
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Celin memarkirkan mobilnya dengan asal, ketika ia melihat Aaron dan Anastasia berjalan memasuki lobby hotel.
Dengan langkah cepat Celin berlari mengejarnya. Namun sayang ia kehilangan mereka di lift. Celin terlambat 5 detik, pintu lift sudah tertutup. Dengan kesal celin menendang pintu lift dan memukul pintu itu berulang kali.
" Astaga aku kehilangan mereka. " kata Celin nampak frustasi.
Ini adalah kesempatan baik untuknya, bertemu dengan Aaron Donisius yang sudah lama di tunggunya. Celin sendiri ingin melihat bagaimana ekspresi pasangan suami istri itu ketika mengetahui anak yang mereka sayangi, menjalin hubungan dengan anaknya Delia. Tiba tiba wajah Celin berubah, seringai iblis terukir di wajahnya. Ada rasa bahagia menyelinap di hatinya. Ini akan menjadi pertunjukan yang menarik.
" Aaron Donisius, apa kabarmu sayang? Sampai sekarang aku masih tidak bisa menilai hatimu. Tiga tahun menjalin hubungan, tak sekalipun kau menyentuhku..Dasar brengsek ! " kata Celin nampak geram, mengingat masa lalunya.
Sepersekian detik, Celin kembali tertawa jahat dan berjalan menuju sofa yang ada di lobby. Ia memilih untuk menunggu pasangan suami istri itu.
SETENGAH JAM BERLALU...
SATU JAM BERLALU...
DUA JAM BERLALU...
Ia membuang napas panjang, berulang kali melirik jam, pasangan yang di tunggunya belum juga keluar.
" Astaga, ngapain juga mereka sampai dua jam di hotel, apa yang mereka lakukan? " kata Celin dengan nada geram.
Ia menatap pintu lift berulang kali. Banyak yang keluar, tapi orang itu bukan lelaki yang di carinya.
Huft..ia menghembuskan napasnya dengan kesal.
Tak berapa lama, sosok yang celin tunggu akhirnya keluar. Celin tersenyum miring, ia kembali menggunakan kacamatanya. Dengan anggun, Celin berjalan mendekati pasangan itu.
" Selamat siang Aaron Donisius! " Sapa celin tersenyum smrik dengan tatapan mengunci, ia melihat Aaron tanpa melihat Anastasia.
Celin terlihat anggun, membawa handbag dengan desain klasik yang selalu ia pegang. Dia ingin terlihat tampil elegan di hadapan Aaron Donisius.
Langkah mereka terhenti ketika seseorang memanggil mereka. Aaron dan begitu juga Anastasia berbalik dan melihat siapa yang memanggil mereka.
" Apakah kau masih mengingatku Aaron Donisius? " Kata Celin ketika melihat wajah Aaron dan Anastasia menegang dan terlihat kaku. Celin kembali tersenyum dan membuka kacamata yang bertengger di hidungnya. Ia melemparkan senyum terbaiknya kepada lelaki yang pernah mengisi hatinya.
Aaron sangat terkejut dan sangat terkejut ketika melihat wanita yang tidak ingin dilihatnya untuk selamanya, kini berdiri dihadapannya. Rahangnya bahkan mengeras.
HAHAHAHAHA
" Apa begini reaksimu Aaron, melihat wanita yang pernah kau cintai? " Kata Celin dengan nada mengejek.
Mendengar itu, wajah Aaron sudah berubah, kilatan marah sangat jelas terpancar di bola matanya. Sementara Anastasia diam membeku, ia sampai mencengkeram tangan suaminya dengan kuat. Dengan lembut Aaron menyentuh tangan istrinya, ia menatap istrinya lekat lekat dan tersenyum singkat.
" Jangan takut sayang, tidak ada yang perlu ditakuti." bisik Aaron kepada istrinya untuk menenangkan Anastasia.
HAHAHAHA
" Astaga Aaron, sejak kapan kau jadi pendiam seperti ini, apa kau sudah melupakan bagaimana dulu kau menyiksa istrimu dengan kejam? Sekarang kalian tampak bahagia, Cih...jika dilihat, aku rasa kau sudah melupakan bagaimana penderitaanmu dulu, kau mendapatkan sengatan listrik yang menyetrum tubuhmu..." Kata celin tersenyum jahat. Ia melirik Anastasia dengan sinis. Ia menaikkan sisi bibir kanannya naik keatas.
" Tutup mulutmu, brengsek! " Aaron nampak geram, jari telunjuknya ia arahkan kepada Celin. Agar wanita itu bisa menjaga mulutnya.
" Bukankah kau juga menikmatinya Aaron, kau lebih kejam menyiksa istrimu. Bukankah begitu Anastasia? "
" Aku tidak ingin berurusan denganmu Celin, ini pertemuan terakhir kita... " sengit Aaron dengan nada dingin.
HAHAHAHAHA
Kembali Celin tertawa, bahkan suara tawanya terdengar begitu nyaring di tempat lobby. Anastasia mengernyit, ia mengedarkan pandangannya dan melihat tatapan orang sedang memperhatikan mereka.
