
π Whisper of love π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Delia langsung menancap gas mobilnya untuk mendekati mobil Ivander. Tidak sampai 5 detik, mobil berwarna merah miliknya ia rem mendadak, hingga menghasilkan decitan ban yang menggesek aspal.
Dengan terburu buru Delia sudah keluar dan membanting pintu mobilnya cukup keras.
Delia melangkah mendekati mobil Ivander.
" Keluar sayang! " kata Delia mengetuk pintu kaca mobil ivander berulang ulang. " Aku ingin kau menjelaskan sesuatu! Ayo keluar ! " kata Delia menekan setiap perkataannya, terlihat jelas jika ia begitu marah. Ivander tidak bergeming, matanya memandang lurus tidak melihat kepada Delia. Ia hanya mencengkeram setir mobilnya dengan kuat.
" Ivander.....! " Panggil Delia sedikit meninggikan suaranya. Sehingga semua mata kembali memperhatikan mereka.
Ivander mendengus kasar, ia berusaha bersikap tenang menghadapi Delia. ia menarik oksigen sebanyak banyaknya dari mulut dan hidungnya, ia mengumpulkannya di paru-paru lalu menghempaskan napasnya sekaligus. Ivander keluar dari mobil dan melihat sikap Delia sedang berkacak pinggang dan terlihat sorot matanya menunjukkan kilatan marah yang jelas terpancar dari bola matanya.
" Apa yang ingin kau bicarakan Delia? kau sengaja membuat keributan disini! " kata Ivander dengan nada geram. Ia tidak bisa lagi mengatur kata katanya untuk berbicara lembut kepada Delia, Ivander terlalu kesal dengan sikap Delia.
" Kenapa kau yang marah, harusnya aku yang marah Ivander! " protes Delia dengan tatapan tidak sukanya. Suaranya terdengar begitu nyaring. Sehingga semua orang menyaksikan mereka.
" Jangan mempermalukan aku Delia, jika kau ingin bicara, ikut aku masuk! " titah Ivander.
" Masuk kemana Ivander? Aku ingin kita bicara disini ! " menatap ivander dengan tatapan mata keras dan tajam.
" Aku tidak ingin semua melihat kita karena kekacauan yang kau buat Delia." keluh Ivander mulai terang terangan menunjukkan sikap tidak suka kepada Delia.
" Kekacauan? bukankah kau yang memulai duluan ivander ? " Kata Delia tidak terima di salahkan. " Kau sengaja mengalihkan semua panggilanku! " ucap Delia dengan wajah menyeringai tajam kepada Ivander.
" Jika kau ingin bicara baik baik, ikut aku ! jika tidak, lebih baik kau pulang dan jangan membuat keributan dan mempermalukan aku di sini ! " geram Ivander mulai jengah dengan watak Delia, Selalu merasa paling benar dan tidak ingin kalah membuat ivander lelah. Terlihat jelas dari nada suara ivander begitu ketus. Ivander langsung melangkah memasuki pekarangan rumahnya dan meninggalkan Delia yang diam terpaku di sana. Delia dengan pasrah mengikuti langkah Ivander.
" Tolong, mobil pak Arnold di masukkan ya ! " kata Ivander melempar kunci mobil kepada security. Dengan cepat Arnold menangkapnya. Arnold begitu mengerti sikap Ivander, jika Ivander lagi marah pasti ia meminta security memasukkan mobilnya ke dalam.
" Siap tuan! " Arnold tersenyum dan dengan cepat tangannya memberi hormat kepada Ivander, Arnold langsung berjalan menuju ke luar pagar utama.
Tiba tiba Ivander menghentikan langkahnya, dan memanggil Arnold.
" Pak Arnold ! "
Arnold berbalik dan menghentikan langkahnya, ia kembali berlari mendekati ivander.
" Ada apa Tuan? " tanya Arnold.
" Apa Joevanka sudah di rumah pak? " tanya Ivander berharap bahwa Joevanka memang sudah pulang bersama Ivannia.
" Sudah tuan, Samuel baru aja pulang tuan, nona Alea juga ada didalam ! " jawab Arnold dengan sopan. Ivander sedikit lega, namun wajah Delia berubah ketika Ivander menyebut nama Joevanka. Ia mengepalkan tangannya. Emosi yang berusaha ia tahan sedari tadi, ingin Delia ledakkan secepatnya.
" Oke, terima kasih pak Arnold! " Kata Ivander kembali melangkah berjalan menuju taman belakang. Ivander membiarkan Delia mengikutinya tanpa bicara sepatah kata pun.
Delia nampak kesal ia berjalan sambil menghentakkan kakinya. Ia hanya bisa menatap punggung Ivander.
Sementara Arnold sudah melaksanakan tugasnya untuk memasukkan mobil milik Ivander ke garasi. Sementara mobil Delia di parkir security di halaman rumah.
