
💌 Whisper of love 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Setelah melakukan penerbangan hampir tujuh jam, akhirnya mereka tiba di kota xx.
Mereka berjalan menuju pintu kedatangan. Salah satu karyawan dari DONISIUS menyerahkan kunci mobil kepada Halbert yang menunggu sejak dari tadi.
" Ini kuncinya pak Halbert. "
" Terima kasih Kelvin, maaf merepotkan anda. " Kata Halbert menerima kunci itu dari tangan Kelvin.
" Tidak masalah pak, saya pamit undur diri pak! mobil taxi sudah menunggu saya. " kata Kelvin menundukkan kepalanya. Ia langsung berlalu pergi, karena mobil taxi sudah menunggunya.
" Sampai Bertemu di kantor pak Kelvin." Kata Halbert membiarkan Kelvin pergi.
Halbret langsung membuka bagasi mobil, memasukkan koper milik Joevanka. Setelah selesai melakukannya, dengan cepat Halbert membuka pintu belakang untuk pak direktur. Lalu ia mempersilakan Joevanka duduk di sebelah pak direktur.
" Terima kasih pak asisten yang baik hati, saya rasa saya duduk di depan saja." Sahut Joevanka dengan senyum singkat. Ia melangkah ke depan. Joevanka membuka pintu untuknya sendiri dan duduk di sebelah Halbert.
Ivander mengernyit serius, ia menatap Joevanka yang tersenyum kepada Halbert.
Halbert hanya bisa menggeleng seperti berpikir sesaat. Ia langsung duduk di kemudi dan menjalankan mobilnya meninggalkan airport.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belah malam.
" Maaf pak, bisakah antar saya langsung ke hotel. " Kata Joevanka kepada Halbert.
" Maaf, nona. Sepertinya kita langsung menuju apartemen pak direktur. "
" Apa? Apartemen pak direktur? " Joevanka mengernyit dan ia meninggikan suaranya.
Dibelakang Ivander hanya bisa tersenyum mendengar teriakan Joevanka, ia diam dengan posisi terpejam.
" Antar saya ke hotel saja ya pak asisten! " Joevanka memohon dengan wajah memelas.
" Pak direktur sudah mempersiapkan apartemen buat anda nona, hanya saja belum ada fasilitasnya. "
" Ah, tidak masalah pak, antar saya ke sana saja. " Kata Joevanka mengejar perkataan Halbert.
" Belum ada apa apa nona, seperti tempat tidur, sofa dan lemari, pak direktur baru kemarin membeli apartemen itu, yang memang khusus disediakan buat anda. "
" Kalau begitu antar saya ke hotel saja pak, jika apartemennya sudah selesai diisi dengan fasilitas seperti yang dikatakan bapak, saya akan segera pindah kesana pak. " sahut Joevanka tidak mau menyerah.
" Maaf nona, ini atas perintah pak direktur, saya tidak bisa membantah. "
Joevanka menyeringai tajam, " Lagi lagi dia..." ia memutar kepalanya menatap pak direktur yang sedang tertidur.
" Apa dia sengaja? " Batin Joevanka menggerutu. Mengatur napasnya karena menahan emosi.
Joevanka mengigit bibir bawahnya dengan kuat, ia menggeram kesal tanpa bersuara. Tangannya ia remas begitu kuat, sampai buku buku tangannya terlihat memutih. Ia membuang napasnya dengan kasar, Joevanka menunjukkan ketidak sukaannya kepada pak direktur.
Joevanka gelisah, Ia menyandarkan punggungnya kesandaran kursi, ia mengipas wajahnya dengan tangannya dan menghembuskan napasnya berulang kali. Joevanka begitu kesal dan marah. Belum juga ia menjadi sekretaris, ia sudah makan hati melihat sikap pak direktur.
" Anda kepanasan nona? " tanya Halbert memandang kesamping menatap Joevanka yang nampak gelisah.
" Ya, semuanya panas, termaksud hatiku pak..." Joevanka menjawab dengan ketus, ia membuang mukanya dengan tidak suka. Wajah Halbert mengerut bingung dan kembali fokus menyetir.
