
💌 Whisper of love 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Ivander membanting pintu kamarnya sedikit kasar. Ia langsung menuju balkon kamarnya. Ia menarik oksigen sebanyak banyaknya lalu dengan kasar ia menghembuskan napasnya sekaligus.
Ivander lebih memilih meninggalkan meja makan, hati dan telinganya begitu panas mendengar bualan omong kosong yang di ucapkan Samuel.
Ia sendiri tidak tahu mengapa ia begitu sangat kesal hari ini. Biasanya Ivander bisa menguasai perasaannya. Namun saat ini sangat berbeda, entah mengapa hatinya begitu sakit, perasaannya seperti campur aduk tidak karuan, ada rasa marah, kesal, jengkel, kecewa hingga pasrah.
Ketika Ivander menyadari bahwa ia jatuh cinta. Samuel datang menyatakan cintanya kepada Joevanka. Samuel bahkan rela melakukan segalanya demi membahagiakan joevanka. Ia bahkan bersedia berkorban untuknya.
Rasa perih dan terluka, itulah yang dirasakan Ivander ketika mencintai Joevanka yang kini milik sahabatnya. Ivander jika sudah terlanjur cinta sangat sulit untuk menyingkirkan perasaan sayang kepada Joevanka.
Ivander menyadari, ia kalah selangkah. Ia berusaha menerima kenyataan. Namun, semakin hari perasaannya semakin membuat Ivander tidak nyaman, sekarang jika ia berada di dekat Joevanka jantungnya terpompa berdetak lebih kencang dan membuatnya sulit untuk bernapas. Ivander menyadari cintanya tumbuh semakin besar.
Bisakah ia berhenti mencintainya atau melepaskan cintainya? Ya, benar dengan mengiklaskannya, Ivander bisa menerima hubungan mereka. Ia tidak mungkin merusak persahabatannya dengan samuel. Mereka akan tetap sahabat yang saling menguatkan satu sama lain dan Ivander percaya akan mendapatkan cinta yang lebih baik, rasa sakit itu akan perlahan berubah menjadi perasaan bahagia karena ia sudah ikhlas.
TOK TOK TOK
" Dude...dude....! Kau mendengarkan ku? Aku masuk ya? " kata Samuel membuka kenop pintu, ia mendorong setengah pintu, dan memasukkan setengah badannya untuk melihat keadaan kamar Ivander.
" Kemana dia? Apa di balkon ya? " kata Samuel berbicara pada dirinya. ia tidak menunggu jawaban, samuel langsung masuk begitu saja.
Ternyata dugaannya benar, Ivander tengah menikmati angin malam, Ia tengah duduk sambil menatap laptop di depannya.
" Eheem.." Samuel berdehem untuk mengalihkan perhatian Ivander.
" Dude, lihat aku ! "
" Katakanlah! aku masih bisa mendengar. " Kata Ivander dengan nada datar, ia tetap fokus menatap laptop-nya.
" Aku minta maaf dude, kami terlalu asyik dalam permainan lucu-lucuan, hingga kami tidak menyadari jika kau benar benar tidak nyaman. "
Ivander menghentikan tangannya yang sedang bermain di atas laptop, ia menatap Samuel yang berdiri di depannya.
" Sudahlah, aku tidak ingin membahas itu. " kata Ivander kembali fokus mengerjakan tugasnya.
" Tapi Joevanka merasa tidak enak, saat kau meninggalkan kami begitu saja. "
Ivander membuang napasnya, " Aku sudah bilang jangan membahas itu lagi. " ucap Ivander dengan nada ketus, ia sudah menaikkan alisnya naik setengah tanda ia kesal.
" Oke, oke dude, jika memang seperti itu lebih baik kita turun lagi. lanjutkan makanmu! " Pinta Samuel.
" Tidak samuel, lebih baik kau temani Joevanka saja, aku ingin menyelesaikan tugas kuliahku. "
" Jangan seperti itu dude, bagaimana kalau kita membahas untuk kegiatan pendakian kita saja? " usul Samuel.
Ivander kembali membuang napasnya, "Baiklah kalau begitu. " Akhirnya ia mengalah, Samuel orang paling susah. Pasti selalu memaksakan kehendaknya dan ujungnya ia yang selalu mengalah baik itu soal cinta.
Samuel tersenyum, " Kita membahasnya dimana dude? " tanya samuel.
" Kita bicarakan di ruang keluarga saja." sahut Ivander, ia bangkit dari duduknya dan membawa buku untuk menyusun kegiatan mereka selama pendakian.
Joevanka memandang ke belakang pada saat ia membersihkan meja makan. Hatinya begitu lega, ternyata Ivander kembali lagi. Namun wajahnya berkerut, Ivander bukannya menuju dapur namun menuju ruang keluarga.
Samuel menunjukkan gestur tubuhnya seperti mengatakan tidak apa, siapkan minum saja. Joevanka hanya mengangguk kepalanya dan Ia tersenyum. Joevanka memilih membuatkan teh madu. Teh yang dicampur madu mampu membantu meningkatkan konsentrasi. Mommynya sering memberikan ini jika dia ingin mengahadapi ujian sekolah.