__ADS_1
βββββ
Langit menggelap. Matahari sore menyingkir, terdorong awan hitam. Ivander menengadah menatap langit yang mulai gelap. Sesekali terdengar suara gemuruh dari atas.
Ivander tetap berdiri tanpa ekspresi di taman tepat di belakang rumahnya. Ia menatap lurus dan tidak menoleh kepada Delia. Ivander memberikan waktu untuk dirinya agar bisa setenang mungkin. Ia menghembuskan napasnya dan mulai berbicara.
" Sekarang katakan, apa yang ingin kau sampaikan Delia ! " Kata Ivander dengan nada datar, matanya menatap lurus tanpa menoleh sedikit pun kepada Delia.
" Aku ingin tahu kenapa kau mengabaikan panggilanku? " Kata Delia bersikap angkuh. Ia membuang mukanya tidak suka.
" Hanya karena itu ku datang ke sini Delia ? " Ucap Ivander menatap Delia, ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. " Hanya karena aku mengalihkan panggilanmu, kau datang dan sengaja membuat keributan disini Delia? Cih.....! " Ivander tersenyum kecut seolah mengejek Delia, ia sampai menaikkan sisi bibir kanannya ke atas. Ivander menggeleng pelan.
" Aku tidak suka kau mengabaikanku Ivander! " Sungut Delia.
" Dan aku juga tidak suka melihat sikapmu seperti itu Delia! " ivander menjawab tegas dan menekan setiap perkataannya. ia menatap Delia dengan tajam. Terlihat dingin dan menakutkan.
" Aku ingin tahu kenapa kau mengabaikan panggilanku, itu saja Ivander? " kata Delia tidak mau kalah.
Ivander tersenyum sinis dan membuang napasnya secara berlahan, terlihat jelas senyum ivander menunjukkan rasa kecewa kepada Delia. Ivander mengangkat setengah alisnya, tatapan Ivander seolah mengintimidasi.
" Seharusnya yang ingin kita bicarakan, bukan itu Delia. Bagiku itu tidak penting! masalah aku mau angkat atau tidak, semua itu tidak menjadi alasan Delia! " kata Ivander menyeringai tajam.
Delia terdiam mematung di posisinya, ia seperti terkunci tidak dapat bergerak, wajahnya Sepersekian detik berubah menjadi cemas. Ekspresi Delia pun terlihat menegang. Delia benar-benar ketakutan kalau ivander mengetahui rahasia yang ia simpan begitu rapi. Delia menelan Salivanya begitu susah seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Ia berusaha tersenyum kepada ivander untuk menutupi rasa cemasnya.
" Apa maksudmu ivander? " ucap Delia dengan suara seperti tercekat dileher, lidahnya keluh seperti di patuk ular. Ia mencengkram bajunya.
" Jika kau ingin hubungan kita bertahan, aku ingin kau jujur! " Ivander sesaat terdiam. " Aku ingin kau mengatakan sebenarnya. Tidak ada ditutupi. " Kata Ivander menekan setiap perkataannya. " Karena kau tau sendiri dengan aku Delia, aku tidak suka ada kebohongan! "
Sumpah, saat ini wajah Delia bertambah pucat ketika ivander mengatakan itu. Pikiran Delia langsung kacau. Ia ingin menutup ke dua telinganya agar tidak mendengar apa yang ingin di katakan Ivander. Keringat dingin langsung membasahi dahinya.
Melihat reaksi tubuh Delia, Ivander tersenyum smrik. Ia mengangkat setengah alisnya. Tergambar jelas mata ivander menunjukkan rasa ingin tahunya atas kejadian di cafe.
" Kenapa kau begitu takut Delia, apa ada yang kau sembunyikan? " tanya Ivander.
Sesaat Ivander terdiam, ia memilih kata yang tepat untuk memulai. Ia menatap Delia lekat lekat.
" Apa yang kau lakukan di kampus bersama Joevanka? " Tanya Ivander akhirnya.
Sementara Delia yang dari tegang, tiba tiba bernapas lega, Ia membuang napasnya, huuuu...
Ketakutannya benar benar tidak terbukti, seperti yang ada di dalam di pikirannya.
" Oh masalah itu! " kata Delia terdengar santai.
" Apa yang kau lakukan sampai harus merampas tas Joevanka? " tanya Ivander.
" Memangnya Joevanka cerita apa sayang? apa dia menyalahkan aku, atau dia mengarang cerita untuk memburukkan aku ? " Sela Delia menunjukkan sikap tidak sukanya.
" Tidak, dia tidak mengatakan apapun. Aku terpaksa memeriksa CCTV di kampus. "
Delia mengernyitkan keningnya, " Ivander terpaksa memeriksa CCTV, buat apa coba? " batin Delia dengan nada geram, ia kembali menatap ivander.
" Buat apa Ivander? " tanya Delia menautkan alisnya.