__ADS_1
" Saya rasa aku tidak bisa Aaron Donisius. Karena sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga." Kata celin dengan nada mengejek.
Aaron sangat terkejut, raut wajahnya berubah mengerut.
" Sayang, Jangan memperdulikan kata katanya, lebih baik kita pergi dari sini. " Kata Anastasia menarik tangan suaminya. Hingga keluar dari lobby hotel.
Celin tidak mau kalah, Ia mengejar Aaron.
Dia berteriak sampai membuat Anastasia sendiri diam terpaku dan tidak melanjutkan langkahnya.
" Kita akan jadi keluarga Aaron, karena Ivander mencintai putriku. Nasib kalian sama, kau dulu mencintaiku dan sekarang anakmu sendiri mencintai putriku. Jadi kita memang tidak bisa dipisahkan..." Kata Celin dengan suara nyaring diiringi dengan tawa hambar.
" Apa maksudmu Celin? " Anastasia tidak bisa menutupi rasa terkejutnya, ia masih memastikan pendengarannya. Wajahnya terlihat marah.
" Apa kurang jelas Anastasia? Ivander sangat mencintai putriku, mereka tidak akan terpisahkan lagi. Terima kenyataan, bahwa anakmu akan melamar putriku. " Ucap Celin dengan nada penuh kemenangan dan terdengar sombong.
" Kau pikir aku akan percaya celin. " kata Anastasia tersenyum kecut.
" Tanyakan langsung pada Ivander, mungkin kalian tidak akan mempercayaiku. " Kata celin mengangkat alisnya lebih tinggi. Kemudian ia tertawa. Jelas ia bisa merasakan ekspresi ketakutan dari pasangan itu, dengan sinis Celin melanjutkan kata katanya. " Dunia ini memang sempit ya, anak anak kita saja ditakdirkan untuk bersama. Terima takdir ini Aaron. Kita mungkin saja tidak berjodoh, tapi anak anak kita ditakdirkan untuk bersama. Kita mau bilang apa? ia kan? " ucap Celin tertawa hambar.
Aaron dengan penuh emosi, mencengkeram tangan Celin dengan kuat hingga membuat celin kesakitan. Ia menatap celin dengan seringai tajam.
" Aku tidak akan biarkan itu terjadi, sampai dunia kiamat aku tidak mengizinkan anakku masuk ke dalam keluarga AME. Jangan harap itu terjadi! " Desis Aaron menepis tangan celin dengan kuat hingga membuat Celin terhuyung ke samping. Aaron menatap tajam dan rahangnya bahkan mengeras. " Jangan harapkan itu, apa kau mengerti? " ucap Aaron dengan nada tegas dan sangat dingin.
Mereka meninggalkan Celin yang terus tertawa dan mengucapkan kata katanya berulang kali. Aaron tidak perduli dan terus melangkah sambil memegang tangan istrinya. Mereka berjalan menuju parkir dan dengan cepat masuk ke dalam mobil.
Hening menyeruak di antara mereka berdua, mereka sama sama mengatur napasnya.
Aaron bahkan memejamkan matanya. Ia masih nampak geram, Aaron nampak emosi dan memukul setir mobil berulang kali.
" Tenangkan dirimu sayang, kita akan tanyakan langsung kepada Ivander. Aku juga begitu terkejut, Ivander tidak pernah menceritakan hubungannya dengan siapapun, Ivander begitu terbuka. "
Aaron tidak menanggapi perkataan istrinya, ia masih menahan kemarahannya. Ia berusaha mengendalikan segala rasa kesalnya.
Aaron dengan cepat membawa mobilnya membelah jalan agar tiba di rumah dengan cepat. Ia ingin menanyakan langsung kepada Ivander.
Pintu pagar langsung terbuka otomatis, mereka langsung di sapa security yang sedang berjaga di kediaman Donisius. Aaron memarkir mobilnya dengan asal dan berlari menuju pintu.
" Selamat sore tuan dan nyonya! "
" Mana Ivander? " Tanya Aaron menyela pembicaraan Berneta.
" Ada di atas tuan! " jawab Berneta.
" Panggil dia, suruh langsung ke ruangan kerjaku, sekarang!. " Titah Aaron dengan nada tegas. Ia langsung meninggalkan ruangan, ia membanting pintu cukup kuat, membuat Berneta terkejut. Ia kembali membungkukkan badannya menyadari jika nyonya Anastasia masih berada di depannya.
" Ivannia dan Joevanka di mana ? " tanya Anastasia.
" Sepertinya keluar nyonya bersama nona Alea. "
" Oke terima kasih, Sekarang panggil Ivander, sekarang ya ! " kata Anastasia, ia langsung berjalan menuju ruang kerja suaminya.
" Baik nyonya! " Berneta tersenyum ramah dan membungkukkan badannya seraya memberi hormat.