Joevanka menarik napasnya dalam dalam, ingatan kepada daddy dan mommy kembali terlintas ke dalam pikirannya. Joevanka tersenyum samar, perpaduan teh dan madu akan membuat tubuh lebih fresh dan otak yang lebih fokus. Madu yang dicampurkan dengan teh mampu membuat mood Ivander kembali bagus lagi.
__ADS_1
" Tidak boleh sedih Vanka..." bisikan itu jelas terdengar di telinganya. Ia memutar tubuhnya mengedarkan pandangannya untuk mencari arah suara. Nyata dan sangat jelas jika suara itu adalah suara mommynya.
" Mom, Vanka janji tidak akan sedih lagi. Jaga Vanka selalu ya. " lirih Joevanka menyeka air matanya yang terjatuh ke pipinya. lumayan lama Joevanka bergelut dengan perasaannya. Hingga akhirnya ia membawa minuman itu ke ruang keluarga.
Joevanka membawa nampan berisi teh madu untuk samuel dan Ivander.
Setelah meletakkan minuman di atas meja, Joevanka ingin kembali ke dapur untuk menyimpan nampan.
" Kau boleh duduk di sini! " kata Ivander tanpa ekspresi, namun tatapannya seakan mengunci joevanka. Membuat Joevanka tak bergeming, ia kembali duduk di hadapan kedua pria itu.
" Ada beberapa poin yang harus kita cari tau soal pendakian Ivander? ya maklumlah, baru ini aku ikut mendaki. " Tanya samuel sedikit terkekeh.
" Bukankah aku sudah membahas itu semua di grup WhatsApp kita? "
" Salah satunya adalah transportasi dari kampus menuju basecamp pendakian." jawab Joevanka cepat.
Kedua lelaki itu langsung cepat mengalihkan pandangannya kepada Joevanka. Ivander tersenyum tipis.
" Kau tidak baca grup Samuel? "
" Aku sudah menghapusnya dude. "
Ivander menggeleng, " Kau selalu saja begitu, grup sama sekali tidak penting kah? " decak Ivander.
Samuel kembali terkekeh. " Bagiku Joevanka jauh lebih penting dude. " Kata Samuel tertawa lepas. Joevanka terbelalak, wajahnya bersemu merah dan menundukkan kepalanya ketika Samuel mengedipkan salah satu matanya.
Ivander kembali berdecak, ia kembali fokus mencoret coret kertasnya.
" Sekarang apa bisa kita lanjutkan? " tanya Ivander melihat Samuel selalu bicara dengan Joevanka dengan bahasa tubuh.
" Silakan dude! " kata Samuel menahan senyumnya.
" Dari yang saya tau dan tim kita memang sudah mencari informasi jika Kondisi jalur pendakian tidak terlalu curam, dan jika memang kondisi tidak memungkinkan, ada jalur alternatif lain yang akan kita lalui. Prakiraan waktu mendaki untuk membuat rencana kegiatan lainnya kita akan bahas di sana. Dari kondisi gunung, misalnya letak sumber air, jumlah pos kemah, semuanya sudah oke... " Ivander menjelaskan.
" Apa kita sendiri yang harus menyiapkan kemah kita di sana Ivander ? " tanya samuel.
" Kita tinggal menunggu lusa, aku tidak sabar lagi dude ! Apalagi ada Joevanka pendakian ini akan lebih menarik. " Kata Samuel begitu antusias, ia melirik Joevanka dengan tatapan api cinta yang bergelora. Joevanka hanya bisa melepaskan senyumnya saja.
Tiba tiba suara tak asing menyapa mereka, Nampak pasangan yang selalu terlihat mesra ini melemparkan senyum.
" Hei..ada Samuel di sini? " kata Anastasia berjalan menuju ruang keluarga.
" Selamat malam Uncle, aunty..." Samuel bangkit mengulurkan tangannya, mereka berjabat tangan, Samuel dengan sopan membungkukkan badannya.
" Kalian sudah makan sayang? " tanya Anastasia.
" Sudah mom.." sahut Ivander cepat.
" Sepertinya perbincangan kalian terlihat serius, ayo sayang ! kita jangan menganggu mereka. " Aaron buka suara, tangannya masih memeluk pinggang istrinya dari belakang.
" Tidak juga uncle." Samuel menjawab.
" Oke, kalian bisa lanjutkan ya.." kata Anastasia tersenyum lembut.
" Mom, Ivannia lagi di rumah uncle Betran. " kata Ivander melaporkan keberadaan adiknya itu.
" Ya, tadi adikmu sudah menghubungi mommy my son. Sekarang kalian bisa melanjutkan, kami tinggal ya sayang. " Kata Anastasia tersenyum tipis meninggalkan anak muda berbincang bincang. Aaron masih terlihat posesif memeluk istrinya sampai masuk ke dalam kamar.
⭐⭐⭐⭐⭐
Langit gelap nan pekat, terlihat kilatan cahaya jelas masuk ke celah celah gorden. Ivander tengah berada di depan laptop. Sesekali matanya memandangi langit yang mendung.
