WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Menyusuri jalan setapak


__ADS_3

πŸ’Œ Whisper of love πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Suasana menjadi kaku setelah terjadi perkelahian antara Delia dan Joevanka. Ivander berjalan tanpa ekspresi, wajahnya terlihat dingin dan kaku. Pagi ini mereka akan melakukan kegiatan senam pagi untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Kemudian setelah melakukan senam, mereka melakukan makan bersama dengan sajian makanan yang dihamparkan di atas plastik yang menjadi salah satu hal yang menjadi kebiasaan dari Mahasiswa pecinta alam. Susana seperti ini membuat mereka terlihat bahagia. Tetap menciptakan kesederhanaan.


" Dimana Joevanka? " Lona setengah berbisik kepada Vivian, namun masih di dengar Ivander yang duduk tak jauh dari mereka. Ivander mengedarkan pandangannya, menyadari jika Joevanka tidak bergabung dari mereka melakukan senam sampai makan bersama.


" Benar juga kok aku baru menyadarinya ya. Kemana dia? apa karena kejadian tadi pagi ya, Joevanka tidak berani menunjukkan dirinya. Aku dengar ketua sangat marah tadi. " ucap Vivian setengah berbisik agar Ivander tidak mendengar pembicaraan mereka.


" Saya rasa juga begitu.. " kata Lona terlihat tidak semangat, ia menghembuskan napas panjangnya. Ada perasaan bersalah merayapi dirinya. Semua ini bermula darinya.


" Aku juga tidak tahu, kenapa Joevanka begitu marah pada saat itu, aku masih bisa bayangkan bagaimana Joevanka menunjukkan wajah garangnya ketika melawan Delia, dia memang pantas mendapatkannya. " kata Vivian.


Mereka tiba tiba terdiam, ketika Ivander berjalan melewati mereka. Keduanya menahan napas dan bersamaan itu mereka membuang napasnya ketika Ivander sudah menjauh. Vivian mengelus dadanya, sedikit lega Ivander tidak menyadari pembicaraan mereka.


Tujuan Ivander adalah untuk mencari keberadaan Joevanka.


" Apa dia tersinggung dengan ucapan ku? " batin Ivander. Ia masih berjalan menuju tenda Joevanka.


Semua itu dia lakukan untuk mendisplinkan mereka. Bagaimana pun ia bertanggung jawab penuh atas kejadian ini. Walau kejadian ini sangat di sayangkan,baru terjadi semenjak ia mengikuti kegiatan mendaki. Ia seperti gagal untuk mengikat persaudaraan antara mahasiswa pencinta alam. Ia membuang napasnya dan mendekati tenda milik Joevanka.


" Vanka...! " Ivander membuka tenda, tidak ada siapa siapa. " Kemana dia? " Kata Ivander dengan wajah yang berkerut.


Samar samar dia seperti mendengar tawa dari Samuel.


" Samuel? " wajahnya berkerut. Suara itu semakin jelas, Ia melangkah pelan mencari sumber suara. Langkahnya melambat, Ivander sangat gugup melihat kedekatan mereka.


" Sudah jangan menangis! kau tambah jelek Joe.." kata Samuel menyeka air mata Joevanka. Joevanka hanya menggeleng pelan.


" Aku sudah berusaha untuk menghentikan air mata ini kak, tapi aku tidak bisa. Aku tidak tahu kenapa air mata ini selalu keluar. " Kata Joevanka terisak.


" Apa kau kecewa ucapan Ivander tadi? " tanya Samuel dengan nada lembut, ia membungkukkan badannya agar sejajar dengan Joevanka.


Joevanka tidak menjawab, Ia menundukkan wajahnya, agar samuel tidak melihat air matanya yang tidak di undang tapi selalu saja keluar. Joevanka menyadari kesalahannya, ia mempermalukan dirinya sendiri di depan lelaki yang sangat ia cintai. Sehingga setiap Ivander bertanya, ia tidak mau menjawabnya.


" Joe, lihat aku! Aku yakin Ivander begitu kesal karena ini adalah kejadian pertama, ia seperti gagal menjadi ketua." jelas Samuel.


" Apa dia Kecewa kak? " tanya Joevanka dengan wajah sendu.


" Kecewa pasti Joe, Aku kenal betul dengan Ivander, persahabatan kami sudah cukup lama. pertemuan kami awalnya, kami itu sama-sama menerima hukuman ospek pada saat sekolah menengah pertama. Jadi aku sangat mengenal Ivander, saat ini pasti ia sangat kesal. ketika ada perkelahian seperti ini dan baru pertama kali terjadi. Tentu saja ia sangat marah. "


Joevanka menarik napasnya, perasaannya campur aduk sekarang. Ia merutuki kebodohannya sendiri.