Berneta merasakan aura dingin dari tuannya sendiri, baru ini ia melihat tuan Aaron begitu marah. Ia selalu bersikap hangat, jangankan kepada keluarga dengan pelayan rumah tangga saja begitu ramah. Apalagi dengan Ivander dan Ivannia, beliau begitu dekat dan sangat menyayangi mereka. Berneta sangat mengenal keluarga ini. Apa yang membuat beliau begitu marah ?
Pikiran Berneta sangat kacau. Dengan cepat Berneta menepis prasangka buruknya. Ia langsung segera menemui Ivander di dalam kamarnya.
Tak beberapa lama Ivander sudah berada didepan pintu ruang kerja daddynya. Ivander mengetuk pintu sampai tiga kali.
TOK TOK TOK
" Daddy.." panggil Ivander dari luar.
" Masuk! " Terdengar nada suara Aaron begitu dingin.
Ivander membuka kenop pintu, dan mendorong daun pintu terbuka ke arah dalam.
Wajah Ivander berkerut, melihat daddynya berdiri dan dengan memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. Ia tampak kaku dengan posisi membelakanginya. Sementara mommynya duduk dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
" Masuklah sayang! " kata Anastasia dengan nada lembut. Namun tidak pada Aaron wajahnya sudah terlihat gelap menunjukkan kemarahannya yang siap meledak.
Ivander dapat merasakan sikap daddynya.
" Apakah daddy marah mom? " Tanya Ivander karena melihat daddynya belum berbalik untuk melihatnya. Sikap ayahnya tidak pernah seperti ini.
" Sayang, Ivander sudah datang ." kata Anastasia mencairkan suasana.
Aaron menghembuskan napasnya lewat mulut, berusaha menenangkan diri. Ia berbalik dan menatap tajam kepada anaknya.
" Sudah berapa lama hubunganmu dengan anak dari Celin Ame? " Tanya Aaron.
Mendengar itu, Ivander begitu terkejut sampai membuatnya terbelalak.
" Daddy mengenalnya ? "
" Dasar anak brengsek....! " Ivander melangkah ingin memberikan bogem mentah ke pipi anaknya. Namun dengan cepat Anastasia memeluk Aaron, ia menggeleng dan menangis.
" Jangan lakukan itu sayang, aku mohon! Jika kau melakukannya, itu sama artinya kau melukai perasanku. " kata Anastasia menangis.
Mendengar Anastasia menangis, itu sangat menyakiti perasaan Aaron. Dengan napas yang memburu dan penuh emosi, Aaron menatap tajam kepada Ivander. Ia menarik napasnya berulang kali. Anastasia masih posisi memeluk suaminya dari belakang.
" Apa yang terjadi, kenapa Daddy begitu marah? " Ivander sangat bingung melihat sikap mommy dan daddynya.
Aaron mengusap wajahnya dengan kasar.
" Sejak kapan kau memiliki hubungan dengan anaknya celin? " pertanyaan itu Aaron ulangi lagi.
" Aku tidak memiliki hubungan dengan Delia lagi dad. " kata Ivander.
" Jangan bohong Ivander ! Kami baru bertemu Celin. Sekarang katakan semuanya! " Aaron sudah menekan setiap perkataannya.
" Aku serius dad, hubunganku dengan Delia tidak ada lagi. Aku sudah memutuskan nya ketika sudah kembali dari pendakian dad ."
Kata Ivander.
Anastasia melepaskan pelukannya, ia berjalan mendekati Ivander.
" Benarkah sayang? " Kata Anastasia menangkup pipi Ivander.
" Ada apa ini mom, aku tidak mengerti dengan sikap daddy dan mommy? " Kata Ivander menatap wajah orang tuanya bergantian.
" Mommy percaya denganmu sayang, sekarang mari kita duduk. Biar daddy ceritakan semua. Agar kau tahu, bagaimana daddy bisa semarah ini my son! "
Anastasia menuntut Ivander untuk duduk, mereka memang harus mengatakan semuanya.
Aaron berjalan dan duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.
" Daddy bersyukur, kau tidak memiliki hubungan dengan anak Celin. Jika memang kalian masih menjalin hubungan daddy tidak akan merestui dan bahkan sampai daddy mati sekalipun. "
" Kenapa daddy? "
" Karena Celin adalah mantan daddy-mu my son." Anastasia akhirnya berbicara.
" Apa? " Ivander sangat terkejut.
Aaron menarik napasnya dalam dalam, seharusnya kenangan buruk ini ia kubur dalam dalam, namun sekarang memaksanya kembali menggali Kenangan buruk itu dan mengharuskan nya untuk menceritakannya kepada Ivander. Ia sudah berjanji kebahagiaan anak-anak dan pasangan hidup mereka kelak, biar mereka yang tentukan sendiri. Anastasia menghampiri suaminya dan memeluknya dari samping. Ia tahu Aaron tidak ingin mengungkit kenangan paling terburuk dalam hidupnya. Ivander hanya bisa mengerutkan wajahnya, saat ini ia masih sangat bingung.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
__ADS_1
π BERIKAN BINTANGMU