ZAHRANA

ZAHRANA
Selamat dari maut


__ADS_3

     Miko terus mengejar mobil Abi memakai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, aspal jalanan terasa panas terkena roda milik mereka yang seolah meraung dengan sangat liar.


 . Di dalam mobilnya Abi berusaha menelfon Devan, namun Devan tidak menjawabnya, "Angkat pak...angkat telponnya, " tukas Abi mendadak panik harus berbuat apa lagi.


  Abi membanting setir ke kanan melewati jalan pintas.


 Miko menghentikan mobilnya mendadak, dia kehilangan jejak mobil Abi, "Aaargh! kemana tuh orang! " teriak Miko memukul setir mobilnya.


Abi bernafas lega, selamatlah dirinya dari maut yang menghampiri kali ini.Segera Abi melakukan mobilnya kembali ke kantor.


        \=\=\=\=oooOooo\=\=\=


  Sesampai di kantor, Abi bergegas turun berlari ke ruangan Devan.


   Dengan nafas yang terengah-engah, Abi terus berlari menemui Devan.


           \=\=\=oooOooo\=\=\=


     'Brak' Abi keluarkan tendangan jurus mautnya untuk masuk ke ruangan Devan.


 Devan terkesiap kaget.Tidak ada angin, tidak ada hujan Abi tiba-tiba masuk ke ruangannya dengan cara yang ekstrem.


 . "Abi! kenapa kamu? di kejar genderuwo kah? " tanya Devan mengerutkan dahinya.


Abi mengatur deru nafasnya, "Ini lebih seram dan menakutkan daripada genderuwo Pak, " jawab Abi.


 Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Memang ada yang lebih seram dari genderuwo?. "Devan bertanya lagi.


"Bapak tau kan jika yang merencanakan tewasnya papanya Zahra, dia adalah Dita, " jawab Abi tangannya masih gemetar ketakutan.



"Maksud kamu apa bi? bicara yang jelas, " sergah Devan tidak mengerti apa yang Abi bicarakan.



"Jadi begini Pak, memang yang menabrak papa Zahra itu adalah Miko...tapi yang merencanakan semua ini adalah Dita Pak, " jawab Abi menjelaskan semua yang dia tahu kepada Devan.



Devan tentu saja kaget dengan jawaban Abi, semua sungguh di luar dugaan Devan, Dita memanglah wanita sadis yang pernah dia kenal.



Devan memijit pelipisnya pening memikirkan masalah ini.



"Bapak kenapa? Pusing? minum obat saja Pak, " tanya Abi khawatir karena bosnya tidak bergeming sedikitpun.



Devan menatap Abi sejenak, "Saya bukan pusing kepala Abi, tapi pusing pikiran, " jawab Devan semakin pusing saja melihat tingkah konyol Abi.



Muncul ide brilian di pikiran Abi, "Aha! saya tau obatnya Pak, " tukas Abi tersenyum sumringah sekali seperti tidak ada beban dalam hidupnya.



Abi bergegas keluar dari ruangan Devan, segera berlari menuju pantri.



\=\=\=oooOooo\=\=\=


__ADS_1


Di pantri, Abi tidak sengaja bertemu Lia kembali, dia sedang membuat teh aroma Jasmine.



Langkah Abi terhenti sejenak menatap Lia dari kejauhan, "*Lia* *lagi...kenapa akhir-akhir ini aku ketemu dia terus*, " batin Abi termenung.



"Heh! Abi!. "Ara menepuk pundak Abi yang sedang berdiri di tengah jalan menuju pantri



Tepukan Ara tentu saja membuat Abi terkesiap kaget, seketika itu lamunannya menjadi buyar.



"Eh Ara... ada apa Ar? " tanya Abi menoleh ke arah rekan kerjanya itu.



Ara menajamkan mata, mencari tahu siapa yang di pandang Abi sampai melamun, "Hmm, pantesan sampai melamun...curi pandang sama kakakku ya... " tuduh Ara mengacungkan jari telunjuknya ke Abi.



Mata Abi membulat sempurna, Ara bisa menebak isi pikirannya seperti peramal saja, "Tidak kok...kebetulan aku mau ke pantri mau buatin kopi Pak Devan, " jawab Abi berkilah, terlalu jual mahal untuk mengakuinya.



"Yakin?" tanya Ara memastikan lagi.



"Iya Ara...saya yakin, " jawab Abi kelabakan meyakinkan Ara.



