WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Kelegaan hati Celin.


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


TOK TOK TOK.


Berneta mengetuk pintu kamar nyonya besarnya sebanyak tiga kali, lalu ia berbicara agar Anastasia mendengarnya.


" Permisi nyonya. " ucapnya dengan sopan dari balik pintu.


" Masuk saja berneta." Kata Anastasia dari dalam. Ia masih sibuk mengetik sesuatu untuk acara pertunangan Alea yang dilaksanakan lusa.


Berneta membuka kenop pintu. Ia mendorong kearah dalam dan melihat Anastasia lagi asyik menatap laptopnya. Beliau sedang menggunakan kacamata dan rambutnya digulung asal sampai keatas.


" Ada apa Berneta? " Anastasia menurunkan sedikit kacamatanya, dan menatap Berneta yang hanya diam terpaku ditempatnya.


" Maaf nyonya, saya tidak pernah melihat wajah anda serius seperti ini. Biasanya nyonya terlihat santai, bahkan kepada saya saja anda pasti selalu humoris nyonya dan selalu melemparkan senyum terbaik anda kepada siapapun. Mungkin inilah yang membuat nyonya sampai sekarang masih awet muda. Jadi saya terpesona nyonya dan melupakan tujuan saya yang sebenarnya. " ujar Berneta dengan wajah seriusnya.


" Hahahahha, maaf kan saya Berneta, saya memang terlalu serius mempersiapkan acara pertunangan Alea. Apa ada yang penting? " Anastasia tersenyum dengan menopang dagunya, menatap Berneta dengan senyum teduhnya.


" Ada yang mencari anda nyonya."


Anastasia menaikkan pupil matanya, berpikir sejenak siapa kira-kira tamu yang datang di jam seperti ini.


" Siapa Berneta? " tanya Anastasia memicing ke arah Berneta karena tidak berhasil menemukan jawabannya.


" Kalau tidak salah Delin atau Celin ya? " Berneta menunjukkan gestur berpikirnya. ia terus mengingat. " ehmmm sepertinya Celin deh nyonya, kalau saya tidak salah dengar. Ya, ya... Celin. Tidak salah lagi nyonya. " Berneta memastikan ingatannya.


Tubuh Anastasia membeku. Ekspresi wajahnya berubah. Ia berusaha mengatur napasnya yang tiba tiba tidak stabil. Sepersekian detik, detak jantungnya langsung terpukul kencang. Pikirannya kacau dan tidak konsentrasi lagi. Ia membuka kacamatanya.


" Siapa, Celin? "


" Benar nyonya. Celin..."


Anastasia menelan salivanya begitu susah. Ia terus berpikir, apalagi yang diinginkan celin kali ini.


" Nyonya..." Panggil Berneta ketika menyadari Anastasia terlihat pucat.


" Heuh .. Apa? " Anastasia tersadar dan memandang Berneta yang terlihat bingung.


" Apa anda kurang sehat nyonya? Saya melihat wajah anda pucat sekali. "


" Benarkah? " Anastasia menangkup pipinya sendiri dan menyentuh bagian-bagian pipinya.


" Anda tidak apa-apa nyonya? apa perlu saya hubungi dokter keluarga? "

__ADS_1


Anastasia tersenyum melihat Berneta mengkhawatirkannya. " Aku tidak apa-apa Berneta, sekarang buatkan minuman buat tamu kita. Bilang kepadanya sebentar lagi aku akan menemuinya." ujar Anastasia kembali menyunggingkan senyum di bibirnya.


" Baik nyonya. " Ucap Berneta pamit undur diri lalu meninggalkan kamar itu.


Anastasia menarik napasnya. Ia mondar-mandir di dalam kamarnya. Mengatur napasnya yang terlihat naik turun.


" Apa lagi diinginkan Celin? Apa dia tidak puas dengan pertemuan terakhir kali, atau jangan-jangan calon istri Ivander, anaknya Celin? " Anastasia berbicara pada dirinya sendiri, ia nampak frustasi. " Tidak, tidak, tidak mungkin Ivander bodoh, kembali kepada anaknya Celin, setelah Ivander tahu kebenaran. " Anastasia menggeleng gugup, ia sambil menyapu rambutnya ke atas. Sementara tangannya yang lain memegang pinggang.


Hatinya kembali sakit mengingat peristiwa yang pernah dilakukan Celin kepadanya. Tidak mudah baginya berdamai dengan masa lalunya. Walau kejadian itu sudah lama, namun Anastasia masih bisa merasakan bagaimana kesakitan yang di alaminya.


