
Devan tak kunjung membuka pintu ruangan untuk Dita. "Awas saja kamu Zahra, gara-gara kamu Devan jadi giniin aku, "batin Dita sangat kesal, ia beranjak pergi menuju ruangan Abi, meminta bantuan, siapa tahu Abi punya ide agar dia bisa mendapatkan Devan kembali
Langkah Dita di ketahui oleh Ara, "Loh, mau ngapain tuh cewek ke ruang sekertaris, apa dia mengenal si Abi, sekertaris baru itu? " Ara bertanya- tanya dalam hati sambil terus ikuti Dita kemanapun dia pergi, Ara tak ingin Dita lepas dari pengawasannya.
"Eh bos, akhirnya kesini juga ya, " tukas Abi menyapa Dita, "Apa? bos? Abi kenal sama mantannya pak Devan? Abi siapanya si Dita ya? pantes dari tatapannya dia tidak suka ke pak Devan " umpat Ara dalam hati mengintip di balik pintu ruangan Abi, ia sudah curiga pada Abi sejak awal Abi masuk kantor ini, dugaannya tepat sekali, Abi masuk kantor ini adaaksud dan tujuan tertentu.
"Saya butuh bantuanmu bi, untuk mengambil alih semua harta Devan, membuat dia sujud di depan saya, " kata Dita, matanya sayu sudah lelah cari perhatian Devan yang tidak pernah luluh padanya, hati Devan begitu keras untuk di lunakkan kembali dengan cara apapun.
"Tunggu sebentar, kenapa kita gak manfaatin orang tua Devan agar Devan bisa kembali? " usul Abi. Dita mengangkat kedua alisnya kebingungan.
"Caranya? "tanya Dita, dia masih bingung maksud perkataan Abi.
"Bilang aja, semua itu alasan Devan ..., dengan begitu, bisa mudah menguras harta Devan, Devan pasti gak bisa menolak perintah mama dan juga papanya, " jawab Abi, Dita tersenyum menyeringai, kenapa dia tidak memikirkan itu sedari tadi, seharusnya dia tidak perlu lelah-lehah untuk mencari perhatian Devan.
Ara refleks menutup mulutnya. "Ya ampun, tega banget mereka sama pak Devan.nggak! aku harus beritahu ini semua pada Zahra! aku nggak akan biarin rencana mereka berhasil! liat aja bi, aku akan ungkap semua kedok kamu dan mantannya pak bos, " batin Ara, dia panik, ingin memberitahu Devan.
"Ara! " Lia memanggil Ara karna dia sedang mengintip ruangan Abi.
"Kak lia_ " sapa Ara, terkesiap kaget Lia tiba-tiba memanggilnya secara lantang, padahal dia sedang menguping pembicaraan Abi dan Dita.
"Hayo, sedang apa kamu disini? " tanya Lia, dia masih teriak karena tidak mengerti apapun.
"Siapa itu! " teriak Dita dari dalam
"Gawat! kayaknya ada orang deh, " timpal Abi, dia takut jika ada orang yang sampai tahu tentang rencananya itu.
Dita menghampiri sumber suara, Ara segera menyeret tangan kakaknya agar cepat lari menjauh dari ruangan Abi sebelum ketauan Dita, ribet nanti jika harus berurusan dengan Dita itu
"Nggak ada siapa-siapa kayaknya bi, "ucap Dita celingukan kesana-kemari tapi tidak ada orang.
"Bagus deh, kalo gitu, "ujar Abi bernafas lega, karna tidak ada siapa-siapa di luar sana.
"Ya udah, saya pergi dulu sebelum ada yang melihat, " pamit Dita.
Abi hanya membalasnya dengan anggukan, dia juga tidak mau menanggung resiko jika Devan tahu dia masuk kantor ini hanya karena Dita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Kamu apa-apaan sih Ar! ngapain juga kamu ngintip ruangannya Abi! " bentak Lia dengan nafas ngos-ngosan di paksa lari oleh Ara tadi, Lia mengatur Deru nafasnya.
"Gawat kak gawat! " Ara terlihat sangat panik, dia ingin menceritakan semuanya pada Lia, sang kakak.
"Gawat apanya? " tanya Lia, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu loh kak, jadi sebenarnya Abi_, " jawab Ara terhenti sejenak, bingung harus mulai jelaskan darimana.