" Aku terpaksa melakukannya, karena Joevanka meninggalkan kampus setelah kejadian itu dan nyawanya sampai terancam, Delia! "
" Terancam bagaimana sayang, coba jelaskan lagi ? " Delia mengubah wajahnya menjadi panik dan ekspresi wajah berubah sedih. Tapi dalam hatinya ia ingin berteriak mengatakan . " Kenapa gak sekalian aja mati ! "
" Joevanka sampai dikejar preman. Ia mengalami kejang karena terkena hipotermia dan sampai di dirawat dirumah sakit. " Kata Ivander. " Semua itu gara gara kau, awalnya kau sendiri mengatakan kalau Joevanka sudah pulang bersama Samuel kan? " ujar Ivander.
__ADS_1
Delia menutup mulutnya dengan ekspresi terkejutnya dan Delia menoleh cepat kepada Ivander. " Sampai seperti itu sayang? " kata Delia.
" Jadi sekarang jelaskan apa yang terjadi? " tanya Ivander menatap Delia dengan serius.
" Sebenarnya dia mengancamku Ivander. " ucap Delia dengan suara terendahnya.
Delia menunduk lemah, ia sengaja melakukannya untuk menyembunyikan ekspresi wajah Delia yang penuh sandiwara.
" Mengancam ? " Ivander menautkan ke dua alisnya hingga menyatu karena ia sendiri terkejut. Joevanka yang berhati lembut tidak mungkin berani melakukan itu.
" Sebelum terjadi keributan di luar Cafe, dia sudah mengancamku Ivander! Dia terlihat baik namun kenyataannya Joevanka jauh lebih menakutkan...! " Mata Delia berkaca kaca.
" Apa maksudmu? " Ivander terkejut.
Delia mendengus kasar, " Aku mengejarnya karena dia memaki dan mengataiku Ivander. " Air matanya yang sedari tadi mengumpul di kelopak matanya terjatuh begitu saja.
" Mengatai apa? " Ivander tidak ingin percaya begitu saja.
" Dia memaksaku untuk meninggalkanmu Ivander, dia memaki dan mengataiku wanita brengsek dan tidak pantas denganmu, ia bahkan mengancamku jika aku tidak meninggalkanmu, ia akan nekat melukaiku! " Kata Delia menahan suaranya agar tidak menangis.
Ivander sangat terkejut, yang dia lihat Joevanka tidak berani melakukan itu.
" Aku ada saksi ivander, kalau kau tidak percaya dengan aku." Delia berusaha meyakinkan Ivander agar dia percaya.
" Tapi terserah kalau kau tidak mempercayai aku, yang jelas yang aku lihat Joevanka bisa memanipulasi orang lain demi keuntungan dia sendiri. dia sudah mengakui semuanya ivander! Cih...dia bisa melakukan apa saja untuk mencari perhatian keluargamu. aku yakin dia berpura pura menghilang. Jangan jangan orang yang mengejarnya adalah orang suruhan dia sendiri ivander! "
" Tidak mungkin! " Ivander menggeleng pelan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Apa kau pikir aku sedang bersandiwara atau lagi mendongeng, gitu ? " Delia terlihat marah, ia sudah meninggikan suaranya. " Tega sekali kau Ivander ! " Delia akhirnya menangis. " Lelaki yang kucintai tidak mempercayai aku, oh my God....! " sesal Delia ditengah isakannya.
" Begini saja, kita panggil Joevanka sekarang agar dia mengakui semuanya! " Delia menatap Ivander dengan tajam. " Oh tidak, tidak...Jika Joevanka ada, pasti dia juga ingin membela dirinya sendiri. " kata Delia menggeleng.
" Dari pada kau tidak mempercayai aku Ivander, lebih baik aku mati.. hikssss ! " Delia menangis histeris." Hidupku benar benar menyedihkan, kekasihku sendiri tidak mempercayai aku! " Tangisan Delia pecah.
" Jangan bodoh Delia! " Ivander berkata dengan wajah kaku dan menatap Delia tajam.
" Itu adalah jalan yang terbaik Ivander dan keputusan yang tepat." Kata Delia dengan nada sangat dingin dan penuh ancaman.
" Apa kamu pikir itu jalan yang terbaik, dasar bodoh! "
" Buat apa aku hidup Ivander! kau saja tidak percaya dengan aku ! " Delia langsung berjalan dan meninggalkan Ivander.
Ivander terkejut " Delia, tunggu! " Ivander berusaha mengimbangi langkah Delia. Namun Delia berlari secepat kilat meninggalkan Ivander.
Sementara Joevanka bersandar disisi tembok, ia mendengar semua pembicaraan mereka. Antara menangis, terluka dan kecewa itulah yang ia rasakan saat ini. Joevanka melangkah pelan meninggalkan dapur.
Joevanka bagai sepatu kaca yang berjalan di atas paku, menapak meski pedih untuk berjalan dan berusaha merendam pedihnya cinta dalam diam.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
__ADS_1
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU