
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Dengan napas yang terengah-engah. Delia turun dari mobil dan membanting pintu. Emosi yang membuncah di dadanya membuat mata nya mengkristal penuh dan kini berubah menjadi tangisan seperti anak kecil. Ia berlari sambil menyeka air matanya, hatinya sedih. Delia tidak terima Ivander meninggalkannya begitu saja, hatinya begitu sakit. Ia kembali berlari agar cepat cepat menemui Mommynya. Hanya wanita itu yang mengerti dirinya.
BRAKKKK
Delia membuka pintu rumah dengan kasar. Ia Menangis dan langsung meneriakkan memanggil mommynya. Dengan penuh emosi, amarah dan kegelisahan semua terkumpul menjadi satu.
" Mommy..! " panggil Delia setengah berteriak.
Celin tengah berada dibawah kungkungan suaminya tanpa sehelai benang, kaget dan langsung mendorong tubuh suaminya agar lepas dari Moralos. Celin hampir terjatuh, kala ia mengambil pakaian dan buru buru mengenakannya.
Moralos hanya bisa menghembus napasnya, kesal karena kesenangannya di ganggu oleh anaknya sendiri.
" Ada apa lagi dengan dia ? jangan terlalu memanjakannya sayang. " kata Morales berdecak.
" Sepertinya putri kita menangis lagi sayang, aku akan menemuinya. Maaf, karena tidak bisa melanjutkan percintaan kita. " ucap celin menatap suaminya dengan sendu.
Moralos hanya diam menatap istrinya.
" Apa soal pria lagi? "
" Saya yakin, ini pasti karena Ivander sayang. " Delia menghela napasnya dalam-dalam.
" Ivander, anak yang kau ceritakan itu? " Moralos mengernyitkan keningnya.
" Ehmmm..." jawab celin dengan menggumam.
" Bukankah kau baru bertemu dengannya sayang? "
" Ya, tapi aku tidak tahu kenapa Delia menangis lagi. Karena Ivander sendiri sudah berjanji, akan menjaga Delia dengan baik."
Celin merapikan rambutnya lalu mendekati suaminya. " Nanti kita bisa menghabiskan malam panjang kita sayang, untuk saat ini kumpulkan tenaga mu, istirahatlah..! " kata Celin mencium bibir suaminya, lumayan lama dan memabukkan, untuk menebus rasa bersalahnya.
" Maafkan aku ya...." ucap Celin dengan nada menyesal. Karena ini percintaan pertama mereka, setelah suaminya cukup lama berada di luar negeri.
" Tidak apa apa, masih banyak waktu. Sekarang pergilah, Delia membutuhkanmu ! " Kata Morales tersenyum tipis.
Celin mengangguk pelan. Ia keluar dari kamarnya, senyum mengembang diwajahnya. Ia bersyukur atas pengertian suaminya. Celin memang tidak bisa mendengar Delia menangis. Karena perasaannya kepada Delia berbeda. Celin ingin putrinya selalu bahagia dan tersenyum. Karena mendapatkan Delia ia butuh perjuangan. Celin memutuskan untuk melakukan histerektomi atau operasi pengangkatan rahim demi menyelamatkan nyawanya, ketika Delia dilahirkan. Celin sempat masuk ICU karena pendarahan hebat. Celin tahu jika ia melakukan histerektomi, celin tidak akan bisa mengandung anak lagi.
Celin menarik napas ketika pintu kamar dibanting kuat oleh Delia. Celin menutup matanya. Benar dugaannya, ini pasti karena Ivander lagi.
Celin menggeleng dan melangkah menuju kamar putrinya.
Terdengar tangisan Delia, dari dalam kamar.
Celin membuka kenop pintu dan mendorong daun pintu hingga terbuka ke dalam.
Posisi Delia sedang tengkurap, ia membenamkan wajahnya di bantal, ia menangis di antara bantal.
" Apa yang terjadi Delia? " Celin mendekat.
Mendengar namanya di panggil, Delia langsung duduk dan memeluk Mommynya.
" Mommy..."
" Ada apa sayang? " tanya celin dengan nada lembut.
" Ivander...hiks... Ivander...." Delia sudah sesenggukan, terlihat jelas kesedihan putrinya. Delia tidak sanggup melanjutkan kata katanya.
" Kenapa dengan Ivander? "
__ADS_1
" Ivander tidak ingin bertemu dengan Delia lagi mom, hiks.....! " Adu Delia menangis sesenggukan.
" Kenapa bisa? "
" Semua terjadi begitu saja mom, "
Celin tersenyum lembut, ia memeluk Delia dengan sayang.
" Ivander hanya tidak ingin bertemu kan sayang? tapi dia tidak akan memutuskan hubungan kalian . " kata Celin.
" Bagaimana mommy bisa yakin, mommy selalu mengatakan hubunganku akan baik baik saja, buktinya Ivander semakin muak dengan hubungan ini. Aku takut mom, sangat takut.." tengking Delia di akhir ia kembali menangis.
" Apa dia mengatakan itu ? " Wajah celin berkerut.
" Ya, dia mengatakannya mom. Dari pada kami berpisah, lebih baik aku mati mom. Aku mencintai Ivander. " Isak Delia.
" Tenang sayang, mama sudah menyusun rencana, Ivander akan datang sendiri kepada kita, dia tidak akan berani melakukan itu. "
Delia terdiam, Ia mengusap air mata yang sedari tadi membasahi pipinya. ia menatap wajah Mommynya dengan lekat.
" Rencana apa mom? " wajah Delia nampak berbinar.
Celin menaikkan alisnya, senyumnya tersungging, menunjukkan pemikiran jahat yang sedang beraksi dalam pikirannya.
Celin langsung berbisik ke telinga Delia.
" Serahkan semua kepada mommy sayang, jangan takut. Ivander tidak akan meninggalkan Delia anak mommy yang cantik ini. " kata Celin, ia merasa lega melihat raut wajah Delia berbinar.
Delia mengernyitkan keningnya..." apa dia percaya mom? " Tanya Delia mengerucutkan bibirnya, ia mulai meragukan perkataan wanita yang duduk dihadapannya.
" Mama yakin sayang, kita lihat saja. Ivander akan semakin menyanyangimu." kata celin tersenyum jahat.
βββββ
Ivander hanya diam tanpa ekspresi ketika Samuel dengan antusias menceritakan bagaimana Joevanka begitu senang di ajak jalan oleh Samuel. Ivander bahkan tidak memberi komentar. Ia tetap sibuk untuk menuliskan jalur jalur yang akan mereka lalui nanti selama mendaki.
Kegiatan pendakian gunung dan jelajah hutan akan di lakukan selama 3 hari. Ivander telah di pilih menjadi penanggung jawab untuk melakukan kegiatan selama pendakian.ia akan membentuk dua tim.
Ternyata tahun ini banyak yang berminat untuk melakukan pendakian. Salah satunya adalah Joevanka. Samuel tidak pernah ikut dalam mahasiswa pencinta alam. Namun karena Joevanka ikut, Samuel dengan senang hati mendaftar kan diri. Ia bahkan lebih antusias dari Ivander.
" Dude, dari tadi sibuk, ada tugas ya? " tanya Samuel menatap Ivander yang serius mencoreng coret bukunya.
Ivander menaikkan alisnya, ia tersenyum simpul.
" Aku mempersiapkan untuk kegiatan pendakian kita Samuel. Sudah waktunya kita ke gedung aula, ada yang harus kita diskusikan di sana." ujar ivander melirik jam yang ada di tangannya.
" Bisa aku kasih usul? "
" Usul? " Ivander menaikkan alisnya,
" Joevanka buat satu tim dengan kita, bisakan? " pinta Samuel.
Ivander hanya menggeleng pelan, dia pikir usul untuk pendakian, ternyata bukan. Ivander hanya terkekeh dan tidak menjawab, ia menutup bukunya. " Kau mau ikut?" tanya Ivander bangun dari duduknya.
" Buat joevanka satu tim dengan kita ya, dude! " Kata Samuel.
Tanpa menunggu Ivander melangkah meninggalkan Samuel yang terburu-buru mengumpulkan bukunya.
" Dude, tunggu! " panggil samuel.
Ivander tetap melangkah, mereka berjalan menuju gedung aula kampus.
Ke dua sahabat ini, sudah tiba di gedung aula dan memang benar semua sudah berkumpul di sana dan menunggu kedatangan mereka.
Samuel melambaikan tangannya ketika melihat Joevanka duduk di barisan depan untuk mendengarkan pengarahan dari ketua tim.
Joevanka hanya membalasnya dengan senyuman singkat.
Samuel berdiri tepat di samping Ivander.
__ADS_1
" Oke, selamat siang buat teman teman semua, hari ini saya sengaja mengumpulkan kalian untuk membahas masalah perencanaan pendakian kita." ujar Ivander melemparkan senyumnya dan memberikan salam pembukaan, ia mengatakan maksud dan tujuannya untuk mengumpulkan mereka.
" Kegiatan mahasiswa pecinta alam ini memang wajib di laksanakan di universitas kita, saya sendiri sudah ikut tiga kali. Dan kita akan membahas bagaimana menyiapkan perencanaan dan persiapan yang matang, seperti ketahanan fisik kita dan butuh mental juga. Kerjasama tim sangat di utamakan, etika, tanggung jawab baik terhadap diri sendiri atau dari tim, dan juga lingkungan. Jadi saya harap kita butuh kerja sama yang baik. Samuel mungkin bisa membantu saya juga. "
" Pasti dude! " Jawab Samuel dengan antusias.