Huft...Anastasia membuang napasnya yang begitu berat. Kejadian menyedihkan hatinya masih terus mengikuti dibelakangnya. Hingga saat ini, jika diungkit pasti memori itu kembali lagi. Obat sakit hati pun masih abu-abu. Tidak ada resep atau obat tradisional khusus yang bisa menyembuhkan luka di hati.


Meski begitu Anastasia tahu jika mengobati rasa sakit hati bukanlah perkara mudah. terkadang, luka hati lebih sulit sembuh untuk mengobati berbagai kekecewaan, kemarahan, dan ketakutan di dalam hati, Anastasia perlu berjuang untuk membangkitkan perasaan positif yang ada di dalam dirinya.


Sekarang Anastasia harus menghadapi wanita itu kembali. Anastasia melihat pantulan dirinya di cermin, melihat penampilannya hari ini. Setelah dirasanya rapi Anastasia keluar dari kamarnya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Celin berterima kasih, ketika wanita yang membuka pintu untuknya membawakan minuman dan makanan ringan untuknya.


" Terima kasih."


" Nyonya akan keluar sebentar lagi. Anda bisa menunggunya. Makanan dan minumannya bisa langsung dinikmati nyonya. "


Celin mengangguk dan membiarkan Berneta kembali ke dapur.


Jantung Celin langsung terpukul kencang, ketika melihat Anastasia keluar dari kamarnya. Ia mulai merasa gugup. Wajah Anastasia tidak berubah, masih seperti dulu. Bahkan ia bertambah cantik. Celin menelan salivanya. Rasa percaya dirinya yang dulu, hilang begitu saja.


Kini Celin menyadari perbuatannya dulu, Ia menerima segala konsekuensi yang harus ditanggungnya.


Celin kembali mengangkat wajahnya, menatap Anastasia yang semakin mendekat.


Belum juga Anastasia duduk. Celin bangkit dari duduknya dan menjatuhkan lututnya di hadapan Anastasia, dia bersimpuh seraya menangis meraung-raung meminta maaf atas apa yang dilakukannya. Ia sampai mencengkram kedua kakinya karena tidak sanggup menahan segala gejolak di dalam hatinya.


" Maafkan aku Anastasia, aku tahu ini sudah terlambat dan sangat terlambat. Aku minta maaf atas semuanya...." Celin tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Anastasia terkejut dan sangat terkejut melihat Celin, rela berlutut dihadapannya. Dalam benaknya mulai bertanya-tanya. " Apa yang terjadi? " Anastasia terus berbisik. Wajahnya menegang dan yang hanya dilakukannya hanyalah terdiam. Menatap Celin terus menangis tersedu-sedu.


" Apa-apaan ini, siapa yang mengizinkannya masuk? " Terdengar suara bariton yang tak asing di telinga celin. Ia menunduk pasrah dan air matanya kembali terjatuh di pipinya.


Aaron melangkah menuju ruang keluarga dan matanya memandang tajam kepada Celin yang menunduk, menampakkan amarah yang begitu besar. Anastasia segera berjalan mendekati suaminya ketika melihat kilatan marah memancar di bola matanya. Anastasia berusaha menenangkan suaminya.


" Siapa yang membiarkannya masuk, hari ini mereka di pecat. " ucap Aaron dengan lantang.


" Sayang, tenangkan dirimu. Sepertinya Celin niatnya baik. Mari kita dengarkan apa alasannya sampai datang kesini. Oke.." Anastasia menatap lekat kepada suaminya.


" Aku tidak ingin mendengar alasan apapun dari wanita ini. Jadi biarkan dia pergi! " Aaron mengusirnya terang terangan.


" Sayang, kita belum mendengar alasannya. Tidak baik bersikap seperti ini. ehm..." Anastasia berusaha memberi pengertian kepada suaminya.


" Kita dengarkan apa yang ingin Celin sampaikan. "

__ADS_1


" Ini karena istriku ya Celin, aku membiarkan kaki kotormu menginjak rumahku. Jika tidak aku sudah melemparmu ke buih kembali. "


Anastasia terus memberikan pengertian, dan mengelus dada suaminya agar bisa meredam emosinya. " Sayang....! " Anastasia membawa suaminya duduk.


Celin sudah menyiapkan hatinya. Apa yang dikatakan Aaron memang benar. Setelah apa yang telah dilakukannya, memang ia pantas mendapatkannya. Bahu celin bergetar, ia terus menunduk dan memejamkan matanya. Beberapa tetesan air matanya terjatuh dipipinya.


" Celin, duduklah. Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu duduk seperti itu." Ucap Anastasia menatap Celin yang terus menangis.


