
💌 Whisper of love 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Mobil mewah berwarna hitam yang membawa mereka, tiba di depan apartemen. Joevanka memandang ke arah Ivander, tatapan mereka bertemu.
Ia hanya bisa menelan salivanya dan berkedip cepat. Pertanyaan pak direktur justru membuatnya terkejut.
" Ada hubungan apa kau dengan Gavin? " Ivander kembali mengulangi pertanyaannya. Posisinya masih terpejam dan bersedekap, ia tetap menyandarkan punggungnya di kursi.
" Apa maksud anda pak? " Joevanka mengernyit bingung.
" Aku ingin kau menjawabnya Vanka. " kata Ivander dengan nada datar, ekspresinya tidak terbaca. Ia mengangkat setengah alisnya, menunggu jawaban dari Joevanka.
" Saya ada hubungan dengan pak Gavin, itu tidak ada urusannya dengan anda pak. " Joevanka mulai protes dengan sikap lelaki yang duduk disampingnya. Tidak mungkin seorang direktur ingin tahu masalah pribadi karyawannya kan? Terdengar begitu lucu. Bahkan saat ini Joevanka ingin tertawa.
" Tentu ini menjadi urusanku Vanka. "
Joevanka semakin heran, ia sampai menautkan kedua alisnya, dahinya berkerut dalam. " Anda terlalu berlebihan pak, Aneh dan terkesan seenaknya pak, anda terlalu mencampuri urusan pribadi saya. Apakah seorang direktur seperti itu? " Joevanka mulai tampak begitu kesal. Ia menunjukkan amarah yang begitu besar, sampai ia tidak perduli dengan siapa dia marah saat ini.
" Kau hanya perlu menjawab saja, apa susahnya vanka? " Ivander menaikkan alisnya lebih tinggi.
Joevanka tertawa mengejek, " Anda lucu sekali pak, kita sebatas rekan kerja. Anda pimpinan saya dan saya adalah karyawan anda. Aku harap bapak tidak seenaknya mencampuri urusan pribadi saya lagi. Pak Gavin pacar saya atau bukan, itu bukan urusan bapak DIREKTUR. " Raut wajah Joevanka begitu marah, napasnya tidak beraturan terlihat naik turun. Ia ingin membuka pintu mobil.
Ivander menangkap tangan Joevanka dengan kekuatan penuh. Tubuh Joevanka tertarik dengan kekuatan Ivander yang besar. Badannya memutar dan mereka sangat dekat, tatapan mereka bertemu.
Ivander tanpa memberi peringatan dengan cepat memegang samping leher Joevanka, mendorongnya agar semakin maju. Dengan tidak sabaran Ivander mlumat lembut bibir Joevanka. Singkat namun membuat jantung Ivander bergemuruh.
" Heuh? " Joevanka terbelalak dan sangat terkejut. Seluruh tubuhnya bergetar hebat dari dalam, jantungnya berdetak kencang. Saat ini ia mematung dengan posisinya.
" Aku membuatmu berada di dekatku karena aku tidak mau melepaskan mu lagi Vanka. Karena aku mencintaimu. " Ivander menegaskan perasaannya. Napas Ivander terlibat naik turun. Ia mengambil tangan Joevanka dan meletakkannya di dada. " Rasakan ini, aku begitu mencintaimu. " Kata Ivander dengan tatapan sayu.
Dengan cepat Joevanka menarik tangannya. Dan menampar pipi Ivander.
" Anda memang brengsek pak ! " Teriak Joevanka mengusap bibirnya dengan kasar. Sorot matanya menunjukkan kilatan marah.
Begitu Joevanka keluar dari mobil, ia membanting pintu, untuk meluapkan kemarahannya. Joevanka langsung berlari dengan menutup mulut. Ia hanya ingin terus berlari namun tidak tahu kemana. Ia berjalan cepat, bahkan tidak melihat ke belakang.
