
"Kenapa anda diam? bukankah yang saya katakan itu benar, pak Jefri yang terhormat, andalah pembunuh ayah saya? saya akui, anda dan keluarga anda berjasa pada saya, tapi kebaikan anda tidak mampu membuat ayah saya kembali, " Gino memojokkan pak Jefri.
"Gino, Ada apa ini? " tanya Bu Alika yang baru saja muncul dari dapur.
"Oh, jadi ini..., seorang ibu yang tak punya hati nurani meninggalkan anaknya begitu saja, " jawab Gino, menghapus kasar air matanya.
Bu Alika terdiam, rupanya Gino sudah mengetahui semuanya "Gino, dengerin Mama_, " ucap Bu Alika terhenti.
"Cukup! aku tak ingin mendengar alasan kalian lagi! " bentak Gino, gejolak kemarahan Gino telah menguasai hatinya, membakar seperti bara api yang menyala-nyala.
"Gino! kamu boleh membenci saya, tapi tolong jangan benci ibu kandungmu, " tegur Pak Jefri, tak ingin istrinya terus di maki oleh putra kandungnya sendiri.
Mendengar pak Jefri berkata begitu, bu Alika melongo tak percaya, suaminya akan membelanya di depan Gino.
"Baiklah, silahkan baca surat Ini, " kata Gino, memberikan selembar kertas pada pak Jefri. Kertas yang membuat penyakit jantung pak Jefri menjadi kambuh seketika membacanya.
"Apa! kamu bukan hanya membatalkan kerjasama, tapi juga akan menarik semua dana saham yang kamu alirkan ke rekening perusahaan? " tanya Pak Jefri tak percaya.
Gino tersenyum simpul "Ya, anda tepat sekali! Itu berarti, semua aset perusahaan akan menjadi milik saya, anda juga tahu jumlah dana yang saya alirkan itu tidak sedikit," jawab Gino.
Pak Jefri memegang dadanya, meringis kesakitan, bu Alika yang keliatan khawatir, memegang pundak pak Jefri "Pa, papa kenapa? Gino! bantu papa kamu! " pinta bu Alika.
"Apa dulu ketika papaku sekarat, dia peduli padaku Tante Alika? " tanya Gino, sengaja memanggil bu Alika Tante, agar sadar diri bahwa tidak ada tempat di hatinya untuk seorang ibu yang tak punya hati nurani seperti dia.
"Gino! jangan egois kamu! gimanapun juga, dulu dia berjasa untuk memberikan pinjaman modal kepada almarhum ayahmu untuk berbisnis!" bentak bu Alika.
Gino langsung menelfon ambulan untuk membawa pak Jefri ke rumah sakit.Jika bukan karena mamanya yang meminta, Gino ogah sekali menolongnya menelfon ambulan.
...----------------...
Pak Jefri segera di bawa ke UGD untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut.Bu Alika mencoba menghubungi ponsel Devan, namun tidak bisa.
Semua orang harap-harap cemas menanti kabar dari dokter, bu Alika mengintip di balik jendela mondar-mandir berusaha melihat kondisi pak Jefri.Raut muka panik begitu tergambar jelas di wajah bu Alika.
Ponsel bu Alika berdering berjali-kali.Ada 15 panggilan tak terjawab dari Devan.
Gino terdiam seribu kata, tak mengira bila separah ini.Gino fikir, pak Jefri tadi hanya pura-pura saja agar tak membatalkan semuanya.
__ADS_1
Ponsel bu Alika berdering untuk kesekian kalinya.Bu Alika menekan tombol hijau di layar ponselnya, panggilan pun tersambung.
Devan:Hallo Ma, ada apa?
bu Alika:Devan, papamu,
Devan :Papa kenapa Ma?
bu Alika:Van, papamu...,
Devan: iya ma, papa kenapa?
bu Alika: penyakit jantung papamu kambuh
lagi Van, sekarang di rumah sakit
Devan:Ma,Sherlock alamat rumah sakitnya, Devan akan kesana sekarang.
bu Alika:cepat van, papamu butuh kamu
Devan: iya, mama tunggu disana ya.
"Apa salah Mama Gino, tega-teganya kamu membuat dia seperti ini ..., jika kamu tidak bisa menerimanya, hormati dia sebagai ayah sambung kamu, dia suami Mama gin, " ujar Bu Alika, menyalahkan Gino atas semua yang terjadi pada suaminya.
