WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Kenapa begitu sakit


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Joevanka merebahkan tubuhnya ketika sudah berada di dalam kamarnya.


" Istirahatlah ! " Kata Ivannia.


" Ehmmm..." sahut Joevanka dengan menggumam sembari melemparkan senyumnya.


" Dari kita pulang, kok Ivander gak ada muncul ya, Kemana Ivander? " Tanya Alea berjalan menuju nakas dan mengambil ponsel dari dalam tas miliknya.


" Saya yakin dia menemui Delia manusia setengah iblis itu. " Sinis Ivannia menganjurkan bibir bawahnya ke depan, untuk menyatakan bahwa ia tidak senang dengan Delia.


" Ivander benar benar dibutakan cinta ya, aneh...! Apa sih yang membuat Ivander sampai cinta mati sama Delia? Delia gak cantik juga, bukan begitu Van? " Kata Alea menggosip dan memberikan pertanyaan buat Joevanka. Alea menggeleng tidak mengerti dengan sikap Ivander. Namun Joevanka tidak menjawab.


" Nanti kita tanyakan Ivander ya? " kata Ivannia mengerucutkan bibirnya.


" Benar, aku ingin tahu kenapa ivander menerima Delia kembali. Hei...kalian tahu gak? Baru baru ini teman satu kampusku cerita, Delia pernah melabrak Lucia yang pernah dekat dengan Ivander, Kamu tahu kan Lucia? " kata Alea berusaha mengingatkan Ivannia, yang nampak bingung.


" Aku lupa Alea, memangnya kenapa? " Tanya Ivannia penasaran.


" Teman aku cerita, Delia menghajarnya habis habisan sampai Lucia mengalami gegar otak. Pihak keluarga dari Lucia melaporkan Delia ke polisi. Semenjak itu Delia hilang tanpa jejak bagai ditelan bumi. " Ujar Alea dengan ekspresi serius dan sesekali ia mengebrak meja untuk menunjukkan rasa geram.


Tubuh Joevanka membeku, ia ingat kejadian di cafe ketika Delia datang untuk merampas buku diari-nya. " Tasku ? " Ucap Joevanka berbicara dalam hati. Ia menyadari tidak melihat tasnya semenjak pulang dari rumah sakit. Sementara Ivannia sendiri kaget sampai terbelalak tidak percaya.


" What?? Kamu yakin Alea? " Kata Ivannia tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


" Aku serius Ivannia, Lucia ini saudara dari temanku. Aku sudah ingatkan kepada Ivander agar tidak berhubungan dengan Delia. Dia itu wanita berbahaya, dia bisa melakukan apapun. Jadi biarkan Ivander mengetahui sendiri, malas bicara dengan dia! " kata Alea dengan nada ketus, ia membuang napasnya dengan kasar.


Joevanka hanya diam sembari duduk menyenderkan punggungnya kesandaran kasur. Joevanka duduk menatap ke arah luar jendela. Pikirannya jauh menerawang, memikirkan Ivander.


" Kenapa duduk Joe, istirahat lah....! " kata Alea.


" Aku bosan tidur terus Alea, aku ingin duduk sebentar saja! " Seru Joevanka tersenyum singkat.


" Astagaa.. ! " Ivannia menepuk jidatnya.


" Ada apa Ivannia? " Kedua wanita itu terkejut dan bersamaan menoleh kearah Ivannia.

__ADS_1


" Aku lupa Alea, besok ada pengumpulan tugas di sekolah. Ayo bantu aku menyelesaikan tugasku, sekarang! " Kata Ivannia reflek bangkit dari duduknya.


" Tugas apa? " tanya Alea masih sibuk memeriksa ponselnya.


" Jangan banyak tanya sekarang bantu aku, ayo Alea! " Ivannia segera beranjak dan mengangkat tubuh Alea untuk bangun dari duduknya.


" Jawab dulu tugas apa? " kata Alea tidak mau beranjak dari duduknya. Ivannia melotot, dan menggerakkan kepalanya menuju arah pintu seakan memberi kode kepada Alea.


