berwarna putih memasuki pekarangan rumah. Ia tersenyum miring dengan posisi bersedekap dari balkon kamarnya.
Berneta dengan cepat membukakan pintu dan membungkukkan badannya seraya memberi hormat.
" Selamat malam nona..! "
" Kak Ivander dimana? " tanya Ivannia.
" Sepertinya sudah tidur nona. " jawab Berneta dengan ramah.
" Sepertinya aku langsung ke kamar Joe, aku mau mandi. " ujar Ivannia dengan langkah cepat meninggalkan Joevanka.
__ADS_1
Joevanka mengangguk dan membiarkan Ivannia berlari menuju kamarnya. Ivannia menghindari kakaknya sebelum keluar dari kamar, ia tidak ingin malam ini terjadi perang di rumah ini.
Seperti biasa Berneta melakukan tugasnya, mengecek dan memeriksa keadaan seisi rumah.
" Nona Joevanka belum tidur? "
" Setelah menyiapkan teh madu bu, aku akan istirahat.." kata Joevanka dengan ramah. Ia memang tidak bisa tidur jika tidak meminum teh madu.
" Pukul berapa nona akan berangkat besok?" tanya Berneta.
" Sekitar pukul lima sore bu. "
" Saya akan siapkan kue kering untuk nona bawa ke sana, sebagai oleh oleh dari saya non. "
" Gak usah repot-repot bu, " tolak Joevanka dengan halus.
" Gak apa apa non, Itu ucapan terima kasihku kepada nona Joevanka yang sering membantuku. " kata Berneta.
" Gak masalah bu, aku gak merasa terbebani membantu ibu selama ini, dan saya sudah terbiasa membantu mommy dulu semasa hidupnya. "
" Obrolan kita ini, seperti nona tidak kembali saja. Maaf ya non! saya ke kamar dulu! " kata Berneta pamit undur diri.
" Bu...! " Panggil Joevanka menghentikan langkah Berneta. Joevanka mendekat dan memeluk Berneta sambil mengucapkan sesuatu.
" Jika Joevanka pernah ada kesalahan, maafin ya bu, Joevanka hanya manusia biasa tidak luput dari sebuah kesalahan. Kadang buat ibu kesal, dan marah, apalagi akhir-akhir ini, aku sering terlambat bangun dan tidak membantu ibu di dapur. "
" Sudah..sudah...Non, bicara nona seperti tidak mau kembali ke sini lagi. Besok kita lanjut bicara lagi non. Hari ini benar benar lelah dan membuatku ngantuk. " Berneta melepaskan pelukannya, ia memang sengaja mengalihkan pembicaraan mereka karena ia sendiri tidak mau menangis di hadapan nona Joevanka. Berneta sendiri sudah tahu jika nona Joevanka tidak akan kembali lagi.
" Maafkan saya non..saya pernah mendengar pembicaraan nona, sedang menangis dan minta pulang ke London. " kata Berneta berucap dalam hati.
Berneta langsung masuk ke dalam kamar dan langsung tidur, ia begitu lelah hari ini. Berneta membiarkan Joevanka menyeduh teh madu yang biasa ia lakukan setiap malam.
" Praaangggg!!! "
" Ivander, maaf aku...." kata Joevanka gagap.
Ivander hanya diam, matanya mengarah ke bawah dan melihat gelas pecah yang berantakan. Ivander tersenyum sinis dan matanya beralih menatap Joevanka seakan menguncinya.
Joevanka menggigit bibir bawahnya, berusaha bersikap tenang. Yang jelas ia hanya ingin malam terakhirnya terkesan baik. Walau saat ini di dalam hatinya seperti tergores luka yang ditaburi jeruk nipis.
" Selalu buat kekacauan..." Kata Ivander dengan nada sangat dingin.
" Ma-aafkan aku..."
Joevanka tambah gugup, rasa berkeringat, gemetar, panas dingin, dan sekarang dirinya seperti sengsara menghadapi sikap Ivander.
" Ivander, sepertinya kita harus bicara! "
" Bicara? apa kurang jelas aku mengatakan sedetik pun aku tidak ingin melihatmu." tegas Ivander.
" Tapi ini harus kita selesaikan baik baik Ivander. "
" Selesaikan baik baik, apa kita ada masalah? " Sarkas Ivander mengangkat alisnya setengah.
Joevanka memejamkan matanya, ia menarik napasnya dalam dalam.
" Aku bukan seperti yang kau tuduhkan pada saat malam itu Ivander. "
" Kau terlalu banyak bicara...! " kata Ivander dengan nada geram.
