ZAHRANA

ZAHRANA
pergi dari hidupmu


__ADS_3

"Ara, kok kamu ada disini? " tanya Zahra, ia terkejut Ara sudah berada di sampingnya.


"Aku tadi juga liat kamu lari tergesa-gesa pulang dari kantor, jadi aku ngikut, aku gak nyangka pak Devan bisa kecelakaan "jawab Ara, Zahra memeluk sahabat lamanya itu.


"Kamu yang sabar ya, pak Devan pasti selamat Ra, " ujar Ara, ia tak tega melihat Zahra bersedih terus.


"Terima kasih, "ucap Zahra sembari menyeka air matanya.


Dita mengabari bu Alika, jika Devan berada di rumah sakit karna kecelakaan, bu Alika bergegas menjenguk ke rumah sakit.


Bu Alika terkejut melihat ada dua orang gadis di depan ruangan anaknya "Siapa kalian?" tanya Bu Alika, Ara melirik Zahra.


"Kami, karyawan pak Devan Tante, " jawab Ara, bu Alika masuk ke ruangan Devan, Dita yang sudah kembali dari laboratorium hampiri Zahra


"Aku sudah penuhi janjiku, sekarang tepati janjimu " celetuk Dita menyilang kedua tangannya, angkuh.


"Janji? janji apa Ra?"tanya Ara,Dita hanya tersenyum simpul , ia pergi meninggalkan mereka berdua, Ara tercekat menatap Zahra.


"Ra, kamu ada perjanjian apa dengan dia? apa kamu rencanain hal aneh dengannya?" tanya Ara, Zahra hanya menunduk bingung menjawabnya,dia tidak bisa ceritakan itu pada Ara.


"Nggak, aku gak janji apa-apa kok Ar," Zahra berkilah, ia masuk ke ruangan Devan. "Maafin aku Ar, aku gak bisa cerita saat ini, " batin Zahra terpaksa menyembunyikan semua ini dari Zahra.


"Kamu yakin Ra? " tanya Ara, memastikan bahwa sahabatnya itu tidak menyembunyikan apapun darinya, termasuk tentang Dita, Ara tidak mau Zahra memendam sendiri masalah hidupnya.


"Ya Ar, suwer deh! aku tidak menyembunyikan apapun dari kamu, " jawab Zahra berkilah, di tak mau Ara tahu tentang janjinya kepada Dita.


"Awas loh ya..., kalo bohong hidungmu kayak Pinokio panjang banget, " kata Ara, berhasil membuat Zahra tersenyum.


"Kamu nih! ada-ada saja, ngelawak nggak tau tempat, " timpal Zahra.


"Iya-iya, gitu dong, full senyum, " ucap Ara, senang melihat Zahra bisa tertawa kembali.



"Lia kemana? nggak ikut dia? " tanya Zahra, tak melihat Lia sedari tadi.



"Tadi sih mau ikut, tapi tau malah ngilang tuh orang, jadi Aku tinggal, " jawab Ara.


"Tega banget sih kamu, main tinggal aja, " celetuk Zahra.


"Biarin, suruh siapa lama! " kata Ara, Zahra hanya tersenyum, tiba-tiba dia teringat permintaan Dita tadi.

__ADS_1


"Ar, kalau nanti kamu jauh dari aku, apa kamu mau bersahabat denganku? " tanya Zahra, tercetus di fikirannya ingin bertanya seperti itu.


"Kamu ngelindur ya Ra, jelas mau lah..., gimanapun juga, kita ini tetap sahabat baik, aku juga nggak akan melupakan kebaikanmu Ra, " jawab Ara.


Ada kesedihan dalam hati Zahra, bila harus meninggalkan sahabat sejatinya itu.


"Nggak,aku cuma nanya aja kok, " sahut Zahra, agar Ara tidak kepo lebih dalam lagi tentang kehidupan Zahra.


"Oh gitu, aku kira kenapa, " tukas Ara, curiga dengan gelagat aneh Zahra.


"Emang kenapa sih kok nanya gitu..., " lanjut Ara.


"Nggak apa-apa, hanya sekedar bertanya saja, " sahut Zahra berkilah, berusaha menutupi semuanya.


"Ya udah kalo gitu aku go home dulu ya, "


"Sok berlidah inggris kamu, bilang aja mau pamit pulang duluan, " ujar Zahra sambil memutar bola matanya jengah.


