
Devan tetap mengikuti Friska, "Aku masih penasaran...kenapa Friska ke kantor polisi ya?," batin Devan terus mengikuti gerak-gerik Friska.
"Hay Miko! bagaimana kabarmu? dendammu sebentar lagi akan terbalaskan! " sapa Friska dengan senyum merekah di bibirnya.
Wajah Miko terlihat gembira sekali mendengarnya.Bukan hanya Miko, Friska juga gembira karena dia memiliki kesempatan untuk mendekati Devan.
"Bagus Friska! kamu memang bisa di andalkan." Miko mengacungkan jempol kepada Friska.
Mendengar percakapan Mereka, Devan menutup mulutnya dengan satu tangan.Benar kata Zahra, Miko bisa membalas dendam walau sudah di penjara.
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan selanjutnya? " tanya Friska menautkan kedua alisnya.
"Bebaskan aku dari sini! " jawab Miko tersenyum simpul membuat Friska terkesiap kaget.
"Kamu gila ya! mana mungkin aku bisa membebaskan kamu! " sergah Friska dengan mata yang menatap nyalang ke arah Miko.
Miko mengatupkan kedua tangannya di depan dada, "Aku mohon Fris...cari cara untuk bebaskan aku dari sini, " tukas Miko terus memohon.
Friska tampak berfikir sejenak memikirkan permintaan Miko, "Apa jaminanmu jika aku membebaskanmu? " tanya Friska menyilang kedua tangannya di depan dada.
"Aku akan membantumu dekat lagi dengan Devan, " jawab Miko dengan tatapan memelas.
Devan masih berada di balik pintu mendengarkan pembicaraan mereka berdua, "Dasar! mereka berdua sama-sama jahat! " batin Devan mencela mereka berdua.
Devan tentu saja tidak tinggal diam, otaknya terus mencari cara agar Friska gagal membebaskan Miko.
"Baiklah, nanti aku akan segera membebaskanmu...jangan khawatir, " ucap Friska menepuk pundak Miko sambil tersenyum.
"Terima kasih. " Miko mengulum senyum kepada Friska.
Friska membalasnya dengan senyuman juga. "Pria ini begitu bodoh...karena mau saja di manfaatkan, " batin Friska menatap Miko sejenak.
Keberadaan Devan hampir saja di ketahui Friska.Beruntungnya, dengan cepat Devan segera pergi dari tempat persembunyiannya.
Devan memutuskan untuk pulang saja. Dalam mobilnya, dia terus merutuk kesal, "Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu Zahra! " jerit Devan memukul setir mobilnya kesal.
Devan tidak bisa terus menyalahkan Zahra dalam hal ini.Bagaimanapun juga, Friska memanfaatkan Zahra di tengah ketidak berdayaannya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Pagi ini Zahra sempatkan sarapan bersama mamanya untuk menghilangkan rasa sedihnya, "Zahra..matamu sembab, kamu menangis semalaman? " tanya Bu Nita.
"Nggak kok Ma..emang kelihatan banget ya sembabnya? " tanya Zahra menggosok bagian bawah matanya.
"Iya Ra...ketahuan kan, kalo habis nangis?bertengkar lagi ya sama Devan? " tanya Bu Nita mengintrogasi Zahra.
Zahra menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.Bingung, harus mengatakan apa lagi pada mamanya.
"Eng-engak kok...aku sama mas Devan baik-baik saja." Zahra berkilah, tak ingin sampai mamanya tau.
Zahra sungguh tidak ingin melibatkan keluarganya atas masalah dia dan Devan. Biarlah, hanya mereka berdua saja yang tau.
"Ya udah, Zahra berangkat dulu ya Ma... " pamit Zahra bersalaman dengan bu Nita.
"Hati-hati ya nak..." ucap Bu Nita, merasa khawatir pada Zahra.
__ADS_1
"*Ya tuhan...saat ini hamba hanya punya Zahra, jagalah dirinya, hamba tidak ingin kehilangannya*, " batin Bu Nita dalam hati.
\=\=\=\#\#\#\=\=\=
Zahra berpapasan dengan Devan di lobi, dia hanya menatap sejenak.Kemudian, berlalu melewatinya begitu saja.
Devan berbalik badan tanpa sepengetahuan Zahra.Dia terpaku melihat punggung Zahra semakin lama semakin jauh dari pandangan.
"*Dulu kita pernah sedekat nadi...sebelum akhirnya kita jauh, sejauh jarak matahari*. " Devan membatin, ada perasaan sesak dalam hatinya jika terus begini dengan Zahra.