Sementara bibir Ivander mengulas senyum tipis, Ia masih tetap memejamkan matanya sambil menyilangkan tangan di depan dada. " Aku akan membuatmu berada disisiku Vanka. " Ucap Ivander dalam hati, ia tersenyum kembali.
Mereka memasuki apartemen mewah yang ada di kota xx tidak jauh dari kantor Donisius.
Joevanka menarik napasnya, ada perasaan yang menggelayut di dalam hatinya.
__ADS_1
Halbret langsung membuka pintu mobil dan mempersilahkan tuannya turun. Sebelum Halbert membuka pintu untuknya, Joevanka dengan cepat membuka pintu.
" Saya orang biasa pak asisten, jangan berlebihan. Saya masih punya tangan dan masih bisa buka pintu sendiri.." Sindir joevanka melirik Ivander dengan sinis.
Ivander diam tanpa ekspresi, walau dalam hati, ia senang jika Joevanka selalu mengatainya. Selama yang ia tahu, Joevanka bukan tipe orang yang berani seperti ini. Sekarang, semua tentang Joevanka berbeda.
Halbert hanya bisa diam mendengar pernyataan Joevanka, ia melirik pak direktur dan kembali fokus membawa koper milik Joevanka. Mereka pun berjalan masuk dan naik lift menuju apartemen milik pak direktur.
" Selamat beristirahat pak dan buat anda nona. "
" Anda mau pergi pak? " Joevanka berbalik cepat ketika Halbert pamit undur diri.
" Tempat saya tidak di sini nona, saya ada rumah sendiri. " Kata Halbert tersenyum, ia membungkukkan badannya, memberi ucapan selamat malam.
Pintu tertutup.
Joevanka masih diam ditempat nya untuk bergerak selangkah saja ia tidak sanggup.
" Bagaimana bisa aku satu rumah dengan lelaki ini, hari hariku buruk, semenjak bertemu dengannya."
" Apa kau akan tetap berdiri di situ Vanka? " Ivander melangkah menuju dapur mengambil minuman dingin untuknya.
" VANKA....? Kenapa dia menyebutku Vanka hanya daddy dan mommy yang memanggilku dengan nama itu. " bisik Joevanka dalam hati dan diam diam ia melihat Ivander.
" Vanka, kemarilah ! " kata Ivander dengan lembut. Bahkan Joevanka mendengarnya sampai merinding.
Joevanka berdesah sambil menatap sinis kearah Ivander. Ia masih tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
" Aku tidak suka mengulang kata kataku Vanka. Kita hanya membahas apa saja pekerjaanmu besok. " Ucap Ivander tegas sambil mengerutkan alisnya, tatapannya menghunus ke wajah Joevanka.
" Bisakah aku istirahat pak, kurang tepat membahas pekerjaan pada jam seperti ini. " Sarkas Joevanka.
Ivander tertawa sambil menganggukkan kepalanya. " Betul juga. " Ivander menunjukkan gestur berpikir.
" Maafkan saya Vanka, jika aku berada didekatmu, aku bisa lupa semuanya. Oke, Baiklah, kau bisa beristirahat! Kamarmu ada di sebelah kamarku ya. " Kata Ivander tersenyum, ia kembali meneguk minuman yang di ambilnya dari lemari pendingin.
" Apa dia pikir, aku kekasihnya? astaga Tuhan ! Saya bisa gila lama lama. " Joevanka melangkah meninggalkan ruangan.
Ia memutar musik, yang biasa ia dengarkan.
Alunan musik ' The Beatles- I Will ' mengalun syahdu yang menggetarkan jiwa.
Ia menuang wine sampai setengah gelas,
Ivander memegang tangkai gelas yang berisi wine, Ia memutar mutar gelasnya secara berlahan, agar aroma wine lebih keluar. Ivander menghirup aroma wine terlebih dahulu, ia menyesapnya dengan berlahan. Ia memejamkan matanya, alunan musik begitu tepat dengan perasaannya saat ini.