" Terima kasih, " Sekilas Ivander menoleh kepada Samuel. " Informasi tentang gunung yang akan kita daki, kita sudah dapat izin dan kewajiban kita adalah mematuhi larangan-larangan, peraturan-peraturan khusus yang berlaku di gunung harus kita jalankan. Kita tetap jaga sikap, kita bukan liburan tapi kita di sini di ajak untuk mencintai alam kita sendiri. "
" Bagaimana dengan masalah jalur yang akan kita lalui ivander? " Tanya salah satu mahasiswa.
" Jalur pendakian yang akan kita lalui, dari jumlah dan jarak pos, kontur gunung, gambaran medan dan jalur pendakian, tempat sumber air, camp ground semua sudah dapat titik jalurnya. Jadi jangan cemas yang penting kita jangan terpisah dari tim. Saya akan angkat tangan jika ada salah satu dari kita terpisah dari tim. Kita melakukan pendakian ini bukan perorangan tapi kelompok. " Ucap Ivander dengan tegas.
" Untuk menentukan waktu kapan kita akan mendaki, kita akan tentukan di sana. Kapan harus mulai berhenti, di mana dan jam berapa kira-kira target sampai di tempat kita berhenti. Di mana tempat untuk camp dan jam berapa harus turun." Jelas Ivander.
" Sudah jelas? ada yang mau ditanyakan? " Ivander mengedarkan pandangan.
" Ada yang mau bertanya? " Ulang ivander dengan posisi membuka kakinya sedikit dan melipat tangannya dengan bersedekap.
Tiba tiba Joevanka mengangkat tangannya. Tatapan mereka bertemu. Joevanka menundukkan kepalanya.
DEG DEG DEG
Debaran jantung Ivander berdetak seakan memberitahukan sosok wanita yang disukainya berada di hadapannya.
" Silahkan! " Kata Ivander dengan suara serak. Tiba tiba rasa percaya dirinya hilang ketika melihat Joevanka tersenyum dan anehnya mampu membuat kakinya lunglai tak bertenaga dan kini jantungnya seakan melompat keluar.
" Bagaimana soal peralatan peralatan yang akan di bawa kesana? Apakah kita bawa sendiri atau dipersiapkan dari kampus? " Joevanka kembali duduk, ketika ia sudah selesai memberikan pertanyaannya.
Hening, tidak ada jawaban membuat Samuel dan yang lainnya mengernyitkan kening. Terlebih joevanka, ia nampak bingung. Apakah pertanyaannya salah atau bagaimana.
Samuel mendekat dan menyentuh lengah Ivander seakan memberi kode.
" Dude ! " bisik Samuel.
Ivander tersentak dari lamunannya. Kini ia tidak bisa berpikir jernih. Jantungnya berdebar semakin kencang dan peredaran darah semakin tidak stabil. " Maafkan saya, tiba tiba konsentrasi saya hilang. " Ivander tergagap, saat ini ia terlihat seperti orang bodoh.
" Sampai di mana tadi, apa pertanyaannya bisa di ulang? " Jantung di dada Ivander terus berdetak tidak karuan kala tatapan mereka kembali bertemu. Perasaan berkecamuk memenuhi dadanya. Ivander menghembuskan napasnya. ia memaksa wajahnya untuk tersenyum untuk menutupi ke gugupnya.
Joevanka kembali mengulangi pertanyaannya. Ia berharap pertanyaannya tidak menjadi bahan tawaan semua orang, karena Ivander sendiri sempat terdiam. Apakah karena memikirkan jawaban yang tepat atau pertanyaannya memang tidak di anggap penting, Joevanka tidak tahu. Ia berusaha melarikan pandangannya agar tidak bertemu dengan mata Ivander.
Ivander melepas napas panjang, ia mengatur debaran debaran yang tercipta dari jantungnya. " Terima kasih atas pertanyaannya. Oke, saya akan jawab. Soal peralatan tim seperti tenda, matras, peralatan masak yang akan di bawa ke sana, semua sudah di siapkan dari kampus kita. Karena di sini, kita membawa nama universitas. Sementara Peralatan pribadi kita bawa sendiri dari rumah. " terang Ivander.
" Ada lagi? " Tanya Ivander mulai tidak nyaman dengan situasi ini. Ia ingin mengakhirinya dengan cepat.
" Oke kalau tidak ada, cukup sampai disini, untuk keterangan lebih lanjut kita bisa bahas di grup WhatsApp kita. Oke, sekian dan terima kasih. " Kata Ivander menyudahi pertemuan hari ini. Ia langsung berbalik dan tidak ingin melihat Joevanka.
Ivander membuang napasnya sekaligus, wajahnya terlihat frustasi ketika melihat Samuel mengejar Joevanka.
Ivander masih diam mematung, tak disangka getaran yang masih dirasakan Ivander mampu mengoyakkan Ivander sebanyak itu.
Ivander berusaha menenangkan dirinya. Ia tetap kembali berpijak pada tingkat kesadarannya. Joevanka sudah menjadi milik Samuel. Ia kembali melakukan ritualnya, menarik dan menghembuskan napasnya secara berlahan.
Lalu Ivander melangkah meninggalkan aula.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU
__ADS_1