Tak lama kemudian, Devan datang bersama Zahra, Devan langsung memeluk bu Alika dengan bercucuran air mata membuat Gino semakin iri akan kedekatan Devan dan bu Alika.
"Ma, papa baik-baik saja kan? " tanya Devan, menatap mamanya.
"Iya nak, kita doakan semoga papa kamu baik-baik saja, " jawab bu Alika, Zahra mengelus kedua bahu Devan, dia ikut sedih atas apa yang menimpa pak Jefri.
Dokter keluar dari ruang UGD "Dok, gimana keadaan papa saya?"tanya Devan.
Dokter muda itu menghela nafas panjang "Kami berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain, papa anda tidak bisa kami selamatkan," jawab Dokter.
'Brak' Devan langsung terduduk lemas seketika, ia tak pernah membayangkan ini semua terjadi, baru saja papanya hadir di depannya.Kini, harus pergi meninggalkan Devan untuk selamanya.
Bu Alika menutup mulutnya, siapa sangka suaminya akan pergi secepat ini, tinggalkan dirinya dan Devan.Bu Alika mencoba tegar dan kuat hati mengurus pemakaman pak Jefri.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pemakaman pak Jefri baru saja selesai di laksanakan.Devan bersimpuh sedih di atas pusara papanya, teringat kembali momen Devan bersama papanya sedari kecil.
Zahra hanya bisa mengelus bahu Devan, tanpa berbuat apa-apa, "Mas, ayo pulang.., mama sudah menunggu kamu di mobil, " Zahra mengajak Devan pulang.
"Kamu tunggu aja di mobil, nanti aku bakal nyusul kamu, " tolak Devan, dia masih enggan meninggalkan makam papanya.
Zahra pergi meninggalkan Devan sendirian di makam. "Pa, Andai aku tau ini hari terakhir papa, aku akan menemani papa seharian ini, selamat jalan pa, semoga amal ibadah papa di terima di sisi Allah SWT, " gumam Devan.
Devan beranjak pergi dan meninggalkan pusara papanya.
......................
Pak Adam, pengacara pribadi keluarga Arprana datang menyampaikan surat wasiat pembagian harta warisan milik pak Jefri.
"Menurut surat wasiat, perusahaan PT Arprana group, di wariskan kepada pak Devan..., " ucap Pak Adam terhenti
tapi karna batalnya kerjasama kontrak antara CV Masarya enterprise, berdasarkan Dana investasi tersebut meresmikan untuk di cabut, maka keseluruhan aset beserta saham di kembalikan pada CV Masarya enterprise, " lanjut Pak Adam.
'Braaak! ' Devan menggebrak meja, tak terima jika perusahaannya bangkrut Devan menghampiri Gino yang sedang berada di luar. Di tariknya kerah baju Gino.
"Beraninya kamu! mencabut dana investasi yang sudah kamu alirkan pada perusahaan papaku! " bentak Devan, mukanya memerah padam, akhirnya tahu penyebab penyakit jantung papanya kambuh.
Bu Alika menahan tangan Zahra untuk melerai mereka berdua, Gino sepatutnya di beri pelajaran karna sudah bertindak begitu gegabah.
"Silahkan pukul aku! silahkan! kamu akan menyesal karna telah memukul kakak tirimu! " kata Gino, Devan tersentak kaget mendengar ucapan Gino barusan, rahasia apa lagi yang papanya itu sembunyikan.
Devan menoleh Bu Alika sejenak. "Iya Van, dia saudara tiri kamu, " timpal Bu Alika.Devan benar-benar syok, belum selesai di kejutkan dengan kematian papanya, kini harus terima kenyataan jika Gino adalah saudara tirinya.
Bu Alika menceritakan semua yang terjadi sebelum pak Jefri meninggal "Dan kamu Gino, memang papa sambungmu yang menabrak ayah kamu, tapi itu semua tidak di sengaja olehnya, bukan karena terobsesi mama! dia menikahi mama hanya ingin bertanggung jawab pada Mama " Bu Alika menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Gino menjadi kikuk dan menyesal terlalu berprasangka buruk pada pak Jefri
_bersambung_