Who knows how long I've loved you
You know I love you still
Will I wait a lonely lifetime
If you want me to, I will
For if I ever saw you
I didn't catch your name
But it never really mattered
I will always feel the same
Love you forever and forever
Love you with all my heart
Love you whenever we're together
Love you when we're apart
__ADS_1
And when at last I find you
Your song will fill the air
Sing it loud so I can hear you
Make it easy to be near you
For the things you do endear you to me
You know I will
I will
Sesekali Ivander mengikuti lirik lagu yang masih mengalun menggetarkan jiwanya.
Ia memutuskan menghabiskan wine yang ada di gelasnya. Setelah itu ia akan kembali ke kamar.
Ivander tersenyum, saat ia sedang dimabuk cinta, mungkin sulit baginya untuk mengekspresikan emosi itu melalui kata-kata. cinta sejati bisa membuat Ivander merasa 'lemah'. Rasanya mulut tak bisa berbicara, Ivander yakin akan dipertemukan kembali dengan joevanka, dan ternyata benar. Ketika ia melihat Joevanka di Australia. Ivander datang kembali membawa cintanya agar joevanka tetap berada di dekatnya. Perasaan dan tubuhnya begitu tersiksa ketika menyimpan rindu ini.
" Aku begitu mencintaimu Vanka...! "
Ivander menarik napasnya, menghabiskan sisa sisa wine yang ada di gelasnya.
" Oke, cukup setengah gelas saja untuk merayakan kebahagiaan ini. "
Ivander melirik jam yang ada ditangannya, sudah pukul dua dini hari. Ia melangkah menuju kamarnya.
Ia membuka kenop pintu kamarnya, daun pintu terbuka dan terdorong ke arah dalam. Sepersekian detik Ivander mengangkat wajahnya dan sangat terkejut. Ia melihat Joevanka tertidur di dalam kamarnya.
" Joevanka? "
Jantung Ivander terpicu cepat dan tiba tiba merasa gugup. Wajahnya berubah merah. Ia melangkah pelan memasuki kamarnya. Hatinya sungguh bergetar.
Joevanka tertidur menyamping, tidurnya begitu tenang, hembusan napasnya terdengar stabil.
Ivander menatap sejenak sambil memiringkan kepalanya. Ia tersenyum, menikmati debaran debaran yang tercipta dari detak jantungnya, Ivander menyentuh dadanya. Hati ini masih sama, cinta ini tidak berubah, walau enam tahun telah berlalu.
Ivander ikut merebahkan tubuhnya menyamping dan berhadapan dengan Joevanka, Ia tersenyum samar ketika wajah mereka begitu dekat. Ivander menatap wajah Joevanka dengan lekat. Wajahnya begitu mulus. matanya yang indah, alisnya yang tertata rapi, bibirnya berwarna merah muda dan wangi tubuhnya yang begitu memikat.
Ivander menghembuskan napasnya berusaha menahan debaran jantungnya yang semakin berdetak begitu kencang.
Ia menarik tangannya kembali, ketika ia ingin menyentuh wajah Joevanka. Ivander takut membangunkannya.
Ivander akhirnya memilih ikut tertidur bersama Joevanka.
PAGI HARI
Ketika matahari belum beranjak dari peraduannya. Pikirannya sudah terbangun dari tidur lelapnya tapi tidak dengan tubuhnya. Suasana pagi sebenarnya dalam keadaan sedikit mendung bahkan sempat beberapa menit terjadi gerimis dan sekarang secara perlahan mendung di langit mulai menghilang. Joevanka masih malas membuka matanya. Ia masih nyaman dengan tidurnya. Joevanka menyusuri seprei lembut.
" Astaga, bantal guling atau apa ini ya? " Kata Joevanka meraba raba dan masih malas untuk membuka matanya.
Setelah sadar jika yang dipeluknya bukan bantal guling, Joevanka mengerjap dan menatap pria yang tertidur nyaman di sampingnya.
" Tidakkkkkkkkk !!!!!!! " Joevanka membelalakkan matanya dan berteriak.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
__ADS_1
💌 BERIKAN BINTANGMU💌