"Lia, minta tolong fotocopy berkas ini ya, " titah Pak Doni.
"Iya sebentar pak, " kata Lia masuk ke ruang kerja tanpa menghiraukan Ara lagi, walau sebenarnya masih penasaran juga dengan jawaban adiknya itu.
Ara berlari ke Ruangan Zahra.'braak!' Ara tak
sengaja menendang pintu ruangan Zahra. "Ara! kesurupan kamu! " Zahra terperanjat melihat Ara dengan tergesa-gesa masuk ke ruangannya dengan jurus menendang pintu seperti naruto saja.
"Bukan kesurupan Ra, ini gawat! " sahut Ara, dia mondar-mandir ke depan, belakang, kanan, kiri berputar terus tanpa arah tujuan.
"Kamu cuma mau muter-muter disini? " tanya Zahra mengernyitkan dahi heran melihat tingkah Ara yang sedari tadi hanya mondar-mandir saja.
"Eh! Iya, mana udah muter tujuh keliling lagi, kayak otakku yang ngelag ini, " tukas Ara, masih sempat-sempatnya melawak di tengah keadaan genting.
"Abi tuhh Ra, semakin kesini semakin kesana! " jawab Ara, Zahra hanya terkekeh mendengar perkataan Ara yang tiada hentinya kepoin Abi.
"Di bilangin malah ketawa kamu, dasar! "Ara merajuk, dirinya sedang panik, yang di khawatirkan malah cekikikan nggak jelas.
"Habisnya, jadi orang jangan terlalu banyak su'udzon kamu! " timpal Zahra sama sekali tak percaya perkataan dari sahabatnya itu.
"Ih, ini beneran Ra, bukan su'udzon "Ara tetap berusaha untuk meyakinkan Zahra gimanapun caranya agar percaya padanya
"Abi itu baik kok Ar" kata Zahra. Ara hanya memutar bola matanya
"Gitu aja teros! ntar juga kalo dia udah buka topengnya baru sadar kamu,Abi orangnya seperti apa! "cetus Ara gemas, ingin mencubit pipi sahabatnya itu.
"Ih, gitu aja ngambek nih, ada dendam apa sih kok sampek segitunya ke Abi? " tanya Zahra, menganggap semua itu karena mungkin Ara dendam pada Abi.
"Nggak ada dendam apa- apa sih Ra, " jawab Ara. Percuma juga ia memberitahu, Zahra tak akan percaya sebelum melihatnya sendiri.
__ADS_1
"Kalo nggak ada dendam ngapain coba ngepoin dia terus? kamu suka sama dia? " tanya Zahra lagi.
"Astaga Ra, itu hidungmu minta di tarik ya, amit-amit aku suka ke Abi, suamiku aja tamfannnya kebangetan di banding dia, " ucap Ara, mengibaskan tangannya di depan muka Zahra.
"Habisnya kamu ngepoin dia terus, aku kira kamu suka sama dia..., " timpal Zahra.
"Mulutmu itu Ra! gimana nasib suamiku nanti, pasti jadi Duren, duda keren trus di deketin sama janda sebelah, ih! ogah aku yang cantik dan mem bahenol ini di gantikan dengan janda sebelah rumah! " kata Ara membayangkan yang tidak-tidak.
"Aamiin..," ucap Zahra mengaminkan ucapan Ara.
Ara menjitak kepala Zahra "Aduh! sakit tau! " rintih Zahra meringis kesakitan memegangi dahinya.
"Suruh siapa bilang Aamiin! " bentak Ara. mengerucutkan bibirnya yang mungil itu.
"Kamu sih, belum apa-apa udah bicara yang nggak-nggak, awas jadi Do'a loh.., nggak tanggung jawab aku, " ucap Zahra, kembali fokus mengetik di laptopnya.
"Ya Allah, ampunilah kekhilafanku, "Ara berdoa sambil mengangkat kedua tangannya
"Tadi nyerocos bae, sekarang khilaf, ntar malaikatnya jawab telat Mbak'ee... " timpal Zahra.
"Udah! kok malah bahas suamiku, aku mau kerja dulu, " pamit Ara.
Ara berlalu keluar dari ruangan Zahra.
"Lain kali kalo masuk pintu jangan di tendang! " teriak Zahra.
__ADS_1
_Bersambung_