WHISPER OF LOVE

WHISPER OF LOVE
Membuatmu mencintaiku


__ADS_3

💌 Whisper of love 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Joevanka berjalan menyusuri jalur Pedestrian di antara bangunan-bangunan seperti kubus menjulang. Jalan kaki pilihan terbaik jika ingin menikmati keramaian ibu kota, Melbourne. Joevanka tersenyum sambil mendongak keatas menikmati suasana pagi yang dingin. Ia tidak perlu menyesuaikan diri lagi karena sudah terbiasa menikmati udara dingin semasa ia di London.


Di persimpangan atau penyeberangan, Joevanka harus pencet tombol bulat di bagian bawah tiang traffic light, agar tak lama menunggu lampu berbentuk orang jalan kaki segera menyalakan warna hijau.


Joevanka menyembunyikan tangan dalam saku jaket, sembari menanti dengan pejalan kaki lainnya. Hingga momen yang paling Ia suka pun muncul.


" Tuk…tuk…tuk…" berbunyi begitu lampu hijau menyala. Suara yang terdengar menuntun ini berakhir ketika pejalan kaki sudah berhasil menyeberang, kira-kira tiga puluh detik.


Hari libur, Joevanka menyempatkan diri menikmati keindahan alam, taman-taman yang asri dan rindang, museum-museum yang terawat dengan baik dan menikmati beberapa kuliner yang unik. Pengalaman yang dapat dirasakan berburu Truffle sejenis jamur.


Bunyi nada nada dering Thank u, next dari Ariana Grande berbunyi dari ponsel Joevanka. Joevanka melihat panggilan masuk dari Gavin, ia menggeser tanda terima pada Handphone-nya dan menahan ponselnya dengan pundak dan tangannya masih sibuk memotong daging steak, ia ingin menikmati makan siangnya dengan baik.


" Sekarang kamu harus ke hotel Joe, bapak direktur menunggumu. "


" Apa? Bapak direktur? " Joevanka Meninggikan suaranya. Ia memegang ponselnya untuk memastikan kembali perkataan Gavin.


" Kamu harus cepat ke hotel Joe. Bapak direktur menunggumu. " Gavin mengulangi kalimatnya.


Glek....Joevanka menelan salivanya, ia berulang kali meneguk air yang ada dihadapannya.


" Kenapa bapak direktur kembali lagi ? "


" Saya tunggu lima belas menit Joe."


" Astaga , coba jelaskan kenapa bapak direktur kembali lagi? Bukan kah kejadian itu sudah seminggu yang lalu Gavin? " Joevanka memelas.


" Aku juga tidak tahu Joe, kamu cepat kesini.. Direktur tidak mau menunggu. Ingat direktur tidak mau menunggu Joe..." Gavin menegaskan setiap kalimatnya.


" Tunggu...! "


" Apa lagi Joe, Waktu berjalan Joe. " Gavin mengingatkan.


" Apa mungkin pak direktur ingin memecat ku? " Joevanka menunduk lesu.


" Joe, yang jelas pak direktur selalu terbayang bayang dengan kesalahan konyolmu itu, aku yakin bapak direktur tidak bisa tidur nyenyak melihat ada karyawannya seperti kamu JOEVANKA. " Gavin menekan perkataannya menyebut Joevanka.


" Astaga kamu jahat sekali Gavin. "


" Kenyataan kan Joe. " Gavin menahan tawanya.


" Harusnya kamu bantu aku, bagaimana caranya agar aku tidak dipecat. Bantu aku Gavin, kamu adalah teman terbaikku dan yang paling mengerti aku. " Kata Joevanka.


" Sekarang kamu datang ke hotel saja ya, waktumu habis hanya untuk memohon. Kita bertemu disana. Aku akan usahakan untuk membantumu Joe, jangan panik. "


" Baiklah, kita bertemu disana. "


Joevanka mematikan ponselnya, setelah melakukan pembayaran, ia langsung berlari secepat kilat menuju hotel Hyatt regency Sydney, hotel terbesar di negeri kanguru.


" Astaga baru saja aku menikmati liburanku dan bisa tidur nyenyak dan sekarang bapak direktur datang kembali? Huftt...." Joevanka mengumpat dalam hati. Sepanjang jalan hanya caci makian yang keluar mulutnya. Ia begitu kesal. Ia melarikan mobilnya membelah jalan menuju hotel.


Tap tap tap


Joevanka keluar dari lift sambil sedikit berlari. Kepalanya dimiringkan untuk menahan ponsel di telinganya.


" Ya, Gavin aku sudah menuju kamarnya. " Joevanka langsung melambaikan tangannya, ketika Gavin menunggunya di depan kamar direktur. Ia langsung memasukkan ponsel kembali ke dalam tasnya.