Devan melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke arah Zahra lagi.
Dari kejauhan, Zahra juga berbalik menoleh Devan. Air matanya menitik begitu saja di pipinya. "*Hati...kenapa kau harus jatuh cinta padanya, kenapa harus dia, mengapa di setiap cinta kita berdua harus ada luka yang berjalan beriringan*, " umpat Zahra dalam hati.
Zahra menyeka air matanya, dia harus tetap tegar menerima semua ini.Baginya, cinta tidak selamanya indah.Bibir mungkin bisa berkilah, tapi hati dan perasaan selamanya tidak akan pernah bisa di bohongi.
Zahra terkesiap kaget melihat Ara sudah ada di depannya, "Kamu habis nangis? " tanya Ara mengerutkan dahi.
"Nggak kok...cuma kelilipan saja, " jawab Zahra masih berusaha menyeka air matanya.
"Ya...kamu benar, aku harusnya tau diri, memilih kepada siapa hati untuk singgah, " timpal Zahra, membenarkan ucapan Ara.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Devan merenung di ruangannya. Dia teringat saat berpapasan dengan Zahra di lobi tadi, sungguh seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.
"Pak.. anda menangis? " tanya Abi yang baru saja masuk di ruangan Devan.
Devan segera menghapus air matanya, "Lain kali, kamu kalo masuk ruangan saya permisi dulu! " sergah Devan.
"Maaf Pak...pintu ruangan bapak terbuka, jadi langsung masuk saja, " ucap Abi mengakui kesalahannya.
Devan mengusap wajahnya kasar, "Tidak apa-apa bi, saya refleks saja tadi, " ujar Devan dengan tatapan begitu sayu.
"Bapak kenapa? sepertinya ada masalah? " tanya Abi, kebingungan menatap bosnya itu.
__ADS_1
"Friska bi...dia memanfaatkan ketidak berdayaan Zahra untuk meninggalkan saya, " jawab Devan menghela nafas panjang.
"Apa? jadi semua yang di katakan karyawan lainnya itu benar Pak? " tanya Abi lagi.
Devan menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Abi.
"Kalo menurut saya...Friska melakukan ini bukan karena dia cinta sama bapak, yang saya tahu dari karyawan lain selama ini, Friska mencintai Doni, " tukas Abi mencoba menelisik.
"Semu ini rencana Miko bi, dia bekerja sama dengan Friska untuk membalas dendam pada Zahra..." jawab Devan menautkan kedua alisnya.
"Hay! Oh iya...aku rasa aku tidak perlu memanggilmu pak lagi, karna mulai sekarang...kamu kekasihku kan, " sapa Friska merangkul bahu Devan.
Devan menepis tangan Friska dari bahunya, "Jangan gila kamu Fris! sejak kapan aku jadi kekasihmu! " ketus Devan membuat Friska semakin gemas.
"Sejak Zahra meninggalkanmu, " sahut Friska secara blak-blakan.
"Aku yakin Zahra tidak akan tinggalkanku! jangan pernah mencari masalah denganku... atau kamu akan tau sendiri akibatnya! " bentak Devan menatap Friska dengan begitu nyalang.
"Kalau begitu...aku kembalikan saja kau ke penjara! " kecam Friska tidak menyerah begitu saja.
"Silahkan! aku lebih baik di penjara daripada harus menjadi kekasih dari wanita licik sepertimu! " jerit Devan dengan tangan mengepal.
"Kamu_ "
"Apa! kamu pikir aku takut dengan ancamanmu! " bentak Devan, emosinya hampir meledak-ledak.
"Aaargh! " raung Friska menghamburkan barang Devan ke lantai.
Friska segera berlalu pergi meninggalkan ruangan Devan. Friska benci perlakuan Devan kepadanya, dia akan segera bebaskan Miko tanpa menunggu lama lagi.
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
"Akhirnya! aku bisa menghirup udara bebas lagi! " teriak Miko dengan merentangkan kedua tangannya.
"Aku membebaskanmu dengan jaminan... Lakukan apa yang harus kau lakukan, " tukas Friska mengingatkan.
"Baiklah nona, aku pasti menepati janjiku, " ujar Miko senyumnya merekah di bibirnya.
Apakah Devan berhasil melindungi Zahra dari rencana jahat Miko? Ikuti terus yaa! Terima kasih 😊🙏
__ADS_1