Joevanka akhirnya berhenti, ia mengatur napasnya.Joevanka membuang napasnya sekaligus.Ia membungkuk dan memegang lutut nya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat.
" Debaran ini?...Aku merasakannya kembali...! Apa yang terjadi dengan masa laluku ? " Kata Joevanka berusaha mengatur napasnya, detak jantungnya masih terpukul begitu kencang.
Joevanka masih begitu marah. " Kau menciumku. Aku tidak terima pak direktur brengsek...! "
Begitu taksi lewat ia langsung melambaikan tangannya dan naik.
Joevanka terus mengusap bibirnya. Napasnya terlihat naik turun. Matanya berkaca-kaca. " Kau dasar brengsek pak, aku akan membunuhmu..." pekik Joevanka dalam hati. Ia mencengkram bajunya dengan kuat. Napasnya masih memburu, Ia berusaha untuk menahan emosinya.
" Tujuannya mau kemana nona? " Tanya supir taksi melihat gadis itu dari kaca spion.
Joevanka tersadar, ia tidak tahu tujuannya kemana. Joevanka baru pertama kali tinggal disini.
" Tujuan anda kemana nona? " ulang pak supir kembali.
" Heuk...ah....aku? kita ke kantor Donisius saja pak. " Kata joevanka gagap. Saat ini tujuannya hanya Ke kantor, Ya kemana lagi?
" Tasku? " Joevanka baru tersadar jika tas dan ponselnya masih tertinggal di mobil.
" Astaga, semenjak aku bertemu dengan dia, hidupku kacau. " Geram Joevanka, matanya kembali berkaca kaca.
Tidak butuh lama, Joevanka tiba di kantor Donisius. Seorang security yang berjaga memeriksa siapa yang datang.
" Pak..." Panggil Joevanka.
__ADS_1
" Bukankah anda yang bersama pak direktur tadi bu? "
" Ya benar pak, saya adalah sekretaris pak direktur. Ada yang yang harus aku selesaikan di kantor pak. "
" Oh, Silahkan bu. " Security membuka pagar kantor Donisius.
Joevanka nampak gugup, " Pak, tadi aku lupa bawa uang untuk membayar taksi. Bisakah anda memberikanku pinjaman uang? "
" Tentu saja ibu." Pria itu memberikan uang lembaran kertas kepada Joevanka.
" Terima kasih pak, besok saya akan ganti pak. "
Joevanka langsung memberikannya kepada supir taksi. " Ini uangnya pak, terima kasih ya pak, jadi membuat anda menunggu. "
" Tidak apa apa ibu. " Kata supir taksi dengan ramah.
Joevanka kembali berjalan dan menyapa petugas yang berjaga di pos. Keadaan kantor sudah sangat sepi. Tidak ada yang seorang pun di sana selain petugas yang berjaga di pos dan di mejanya. Mereka siap melakukan patroli keliling di dalam kantor.
" Maaf ibu anda siapa, kenapa masih ada di kantor Donisius? "
Joevanka memandang ke belakang. Ia tersenyum seramah mungkin. " Saya sekretaris pak direktur, ingin mengerjakan sesuatu di ruangan pak direktur. " Jawab Joevanka.
" Apa anda sudah mendapat izin dari bapak? Anda tidak bisa seenaknya masuk ibu, anda mau membocorkan rahasia perusahaan ya? "
" Astaga pak, kenapa anda langsung menuduh saya seperti itu. Sungguh, saya ini sekretaris pak direktur. Tanya kepada security yang berjaga di depan. Kalau anda tidak percaya. " Joevanka kembali kesal.
" Ada apa ini? " Salah satu pria yang berjaga di luar datang menghampiri mereka.
" Maaf pak, Dia mengaku sebagai sekretaris pak direktur. "
" Benar, dia adalah sekretaris pak direktur, ada hal penting yang ingin dia selesaikan. "
" Sekarang bapak percaya? " Kata Joevanka kesal.
