WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Aku rasa aku jatuh cinta.


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


" Maaf, aku terlambat! " Kata Ivander menyapa keluarganya sambil berjalan mendekati meja. Semua makanan sudah di sajikan di atas meja. Ivander melemparkan senyumnya dengan lembut.


" Tidak apa apa my son, sekarang duduklah! " Kata Anastasia tersenyum dan mencium anaknya.


Ivander berjalan untuk memeluk grandpa dan grandma yang sudah merentangkan tangannya untuk memeluk cucunya itu. Lalu Uncle Betran dan auntie Felin bergantian memeluknya.


" Oh, sayangku...wajahmu benar benar berkarisma sama seperti daddy-mu sayang...Kau benar benar tampan, apa kau sudah memiliki kekasih ivander? " tanya Maria, ia begitu mengagumi ketampanan cucunya itu.


Mendengar itu Ivander tersenyum lebar " Grandma terlalu memujiku. Kira kira aku sudah memiliki kekasih tidak, iya ? " kata Ivander mengulang pertanyaan grandma nya, namun tatapannya tidak lepas dari Joevanka. Ia melirik gadis lembut itu sekilas. Kemudian ivander, saling menatap dan saling tertawa bersama dengan yang lainnya.


" Kekasih siluman...! " Kata Ivannia bergumam dan menggerenyotkan bibirnya. Alea yang mendengarnya langsung mencubit lembut bagian lengan Ivannia.


" Benarkan? Dia itu siluman? " bisik Ivannia mendekatkan wajahnya kepada Alea.


" Sssstttt ! " Alea mengangkat jarinya dan menaruhnya ke bibirnya sendiri, agar Ivannia tidak bicara lagi.


" Selamat ulang tahun adik kesayanganku! " Ivander mencium puncak kepala Ivannia dan tersenyum tipis. Ivander tidak lepas melihat ke arah Joevanka, ia duduk tepat di depan Joevanka yang tiba tiba menundukkan wajahnya. Joevanka sedikit kikuk, ia tidak berani untuk mengangkat wajahnya setelah kejadian di kampus.


" Terima kasih, tapi mana hadiahmu? " Ivannia sudah mengulurkan tangannya dan memainkan jarinya untuk menagih janji Ivander.


" Maaf Ivannia, tadi aku tidak sempat untuk membelinya. Aku rasa lusa kita akan beli bersama, kita bisa jalan bersama alea dan Vanka untuk mencari hadiahmu, terserah kau mau pilih apa. Bagaimana? " Usul Ivander mencondongkan tubuhnya, agar adiknya bisa menerima alasannya karena memang ia di sibukkan untuk acara besok. Tatapannya kembali mengarah kepada Joevanka yang diam tanpa ekspresi.


" Apa dijalan macet Ivander? " Kata Christian.


" Tidak juga grandpa, tadi ada latihan di kampus untuk acara ulang tahun besok. " jawab Ivander.


" Tunjukkan penampilan terbaikmu, grandpa mendapat undangan dari universitas xx untuk menghadiri acara ulang tahun yang tiap tahun dilaksanakan yang super megah itu. "


" Grandpa memang setiap tahun dapat undangan karena perusahaan Donisius salah satu donatur terbesar yang memberikan sumbangan untuk pembangunan di universitas xx. " kata Ivannia mengambil minuman yang ada dihadapannya.


" Bagaimana kuliahmu sayang? " Tanya Maria menatap Ivander.


" Baik, sangat baik grandma..." jawab Aaron tersenyum singkat.


" Grandma, dia mahasiswa yang memiliki IP tertinggi, jadi aku rasa dia akan cepat menyelesaikan kuliahnya dan bisa meneruskan perusahaan Donisius seperti yang diharapkan uncle Aaron. " Timpal Alea.


" Benarkah sayang? " Kata Maria tersenyum lebar dan menunjukkan wajah berbinar-binar.


" Doakan saja, grandma..." sahut Ivander singkat.


" Saya rasa, kita sudah bisa menikmati makan malam kita ! " Aaron sudah mengangkat gelasnya dan melakukan tos dari jauh. Semua tertawa bahagia. Ivannia memang tidak menginginkan perayaan ulang tahunnya diadakan di hotel seperti teman temannya, ia cukup merayakan bersama keluarga dan tidak harus meniup lilin juga. Acara seperti ini saja sudah membuat Ivannia sangat bahagia, berkumpul bersama keluarga adalah kado terindah ulang tahunnya.

