ZAHRANA

ZAHRANA
Devan kecil


__ADS_3

Seminggu menjelang pernikahannya, Lia dan Ara kembali untuk fighting gaun pengantin.



"Ra, gaun pengantinku udah jadi kan? " tanya Lia melempar senyum ke Zahra.



"Oh iya Li... udah, ayo ikut aku, " ajak Zahra menuju ke tempat penyimpanan gaun Lia di lantai atas.


Lia mengikuti langkah Zahra, sedangkan Ara tetap menunggu di lantai dasar.


\=\=\=\=oooOooo\=\=\=



Lia menatap penampilannya di depan cermin memakai gaun pengantin ball gown dengan bahan brokat dengan motif yang tidak terlalu mencolok.



"Gimana Li? apakah sesuai dengan yang kamu inginkan? " tanya Zahra.



Senyum Lia mengembang tampak di ujung bibirnya, "Perfect Ra, aku suka, " jawab Lia netranya berbinar menatap gaun yang sedang dia pakai.


saat Lia merentangkan tangannya, perut Zahra serasa terkoyak, makanan yang ia makan sejak pagi, sepertinya ingin keluar kembali.


"Huweeek"


Zahra bergegas ke kamar mandi, mualnya sudah tidak dapat di tahan lagi.


Karena khawatir, Lia menyusul sahabatnya itu ke toilet


"Ra, kamu tidak apa-apa kan? " teriak Lia dari luar.


'ceklek'


Zahra baru saja keluar dari kamar mandi, sudah di hadang Lia di depannya.


"Ra, kamu baik-baik saja kan? " tanya Lia.


Zahra hanya menganggukkan kepalanya, membuat Lia sedikit bernafas lega.



"Li, kamu pakai parfum apa sih, kok tidak enak gini baunya?. "Zahra menutup hidungnya.



Lia mengendus badannya, perasaan dia memakai parfum yang biasa ia gunakan ke kantor, tidak ada yang lain.


"Aku tetep pakai parfum seperti biasanya kok Ra, " jawab Lia tidak ambil hati perkataan Zahra.


Zahra sedikit menjauh dari Lia, "Ya udah deh, gaunnya mau langsung kamu bawa pulang? " tanya Zahra.


"Iya Ra... soalnya bentar lagi mau di pingit, aku tidak bisa kemana-mana, " jawab Lia melepas gaunnya perlahan.


Zahra melipat gaun itu dan membawanya ke kasir.



"Totalnya 20 juta Li, " tukas Zahra melipat dan membungkus gaun itu.


__ADS_1


"Lia memberikan kartu ATM nya pada Zahra, "Ini, aku bayarnya pakai kartu, " pungkas Lia.



Usai melakukan pembayaran, Zahra dan Lia turun ke lantai dasar menemui Ara.



\=\=\=\=oooOooo\=\=\=



"Gimana kak udah? "



"udah. " Lia menjawab pertanyaan Ara sambil memberikan papperbag yang di tentengnya ke Ara.


"Siang-siang gini, enaknya makan cilok deh, " celetuk Zahra menunjuk ke arah penjual cilok yang kebetulan berada di depan butik.


"Kamu mau cilok? " tanya Ara menautkan kedua alisnya.


"Iya. " pungkas Zahra singkat.


"Ya udah, ayo aku beliin.. mumpung lagi baik nih, " ajak Ara.


Mereka bertiga menghampiri penjual, "Pak, ciloknya yang pedes tiga bungkus ya, " tukas Zahra.


"Eh, nggak jadi deh... aku ingin beli bubur, tidak suka sama aroma nasi di rumah, " celetuk Zahra berlalu meninggalkan Lia dan Ara.


"Ciloknya dua aja pak, yang satu lagi pengen makan bubur katanya, " ralat Ara.


"Tuh anak kenapa Ar? tadi katanya beli bubur, balik-balik bawa mangga muda, banyak maunya, " bisik Lia lirih.


Ara hanya mengerdikkan bahunya, ia juga bingung yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Lagi pengen seger-seger. " Zahra mengulum senyum pada sahabatnya itu.



"Kamu hamil Ra?. "


Pertanyaan Ara membuat Zahra seketika terkesiap.


"Hamil?. " Zahra mengulang kembali perkataan Ara.


"Iya Ra, terakhir haid kapan? " tanya Ara.


"udah sebulan sebelum meninggalnya Devan sih, tapi masak sih, aku melakukannya tiga tahun yang lalu kok baru hamil, " pungkas Zahra menepis perkataan Ara.