" Bilang dulu...! " kata Alea bersikeras dengan ucapannya. Ivannia menggeram kesal, ia setengah berbisik.


Alea mengerutkan keningnya seraya tersenyum singkat. " Suruh Ivander aja, dia paling jago bagian itu! " kata Alea dengan nada malas setelah ia tahu tugas apa yang akan mereka kerjakan.


" Aku malas berhubungan dengan ivander, kau aja, ya ! " pinta Ivannia sedikit memohon.


" Tugas apa Ivannia, siapa tau aku bisa membantu." Kata joevanka tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi. Berharap Ivannia mau menerima bantuan darinya.


" Oh jangan Joe, kau tidak di izinkan untuk lelah apalagi sampai membuatmu berpikir, lebih baik kau istirahat aja, ya! " Kata Ivannia tersenyum samar, Ia kembali menatap Alea, memberikan isyarat melalui ekor matanya. Agar mereka cepat meninggalkan kamar Joevanka.


" Kami tinggal ya Joe! " ucap Alea melambaikan tangannya seraya mengerlingkan salah satu matanya. Mereka meninggalkan kamar Joevanka.


Setelah pintu kamar tertutup, Joevanka membuang napasnya dengan berat. Ia merasa hampa dengan menatap lurus memandang foto orang tuanya yang tergantung di dinding tepat di depannya.


" Aku tidak bisa memutar waktu dan meminta kepada Tuhan agar Daddy dan mommy kembali hidup. Tuhan pasti memiliki rencana terbaik buat vanka. Seperti nya aku harus lebih tegar menjalani kehidupan tanpa kalian, dengan kenangan yang tidak terlalu banyak. Mungkin saat ini aku merasa sangat sedih, tapi kehidupan tetap harus dijalani kan? Walau rindu ini bergejolak dalam hati, disitu aku terkadang ingin dipeluk kasih sayang kalian. Terima kasih karena selalu menjagaku, bahagia disurga ya dad, mom.. Kelak kita bisa bertemu dan berkumpul kembali. " Joevanka menyeka air matanya yang tergelincir begitu saja.


Joevanka turun dari tempat tidur menuju meja tempat ia biasa menulis untuk mencurahkan isi hatinya.


Tiba tiba mata Joevanka tertuju ke pagar utama. Terdengar bunyi klakson mobil memanjang yang sengaja ditekan berulang ulang. Joevanka mengintip dari jendela kamar, memicingkan penglihatannya.


" Bukankah itu mobil Ivander? " Alisnya berkerut.


Tidak beberapa lama, Ia melihat Ivander berjalan di ikuti Delia. " Delia? " Batin Joevanka berbicara pada dirinya sendiri.


Ternyata dugaan Alea benar, Ivander pergi menemui Delia. Perasaannya campur aduk, ia tidak tahu menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini.


Terdengar suara gemuruh bersahut sahutan dari langit. Ia teringat jika Berneta menitip pesan, jika pakaian di belakang rumah belum diambil, Berneta pergi karena ada saudara sepupunya yang meninggal. Sementara Asisten rumah tangga yang lain sudah pulang siang tadi, mereka tidak tinggal di sini. Sedangkan Ivannia dan Alea sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah. Akhirnya Joevanka memutuskan untuk mengambil sendiri.


Ia melangkah menuruni anak tangga menuju dapur. Joevanka membuka kenop pintu dan berjalan menuju taman belakang. Tiba tiba Langkahnya melambat. Sayup-sayup terdengar suara Ivander dan Delia berbicara. Joevanka bersandar disisi tembok, ia tertegun namanya disebut sebut dalam pembicaraan mereka.


Joevanka terkejut, " Ivander, memeriksa CCTV? " Joevanka menutup mulutnya ketika Delia memfitnahnya.