__ADS_1


Mereka sudah menikmati hidangan yang tersaji di hadapan mereka. Hanya terdengar perbincangan Aaron dengan yang lain mengenai bisnis. Sementara Mommy berbicara dengan auntie Felin mengenai usaha auntie yang sekarang menjadi perancang busana terkenal. Sedangkan Ivannia asyik bercerita dengan Alea dan Joevanka. Ivander? dia hanya bisa diam menikmati makanannya dan ia mencuri curi pandang kepada Joevanka, walau ia tidak berani menatapnya Joevanka lama lama. Getaran getaran aneh kembali tercipta dari dalam dadanya. Getaran ini yang membuatnya tidak nyaman dan semakin ingin melihat Joevanka dan ternyata ia semakin menyukainya. Joevanka terlihat ikut terbawa cerita Alea yang membuatnya tertawa, bahkan membuat Joevanka menengadah ke atas sembari menutup mulutnya dengan tangannya.


" Apakah aku menyukainya, kenapa semua terlihat berbeda jika hanya melihatnya tersenyum saja? " Batin Ivander berbicara pada dirinya. Ia mulai salah tingkah ketika melihat sisi dari Joevanka. Pantulan cahaya lampu membuat kecantikan Joevanka terlihat jelas. Membuat Ivander menatap dalam dan tidak menyadari ia tersenyum karena menikmati tawa itu.


" Aku rasa aku jatuh cinta ! "


" Aku rasa aku menyukaimu Vanka! " ivander menatap Joevanka lekat lekat.


DEG....Tiba tiba tatapan mereka bertemu, Ivander memberanikan diri menatap Joevanka lebih lama. Aliran darahnya seakan berdesir, jantungnya berdebar begitu keras sampai membuat Ivander sulit untuk bernapas.


Joevanka terkejut, menyadari tatapan Ivander yang mampu menghujam jantungnya. Tawanya seakan hilang bersama tatapan Ivander yang mengintimidasinya, ia gugup dan menunduk lemah, menyibukkan diri menikmati makanan yang tersedia di depannya.


" Kenapa aku begitu ceroboh, Ivander pasti sudah menilaiku tidak ada sopan santun, tertawa disaat makan. Oh...mau ditaruh di mana wajahku? " Joevanka merutuki kebodohannya. Ia kembali memotong daging steak, Joevanka tetap diam menggunakan tangan kiri untuk memasukkan steak ke dalam mulutnya. Ia tidak berani mengangkat wajahnya lagi, apalagi menatap Ivander.


Acara makan sudah selesai.


" My son, kau antar adikmu pulang ya, Mommy dan daddy ada pertemuan sebentar dengan teman daddy. " kata Aaron.


" Oke dad, " jawab Ivander.


Mereka meninggalkan restauran dengan mengambil jalan masing masing.


Ivannia memilih pulang bersama Alea. Sekarang yang tersisa hanya Ivander dan Joevanka yang menikmati kecanggungan. Mereka berjalan menuju parkiran.


Mereka sudah tiba di tempat parkir.


" Aku duduk di belakang saja ya Ivander ? " kata Joevanka dengan suara terendahnya. Joevanka membuka pintu belakang dan langsung mengambil tempat duduk di belakang setir mobil.


" Siapa yang menyuruhmu duduk dibelakang? " tukas Ivander dengan wajah yang terlihat dingin.


" Gak apa apa, biarkan aku duduk dibelakang saja! " kata Joevanka memaksa bibirnya tersenyum.


" Apa kau pikir aku supirmu? " sinis Ivander dengan suara nyaring.


" B-b-bukan seperti itu maksud aku ivander! " Kata Joevanka menggeleng dan mengibaskan tangannya.


" Dengan Samuel kau cepat sekali duduk di depan. Apa karena aku tidak membukakan pintu untukmu? " Kata Ivander menatapnya lekat lekat dan mengangkat alisnya naik lebih tinggi.


Glek ! Melihat sorotan mata Ivander, Joevanka menelan Salivanya, rasa gugup kembali menggerogoti seluruh tubuhnya.


" Aku tidak sedang bercanda Vanka! " ucap Ivander tegas, matanya menyorot semakin tajam.


" Duduk di depan atau aku panggil taxi untuk mengantarmu pulang! " ucap Ivander mengangkat alisnya setengah dan tatapannya benar benar menunjukkan ke marahan.


Joevanka mengangkat wajahnya sambil menarik napas. Ia mengerucutkan wajahnya. Energi tubuhnya seakan hilang entah ke mana. Kini yang tertinggal hanyalah rasa lesu dan tak berdaya. Joevanka menarik napasnya dan menghembuskan napasnya dengan cepat. Ia langsung keluar dari mobil dan duduk di bagian depan.