" Tapi aku suka kau bisa melawan Delia, kau benar benar gadis berani..."


Joevanka hanya tersenyum singkat, pikirannya hanya kepada Ivander saja.


" Jadi kau jangan pikirkan masalah Ivander, justru kalau dia melihatmu diam, dia akan bertambah kesal. Kau harus kuat, agar orang lain tidak seenaknya menindas, apalagi gadis lembut itu adalah kau. " kata Samuel tersenyum lembut.


Samuel seperti menciptakan jeda dalam percakapan mereka. Ia menyentuh lengan Joevanka dengan ke dua tangannya. Samuel mendekat membuat Joevanka mengerjapkan matanya, ketika merasakan kedekatan mereka. Tanpa peringatan reflek Samuel mencium kening Joevanka, agak lama ia membenamkan bibirnya disana. Membuat Joevanka tersentak dan diam membeku. Joevanka mencoba kembali berpijak pada tingkat kesadarannya yang nyata, bahwa ini adalah salah. Joevanka dengan cepat mendorong tubuh Samuel, membuat lelaki itu terhuyung ke belakang.


Degup jantungnya berdetak kencang, menarik napas dan mengatupkan bibirnya, ia mengedip cepat dan menatap ke arah lain.

__ADS_1


" Jangan lakukan itu lagi kak! " pinta Joevanka.


" Maaf kan aku Joe, aku tidak bisa menahan diriku karena aku terlalu mencintaimu.." kata Samuel dengan nada lembut.


Joevanka tidak menjawab, ia langsung pergi meninggalkan Samuel yang diam terpaku di tempatnya. Tanpa memandang Samuel yang terus memanggilnya. Joevanka bahkan mempercepat langkahnya.


" Semoga saja tidak ada yang melihatnya..." keluh Joevanka berbicara pada dirinya sendiri. Ia terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun.


⭐⭐⭐⭐⭐


Mereka sudah bersiap untuk melakukan kegiatan pendakian dan akan mengibarkan bendera setelah tiba di puncak gunung.


Ivander sudah membagi dua tim dan mereka akan memakai dua jalur .


Perlengkapan mendaki gunung sudah siap dengan menggunakan tas carrier, sarung tangan, sepatu gunung dan jaket gunung, Ivander menyarankan menggunakan Jaket yang tak hanya melindungi tubuh dari hawa dingin, tapi juga sebagai pelindung tubuh dari duri tajam dan harus tahan air.


Mahasiswa sudah berkumpul namun Ivander belum juga muncul setelah 15 menit berlalu. Mahasiswa berdecak, melirik jam di tangan berulang kali.


" Kemana ketua? Apa karena kejadian tadi pagi ya, Ivander menjadi marah? " kata Elmon berbicara kepada Carles.


" Saya rasa begitu, Ivander kecewa karena selama dia ikut, baru ini menghadapi kekacauan seperti ini. " sungut Carles, karena mereka selalu ikut dan selalu di tim yang sama.


" Apa kegiatan kita ini tidak di lanjutkan lagi?"


" Omong kosong apa itu, kita harus mengibarkan bendera di atas gunung, tidak mungkin ini batal, Dekan akan murka. " sahut Carles.


" Mudah mudahan ketua cepat meredam amarahnya dan kita bisa langsung melanjutkan kegiatan kita ini." ucap Elmon.


" Amin..." jawab Carles.


Samuel meninggalkan barisan untuk mencari Ivander. Semenjak kejadian tadi pagi, Ivander memang tidak terlihat. Tentu membuat Samuel sedikit mencemaskan sahabatnya itu.


" Apa yang terjadi dengan dia ? " Batin Samuel melangkah mendekati Ivander yang tertunduk lemah.


" Dude...! " panggil Samuel dengan suara terendahnya, dia melihat Ivander berjalan namun belum menyadari keberadaannya yang hanya berjarak satu meter dengannya.


Ivander mengangkat wajahnya. Melihat Samuel, ia kembali mengingat ciuman yang ia lihat tadi. Ivander tersenyum miris. Tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya saat ini, apakah seperti gelas pecah atau seperti bunga layu? ia sendiri tidak tahu.


" Dude, rekan kita sudah menunggu. " kata Samuel.


Tidak ada sahutan, ia tetap berjalan meninggalkan Samuel yang nampak bingung melihat sikap Ivander.


" Dude, apa kau sakit ? "


" Hatiku sakit Samuel..." ucapnya menjawab dalam hati.


" Dude, lihat aku..raut wajahmu seperti beberapa tahun yang lalu di saat Delia meninggalkan mu, kau seperti patah hati dude..."


Ivander tersenyum, mengangkat sisi bibir kanannya naik keatas, " Apakah aku terlihat sangat menyedihkan Samuel ? " ucapnya dalam hati. Ivander seakan menertawakan dirinya sendiri.


" Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


Tanya Samuel terus mencari tahu kenapa wajah Ivander terlihat seperti orang putus asa.


" Kita harus cepat Samuel, aku tidak ingin mereka menunggu kita selama ini. " Kata Ivander mengalihkan pembicaraan, ia melangkah panjang meninggalkan samuel.


⭐⭐⭐⭐⭐


" Selamat siang rekan rekan, maaf atas keterlambatan saya. Oke hari ini kita akan mulai mendaki. Jalur pendakian kita ada dua. Kita akan memberi tanda panah untuk memudahkan kita. Karena jalur ini begitu rumit .Jalur pendakian Gunung memang sering dilalui para pendaki. Tapi kita akan tetap memberikan petunjuk arah agar kita tidak tersesat waktu kita kembali ke camping.

__ADS_1


Disana kita akan menemukan beberapa pos peristirahatan di jalur pendakian. Pos-pos beratap dan bisa untuk tempat berteduh buat kita.


Ingat ini peringatan penting buat kita semua, saya tidak ingin hal seperti tadi terjadi lagi. Tetap jaga sikap, kita harus ikuti aturan yang berlaku. Jangan coba-coba berpisah dari tim dan pergi seorang diri atau tanpa orang yang belum paham jalur pendakian demi menghindari kemungkinan tersesat dan risiko berbahaya lainnya. Mengerti ! "


Sesaat Ivander terdiam, ia melihat jam yang ada di tangan.


" Waktu kita mendaki pukul 11.00 wib. Waktu istirahat kita hanya 10 menit di setiap berhenti di pos. Kita tiba di sana pukul dua dan turun pukul tiga sore. Agar kita tidak sampai di tenda terlalu malam. Mengerti! "


" Siap, kami mengerti! " jawab mereka serentak dengan penuh antusias.


" Oke, baiklah sebelum kita mulai berjalan, ada baiknya kita berdoa menurut kepercayaan kita masing masing. Doa dimulai ! "


Semua hening menundukkan kepala, melakukan doa untuk keselamatan mereka hingga sampai ke pegunungan.


" Doa Selesai..." kata Ivander mengangkat kepalanya.


Ivander mulai berjalan, yang di ikuti mahasiswa dan mahasiswi lainnya.


Awal pendakian, mereka menyusuri jalan setapak berbatu. Kawasan hutan yang lebat juga akan menjadi pemandangan bagi mereka sepanjang awal perjalanan.


Pemandangan alam yang sangat indah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pendaki yang memilih jalur ini.


Mulai dari telaga biru dan rawa, hingga air terjun, semua akan tersaji ketika mereka melewati Pos pertama.


Dengan semangat mereka berjalan setapak demi setapak hingga ingin cepat mencapai puncak. Mereka menemukan tempat yang penuh ke indahan.



Samuel tetap menuntun Joevanka jika jalan mulai curam dan kondisi hutan yang semakin rapat dan track yang mulai menanjak harus di lalui. Joevanka nampak kelelahan, dengan cepat Samuel memberikan minuman yang dia bawa.


" Kamu lelah Joe, biar aku bilang ke Ivander untuk istirahat 10 menit. "


Joevanka mengangguk pelan, napasnya habis, Ketika menaiki jalanan yang terjal hampir membuat nya terjatuh. Beruntung Samuel selalu berada dibelakangnya untuk membantu dan mengulurkan tangannya agar Joevanka dengan mudah naik.


Ivander sendiri memilih berjalan di depan karena ia sempat di belakang untuk sewaktu waktu jika Joevanka membutuhkan bantuannya, namun melihat Samuel memberikan perhatiannya yang selalu di luar nalarnya, Ivander sendiri memilih jalan di depan mereka. Ia tidak ingin menyaksikan kemesraan mereka yang membuatnya sakit hati.


BERSAMBUNG


.


.


# Hai hai para my readers yang saya sayangi πŸ₯° ternyata hari ini weekend ya 😘


Semoga hari hari kalian dipenuhi kebahagiaan bersama keluarga πŸ€—


# Salam sehat selalu, tetap jaga kesehatan dan gunakan masker 😷 pada saat di luar rumah ya.


Kita berdoa semoga Corona ini cepat berlalu, Amin Amin Amin.


# Terima kasih kepada my Readers yang selalu memberikan Like dan komentarnya yang tentunya membuat saya lebih semangat menulis lagi 😘 Apalagi yang berbaik hati selalu memberikan vote . Sumpah aku itu bahagia pake banget lho, pokoknya terlove buat kalian semua 😍 Salam sehat ya πŸ’ͺ Tetap bahagia πŸ€—


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ

__ADS_1


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU


__ADS_2