" Maaf bu, kami baru pertama kali bertemu dengan sekretaris baru pak direktur. "
" Oke, saya maafkan pak. Saya juga baru hari ini bekerja di sini. "
" Oke, saya permisi pak. " Kata Joevanka tersenyum singkat. Ia kembali berjalan di koridor menuju ruangan pak direktur.
Penjaga keamanan yang bertubuh gemuk langsung menghubungi seseorang. Ia mencurigai Joevanka yang mempunyai akses bebas masuk keruangan direktur. Padahal ia baru hari ini bekerja menjadi sekretaris pak direktur. Ini tidak bisa di biarkan. Pak direktur harus tahu ini.
Ivander mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Lumayan lama ia merenung di dalam mobil. Ia tidak menduga bisa melakukan itu. Ivander menyentuh bibirnya dengan jari jempolnya. Tamparan yang ia dapat tadi tidak sakit sama sekali, dibanding dengan hatinya saat ini. Ivander tersenyum samar. Ia sama sekali tidak menyesal melakukannya.
" Maafkan aku Vanka, aku tidak bisa menahan ini lagi. Aku berada didekatmu tapi tidak bisa memilikimu. Aku berusaha untuk tidak memaksamu. Untuk selalu bersabar, agar ingatanmu kembali mengingatku. Tapi hatiku tidak bisa, bagaimana aku bisa mengatasi perasaan ini. Semakin hari aku tidak bisa mengendalikannya. " Lirih Ivander dalam suara terendahnya.
Ia menduga Joevanka kembali ke apartemen.
Ia melangkah keluar dan berjalan menuju apartemen. Didepan lift, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
" Halo? " karena nomor ini tidak terdaftar di ponselnya, Ivander sedikit malas menjawabnya. Berhubung tubuhnya sangat lelah hari ini.
" Maaf pak, ini petugas security dari perusahaan Donisius. "
" Ada apa? " tanya Ivander dengan nada datar.
" Saya hanya ingin memastikan pak, sekretaris baru bapak kembali ke kantor dan mengatakan ini melakukan sisa tugas yang bapak berikan. Maaf sebelumnya pak, saya mencurigai beliau, karena beliau karyawan baru dan terlihat bebas masuk ke ruangan bapak. Saya takut beliau membocorkan dokumen perusahaan kita. "
Ivander mengernyitkan keningnya, " Jadi Joevanka tidak berada di apartemen? " Batin Ivander berbicara.
" Ya, saya akan kesana. " Ivander menjawab singkat. Setelah memutuskan panggilan. Ivander melangkah panjang kembali ke mobilnya. Ia melarikan mobilnya menuju kantor Donisius.
SEMENTARA DIDALAM KANTOR.
Joevanka tersenyum miring dan menatap sinis ke kursi kekuasaan pak direktur, seakan yang duduk di sana adalah IVANDER DONISIUS.
" Kau terlalu semaunya pak direktur angkuh. " Joevanka tersenyum sinis, " Karena kekuasanmu, kau seenaknya mengatur hidupku. Hidupku berubah dan aku tidak pernah merasakan senyumku lagi, bahkan aku tidak bisa bernapas dengan baik karena kau. " Emosi Joevanka mulai naik.
" Siapa kau? Siapa kau yang berani menggetarkan hatiku? Aku benci dan muak dengan sikapmu pak direktur. Aku bahkan tidak ingin melihatmu." Joevanka kembali menangis, Ia mengatur napasnya yang tersengal karena menahan emosi.
__ADS_1
Ya, Joevanka hanya bisa datang kesini untuk melampiaskan rasa marahnya.
" Siapa sebenarnya anda pak ? " Joevanka sedikit berteriak dan menekan perkataannya. Ia memicingkan matanya melihat kursi kekuasaan Ivander.
