
Devan dan Zahra melahap makanan yang sudah mereka pesan, keduanya masih canggung di sindir mbak pelayan tadi.
Devan terus menatap zahra yang sedang makan, "cantik, " batin terpesona dengan kecantikan dan kelembutan Zahra, baru kali ini Devan tak malu mengungkapkan perasaannya.
"Bapak kenapa terus menatap saya? " tanya Zahra. Devan terkejut, dan beralih menatap piringnya itu.
"Jadi gimana Ra? " tanya Devan tiba-tiba, hatinya menggebu ingin mendengar sebuah jawaban zahra, Devan tak mau terlalu lama untuk menunggu, bagi Devan menunggu itu membosankan.
Zahra menertawakan Devan kembali. "Jangan ketawa dulu, jawab sih Ra.. biar gak penasaran" protes Devan, dia sebal karena keseriusannya di anggap sebagai candaan.
"Bapak serius, mau denger jawaban saya? " tanya Zahra, membuat Devan semakin tertantang saja untuk mendengar jawaban dari Zahra.
"Iya, " jawab Devan yakin, dia siap menerima apapun jawaban yang Zahra berikan padanya.
"Tapi saya belum yakin, takut bapak bercanda, "ujar Zahra penuh keraguan, bisa saja bosnya itu sedang tersedak sesuatu atau apalah hingga bicaranya ngelantur, atau bisa saja Devan sedang keselek batu tiga biji, hingga bicara hal yang tidak-tidak.
Devan memegang tangan Zahra. "Saya serius Ra, " ia meyakinkan Zahra ketulusan hatinya.
Bagi zahra, ini semua bagai mimpi.Devan yang seorang bos menyukainya yang hanya asisten. Pasti, banyak gadis di luar sana yang idam-idamkankan Devan.Jika ini mimpi,Zahra tak ingin terbangun lagi, mimpinya terlalu indah untuk Zahra.
. Zahra mencubit tangannya sendiri. "Aww sakit, " rintih Zahra, sungguh ini semua bukan mimpi Zahra semata, Zahra mengelus bekas cubitannya tadi.
Devan mengangkat kedua alisnya melihat Zahra mencubit tangan sendiri. "Kamu kenapa Ra? " tanya Devan, merasa aneh dengan tingkah Zahra yang sedang mencubit tangannya sendiri.
"Nggak apa-apa kok pak, " jawab Zahra, mengulum senyum ke arah Devan membuat hati Devan seperti di penuhi taman bunga yang harum mewangi di senyumin Zahra.
"Pak, " panggil Zahra.Devan beralih menatap Zahra yang sedang memanggilnya, hati Zahra masih takut untuk memberikan jawabannya.
"Ya, ada apa Ra? " tanya Devan semakin penasaran saja, apalagi Zahra sudah full senyum sedari tadi.
"Saya mau jadi pacar bapak, " kata Zahra, menunduk malu mengatakannya, takut ada prank dari Devan.
"Ra, " panggil Devan, senyumnya begitu merekah sekali, baru kali ini Devan tersenyum seperti itu.Sungguh Zahra sudah menjinakkan hati Devan yang sangat keras.
__ADS_1
"Ada apa pak? " tanya Zahra, menatap kedua mata Devan yang berbinar itu.
"Terima kasih, " ucap Devan hatinya sangat bahagia cintanya di terima oleh Zahra, rasanya ingin teriak umumkan perasaan bahagianya itu.
"Sama- sama," kata Zahra, membalas senyuman Devan, mimpi apa dia semalam bisa seberuntung ini.
"Oh ya, kalo di luar kantor jangan panggil pak, dong.. kan saya masih muda, " protes Devan, dia ingin di panggil lebih romantis lagi oleh Zahra.
Zahra terkekeh mendengar perkataan Devan. "Terus panggil apa? "tanya Zahra, tertawa karna bosnya tidak mau di panggil pak di luar kantor, dasar emang pria menolak tua!
"Panggil Devan aja, " jawab Devan, dia lebih suka di Panggil nama saja ketika di luar kantor, terlihat lebih santai dan tidak canggung seperti di kantor.
"Ya Pak, eh Devan " kata Zahra tak terbiasa memanggil bosnya seperti ituDevan mengantar Zahra pulang, ia menggandeng tangan Zahra selama perjalanan, tak peduli mereka berdua jadi pusat perhatian selama di jalan.
