WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Mereka yang terbaik


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


Keesokan paginya, matahari mulai bersinar terang, dan sebagian cahaya hangatnya masuk melewati celah jendela yang tertutup gorden.


Joevanka tidak langsung bangun, ia menyandarkan punggungnya kesandaran kasur. Joevanka memeluk lututnya, menatap keluar jendela. Hari ini tidak ada kesedihan lagi, tidak ada tangisan lagi. Joevanka membulatkan tekad dan menyusun kembali rasa semangatnya untuk menjalani kehidupan. Ia memiliki harapan dan doa. Sesungguhnya semangat di dalam jiwa merupakan hal terpenting yang bisa mendorong Joevanka berbuat sesuatu yang lebih baik lagi.


Joevanka tersenyum samar, hari ini adalah jadwal keberangkatannya. Semuanya sudah siap, penerbangannya di jadwalkan sore hari. Surat surat dan tiket pesawat sudah di tangannya. Joevanka bangkit mengambil koper yang ada di atas lemari. Ia mengambil pakaian dan menyusunnya di dalam koper. Ia mengepak beberapa barang yang diperlukan saja. Mengambil foto yang ia gantung di dinding kamar. Foto ini tidak bisa tinggal, karena hanya foto ini, yang ia miliki sekarang. Setelah semua beres ia menutup dan mengunci kopernya.


" Tidak boleh sedih Vanka, kamu harus semangat! Jangan salahkan dirimu atas semua keputusanmu. Kau akan tetap yang terbaik. Jadikan mereka pelajaran untuk keputusanmu selanjutnya. " kata Joevanka mengepalkan tangannya dan mengangkat tangannya lebih tinggi, ia menyemangati dirinya sendiri. Kalau bukan dirinya siapa lagi.


Joevanka sudah selesai membersihkan dirinya. Ia mengenakan pakaian terbaiknya. Pagi ini ia akan menemui sahabatnya, dan siang hari Joevanka sengaja mengatur jadwalnya, Ia akan mengajak Samuel makan siang bersamanya. Sebagai ucapan terima kasih karena Samuel selalu memberikan perhatian untuknya.


Joevanka memakai riasan agak tebal untuk menyamarkan matanya yang sembap. Walau masih terlihat bengkak, Joevanka masih terlihat cantik. Ia sengaja menggunakan pewarna bibir yang lumayan cerah. Salah satu cara untuk menampilkan wajahnya agar tampak segar. Joevanka memandangi pantulan dirinya di cermin, setelah dirasanya rapi. Joevanka mengatur kopernya disudut kamar.



Sekarang ia tidak harus menghindari Ivander. Ia melakukan ritualnya menghembuskan napasnya lewat mulut, mengatur senyumnya beberapa kali.


" Senyum, senyum dan senyum...! " Joevanka terus berbisik pada batinnya sendiri.


" Kamu pasti bisa Vanka, mengubur cinta pertama memang sangat sulit, tapi seiring waktu, kau akan bisa melupakannya. " Ucap Joevanka berbicara di depan cermin. ia melukisnya senyum terbaik di wajahnya.


Joevanka melangkah keluar dari kamarnya. Ia kembali menarik napas kala melihat Ivander sedang menikmati sarapannya bersama Ivannia. Walau Ia masih tampak gugup, Joevanka menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Ivannia langsung menyapanya dan mengucapkan selamat pagi untuknya. Namun bersamaan itu Ivander bangun dari duduknya dan meninggalkan sarapannya.


Joevanka tertegun, langkahnya terhenti ketika melihat Ivander beranjak dari duduknya. Ivander begitu jelas menghindarinya. Ia hanya bisa melihat sosok Ivander pergi dengan ekspresi wajah kaku yang sulit ia artikan. Tatapan mata teduh itu hilang, tatapan yang ia lihat ketika mereka berdansa.


" Sarapan mu belum habis kak? " Ivannia menatap separuh roti yang masih utuh di atas piring kakaknya. Tidak ada jawaban, Ivannia mengangkat kedua bahunya dan berdecak, Ivannia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Duduklah Joe, kita sarapan bersama. " Kata Ivannia.


Joevanka hanya bisa diam meremas tangannya dengan kuat. Ketika air matanya sudah kosong terperas dengan butiran-butiran yang membawa sesak dan kehampaan. Namun kemudian kehampaan itu menghantar Joevanka pada sesuatu kelegaan, dan Joevanka kembali berbisik dalam batinnya.


" Aku siap untuk saat ini, aku siap mencoba memahami dirinya, biarkan...biarkan saja...cukup tenangkan diri. Semuanya akan baik baik saja. " Batin Joevanka terus menguatkan dirinya.