"Awas ya! kalau berbohong, hidung mancungmu akan berubah menjadi Pinokio nanti... " tukas Ara dengan nada penuh ancaman.




"Iya, hari ini aku tidak sengaja selalu bertemu kakakmu, " celetuk Abi terpaksa jujur kepada Ara, ngeri membayangkan bila hidungnya menjadi panjang seperti pinokio.



Ara tersenyum, dia berbalik menoleh Abi, "Apa kamu menyukai kakakku? " tanya Ara penasaran



"Untuk saat ini tidak, " jawab Abi seolah memberi harapan besar bagi Ara.



Abi berlalu begitu saja meninggalkan Ara, dia bergantian dengan Lia membuat kopi, sesekali dia masih curi pandang dengan wanita yang berada di sebelahnya itu.



Lia membawa secangkir teh hangat dengan asal yang masih mengepul menuju ruangannya, matanya menatap Abi sejenak, Lia melempar senyum manisnya pada Abi



Siapa yang tidak terkesima di lempar senyuman yang sangat manis seperti itu, mata Abi sampai tidak berkedip di buatnya.



"Hayoo...senyum-senyum sendiri! kalau cinta tinggal ngomong, ntar di tikung pria lain nangis.. " sergah Ara tiba-tiba muncul di hadapan Abi.

__ADS_1



"Apaan sih! udah ah, aku mau bikin kopi dulu, " tukas Abi sembari menuang bubuk kopi ke dalam cangkir.



Ara merucutkan bibirnya, dia berlalu pergi meninggalkan Abi sendirian di pantri.



\=\=\=oooOooo\=\=\=\=



Abi kembali ke ruangan Devan dengan membawa nampak kecil berisi secangkir kopi di atasnya, "Ini Pak...biar psikologi Bapak semakin waras, " ujar Abi meletakkan secangkir kopi di atas meja kerja Devan.



"Terima kasih bi, saya kira kamu kemana tadi...oh ya, bagaimana pendapatmu tentang Dita? " tanya Devan sambil menyeduh kopinya.



"Kenapa Bapak tidak melaporkan saja ke polisi Pak? " tanya Abi, bukankah lebih baik jika Dita di laporkan saja ke polisi.



"Saya tidak mau terlalu gegabah bi, bisa saja menghilangkan semua buktinya, " jawab Devan, dia sudah memikirkan matang-matang resiko yang akan terjadi.



Abi menganggukkan kepalanya, setuju dengan saran bosnya itu.Devan pastinya berpengalaman mengalami hal seperti itu tentunya dia sudah bisa mencari cara agar terhindar dari sesuatu yang tidak di inginkan.



"Baiklah Pak.. kalau begitu terserah Bapak saja, " kata Abi mengikut saja apa pilihan Devan.



Abi segera berlalu dari ruangan Devan, kerjaannya begitu menumpuk masih di tinggalkan.



Devan mengangguk, berlalu keluar dari ruangan Devan.



\=\=\=oooOooo\=\=\=



Di ruangan Abi, seseorang sedang duduk di kursi membelakanginya, "Siapa kamu! " jerit Abi, marah karena seseorang telah sembarangan memasuki ruangannya.



Seseorang itupun menoleh.Seolah di timpa Bom, Abi melihat Miko berada di ruangannya saat ini, "Ada apa Abi? kaget aku ada disini? " tanya Miko tersenyum kecut pada Abi.


Tatapan Miko yang tadinya terlihag datar, kini berubah menjadi tatapan penuh amarah, tangannya mengepal ingin melayangkan tinju pada Abi.


"Kamu pikir aku bisa melepaskanmu begitu saja...tidak semudah itu bi! kamu sudah mengetahui rahasia kakakku, lebih bagus lagi jika aku melenyapkanmu sekarang juga! " bentak Miko tersenyum menyeringai kepada Abi.


Miko menodongkan pisaunya kepada Abi, "Silahkan jika mau melenyapkanku! aku pastikan itu semua tidak akan bisa menutupi kebohonganmu... " timpal Abi sembari melangkah mundur dari Miko.


Miko terus mendekat kepada Abi, gemas ingin sekali membuat pria di hadapannya itu enyah dari dunia ini, mungkin dengan cara begitu rahasia kakaknya menjadi aman.



"Angkat tangan! " teriak salah satu polisi yang tiba-tiba masuk ke ruangan kerja Abi.

__ADS_1


Siapakah yang menyelamatkan Abi dari kejahatan Miko? Ikuti terus yaa! Terima kasih 😊🙏


"


__ADS_2