Ara hanya nyengir kuda di sindir seperti itu oleh Zahra, dia berlalu meninggalkan rumah sakit.


...****************...


Zahra berencana pindah ke luar kota untuk menghilangkan diri sejenak dari kehidupan Devan, ia pergi ke rumah sakit, jenguk Devan.


"Iya Mbak, oh ya.., saya titip surat pengunduran diri, tolong kasih ke pak Devan setelah dia sadar nanti, " ucap Zahra, berikan sebuah map hijau berisi surat pengunduran diri kepada Dita.


"Bagus, jangan pernah kembali lagi pada Devan, " kata Dita tersenyum simpul ke arah Zahra.


"Sekali lagi, saya mohon jaga Devan dengan baik, jangan celakai dia lagi, " pesan Zahra


"Cerewet kamu! asalkan kamu jangan pernah muncul kembali dalam hidup Devan, aku tak akan menyakiti dia, " ujar Dita.


Zahra melirik Devan sejenak. "Aku pamit sayang, jaga dirimu"umpat Zahra dalam hati, sebenarnya berat juga baginya untuk meninggalkan kekasihnya, tetapi semua harus di lakukan Zahra demi kebaikan Devan.


Perlahan Zahra meninggalkan ruang rawat inap Devan, bulir air mata Zahra menetes seiring dengan langkahnya yang semakin jauh,


Batin Zahra benar-benar menyeruak, hatinya berkata jangan pergi, tapi, ia rela menentang kata hatinya demi nyawa kekasihnya itu.


Benar kata pepatah, cinta memang tidak harus salingmemiliki.Itulah yang Zahra rasakan saat ini, sangatlah pelik.Cinta membuatnya sakit, rapuh dan hancur.


"Semoga kita bisa di pertemukan lagi dengan hati dan perasaan yang masih sama "Batin Zahra, dia bergegas menaiki taxi online yang sudah di pesannya tadi.


Dita tertawa girang melihat kepergian Zahra, rencananya untuk memisahkan Devan dan Zahra sudah berhasil.

__ADS_1


Dita kembali ke ruang rawat inap Devan, berniat untuk menunggui sampai Devan tersadar kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana kantor pagi sangatlah sepi, tak seperti biasanya,"Zahra kemana? biasanya jam segini udah nongol? " tanya Ara celingukan kesana kemari mencari Zahra.


"Tau tuh Ra, tumben ilang tanpa kabar tuh anak, " jawab Mbak Ella, sambil menyantap makanannya.


"Eh, ngomong-ngomong, kalian dengar kabar gak, pak Devan masuk rumah sakit, " seperti biasa, Friska baru datang sudah membawa gosip.


Semua terperangah kaget, "Apa? yang benar fris? " tanya Doni menghampiri Friska.


"Iya, aku dengar dari tante Alika, mamanya pak Devan, " jawab Friska.


"Gimana, kalo nanti pulang kerja kita jenguk pak Devan," usul Fani.


Semuapun setuju dengan usul Fani, Ara hanya terdiam. "Kok diem Ar? "tanya Friska


"Eh nggak, aku ngikut kalian aja. " jawab Ara, dia masih menunggu Zahra yang belum datang.


Abi tak sengaja mendengar perbincangan mereka "Jadi, bos beneran celakain Devan, waduh gawat! kalo sampai ada yang tahu, bos pasti bakal ketangkap polisi, "batin Abi panik, ia bergegas menelfon Dita.


Dita: hallo Abi, ada apa?


Abi:bos gila ya! nekad banget!


Dita:kamu ngatain saya!


Abi: bos, anda bertindak fatal!


Dita:yang penting Zahra pergi!


Abi:jadi, Zahra pergi karna bos!


Dita:iya, dia nggak mau Devan celaka


Abi: saya gak mau bantu bos lagi!


Dita: terserah!


Abi memutus sambungan telfonnya, ia geram pada Dita yang sangat egois dan terlalu sadis, ia bersumpah akan bongkar kejahatan Dita.


Hay hallo semuanya, apa kabar? Author ucapin terima kasih banyak buat yang udah baca sampai sini, maaf jika banyak kekurangan, Author akan selalu siap dengerin kritik dan saran dari kalian, terima kasih, jangan lupa like and komen ya 😊🙏 semoga kita semua di beri kesehatan selalu

__ADS_1


__ADS_2