Dengan sedikit gemetar, ia bangkit dan memilih duduk dan terus menunduk.


" Sekarang katakan lah apa yang membuatmu datang ke sini." ucap Anastasia.


Sementara Aaron tidak ingin melihat Celin. Ia mengalihkan pandangannya.


" Maafkan aku Anastasia atas segalanya." Celin mengambil tangan Anastasia dan kembali memohon. " Saat ini Delia putriku satu satunya sedang berjuang melawan penyakitnya. Dia ingin bertemu dengan ivander. Aku mohon bujuk Ivander agar mau menemui Delia. Aku mohon Tasia..." Erang celin menangis.


Wajah Anastasia mengerut serius, ia menatap Celin dengan haru dan menyentuh tangannya dengan lembut. Memberi kekuatan kepada Celin. Sungguh ia tidak bisa melihat seseorang menangis apalagi itu menyangkut soal anak.


" Anakmu sakit apa celin? " Ucap Anastasia terus memandang Celin.


Celin memejamkan matanya, menahan tangisannya dalam sesenggukan. Ia seakan mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan penyakit Delia.


" Delia mengidap kanker usus besar yang dideritanya dan ternyata telah memasuki stadium satu. Setelah menjalani operasi, dia dinyatakan sembuh. Namun empat tahun kemudian, Delia menderita kanker paru-paru stadium tiga dan sekarang kankernya menyebar kemana-mana. Aaahhhh...." Celin kembali menangis, ia menarik cepat napasnya dan mendongak keatas untuk menahan segala kesesakannya.


Entah dorongan apa, Anastasia bangkit dan duduk lalu memeluk Celin. Tangisan celin terus menjadi. Air matanya mengalir begitu deras di pipinya. Ia bahkan mengeluarkan suara lirih. Wajahnya mengerut. Ia berusaha untuk bernapas meski sesenggukan.


Aaron terdiam mematung, terpaku dan membisu melihat apa yang ada dihadapannya. Aaron mencoba untuk tetap tenang menghadapi situasi yang baru saja dilihatnya. Ada rasa terharu, melihat istrinya bisa memaafkan Celin. Wanita yang selalu bersabar dalam menghadapi apapun itu dan wanita yang menjadi penyemangat hidupnya.


" Penyakit ini adalah kedua kali aku mendengar langsung dari dokter. perasaanku, bagai petir menyambar di siang bolong, namun yang terakhir ini, petirnya terasa lebih dasyat. aku tidak percaya atas apa yang tengah menimpaku Anastasia. Pupus sudah semua harapan. Hati ini benar-benar hancur, lebur, tinggal debu yang kemudian tertiup angin topan yang menerjang sanubariku. Kini Delia memohon padaku, agar bisa dipertemukan dengan Ivander. Agar Delia bisa pergi dengan tenang..." Kali ini bibir Celin gemetar dalam suara lirih dan meraung. Napasnya keluar tidak stabil. Ia sungguh tidak tahan lagi dengan beban hidup yang dijalaninya.


" Aku mengerti. " Anastasia ikut menangis dan ia berusaha menenangkan Celin. " Aku akan katakan kepada Ivander. Kita serahkan Delia kepada Tuhan. Semoga Delia cepat sembuh. Jangan putus asa Celin, aku tahu apa yang kau rasakan. Ketakutan membuat kita menjadi orang rapuh. Jangan putus harapan dan teruslah berdoa. " kata Anastasia melepas pelukannya. Mengambil tangan Celin. Anastasia benar-benar melepaskan masa lalu yang terus menghantuinya. Ia kembali tersenyum menatap celin.


" Terima kasih Tasia. Sungguh aku sangat berterima kasih. " Sahut Celin terus menangis.


" Jangan pernah meremehkan kekuatan doa Celin. Tuhan selalu mendengar jika kita terus memintanya. Delia akan sembuh dan menjadi anak yang membanggakan kamu celin. "


Celin terus mengangguk, ketika Anastasia memberikan kekuatan dan semangat hidup baginya. Ia percaya Kekuatan doa akan mengubah segalanya.


Seperti ada kelegaan di dalam hati Celin, ketika Anastasia menerima maafnya. Benar, tidak ada gunanya bersedih sampai berlarut-larut dan menyesali tak kan pernah mampu mengubah keadaan. Hanya bergerak, melangkah dan berbuatlah yang bisa menggantikan kesedihan menjadi kebahagiaan. Akan ada ketenangan dibalik setiap kegelisahan, ada tawa dibalik setiap air mata, jika kita selalu menyertakan Tuhan dalam setiap langkah kita.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ

__ADS_1


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU πŸ’Œ


__ADS_2