" Tapi terserah kalau kau tidak mempercayai aku, yang jelas yang aku lihat Joevanka bisa memanipulasi orang lain demi keuntungan dia sendiri. dia sudah mengakui semuanya ivander! Cih...dia bisa melakukan apa saja untuk mencari perhatian keluargamu. aku yakin dia berpura-pura menghilang. Jangan-jangan orang yang mengejarnya adalah orang suruhan dia sendiri ivander! "


Joevanka menggeleng pelan, Dia tidak seperti itu. Joevanka kembali terkejut ketika Delia mengatakan ingin mati saja. Joevanka tetap bersandar di dinding tembok. Bagaimana bisa Delia sampai berpikir ingin mengakhiri hidupnya.


Tidak terdengar suara lagi, Joevanka keluar dari persembunyiannya, mencari keberadaan Ivander dan Delia. Tidak ada siapa-siapa lagi, hatinya begitu sakit dan tidak terasa air matanya terjatuh ke pipinya. Tidak tahu apa yang ditangisinya. Perasaan yang tadinya hanya merindukan orang tuanya dan ditambah Delia memfitnahnya membuat Joevanka bersedih.

__ADS_1


Ketika ingin melangkah meninggalkan dapur, terdengar suara bariton dari arah belakang menghentikan langkahnya. Joevanka sampai melompat, ketika dikagetkan oleh suatu suara tak lain adalah suara ivander. Tubuh Joevanka bereaksi menegang, jantungnya berdegup sangat kencang, kaki Joevanka bergetar ketika melihat Ivander menatapnya dengan tajam.


"Kau mendengarnya? " Kata Ivander melangkah mendekati Joevanka.


" Ivander...! "


" Apa kau mendengar semuanya ? " ulang Ivander seakan mengunci tatapan Joevanka.


Melihat tatapan Ivander seakan menghakiminya membuat Joevanka tidak berani menatap Ivander. Sorot mata yang begitu tajam seakan menghujam jantungnya dan membuatnya tidak berdaya.


"Aa-aku...." ucapnya terbata, ia tidak berani melanjutkan kata-katanya. Joevanka menunduk sambil meremas tangannya.


Ivander mendengus kesal, ia menatap Joevanka dengan wajah dingin dan tersenyum terlihat menyeringai, dengan bibir yang ujungnya hanya terangkat satu sisi dengan alis terangkat sebelah dan menatap Joevanka dengan tajam.


"Semua wanita memang menyusahkan, selalu ingin menang sendiri dan tidak punya pengertian, bahkan tidak tahu diri. Apalagi yang tidak tahu diri itu adalah seperti kau! Penuh kebohongan! " Ketus Ivander, berjalan sambil menyikut lengan Joevanka hingga membuatnya terhuyung mundur, Ivander meninggalkan Joevanka yang membeku tidak bergerak.


Joevanka menunduk dengan tatapan kosong, kenapa begitu sakit?


Mata Joevanka sudah mengkristal penuh dengar air bening yang masih terkumpul dan tidak jatuh di pipinya. Dengan langkah gontai,


Joevanka melangkah pelan meninggalkan dapur menuju kamarnya. Joevanka bagai sepatu kaca yang berjalan di atas paku, menapak meski pedih untuk berjalan.


Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi. Air bening yang sedari tadi terkumpul di kelopak matanya menetes di pipinya.


Joevanka menutup pintunya dan mengunci dirinya di sana. Tubuhnya yang bersandar di pintu merosot kebawah. Kakinya terasa lemah, Joevanka terduduk di lantai dengan kaki melipat kebelakang. Bahunya bergetar, menahan isak tangisnya yang semakin terdengar di dalam kamar. Beberapa tetesan air matanya terjatuh kepangkuannya. Ia menutup mulut agar tangisannya tidak terdengar.


" Kenapa begitu sakit? apakah aku terlihat seperti wanita yang tidak tau diri ivander? Apakah karena aku membebankan Uncle dan Aunty? " Lirih Joevanka membiarkan air matanya menetes begitu saja.


Tangisan adalah cara mata berbicara ketika mulut terbungkam, tak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hati Joevanka.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU

__ADS_1


__ADS_2