Ia tetap bersikap sebagai mana biasanya, Joevanka tersenyum dan melangkah mendekati Ivannia.


" Pagi pagi sudah cantik, penampilanmu sangat berbeda Joe. Apa kau mau mampir ke suatu tempat? " tanya Ivannia.


Joevanka hanya tersenyum singkat, Ia mengambil duduk dan mengambil sarapannya. Hening di antara keduanya, tidak ada yang bersuara. Ivannia sibuk membalas chattingan dari ponselnya sementara Joevanka hanya memandangi piring yang berisi makanan tanpa minat.


Tiba tiba Ivannia beranjak dari duduknya. Menghabiskan sisa susu yang ada di atas meja.

__ADS_1


" Aku pergi dulu ya! Joe, Semoga perjalananmu menyenangkan, Tuhan melindungimu. Selamat sampai tiba di London dan bertemu kembali dengan keluarga, kerabat, teman, dan orang orang sekelilingmu Joe. Sampaikan salam buat semua keluarga di sana. Bulan depan kita bertemu kembali. " Ivannia memeluk Joevanka dari samping dan menepuk pundak Joevanka dengan lembut.


" Terima kasih Ivannia. " Ucapnya dengan tatapan sendu.


" Ingat Joe, jika kau pulang, tidak perlu membawa oleh-oleh. Aku tidak ingin kau kerepotan. Huuuu bisa kubayangkan..." Ivannia memutar bola matanya. " Dan aku bukan tipe orang yang suka menyusahkan orang apalagi itu kamu, yang penting kau pulang dengan selamat, itu sudah membuatku senang, Oke Joe? " ujar Ivannia tersenyum singkat dan tersenyum. Ia melepaskan pelukannya.


" Maaf joe, aku tidak bisa mengantarmu sampai bandara, hari ini jadwal sekolah penuh sampai sore." Ucap Ivannia dengan rasa penyesalan.


" Tidak apa apa Ivannia, terima kasih atas doanya. " ucap Ivannia dengan nada lembut.


" Aku pergi ya..?! "


Ivannia langsung berlari, ketika teman temannya sudah menunggunya di luar. Security memang tidak mengizinkan teman temannya masuk jika tuan besarnya tidak ada. Larangan keras itu masih berlaku sampai sekarang. Tidak boleh ada tamu lelaki. Peraturan itu hanya buat Ivannia saja. Dan itu tidak bisa di ganggu gugat dan sampai sekarang masih diterapkan. Kedua security langsung memberi hormat ketika Ivannia memberi kode untuk membuka pagar.


Pintu pagar pun terbuka otomatis. Ivannia sudah masuk ke dalam mobil temannya dan meninggalkan rumah.


⭐⭐⭐⭐⭐


Joevanka benar benar memanfaatkan waktunya berkumpul bersama Vivian dan Lona. Ia tidak menutupi kepergiannya. Kepada sahabatnya, Joevanka berterus terang tidak akan kembali lagi. Tentu membuat Vivian dan Lona terkejut.


" Kamu serius Joe? " tanya Lona mengulangi kata katanya berulang kali.


" Ya, mungkin ini terakhir kita bertemu. Jadi, jika aku ada kesalahan, maafin aku ya! " Kata Joevanka dengan suara terendahnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Vivian dan Lona.


Bersamaan itu mereka mengerucutkan bibirnya, menggambarkan wajah kesedihan. Dua tahun mengenal Joevanka membuat mereka merasa nyaman. Joevanka mereka anggap sebagai teman yang baik, kebersamaan yang selalu mewarnai hari hari mereka, selalu bersama-sama melakukan banyak hal selama di kampus. Terkadang cari bukunya bersama, makannya bersama, susah senang selalu bersama, sehingga mereka merasa nyaman dan dekat. Lona berhasil menjatuhkan air matanya.


" Kenapa secepat ini Joe? " tanya Lona


Joevanka hanya mengangguk lemah.


" Kenapa kau tidak menunggu sampai kuliahmu selesai? Dua tahun, sayang sekali kamu berhenti Joe. " timpal Vivian, ia memberi masukan, siapa tahu saja Joevanka berubah pikiran.


Joevanka menggeleng pelan. Ia tersenyum singkat, Ia tidak ingin menunjukkan kesedihan di depan Lona dan Vivian. Karena kepergiannya ini adalah pilihannya sendiri.


" Aku kembali karena memang sudah waktunya, aku bisa melanjutkan kuliah di sana. Kita saling mendoakan semoga kita berhasil, sukses dan bisa dipertemukan kembali. Atau siapa di antara kita yang akan nikah duluan? ayo! " kata Joevanka mencairkan suasana karena melihat Vivian dan Lona terus menangis.