" Kau bahkan mengatakan, kau akan membuatku berada didekatmu? Kau brengsek! Kau bahkan berani menciumku. Dan hati ini merasakan getaran aneh dan aku tidak tahu apa arti getaran itu, itu semua karena kau! " Joevanka menyentuh dadanya. Ia menggeleng masih tidak percaya. Mata Joevanka kembali berkaca kaca, air bening menetes begitu saja membasahi pipinya.
" karena aku tidak mau melepaskan mu lagi Vanka. Karena aku mencintaimu. "
Joevanka memegang kepalanya yang semakin sakit. Mengingat perkataan Ivander.
" Kau bahkan mengatakan mencintaiku? Siap kau sebenarnya? " Ia melangkah mendekati meja pak direktur. " Aku tidak akan membuatmu masuk ke dalam hatiku pak direktur. Bahkan jika sampai dunia runtuh, tidak akan. Aku bahkan sangat membencimu. " Bibir Joevanka sampai bergetar karena menahan segala gejolak di dadanya. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Air matanya kembali tergelincir dipipinya.
Joevanka mengambil bingkai foto yang ada diatas meja, maksud hati ingin memaki pak direktur.
Namun diluar dugaannya. Joevanka terbelalak dan sangat terkejut, mulutnya bahkan sampai terbuka. Ia mengerutkan keningnya. Wajah nya menegang. Joevanka diam tak bersuara.
Napasnya terdengar naik turun. Wajahnya sudah terlihat pucat.
Joevanka mengambil satu bingkai foto yang ada di atas meja lagi. Foto satunya telihat seseorang sedang berdansa. Dan jelas foto itu adalah dirinya dan pria itu adalah pak direktur.
" Siapa dia? Ada apa dengan masa laluku? "
Joevanka tetap bergeming, matanya mengunci dua gambar yang ada ditangannya. Melihatnya bergantian.
Bibir Joevanka bergetar, napasnya berhembus semakin cepat. Joevanka saat ini sangat kebingungan. Kepalanya menunduk dan menggeleng pelan. Joevanka meletakkan kembali foto itu. Berusaha mencerna apa yang terjadi.
Joevanka melangkah mundur, seakan tidak mau melihat foto itu. Ia menggeleng cepat.
" AAARGGHH " Joevanka memegang kepalanya. Rasa sakit itu kembali lagi. Bahkan lebih sakit dari sebelumnya.
Bersamaan itu Ivander masuk kedalam ruangannya. Melihat Joevanka mencengkeram kepalanya.
" Vanka....! " Ivander melangkah mendekat.
Joevanka menatap Ivander sejenak, tapi tiba tiba matanya berubah sayu.
BRUKKKKKK.
Tubuh Joevanka oleng dan terjatuh. Ivander begitu terkejut segera menangkapnya dalam pelukannya.
" Vanka, Vanka, Vanka, bangun...." Panggil Ivander begitu khawatir. Ia menepuk pipi Joevanka berulang kali. Tanpa berpikir panjang, Ivander menggendong tubuh Joevanka dengan kedua tangannya.
Suaranya bahkan menggema memanggil security yang sedang berjaga. Panggilan itu berulang kali ia serukan, agar penjaga mendengarnya.
" Pak, apa yang terjadi? " Kata security yang berjaga di meja. Ketika mendengar suara pak direktur mereka langsung berhambur berlari dan mendapati pak direktur sedang menggendong sekretarisnya.
" Siapkan mobil, kita harus bawa dia kerumah sakit. "
" Baik pak! " Kata pria itu cepat dan memberi jalan untuk pak direktur.
Diperjalanan, mata Ivander berubah sayu, ia takut dan khawatir melihat keadaan Joevanka. Sementara yang membawa mobil adalah security yang berjaga tadi.
" Cepat bawa mobilnya..." Ivander tidak sabaran. Ia mengusap rambut Joevanka keatas dengan cepat. Ia begitu takut. Kenapa Joevanka tiba tiba pingsan.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
__ADS_1
💌 BERIKAN BINTANGMU💌