"Ya elah Ra... emang baru melakukan langsung jadi, banyak loh yang lima tahun baru hamil, " timpal Ara.



"Ya udah deh, nanti coba aku tes, siapa tau bener, " kata Zahra menghentikan perdebatannya dengan Ara.



\=\=\=oooOooo\=\=\=\=



Sepulang dari butik, Zahra membelu testpack. Ia ingin sekali membuktikan kehamilannya.


Betapa bahagianya Zahra ketika hasilnya menunjukkan garis dua, dia sudah menantikan ini sebelum akhirnya memutuskan cerai dengan Devan dulu.

__ADS_1


Namun, hasilnya tetap saja nihil, hingga tiga tahun sampai ia rujuk dengan Devan, dia tidak kunjung hamil.


"Ma... aku hamil anak mas Devan ma, " ucap Zahra menitikkan air mata.


Sontak, bu Alika langsung memeluk Zahra, dia senang akan memiliki cucu dari Devan walau agak sedikit terlambat.


Gino ikut senang dan bersedia membantu Zahra saat kehamilan, "*Andai kamu hidup Van... kamu pasti senang dengan kehamilan istrimu*, " batin Gino tersenyum.



\=\=\=\=\=oooOoooo\=\=\=



Sembilan bulan berlalu, Zahra merasa kembali hidup dengan kehadiran bayi kecil yang baru saja di lahirkannya.



"Utututu... cucu Oma.... "



Bu Alika menimang-nimang bayi kecil itu, bayi laki-laki yang benar-benar jiplakan Devan, dari matanya, hidungnya, bibirnya, begitu mirip dengan Devan.


"Zahra, kita beri nama bayi ini siapa? " tanya Bu Alika penasaran.


"Aku ingin memberi nama anak itu Devan arjuna, karena dia begitu mirip ayahnya, " jawab Zahra tersenyum.



Gino juga ikut tersenyum, sudah saatnya dia melakukan amanah terakhir dari Devan.


"Ra... Izinkan aku mengambil tanggung jawab untukmu dan juga Devan kecil, izinkan aku untuk menikahimu Ra..."


Gino berlutut di depan Zahra sambil mengulurkan cincin.


"Gin... lebih baik kamu fokus ke pekerjaanmu... aku ingin merawat dan membesarkan Devan kecilku ini sendiri... " jawab Zahra.



Gino memaklumi keputusan Zahra, dia sangatlah menyayangi Devan, tidak mudah baginya untuk membuka hati untuk orang lain.



Gino juga tahu, perjuangan Zahra untuk bersama Devan sangatlah sulit, mungkin itulah alasan Zahra menolaknya, Gino bisa lebih legowo.


Zahra menatap muka bayinya itu, dia seperti melihat Devan di dalam bayi itu, "Nak... kamu mirip sekali dengan ayahmu, lihatlah mas... anak kita benar-benar mirip denganmu," batin Zahra air matanya menetes kala melihat bayi mungilnya.


"Astaga... benar-benar jiplakan pak Devan banget, semoga kamu juga mewarisi sifat papamu ya... tapi jangan sifat galaknya... " Ara nyeletuk begitu saja saat pertama kali masuk ke ruang rawat inap Zahra.



Kini, berganti Ara yang menggendong bayi mungil itu, ada perasaan terharu melihat bayi yang nyaman dalam gendongannya tersebut.



"Ra... aku nggak bisa ngebayangin gimana kalo dia besar nanti dan mencari ayahnya, " ucap Ara.


Zahra hanya tersenyum menanggapi ucapan Ara.


"Aku akan katakan sejujurnya Ar, aku tidak bisa menikah lagi hanya karena demi menutupi siapa ayah dari anak ini... Biarkan dia mengerti sendiri jika ayahnya sudah tiada, tidak bisa di pungkiri, Devan tetaplah ayahnya bayi mungil itu. "


Ara hanya tersenyum menyadari begitu besarnya cinta dan ketulusan Zahra kepada Devan, sekalipun tantangan dan rintangan datang menghadang, tidak akan membuat kesetiaan Zahra menjadi goya untuk menikah dengan orang lain.


__ADS_1


Bu Alika juga ikut senang, ia merasa seolah jiwanya hidup kembali setelah kehadiran bayi itu, bahkan Bu Alika tidak keberatan sama sekali membantu Zahra membesarkan anak itu.


__ADS_2