Ivander tersenyum penuh kemenangan, ia mengulas senyum tipis. Ada rasa bahagia yang menggelitik hatinya. Ivander berdehem dan berusaha untuk bersikap datar agar Joevanka tidak menyadari sikapnya. Ia duduk di bagian kemudi mobil. Joevanka duduk sambil meremas tangannya. Ia merasa gugup dengan situasi ini.


" Apa kita sudah bisa jalan ? " tanya Ivander menatap Joevanka diam bergeming.


" Heuh..." Joevanka terkejut dan memalingkan wajahnya menatap Ivander, tatapan mereka kembali bertemu. Membuat Joevanka gugup dan jantungnya seakan terpukul lebih kencang.

__ADS_1


DEG DEG DEG


Sementara Ivander mulai menyukai suasana ini.Ia menyukai kegugupan Joevanka.


Ivander memiringkan tubuhnya agar ia menghadap Joevanka. Ia memberanikan diri untuk semakin mendekat, Joevanka terkejut, ia terdiam mematung di posisinya.


DEG DEG DEG


Ivander mendekat ke arahnya secara berlahan. Joevanka gemetar, seketika terasa kaku tak dapat bergerak, tubuhnya terasa panas. Napas ivander semakin mendekat menyapu wajahnya, seakan menggoda dan Ivander seolah membisikkan sesuatu yang siap menghentikan jantungnya. Dengan reflek Joevanka terpejam menutup matanya seakan tak berdaya.


Sepersekian detik Ivander bisa menatap wajah Joevanka yang hanya berjarak 5 cm darinya. Melihat daya tarik Joevanka yang membuat semua lelaki menyukainya. Cantiknya begitu natural. Ivander kembali ke tingkat ke sadarannya, ia menarik Seat belt dan memasang ke tubuh Joevanka.


" Kita tidak bisa berjalan sebelum kau memasang ini! " ucap Ivander menatap Joevanka yang terpejam.


Ivander berusaha bersikap biasa saja. Namun jangan tanya bagaimana detak jantungnya, sudah hampir membuatnya sulit bernapas. Ivander yakin debaran ini tercipta karena kedekatan mereka. Kini ia meyakini dirinya. Ivander tertarik kepada Joevanka.


Perlahan-lahan Joevanka membuka matanya, Ivander sudah menarik tubuhnya menjauh darinya. Joevanka menggigit bibir bawahnya mencoba mengembalikan kesadarannya. Ia berkesempatan untuk bernapas meski debaran dari jantungnya masih bergejolak dan bergemuruh.


" Astaga, aku bisa mati seperti ini! " Jerit hati Joevanka, ia membuang mukanya untuk menutupi wajahnya yang bersemu merah. ia meremas kakinya sendiri.


Ivander kembali duduk bersandar, ekspresi wajahnya berubah. Getaran itu terus terasa di sekujur tubuhnya. Aliran listrik di dada semakin menyetrum dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Benar benar membuatnya terlena.


Ivander memutar kunci di dalam kontak dan menghidupkan mesin mobilnya. Ivander menginjak penuh pedal kopling, dan memasukkan persneling, ia mulai menginjak pedal gas untuk menjalankan mobilnya dan meninggalkan parkiran restauran untuk membelah keheningan malam.


Hening menyeruak di antara keduanya, tidak ada yang bersuara. Mereka memandangi jalan dalam kebisuan.


Ivander menghidupkan audio mobilnya untuk memecahkan keheningan mereka.


" Besok, kau pergi bersamaku ! " kata Ivander mulai bicara. Kata-katanya seakan mengatakan tidak ada penolakan. Joevanka berpaling dan menoleh untuk melihat Ivander.


" Aku tidak bisa, karena aku sudah lebih dulu berjanji dan akan pergi bersama Samuel. " jawab Joevanka.


Ivander berdecak kesal tapi Joevanka tidak mendengarnya karena Ivander sudah memperbesar volume musik dari audio mobilnya. Ia berusaha menutupi rasa kesalnya.


Joevanka tertegun, Ia melirik Ivander dengan ekor matanya. Tak ada pembicaraan lagi, joevanka membiarkan Ivander bernyanyi mengimbangi besarnya suara dari audio mobil. Tarikan suaranya yang pas membuat Joevanka menikmatinya dalam diam. Ia benar benar mengagumi suara Ivander. Tanpa menyadari Joevanka mengikuti alunan musik sembari mengetuk jarinya untuk menikmati lagu yang dinyanyikan ivander. Melihatnya bernyanyi salah satu membuat Joevanka semakin mencintai pria yang duduk di sampingnya itu.


.


.


BERSAMBUNG


.


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌

__ADS_1


💌 BERIKAN BINTANGMU


__ADS_2