" Kau jahat Joe..." isak Lona berhasil menjatuhkan air mata kembali.


" Maaf ya...! " Joevanka tersenyum, ia semakin terharu, menyaksikan temannya menangisi kepergiannya. Matanya kembali berkaca kaca, bahkan napasnya keluar terbata bata dari mulutnya. Hidung dan matanya sekarang kembali merah. Padahal ia sudah berjanji tidak akan ada air mata lagi.


" Kapan berangkatnya Joe? " tanya Vivian mencairkan suasana, karena ia juga ikut sedih atas kepergian Joevanka.


" Sore, aku memilih keberangkatan sore, agar tiba di London pagi. " Jawab Joevanka.


" Kita foto dulu yuk.." Lona mengeluarkan ponselnya.


" Gak ada wajah sedih ya, kita buat wajah lucu-lucuan saja dan menggemaskan. " kata Vivian dengan nada mengancam. Mereka mengangguk antusias.

__ADS_1


" Satu..dua...tiga..." Lona mengarahkan camera ponselnya ke wajah mereka.


Mereka selfi dan membuat berbagai ekspresi wajah yang lucu, imut dan menggemaskan seperti menjulurkan lidah, menjulingkan mata, memonyongkan bibir, mengekspos gigi dan mendekat ke kamera, dan berbagai pose konyol lainnya. Bahkan Lona meminta pelayan cafe untuk mengambil beberapa foto mereka dengan wajah sok serius, sok jahat, sok jutek dan foto terakhir tertawa dengan ekspresi lepas.


Keseruan-keseruan berlanjut, mereka keluar dari cafe dan berjalan memasuki toko toko untuk membelikan kenang kenangan buat Joevanka. Mereka tertawa sepanjang jalan bahkan yang lebih gila mereka menertawai diri mereka sendiri, saling mengejek tapi tidak membuat mereka marah.


Terkadang mereka berteriak sana sini, tertawa bersama tanpa memperdulikan pandangan orang. Lona mengambil sesuatu dan bermain layaknya seperti anak kecil, membuat lelucon yang mengundang tawa. Dunia serasa milik mereka.


Mereka hari ini, seperti keluarga yang menatap masa depan, bermimpi dan mewujudkan mimpi itu dengan cara mereka masing-masing.


Saatnya mereka berpisah, Joevanka memeluk Lona dan Vivian bergantian. Memberikan jabatan tangan dan pelukan, suasana haru benar benar menyelimuti mereka. Mata mereka kembali berkaca kaca. Lona dan vivian melambaikan tangannya, ketika mobil taxi sudah datang.


" Jaga kesehatan, jangan lupa makan, jangan lupa semua..." Lona tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Karena ia menutup mulutnya karena menahan isak tangisnya semakin terdengar.


" Jangan lupa kasih kabar ya Joe. " Vivian menimpali.


Joevanka mengangguk antusias, mengiakan semua pesan pesan sahabatnya agar Joevanka ingat. Ia masuk ke mobil, menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya.


Lona dan Vivian membuat gestur dengan menyilangkan ibu jari dan telunjuk hingga membentuk simbol hati. Gestur ungkapan cinta dan terimakasih mereka berikan kepada Joevanka.


Joevanka hanya terkekeh membalas mengangkat kedua tangannya dan membentuk hati.


Mobil perlahan lahan berjalan, Joevanka tetap melambaikan tangannya. Mobil itu semakin jauh meninggalkan Vivian dan Lona yang terus menatap kepergiannya.


Joevanka memang sengaja menggunakan taxi untuk kembali ke rumah. Joevanka menatap keluar jendela, melihat jalan yang di lewati. Ia menopang dagu, menarik napas dalam dalam, mengingat sahabatnya menangis melepaskan kepergiannya.


" Suatu saat kita pasti akan bertemu.. " lirih Joevanka, menyeka air matanya. Kali ini biarkan air mata ini terjatuh buat sahabatnya. Ia tersenyum tipis kembali menatap ke depan. Perasannya masih campur aduk, Joevanka menatap keluar jendela dengan pandangan sayu.


.


.


BERSAMBUNG


❀️ Terima kasih atas doa tulusnya ya my readers tersayang. Seneng sekali, banyak ucapan dan doa, kalian the best deh pokoknya. Semoga Tuhan senantiasa melindungi kita selalu dan diberi kesehatan dan tetap semangat ya πŸ™


❀️ Rasa terima kasihku, aku up dua episode hari ini. Semoga readers suka ya.


Tapi nge-like dan komentarnya jangan di lewatkan dong Hihihihihi 😁😁


❀️ Happy weekend


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ

__ADS_1


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU


__ADS_2