Trrrrrrt Trrrrrrt
Getaran dari atas meja terdengar, Ivander meraih dan melihat panggilan masuk dari ponselnya.
__ADS_1
" Dr Reinhard ? "
Ia menggeser tanda terima pada Handphone-nya. Ivander menjawab panggilan tersebut. Sesekali wajahnya berkerut jelas, tatapan matanya tersirat sebuah ke marahan.
" Saya akan ke sana, secepatnya ! "
Ivander mematikan ponselnya dan langsung keluar dari kamar menuju garasi tempat mobilnya di parkir. Dengan cepat Ivander langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dr Reinhard adalah dokter keluarga Donisius. Ivander memberikan hasil kesehatan yang di berikan aunty Celin ke padanya dan menyerahkan kepada Dr Reinhard agar memeriksa kembali.
Dr Reinhard menghubunginya karena hasilnya sudah keluar.
Setelah sampai di depan rumah sakit, ia langsung di sambut hujan. Ivander turun dan meninggalkan mobilnya begitu saja. Ivander langsung berjalan memasuki lift. Ia berjalan dengan cepat ketika pintu lift terbuka. Ia menuju ruangan Dr Reinhard. Ivander langsung di sambut perawat dan mempersilahkannya masuk.
" Silahkan masuk, Dr Reinhard sudah menunggu anda di dalam. " kata perawat dengan ramah.
" Terima kasih! ' Jawab Ivander. Ia melangkah masuk dan mendapati dr Reinhard sedang memeriksa komputernya.
" Selamat sore Dr Reinhard! " Sapa Ivander mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan lelaki berkaca mata itu.
" Selamat sore Ivander, kamu orang yang tidak sabaran sama seperti daddy-mu. " kata Reinhart terkekeh.
" Apa yang terjadi dengan hasil diagnosa yang saya serahkan? " tanya Ivander.
" Seperti biasa, hasil adalah memanipulasi. "
" Jelaskan secara detail, tanpa ada yang tertinggal! " Kata Ivander merubah wajah nya dengan serius dan terlihat kaku. Ivander sudah mengubah posisinya memangku siku.
Dr Reinhard tersenyum singkat, ia menutup berkas yang ia periksa, Ia menyenderkan punggungnya kesandaran kursinya, agar ia terlihat lebih santai, tidak seperti wajah Ivander saat ini sangat terlihat tegang.
" Apa dia kekasihmu Ivander? " tanya lelaki setengah baya itu tersenyum simpul.
" Aku tidak mau basa basi Dr Reinhard, Sekarang jelaskan! " pinta Ivander mendengus kasar.
" Baiklah, saya mulai dari mana ya...? " Dr Reinhard memilih kata yang tepat agar Ivander mengerti. Dokter Reinhard terlihat menarik napas lalu berlahan membuangnya.
" Sepertinya ini memang sengaja di keluarkan pihak rumah sakit yang sudah di bayar tinggi. Mereka mengubah atau memanipulasi pindaian dari alat pindai medis tiga dimensi yang memungkinan ahli radiologi salah mendiagnosis pasien. Sementara pasien sesungguhnya tidak sakit."
" Apa? " Ivander terkejut, sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya. Reaksi tubuhnya menegang.
" Bahkan, mereka memiliki kendali penuh atas jumlah, ukuran, dan lokasi kanker dengan tetap mempertahankan gambar yang sama dengan aslinya. Dengan menguasai dua alat tersebut, mereka pun bisa menambah sehingga mengelabui analisis ahli radiologi dalam mendiagnosis pasien."
" Pasien tidak mengalami kanker dokter? " Ivander kembali bertanya, raut wajahnya terlihat begitu marah.
" Ya, pasien tidak sakit. "
Ivander mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar benar tidak percaya. Delia berani melakukan apa saja untuk mendapatkan ke percayaan darinya.
" Apa hal itu bisa di lakukan di rumah sakit ternama seperti itu? apa mereka tidak takut karena berani memanipulasi? apa mereka tidak takut kena sanksi pidana? " Kata Ivander berapi api, Ivander berusaha menyadarkan dirinya. Ia benar-benar tidak percaya dengan penjelasan dr Reinhard. Tubuhnya serasa kaku, terlihat jelas kilatan marah terpancar di wajahnya.
" Mereka bisa melakukan apa saja, demi mendapatkan uang. Biasanya selain sanksi hukum mereka akan mendapatkan sanksi kode etik dari pihak rumah sakit. "
Ivander terdiam, pikirannya saat ini benar benar berkecamuk. Dr Reinhard ikut terbawa arus pikiran Ivander, untuk saat ini ia hanya bisa diam tidak memberikan komentarnya. Bagaimanapun Ivander perlu menenangkan pikirannya.
Hujan deras membasahi kota xx seakan mewakili perasaan sedih Ivander, bukan karena sedih putus cinta melainkan karena sedih telah ditipu.
.
BERSAMBUNG
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
__ADS_1
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