" Perasaanku tidak tenang Gavin. "


" Kita dengarkan sama sama apa yang akan dikatakan bapak direktur. "


" Saya rasa aku memang akan dipecat pak. " Joevanka menunduk lesu.


" Saya rasa juga seperti itu joe, kau tahu sendiri pak Ivander tidak bisa kompromi jika ada karyawan membuat kesalahan, walau itu kesalahan kecil. "

__ADS_1


" Astaga, aku kan sudah minta maaf Gavin, bahkan aku memohon agar beliau tidak memecat ku. "


" Sekarang kau masuk joe.. "


" Sendiri? " Joevanka terbelalak tidak percaya.


" Ya, kamu sendiri, aku tidak mau ikut ke kandang singa bersamamu "


" Kau jahat! "


" Hahahaha, tidak lah Joe, emang aku sejahat itu. Sekarang kita masuk! " Kata Gavin tersenyum.


Huftt.... Joevanka mengatur napasnya ketika Gavin mengetuk pintu kamar hotel.


Tok tok tok


Pintu kamar hotel terbuka sedikit, saat itu juga jantung Joevanka terpukul kencang, ia menarik napasnya dan spontan menarik tangan Gavin.


" Aku takut Gavin..." Joevanka menutup matanya dengan sangat erat, hingga garis garis hidung dan pinggir matanya nampak.


" Kau cukup berdoa dan pasrah dengan nasibmu Joe..." Gavin terkekeh melihat ekspresi Joevanka yang ketakutan.


Gavin membuka pintu kamar hotel dan melihat direktur utama sedang menatap tablet digitalnya.


" Selamat Siang pak! " Gavin memberi salam dengan membungkukkan badannya, yang di ikuti dengan oleh joevanka.


" Selamat siang pak! " Kata Joevanka dengan senyum penuh arti namun dalam hati ia mengumpat pak direktur.


" Bukannya pekerjaan bapak direktur sudah selesai di sini? ada urusan apa lagi beliau datang. Jangan jangan, benar kata Gavin, dia memang khusus datang hanya untuk memecat ku..? Astaga pak, ternyata kamu kejam! " Kata Joevanka menatap lelaki itu dengan sinis, ia bahkan mengumpat dalam hati.


Ya, ya, ya, Jika dia berani mengatakan langsung, itu sama artinya dia masuk ke dalam mulut buaya.


Ivander duduk tegap di kursi sofa, matanya hanya tertuju pada Joevanka.


Deg deg deg....


Jantung Joevanka kembali terpukul lebih kencang ketika tatapan mereka bertemu. Ivander menatapnya dari ujung kepala sampai ke kaki. Joevanka berjalan pelan sambil menunduk. Ia tidak mau menatap wajah Ivander.


" Silahkan duduk! " Ivander menunjuk dengan dagu ke arah sofa yang ada di depannya.


Joevanka tak mengangkat wajahnya, yang bisa ia lakukan hanyalah menunduk pasrah.


" Maaf pak, apa ada hal penting yang ingin bapak sampaikan? " Tanya Gavin memulai pembicaraan mereka.


Ivander melengkungkan alisnya, ia tersenyum singkat, tatapannya masih tetap mengunci Joevanka.


" Sekarang, kau ku pecat ! " Ivander menatap joevanka lekat lekat, bagaimana tatapan seorang direktur yang dingin dan kaku, begitulah sikapnya kepada Joevanka saat ini.


Joevanka dengan cepat mengangkat wajahnya. Ia tertegun.


" Apa pak pecat? Jangan pecat saya pak, saya mohon, ! " Joevanka mengatupkan kedua tangannya dengan wajah memelas.


Ivander tersenyum simpul, ia menatap Joevanka dengan tatapan serius. Sungguh Ia menyukai Joevanka saat ini. Ia benar benar begitu berbeda.


" Maaf pak, apa bisa bapak pikirkan kembali. Memang Joevanka....."


Ivander mengangkat tangannya keatas, Gavin paham dengan gestur tubuh itu. Gestur untuk meminta Gavin untuk tidak berbicara lagi.


Glek Joevanka menelan salivanya dengan gugup, perasaannya benar benar campur aduk saat ini. " Astaga, tamat karierku sekarang, Aku di pecat...!!!!!! " Joevanka menjerit dalam hati.


Napas Ivander berembus pelan dari mulut, samar dan tidak mengubah posisinya.


" Apa kau tahu kesalahanmu nona Joevanka? " Ivander duduk bersandar, ekspresi wajahnya berubah, ia semakin menyukai Joevanka, kadar cintanya semakin bertambah.


" Saya tahu pak, saya mohon maaf atas ketidak sopanan saya. Sekali lagi saya minta maaf pak. " Kata Joevanka dengan suara terendahnya, saat ini ia pasrah, sudah siap di pecat. Joevanka menunduk lemah.