" Tapi..."
" Cukup....! Aku tidak ingin mengulang ucapanku JOEVANKA." Kata Ivander melangkah menuju lemari pendingin, ia mengambil air mineral dari sana.
Hening menyeruak di antara mereka, tercipta rasa canggung, membuat suasana semakin mencekam. Joevanka hanya bisa diam terpaku dan membiarkan Ivander mengambil sesuatu.
__ADS_1
"Kau terlihat polos, ternyata kau jauh lebih buruk dari wanita penggila malam. Aku harap ini terakhir kali, kau mengajak Ivannia dan Alea keluar malam." ucap Ivander menekan setiap perkataannya. lalu meninggalkan Joevanka yang diam membeku di tempatnya.
DEG
Kata-kata itu menyengat di batinnya, dalam sekejap menguasai dentum-dentum sesak yang tak berperi. Bahkan untuk menelan salivanya saja ia tidak sanggup. Joevanka masih bisa melihat punggung yang tegap berjalan menaiki tangga. Tubuh Joevanka serasa tidak bertulang. Ia terduduk lemas, menatap lurus. Tangannya gemetar membersihkan pecahan gelas yang ia jatuhkan. Air matanya tumpah begitu saja.
Joevanka menunduk dengan tatapan kosong, "Kau menyakitiku lagi ivander. " kata-kata itu lolos dari bibirnya, tangannya masih tetap membersihkan sisa-sisa pecahan gelas.
Joevanka mencoba mencerna, dan mencoba mengerti, hatinya makin perih saat ini.
Air matanya kembali menguasai dirinya. Ia tidak bisa menolak betapa hancurnya hatinya saat ini. Ivander menganggapnya wanita malam? Joevanka tersenyum miris.
Dengan langkah gontai, Joevanka melangkah pelan meninggalkan dapur menuju kamarnya.
Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi. Air bening yang sedari tadi berjatuhan menganak sungai membasahi pipinya.
Joevanka menutup pintu kamarnya dan masih bersandar di daun pintu. Joevanka masih memegang dadanya. Tatapan dan wajahnya berpindah dan ia terus menggeleng. Joevanka menarik napasnya dalam dalam, menahan sesak teramat sangat.
" Sebegitu benci kah kau Ivander? " Joevanka mengeluarkan suara lirih.
Joevanka mendongak ke atas, ia memejamkan matanya sambil memukulkan bagian belakang kepalanya ke pintu.
Tanpa menyadari Joevanka tertawa sambil menangis. Air mata mengalir begitu deras di pipinya. Tubuhnya yang bersandar di pintu merosot ke bawah. Kakinya terasa lemah, Joevanka terduduk di lantai dengan kaki melipat kebelakang. Ia mengeluarkan suara lirih, wajahnya mengerut, ia berusaha bernapas meski sesenggukan. Tubuh Joevanka semakin bergetar, air matanya terus mengalir ke dagunya.
Perasaannya kembali, mencoba menstabilkan napas yang semakin naik turun. Hal yang paling menyakitkan. Ivander, lelaki yang sangat dicintainya menganggapnya seperti wanita malam.
" Setidaknya kau berbeda Ivander...."
" Setidaknya kau bisa menjaga perasaan..."
" Setidaknya kau bisa menatap mataku.."
" Dan bisa merasakan hati ini sakit..."
" Aku terluka..."
" Sangat terluka..."
"Untuk saat ini, aku akan menangis dan mencoba melupakan kesakitan ini, karena aku begitu mencintaimu. Namun suatu hari, kau akan sadar telah menyakiti perasanku Ivander. Di saat kau tahu aku sangat mencintaimu? saat itu, aku tidak akan pernah kembali lagi."
Joevanka kembali menguatkan hatinya, Ia pasti bisa melewati semua ini.
Ini mungkin malam terakhir ia menangis, setelah ini ia tidak akan menangis Lagi. Menangisi lelaki yang dicintainya. Joevanka harus bangkit dan harus lebih kuat.
Joevanka harus mencapai tujuan, walau banyak hal menarik di dalam perjalanan.
Ia tahu perjalanan ini memang melelahkan, tapi sesungguhnya, itulah kehidupan yang sebenarnya. Walau merasakan kepahitan dan tujuan akhirnya adalah kebahagian.
.
.
BERSAMBUNG
# Author lagi ulang tahun nih...kasih ucapan selamat ulang tahun dong π€£π€£π€£
# Author kepedean banget ya π€£π€£π€£
# Salam sehat buat my readers πππ
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU
__ADS_1