"Lepas dong Van, malu tuh.., di liatin terus sama orang-orang, " bisik Zahra lirih, pipinya merah merona menahan malu di lihat orang banyak.
"Ngapain malu, biarin aja, kan dunia milik berdua, " canda Devan, Zahra hanya mengulum senyum ke arah Devan, pria yang tak lama jadi kekasihnya itu, selalu bisa membuat Zahra merasa terkesima.
"Itu pipi apa udang rebus, merona banget, " ledek Devan, membelai lembut pipi Zahra yang sudah memerah seperti udang rebus saja.
"Udah ah, aku mau masuk rumah dulu..., Makasih ya, udah nganterin aku, " ujar Zahra.
"Iya, " ucap Devan, mengulum senyum ke arah Zahra.
Zahra melangkah masuk rumah. "Tunggu! " panggil Devan, Zahra berbalik menoleh.
"Iya, ada apa? " tanya Zahra.
"Sampai jumpa besok di kantor Zahra sayang, " ucap Devan berani memanggil sayang pada zahra, membuat hati Zahra semakin menggebu.
Zahra tersenyum lebar, di goda begitu saja, hatinya sudah jungkir balik tidak karuan apalagi sampai di halalkan, mungkin sudah meloncat dari gedung berlantai tiga puluh.
Bu Nita dan pak Ardi menatap Zahra heran.
__ADS_1
"Yah, anak kita kenapa ya? Kok senyum- senyum sendiri? apa dia depresi ya? gegara tugas kantor? " tanya Bu Nita, melihat tingkah laku putrinya yang semakin aneh, kadang mengamuk, kadang cemberut, kadang juga tersenyum sendiri.
"Hiss, gak boleh gitu ma, jadi doa loh.., nanti kita tanyain aja, " jawab pak Ardi. Ara dan Lia datang ke rumah Zahra malam hari.
"Ra, ada Ara sama Lia tuh!" teriak Bu Nita memanggil Zahra yang sedang bikin kopi di dapur. Zahra menghentikan Aktivitasnya, ia bergegas menemui Ara dan Lia.
"Eh kalian, tumben kesini? ada apa? " tanya Zahra. Ara da Lia menyeret tangan Zahra untuk duduk di kursi ruang tamu bersama mereka.Tatapan keduanya tajam, setajam pisau dapur.Seperti harimau yang siap menyerang mangsanya.
"Zahra,kamu jadian sama pak bos ? " tanya Ara penasaran, ingin mengulik hubungan Zahra dan Devan.
"Nggak kok Ar, cuma sebatas bos dan asisten saja, gak lebih " jawab Zahra berbohong.Dirinya belum bisa mengaku bahwa ia sudah jadian dengan Devan, kalau mengaku mungkin sudah banyak yang akan jadi wartawan dadakan di kantor.
"Bohong! Buktinya tadi sore, dia pegang tangan kamu dengan penuh ketulusan, perhatian, kasih sayang " Lia tak percaya dengan Zahra.
Zahra mencebikkan bibirnya. "Terus aja gitu, " rajuk Zahra mulai kesal dengan kedua sahabatnya itu, kepo sekali dengan dirinya.
"Pokoknya, kalo kamu jadian harus traktir kita berdua, awas ya kalo nggak, " ancam Ara.
"Iya, " timpal Zahra. Ara dan Lia tertawa cekikikan.
"Tapi benar, kamu dan pak Devan nggak jadian nih? " tanya Ara lagi, memastikan.
"Jadi kamu kesini cuma mau jadi wartawan saja? " tanya Zahra, hampir saja ia tersedak kopi yang sudah di buatnya itu.
Ara dan Lia hanya tersenyum, mereka juga tahu, sahabatnya itu tidak suka di kepoin sampai ke akar-akarnya.
Bu Nita membawa nampan berisi cemilan yang di buat sendiri. "Waah! ada pisang goreng tuh, pasti enak banget, " celetuk Ara.
Iya dong, siapa lagi yang buat, Tante gitu.., " ucap Bu Nita mengunggulkan dirinya.
Ara dan Zahra melahap pisang goreng itu,setelah puas bicara dengan Zahra, merekapun pulang ke rumah.
_Bersambung_
__ADS_1