" Bagus, jika kamu tahu. Hari ini juga kamu di pecat menjadi karyawan dari perusahaan Donisius di cabang Australia dan kuangkat menjadi sekretaris ku. "


" Apa ?????? " Joevanka dan Gavin sama sama terbelalak karena keterkejutannya. Terlebih joevanka, matanya membulat sempurna dan mulutnya terbuka.


" M-m-maksud nya bagaimana ini pak? Saya tidak mengerti pak. " Joevanka mencoba mengerti, namun semakin ia mencerna kembali, ia masih tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


" Kamu saya angkat menjadi sekretaris ku. " Kata Ivander tersenyum smrik, ia mencondongkan tubuhnya.

__ADS_1


" Tidak ada penolakan, besok saya beri waktu untuk mengepak barangmu, lusa bersiaplah dan ikut bersamaku." Ucap Ivander tegas.


Sikap Ivander kembali berubah dingin dan serius. Terlihat propesional dan berwibawa.


Joevanka hanya bisa menelan salivanya dan menatap Gavin. Sungguh saat ini Gavin tidak bisa berbuat apa apa.


" Maaf, pak. Tapi saya tidak ada pengalaman khusus untuk menjadi sekretaris anda dan..."


" Pak Gavin, bisa tinggalkan kami berdua? " Ivander menyela pembicaraan Joevanka.


" Baik Pak..." Gavin berkedip sambil menyilangkan tangannya kepada Joevanka dan kemudian meletakkan jari ke mulutnya, memberi peringatan kepada Joevanka, mengatakan jangan banyak membantah.


" Saya pamit undur diri pak..." Kata Gavin kemudian mengerlingkan salah satu matanya kepada Joevanka.


Joevanka mengigit bibirnya bawahnya dengan kuat, ia menggeram kesal tanpa bersuara. Namun Gavin hanya bisa melambaikan tangganya dalam diam, takut jika direktur melihatnya.


Setelah kepergian Gavin, Joevanka kembali bersikap tenang dan berusaha mengatur detak jantungnya yang semakin terpompa kencang.


" Sekarang katakan apa yang membuatmu tidak bisa ? " kepalanya sedikit dimiringkan ke kanan dan alisnya terangkat. Menatap serius kepada Joevanka.


" Saya tidak berpengalaman pak. "


" Terus? "


" S-s-saya pak..." Joevanka menggantungkan kalimatnya dengan terbata.


Ivander diam menunggu jawaban Joevanka, mengamati setiap wajah Joevanka tanpa terlewatkan sedikitpun. Wajah wanita yang sangat ia rindukan.


" Maafkan saya pak, jika saya telah berbuat kesalahan, tapi untuk menghukum saya, menjadikan saya menjadi sekretaris bapak, menurut saya kurang tepat dengan cara seperti ini pak. " Kata joevanka dengan sedikit berani menatap mata Ivander.


" Apa kamu pikir saya menghukum-mu Joevanka, aku tertarik dengan keberanian-mu dan menyukainya. Jadi saya rasa kamu pantas untuk menjadi sekretaris ku. "


" Tapi saya tidak pantas pak.. "


" Jadi kamu melawan perintahku? " Ivander menatap lekat lekat mata Joevanka. Joevanka menghindari tatapan itu.


" Bu-bukan seperti itu pak. "


" Aku tidak suka mengulangi perkataanku nona Joevanka. Aku harap kamu mengerti. Lusa bersiaplah, kamu akan ikut bersamaku." Kata Ivander manaikkan kakinya memangku. Ia menatap Joevanka dengan serius.


Joevanka menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan-nya dengan tenang .


Pasrah, ya..hanya pasrah, itulah yang bisa ia lakukan saat ini. Joevanka terpaksa menerimanya.


" Masih adakah yang lain pak? "


" Menurutmu, bagaimana? " Ivander tersenyum singkat sambil menaikkan sisi bibirnya naik ke atas.


" Maaf pak, kau begitu saya permisi dulu pak."


Joevanka bangkit, Ia menundukkan kepalanya untuk memberi hormat.


Joevanka berbalik dan menutup matanya sambil membuang napasnya. Ia meremas tangannya dengan kesal.


Ivander menatap punggung Joevanka dengan tersenyum penuh arti.


Ia mendesah, ia tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini.


" Aku akan membuatmu mencintaiku kembali Joevanka. Aku tidak membutuhkan jawabanmu atau izin-mu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku seiring waktu. Bahkan jika aku harus menangis, terjatuh dan terluka, aku akan berjuang untuk mendapat cintamu kembali. Aku akan membuatmu memegang tanganku, karena aku tidak akan pernah melepas-mu lagi."


.


.


BERSAMBUNG


.


.


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌

__ADS_1


💌 BERIKAN BINTANGMU💌


__ADS_2